Saya Indonesia, Saya Pancasila. Wujudnyatakan 3 Kekuatan Pancasila Ini dalam Hidup Bersama

Reflections & Inspirations

photo credit : inovasee

2.2K
Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia harus menjadi gaya hidup benar-benar terejawantahkan secara aktif dalam hidup bermasyarakat di Indonesia.

“Indonesia adalah negeri penuh kontradiksi”


Kira-kira begitulah sepenggal komentar dari Alm. T. B. Simatupang, tokoh politik di Indonesia ketika melihat kemajemukan Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, setidaknya Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki lebih dari 300 suku bangsa dengan beragam keunikannya, mulai dari bahasa, suku, budaya, dan adat-istiadatnya.

Eka Darmaputera mengatakan, “Indonesia adalah percampuran antara pelbagai jenis polarisasi, yang tidak pernah terkristalisasi menjadi sebuah entitas kultural yang utuh.”

Entah seperti apapun sebutannya, Indonesia memang negeri yang unik karena pusparagamannya. Maka itu, dari atas pesawat, ketika Eka dan pak Sim hampir mendarat di bandar udara Soekarno-Hatta, sambil melihat daratan, pak Sim mengatakan bahwa hanyalah suatu “mukjizat” yang membuat Indonesia tetap dapat bersatu sampai hari ini.

Pertanyaannya, apa mujizat itu? Menurut saya, itu adalah PANCASILA

Pancasila merupakan hadiah dari sang khalik untuk Indonesia. Melalui perjalanan sejarah yang panjang. Melalui pertarungan ideologi yang sengit, dan percakapan panjang para pemimpin terdahulu. Pancasila lahir sebagai ideologi terbaik sekaligus mumpuni menaungi jati diri bangsa ini.

Pertanyaannya adalah mengapa Pancasila menjadi ideologi terbaik bagi bangsa ini? Inilah tiga kekuatan Pancasila yang menjadikannya ideologi yang tepat bagi bangsa Indonesia :


1. Menjaga Kesatuan di Tengah Kepelbagaian

photo credit : masbidin

Kepusparagaman Indonesia menjadi kekayaan yang tiada taranya. Ia bagaikan taman bunga yang dihiasi bermacam-macam jenis tanaman bunga. Namun, di samping kekayaannya itu, ia menyimpan potensi disintegrasi yang besar. Maka itu, kepusparagaman Indonesia perlu dikelola dengan baik.

Dengan apakah ia harus dikelola? Pancasila jawabannya. Komunisme atau Islamic state tentu tidak mampu menjadi landasan berpijak bangsa karena tidak sesuai dengan latar belakang sejarah Indonesia.

Ketika Indonesia berada di era perumusan dasar negara, pertanyaan terpenting bagi para pemimpin dan masyarakat Indonesia adalah : di atas dasar apakah negara ini harus didirikan? Kalangan Nasionalis Islam menginginkan agar Indonesia didirikan atas dasar Islam karena melihat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia. Kalangan Nasionalis Sekuler dan Kristen lebih mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara karena tidak dicirikan oleh agama tertentu, kendati tetap menghargai agama-agama.

Baca Juga : Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya

Perdebatan itu kemudian dimenangkan oleh kalangan Islam yang usulannya ditampung di dalam piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Namun, hasil itu kemudian ditolak oleh J. Latuharhary menyampaikan keberatannya mewakili umat Kristen yang tidak setuju dengan penggunaan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam pembukaan UUD dan yang tertera pula pada sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta. Menurutnya, kalimat itu akan mendatangkan akibat yang besar sekali terhadap agama-agama lain.

Awalnya, kritik Latuharhary dan Nasionalisme sekuler yang turut berkeberatan tidak digubris oleh Panitia Sembilan. Proklamasi kemerdekaan tetap mencantumkan kalimat tentang “kewajiban melakukan syariat Islam” di dalam UUD. Perubahan akhirnya terjadi ketika Bung Hatta menerima laporan dari Angkatan Laut Jepang yang mengabarkan tentang keberatan wakil-wakil Protestan dan Katolik atas kalimat itu karena merasa adanya diskriminasi terhadap golongan minoritas. Mereka mengajukan pendapat bahwa jika pemerintah tidak mengambil langkah penanggulangan, maka mereka akan lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia. Menghadapi kenyataan itu, Bung Hatta secepatnya mengambil sikap bersama para tokoh Islam dan anggota PPKI dengan mengganti kalimat itu dengan “Ketuhanan yang Maha Esa.” Mereka menyadari tentang pentingnya persatuan Bangsa dipertimbangkan di dalam pengaturan dasar negara ini.

Eka Darmaputera mengatakan, “Pancasila menjadi pilihan yang satu-satunya, oleh karena ia berakar pada ‘kebudayaan bersama’ masyarakat Indonesia."

Maka itu, usaha mengganti Pancasila sebagai identitas nasional bangsa membutuhkan pertimbangan yang tidak main-main.


2. Memberi Ruang dan Aturan Main bagi Setiap Golongan

Pancasila ibarat rumah yang nilai keluarganya diatur secara rukun dan harmonis. Semua anggota keluarga diterima tanpa ada diskriminasi. Perbedaan di dalam keluarga tidak menjadi masalah. Semua anak memang memiliki keunikkannya masing-masing. Yang terpenting adalah semua saling mengasihi dan saling memberi kontribusi terbaik agar dapat saling membangun.

Inilah relasi antar golongan yang tercipta jika di dalamnya nilai-nilai Pancasila dipraktikkan. Pancasila menerima semua golongan sekaligus memberi tempat bagi semua golongan untuk dapat diterima dan saling membangun. Tanpa menyangkal identitas setiap golongan, ia mengatur semua golongan tetap dapat bersumbangsih sesuai identitas mereka masing-masing. Pancasila memberikan sebuah kerangka nasional, di mana perbedaan tidak ditindas tetapi dikelola secara adil sehingga tidak melahirkan sifat perpecahan satu sama lain. Konflik antar golongan memang dapat tersulut setiap saat. Pancasila mencegah terjadi anarkisme tersebut karena nilai-nilainya adalah nilai-nilai dasar yang telah disepakati bersama setiap golongan.

Pancasila juga menjadi "pagar pembatas” bagi setiap golongan. Ia mengusahakan setiap golongan tetap berada dalam lintasan atau jalur yang tepat dalam membangun bersama masa depan bangsa.

Pagar pembatas ini menjadi kerangka di mana semua kelompok atau golongan yang ada di dalam masyarakat dapat hidup bersama, bekerjasama dan berjuang bersama dalam suatu interaksi yang dinamis. Melalui musyawarah dan gaya hidup gotong royong, ia membuat setiap golongan bekerja untuk kepentingan bersama dan bukan kepentingan pribadi.

Baca Juga : Berbeda-beda, namun Satu Jua. Inilah 3 Cara Menjaga Persatuan Indonesia yang Dapat Kamu Lakukan!


3. Bukan Sekadar Falsafah Negara, Mesti Mewujudnyata

photo credit : republika

Meski Pancasila telah menjadi filosofi hidup masyarakat Indonesia, namun prakteknya masih sulit dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Buktinya, masih banyak masyarakat yang tidak menghafalkan isi lima butir Pancasila. Bukti ekstrimnya adalah masyarakat masih gampang tersulut menciptakan perpecahan hanya karena alasan remeh-temeh, misalnya iri terhadap kelompok kaya dan kelompok miskin, agama mayoritas dan agama minoritas, perbedaan rasial, dan sebagainya.

Jika Indonesia adalah Pancasila yang “Bhinneka Tunggal Ika” seharusnya yang menjadi musuhnya adalah perpecahan, penjajahan, pembangunan yang tidak merata, korupsi, ketidakadilan, perusakan lingkungan dan masalah sosial lainnya. Ia menentang hal-hal yang tidak sesuai dengan isi Pancasila.

Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia harus menjadi gaya hidup benar-benar terejawantahkan secara aktif dalam hidup bermasyarakat di Indonesia. Ketika Pancasila sungguh-sungguh dipraktekkan, niscaya cita-cita luhur bangsa yang terpampang dalam UUD 1945 akan tercapai.


Tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi bagimu:

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Bodoh dan Naif, Begitu Komentar Orang Terdekat, Ketika Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia Setelah Bertahun-tahun Tinggal di Luar Negeri. Ini Kisah Kami

Asal Kita Peduli, Bermartabat di Mata Dunia Bukanlah Mimpi. Untuk Indonesia yang Hebat, Bangkit!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Indonesia, Saya Pancasila. Wujudnyatakan 3 Kekuatan Pancasila Ini dalam Hidup Bersama". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar