Pelajaran Hidup yang Saya Dapatkan lewat Model Baru Rambut Suami

Reflections & Inspirations

http://www.kesehatan.kulit.com/

336
Saya sudah bisa menebak bahwa sepulang dari salon langganan, rambut suami akan jadi lebih rapi, dan beberapa bagian diatur untuk "sedikit" menutupi bagian kulit kepala yang mulai menghalus.

Setiap kali suami pamit pergi untuk potong rambut, saya tak begitu khawatir mendapati kejutan ketika ia pulang ke rumah. Ia tak punya banyak pilihan model potongan rambut.

Ketika awal berkenalan dengannya, rambutnya cukup tebal. Bahkan suami pernah menunjukkan pas foto yang diambil saat ia mulai berkuliah; potongan rambutnya mirip dengan artis Taiwan jaman itu: potongan bob yang cenderung gondrong. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kerontokan yang parah menyebabkan beberapa sisi kepalanya tak ditumbuhi banyak rambut.

Kami sudah mencoba banyak cara, mulai dari sampo khusus pencegah kerontokan, tonik untuk menumbuhkan rambut, hingga obat yang diberikan oleh dokter. Tapi tak ada hasil yang berarti, tetap saja tanda-tanda kebotakan terus muncul.


Hari itu suami pulang dari salon tak seperti biasanya

photo credit: Shutterstock

Saya sudah bisa menebak bahwa sepulang dari salon langganan, rambut suami akan jadi lebih rapi, dan beberapa bagian diatur untuk "sedikit" menutupi bagian kulit kepala yang mulai menghalus. Profesi suami sebagai mentor dan guru memang sedikit banyak memberi ekspektasi penampilan yang rapi dan bersahaja.

Saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan spontan tertawa lepas. Suami saya tak seperti biasanya, potongan rambutnya hanya menyisakan satu sentimeter panjang rambut di atas kepalanya. Ia lebih mirip taruna militer baru atau bisa jadi dianggap mahasiswa baru yang akan mengikuti orientasi. Bagian kepala yang mulai botak tampak lebih jelas, tidak ditutupi lagi. Saya tak habis pikir mengapa ia memilih gaya potongan seperti itu, terlebih keesokan harinya, institusi tempatnya mengabdi akan mengadakan perayaan ulang tahun besar-besaran.

"Loh, kok jadi begini?" tanya saya heran.

"Ya nggak apa kan, lebih rapi, praktis, dan sejuk"

"Ndak takut nanti dikritik orang?" tanya saya lagi.


Baca juga: Belajar Mengembangkan Diri Lewat 'Jendela Johari', Pahami 4 Hal Ini

Jawabannya atas pertanyaan saya mengingatkan sebuah prinsip penting kehidupan

"Memangnya kenapa dengan orang lain? Orang sudah tahu memang aku sudah mulai botak. Tidak perlu malu. Ini kan cuma rambut di atas kepala. Yang lebih penting itu isi di dalam tempurung kepala, itu yang bisa membawa manfaat dan memberkati orang lain."


Saya jadi tersadar, seringkali kita hanya memberi perhatian khusus kepada penampilan lahiriah. Tujuannya jelas, memberi kesan yang baik kepada orang yang melihatnya. Tak ada yang salah dengan merawat tubuh, mempresentasikan kerapian dan keindahan.

Namun, hal ini menjadi superfisial bila hal yang lahiriah menjadi yang utama. Penampilan yang cantik tak akan punya makna bila tidak didasari oleh hati yang dipenuhi oleh kebaikan.


photo credit: Next Avenue

Seorang bijak pernah berkata, "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia." Kemolekan dan kecantikan suatu saat akan berlalu, sifatnya sementara dan fana. Kemolekan dan kecantikan belaka tak membawa garansi kebahagiaan.

Saya percaya bahwa keindahan lahiriah yang menggemakan, keindahan batiniahlah yang akan membawa kebaikan dan kebahagiaan.

Pepatah bijak kuno berkata, "Jagalah hatimu baik-baik, sebab dari situlah terpancar kehidupan."

Baca juga: Saya Berdoa agar Berat Badan Turun, Malah Terkapar oleh Flu. Jalan-Nya Tak Terselami

Tak ada salahnya merawat diri dan memberi kesan yang baik, tetapi terlebih penting memelihara keindahan hati. Hati murni dan tulus yang terpresentasikan secara lahiriah akan menjadi magnet yang kuat dan meninggalkan berkat bagi yang dijumpainya.

"Kalau begitu, habis ini aku potong model pixie ya?" aku bertanya kepada suamiku.

Ia hanya menjawab dengan senyum pernuh arti sambil memutar bola matanya.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pelajaran Hidup yang Saya Dapatkan lewat Model Baru Rambut Suami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar