Patah Hati atau Patah Semangat? Wanita, Inilah 5 Alasan Mengapa Travelling akan Memulihkan Dirimu

Ex & Broken Hearts

Huffington Post

4.7K
Dari perjalanan yang saya alami, saya mendapatkan 5 keuntungan sekaligus yang membuktikan mengapa wanita sebaiknya melalukan traveling pasca patah hati, karena putus cinta, kehilangan orang tercinta,atau karena apa pun juga.

Kehilangan sahabat, itulah yang saya alami beberapa waktu lalu. Meskipun begitu, saya sangat bersyukur, bukan kematianlah penyebabnya. Kami masih mendapati satu sama lain dalam keadaan sehat di Jakarta. Saya percaya sianida tak perlu ambil alih pada permasalahan yang kami alami.

Pastinya pencipta paham sekali dengan bulir kesedihan anak-Nya maka dikirimkanlah penghiburan berupa berbagai destinasi istimewa untuk traveling. Dari perjalanan yang saya alami, saya mendapatkan 5 keuntungan sekaligus yang membuktikan mengapa wanita sebaiknya melalukan traveling pasca patah hati--yang tak melulu terkait urusan cinta saja.


1. Menemukan dan Ditemukan

photo credit: Essential Travel

Saya mendapatkan kesempatan traveling bersama 10 orang ke Ambarawa yang mempunyai berbagai karakter, sifat, orientasi seks, pandangan hidup, status, dan tentu isi dompet. Begitu juga saat saya traveling ke jakarta dimana harus berbagi privasi dan berinteraksi dengan banyak pribadi termasuk para publik figur.

Sejak kecil saya telah menyadari bahwa dunia tak hanya selebar daun kelor. Namun sebagai seorang introvert melankolis sekaligus anak bungsu, lingkaran pertemanan yang saya miliki dapat dihitung satu atau dua jari saja. Dan itulah mengapa saya terlihat mengharu biru jika berbicara mengenai sahabat atau orang terdekat lainnya. Tentu saja bukan berarti saya menyesali karakteristik diri yang saya miliki. Saya menyukai diri saya apa adanya.

Saat traveling-lah saya menemukan bibit-bibit persahabatan yang walaupun entah akan bertumbuh atau tidak namun ternyata bisa hadir. Sungguh lucu saat jika saya masih merasa sedih hanya karena takut kehilangan satu sahabat yang mungkin bahkan tak pernah mengganggap saya sahabat. Mungkin itulah mengapa banyak orang galau, disebut karena 'kurang piknik'.


2. Memandang ala Helicopter View

photo credit: videohiv

Di sebuah lokasi saya mendapati jendela dengan lampu silau berwarna-warni penuh dengan sederet wanita berjajar menjajakan diri. Mata mereka lelah walau senyum dipaksakan terlengkung. Memang bukan pemandangan pertama kali yang tersaji namun selalu kembali membuat saya memahami bahwa banyak hal yang lebih besar patut dipikirkan.

Jika menganggap dunia akan hancur karena berubahnya status persahabatan maka saya akan ditertawakan oleh burung gereja yang tak pernah kuatir akan makanan yang tak bisa mereka olah.

Berseraknya hati saya itu hanya sebagian kecil bahkan tak sampai selebar benang wol. Saya paham kalau saya menangis pada waktu itu karena ketakutan akan kesedirian, bukankah firaun ditemani banyak arca prajutinya saat terbaring di piramida?


3. Menyembuhkan dan Disembuhkan

photo credit: Eventdeals.

Tentu setiap kehilangan akan menyerpihkan potongan hati kita, apalagi kalau seseorang itu berarti untuk kita. Hal itu yang saya alami saat traveling ke jakarta menjadikan saya membuka hati dan mengajukan diri sendiri disembuhkan sekaligus menyembuhkan. Waktu mempersilahkan saya bertemu dengan mantan sahabat dan membiarkan pilihan untuk menempelkan kembali serpuhan hati. Iya saya memilih disembuhkan dengan melangkah menemuinya dan mengucapkan beberapa kata. Tentu saya perlu mengepalkan tangan dan menarik nafas panjang terlebih dahulu saat akan melakukannya.

Dan saya menyadari bahwa dibutuhkan kerendahan hati dan kesediaan menerima resiko untuk dipermalukan jika ajakan perbincangan saya ditolak di depan umum. Syukurlah saya tidak ditolak walau bukan diterima oleh sahabat tapi hanya sekedar kenalan, iya dia menganggap saya sekedar kenalan. Apa itu menyedihkan? Tidak, karena reaksi dia tidaklah sepenting kelegaan karena telah selesai dengan urusan hati saya sendiri.

Bukankah memang kita tak bisa memaksa orang lain selalu bersikap seperti yang kita harapkan.

Dan saya merasa kalau serpihan hati yang dulu berserakan telah tertempel rapi bahkan sudah tak terlihat goresannya. Mungkin memang kehilangan sahabat, namun daftar kenalan saya bertambah dan hati saya sudah utuh.


4. Seteru Kenalan bukan Selalu Sekutu Kita

Saat saya traveling di Jakarta saya bertemu dengan seteru kenalan baru (mantan sahabat). Saya memang mengenal dan mendengar cerita serta pernah berkerjasama dengannya. Iya benar saya mendatangi seteru kenalan baru namun cukup hanya bercakap-cakap singkat tanpa ingin mengobarkan bendera kolaborasi menyerang kenalan baru. Apa itu mejadikan saya berbalik menjadi sekutunya? Saya memilih tidak melakukannya walaupun mempunyai segudang informasi yang pasti akan menjadi peluru untuk menyakiti kenalan baru saya. Tak terbersit juga akan menjelekan dirinya. Hati saya sudah utuh.

Memang saat traveling kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang akan kita temui dan efek domino apa yang terjadi sedetik kemudian.


5. Komitmen Menentukan Apa yang Kita Alami

Di Ambarawa saya benar keluar dari zona nyaman dengan naik bukit dan menuruni tebing. Dan saya menyadari bahwa mengurusi diri sendiri lebih penting daripada berkeluh patah hati demi sesuatu yang ternyata tidak terlalu penting lagi. Mau keluar dari zona nyaman adalah pemenuhan komitmen dari keputusan saya untuk traveling.

Kesedihan dan kegembiraan sebenarnya hanya bisa terasa bila hati kita mengijinkan, dan sayangnya kadang tidak disadari bahwa tali kekang ada di tangan kita.

Kadang alam bawah sadar kita terlalu percaya akan komitmen persahabatan. Kita sering lupa bahwa kekecewaan, ekpektasi yang begitu besar bisa menguapkannya. Apakah itu salah kita? Well memang ada kalimat bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api, namun sejak ada rokok liquid dan kompor listrik, saya percaya terkadang asap tidak memerlukan api agar tercipta.


photo credit : Crossref-it

Apa yang mengikat dan kita ikatkan pada detik ini akan berakibat pada menit selanjutnya. Sama seperti pola makan hari ini akan menentukan kondisi kesehatan kita pada lusa. Begitu juga dengan komitmen, apapun bentuk dan pelakunya maka akan menjalinkan kisah baru hidup kita.

Setiap keputusan dan keberhasilan sekecil apapun patutlah dirayakan walau secara sederhana. Saya percaya tidak ada kata kebetulan, demikan juga perkenalan dan ending story dari sebuah hubungan.

Jadi bulan ini kita traveling ke mana kakak?


Bangkitkan Semangat Hidup dan Ceriakan Hidupmu lewat tulisan-tulisan berikut ini :

Belum juga Menemukan Pasangan Hidup? Jangan Menyerah, 8 Langkah ini akan Memberikan Harapan Baru Untukmu

Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal Ini yang Menyadarkan bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan

Ada Kalanya Mencintai Berarti Merelakan yang Tercinta Hidup Bersama Orang Lain

4 Hal Indah yang akan Kamu Temukan Setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Sekadar Soal Kompetisi






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Patah Hati atau Patah Semangat? Wanita, Inilah 5 Alasan Mengapa Travelling akan Memulihkan Dirimu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


VikaKurniawati (VKurnia) | @vika

Owner ciomay280 | Content Writer| www.vikakurniawati.com. IG + Twitter : @VikaKurniawati

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar