Papa Pulang Nggak? Tanya Penuh Rindu Putra Bungsu Ahok Menyadarkan Kita Satu Hal Penting Ini

Parenting

[Image: twitter]

23.9K
"Papa pulang nggak?" Siapa yang tidak tersedak ditanya seperti itu saat sang suami masuk penjara?

“Papa pulang nggak?” ucapan rasa ingin tahu dan penuh rindu dari putra bungsu Ahok, Daud Albeenner ini membuat setiap kita terperenyak. Bagi ibu-ibu, kata-kata yang disampaikan anak ini seperti sembilu yang menusuk ke ulu hati. Siapa yang tidak tersedak ditanya seperti itu saat sang suami masuk penjara?

"Papa pulang nggak?" selayaknya menjadi peringatan dini bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak jika orangtua berada dalam masalah.

Bukan kebetulan jika sehari setelah Ahok ditahan, saya diminta menjadi host acara talkshow dengan judul "How To Be A Supermom?” Dari perbincangan itu saya jadi tahu, betapa beratnya beban seorang ibu ketika sang kepala keluarga tidak ada di rumah saat anak-anak butuh perhatian. Bukan kebetulan juga jika Tuhan pertemukan saya dengan seorang ibu yang suaminya dipenjara saat anak-anak masih perlu bimbingan papa tercinta.

Baca Juga: Bermata Sembap Namun Tak Hilang Harap. Inilah yang Dilakukan Veronica Tan Saat Ahok Dipenjara

Dari para ‘supermom’ inilah saya belajar bagaimana mempersiapkan anak jika orangtua sedang berhadapan dengan masalah.



1. Mempersiapkan mental kita lebih dulu sebelum mempersiapkan mental anak-anak

Jika kabin di pesawat kekurangan oksigen dan kantung udara turun dari atas, maka orangtua harus memakai masker lebih dulu sebelum menolong anak-anak. Hal yang sama terjadi saat salah satu dari orangtua mengalami masalah, dipenjara misalnya atau bahkan meninggal dunia.

“Ibu harus tabah. Jika tidak, aura kesedihan Ibu akan mengganggu tumbuh kembang anak,” ujar saya kepada seorang ibu yang mengalami masalah dengan suaminya.

“Di depan anak-anak, saya harus kuat, seakan tidak terjadi apa-apa agar mereka tidak bertambah stres,” ujar seorang ibu yang suaminya dipenjara kepada saya. “Saya mencoba mengatasi masalah itu dengan kekuatan dari Tuhan. Saya bersyukur anak-anak saya bisa survive saat melihat mamanya kuat.”



2. Mencoba jujur kepada anak tentang kondisi papa atau mamanya

“Papa sedang tugas di luar kota,” adalah jawaban yang tidak lama kemudian akan backfire. Jika sang ayah tidak pulang-pulang dan sang anak bertanya kembali, apakah kita harus berbohong lagi?

Oleh sebab itu, jauh lebih baik jika terbuka di awal daripada menyesal di akhir. Jelaskan dengan baik mengapa sang ayah [atau ibu] dipenjara atau mengalami musibah [misalnya dipanggil Tuhan]. Bisa jadi mereka shock dan sedih. Namun, percayalah jika Anda optimis, aura itu akan menular ke anak-anak juga.

[Image: myahok]
Jika orangtua ikut terpuruk, anak-anaklah yang menjadi korban. Siapa yang bisa mereka jadikan pegangan saat yang hendak dipegang pun goyah?

Baca Juga: Hidup Setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang



3. Mengungkapkan perasaan kesedihan secara jujur

“Selalu meminta padamu namun tak pernah berterima kasih padamu. Hingga setelah dewasa baru mengerti tak mudah bagimu, setiap kali berpisah selalu berpura-pura santai sambil tersenyum berkata pergilah, berbalik badan air mata membasahi.

Sangat ingin seperti masa lalu menggenggam telapak tanganmu yang hangat. Namun kamu tak di sisiku. Mohon pada angin mengantarkan kesehatan dan ketenangan.

Waktu waktu pelanlah sedikit jangan biarkan kamu bertambah tua lagi, aku bersedia menukar segalanya agar kamu bertambah usianya.

[Image: republika]
Ayah yang seumur hidup mendukungku,
apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Demikian curhatan Nicholas Sean Purnama.

Biarkan anak-anak menangis dan mengungkapkan segala uneg-uneg mereka, termasuk kerinduan mereka kepada papa atau mamanya.

Curhatan hati Nicholas di atas menunjukkan dua sisi kepribadiannya. Di satu sisi, dia sedih ditinggal ayahnya yang harus diam di rumah tahahan. Di sisi lain, dia tegar menghadapi apa yang terjadi karena - saya percaya - sang ayah pasti sudah mempersiapkannya, jauh hari sebelumnya.

Baca Juga: Tak Selalu Menangis Berarti Lemah. Menangislah, Kapan pun Hatimu Memerlukannya. Bukankah Kita Memang Cuma Manusia?



4. Membawa masalah ini kepada Tuhan dan minta hikmat serta kekuatan

[Image: detik.com]
“Kusadar tak semua dapat aku miliki di dalam hidupku.
Hatiku percaya rancangan-Mu bagiku adalah yg terbaik.”

Demikian ungkapan hati putra sulung Ahok. Nicholas memang tampak tegar saat mendampingi Veronica Tan menjenguk Ahok, sesaat setelah orang yang dikasihinya itu dibawa ke tahanan.

Ungkapan itu jelas menunjukkan kedewasaan rohani seorang anak saat orangtuanya mengalami masalah. Ucapan itu bukan keluar dari anak kemarin sore, tetapi anak yang sudah dipersiapkan dengan baik oleh orangtuanya. Orangtua yang suka berdoa dan beribadah bisa menjadi role model yang baik bagi anak-anak mereka.

“TUHAN tidak pernah tidur, banyak yg sayang papa. Makasih buat seluru warga MANADO sulawesi utara yg sudah turut serta mensupportkan dan mendoakan papa saya dengan mengadakan 1000 lilin. Semoga support kalian adalah sumber kekuatan bagi keluarga kami. Kiranya TUHAN selalu memberkati kita semua,” lanjut Nicholas dalam unggahan lainnya.

Seorang ibu yang suaminya dipenjara berkata tegas, “Saya menanamkan iman yang kuat pada anak. Ini penting karena kita sadar,

Hidup tidak selalu mulus dan sesuai keinginan. Anak harus diajar untuk lebih percaya dan bergantung pada Tuhan.”

Baca Juga: Hidup Saleh Malah Banyak Masalah. Jika Orang Baik Hidup Menderita, Percumakah Percaya kepada Allah?



5. Membagi tanggung jawab dan mengambil alih sebagian peran ortu yang tidak di rumah

“Kalau di rumah, saya biasakan mereka untuk menata ranjang mereka sendiri begitu bangun tidur. Apa yang bisa mereka kerjakan, saya minta untuk dikerjakan. Misalnya, menyapu. Saya ajari juga untuk melipat baju mereka sendiri, mencuci piring sendiri,” ujar ibu 4 anak yang suaminya dipanggil Tuhan saat anak-anak masih kecil.

“Saya harus bisa membagi waktu antara kerja dan mengurus anak. Saya terpaksa harus memotong jam kerja saya agar saya bisa mengurus anak-anak. Sebelum bekerja, saya siapkan anak-anak saya lebih dulu,” ujar seorang ibu yang suaminya masuk penjara.

“Ketika suami tidak ada, saya harus membuat kue sehingga jam tidur saya tinggal satu atau dua jam saja sehari,” ujar ibu yang suaminya pergi untuk selamanya.

“Suatu malam anak-anak bangun tidur dan langsung membantu saya di dapur karena tidak tega melihat saya bekerja sekeras itu, padahal mereka masih kecil-kecil. Ada yang membantu menata kue yang baru saya buat. Ada yang membungkus. Ada yang menempeli label,” lanjutnya dengan berurai air mata.

Baca Juga: Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri



Yang terbaik masih ada di depan!

Setiap mengalami masalah, selalu ada dua pilihan:
patah semangat atau tetap kuat.

“Apa pun yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat.” Ucapan bijak ini banyak benarnya.

Semua berpulang kepada kita. Menyesali apa yang sudah lewat jelas membuang-buang energi. Jauh lebih baik jika semua daya dan upaya kita curahkan untuk bangkit dan menata hidup kembali, karena - sekali lagi - Tuhan tidak tidur. Rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan damai sejahtera!

Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya dan bertindak sesuai rencana-Nya.

Saya percaya itu.



Baca Juga:

Jika Ahok Anak Saya, Bisakah Sekarang Saya Berdoa seperti Doa Buniarti Ningsih, Ibundanya?

Pengaruh Tak Bisa Berbohong, Inspirasi Tak Bisa Dipenjara. Yang Terinspirasi Selanjutnya, Mungkinkah itu Anda?

Dari Djarot Saiful Hidayat, Belajar Menjadi Seorang Sahabat



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Papa Pulang Nggak? Tanya Penuh Rindu Putra Bungsu Ahok Menyadarkan Kita Satu Hal Penting Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar