Pacaran: Bukan Tambal Sulam apalagi Gali Tutup Lubang. Mulailah Relasi Cinta yang Sehat dengan 3 Hal ini

Singleness & Dating

[Image: wisgoon.com]

3.3K
Gali tutup lubang dan tambal sulam sulit menghasilkan sesuatu yang indah. Namun, sayangnya banyak orang menjalani pacaran dengan awal demikian: gali tutup lubang atau tambal sulam. Jangan terjebak, inilah 3 cara yang sehat untuk memulai pacaran.

Manusia adalah makhluk relasional. Setiap kita, laki-laki maupun perempuan, diciptakan untuk berelasi. Tak terbayangkan bagaimana sepi dan membosankannya jika dunia ini hanya dipenuhi oleh kumpulan manusia yang hidup sendiri-sendiri. Menariknya, sekalipun kita adalah makhluk relasional, tidak berarti kita bersedia saja menjalani relasi yang asal jadi. Buktinya? Kita pilah-pilih, kita punya ekspektasi, khususnya relasi dengan lawan jenis.

Sejak zaman nenek moyang kita sampai sekarang, relasi dengan lawan jenis - terutama pacaran merupakan trending topic yang selalu mampir di dalam kehidupan. Apalagi di zaman ini, sebuah zaman di mana kita dapat get connected satu sama lain dengan mudah. Harusnya pacaran bukan lagi menjadi barang langka. Jika dulu relasi antara seorang laki-laki dan perempuan dapat terjadi dengan bantuan merpati pos, sekarang dapat terhubung hanya dengan satu kali klik di smartphone. Wah, betapa mudahnya!

Namun, apakah benar pacaran dapat terjalin semudah itu? Semudah membalikkan telapak tangan? Semudah satu kali klik?


Pacaran Bukan Aksi Tambal-Sulam

Tambal-sulam biasa ditemukan dalam kegiatan jahit menjahit. Menjahit adalah kegiatan menyatukan bagian kain dengan jarum dan benang. Selembar besar kain yang awalnya polos, diberi pola kemudian dilekatkan - dibentuk menjadi sebuah pakaian baru. Memperbaiki bagian tertentu dari pakaian, karena rusak [robek, misalnya], kurang, atau malah kelebihan [bagian bawah celana yang kepanjangan], juga dapat disebut menjahit.

Pacaran bukan seperti menjahit. Ketika kita merasa ada karakter atau sifat diri kita yang rusak atau kurang, kita kemudian mencari tambalan untuk kerusakan dan kekurangan itu dari orang lain. Tidak seperti itu.

Bukankah sebuah hasil jahitan tidak akan pernah sempurna, alias ada cacatnya - sekecil apa pun? Jadi, kalau kita pacaran hanya untuk mencari 'bahan' untuk 'dijahitkan' kepada kita agar terlihat lebih 'pantas', relasi seperti ini tidak akan bertahan lama. Ketika merasa bahwa pasangan kita sudah usang, kita akan cenderung segera mencari orang yang lebih baik darinya, agar kita kembali terlihat 'pantas'.



Pacaran Bukan Aksi Gali-Tutup Lubang

Pasti kita semua pernah lihat yang namanya lubang. Bentuknya kebanyakan bundar, dengan diameter kecil sampai besar, dan memiliki kedalaman yang variatif juga. Yang namanya lubang, biasanya kosong. Jika tidak hati-hati ketika bertemu lubang, kita bisa-bisa nyangkut di dalamnya. Kalau sudah nyangkut, dijamin susah keluar. Nah, supaya gak banyak orang celaka, biasanya lubang-lubang itu ditutup, dengan aspal atau tumpukan batu, misalnya. Namun, hasil tutupan ini pun tidak menjamin bahwa lubang itu tidak akan terbuka lagi. Jika sering terkena air hujan plus dilintasi kendaraan-kendaraan besar, tambalan itu akan terbuka lagi, dan lubang pun, terbentuk lagi.

"Aduh, hatiku hampa, kosong. Sudah terlalu lama sendiri, tak ada yang mengisi. Aku harus cepat-cepat punya pacar nih!" Jadi, pacaran hanya untuk mengisi lubang yang kosong di hati? Pacar sekadar penambal lubang kekosongan diri?

Ketika relasi diterpa hujan masalah dan dilintasi rintangan-rintangan besar, lubang itu hampir pasti akan terbuka lagi. Dan kita akan kembali berusaha mengisi kekosongan dengan mencari pasangan lain. Kalau yang kita kerjakan bolak-balik gali-tutup-gali-tutup lubang, percayalah sebenarnya kita hanya sedang memperlebar dan memperdalam kekosongan hati dan perasaan kita.


Wah, sampai sini kelihatannya susah ya pacaran. Dua fakta di atas dipaparkan bukan untuk menjadikanmu takut berpacaran atau merasa bahwa pacaran itu sesuatu yang sulit banget. Jangan takut, inilah 3 tips memulai sebuah hubungan pacaran agar tertindar dari jebakan tambal-sulam dan gali-tutup lubang:


1. Kenali dengan Sungguh-Sungguh Diri Kita dan Calon Pasangan Kita

Di sinilah pentingnya proses PDKT. Janganlah jadikan PDKT sebagai ajang mengumbar romantisme dengan banyak-banyak memberi hadiah dan perhatian-perhatian yang sifatnya basa-basi.

Masa PDKT itu adalah masa di mana kita mengenal siapa calon pasangan kita dan sekaligus juga kita melihat ke dalam diri kita sendiri, "Orang seperti apa ya saya ini?"
[Image: crosswalk]

Inilah saat bagi kita untuk menggali, sedalam mungkin, diri kita dan calon pasangan kita. Ketika dalam proses PDKT kita menemukan bahwa orang yang kita taksir itu adalah seseorang yang mudah marah, misalnya. Kita perlu menjadikan itu bahan perenungan, "Bisa ga ya saya pacaran dengan si dia yang emosional?" Atau misalnya, orang yang kita dekati ternyata adalah seseorang yang lemot. Mampu gak kita terus bersabar menghadapi kelemotan dia?

Mengenal diri dan calon pasangan perlu dilakukan bahkan sebelum memulai masa pacaran.

Baca Juga: Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?



2. Belajar tentang Keterbukaan dan Kejujuran

Sebelum berpacaran, kita perlu belajar jujur dengan calon pasangan. Jujurlah mengenai diri kita, termasuk masa lalu yang [mungkin] kelam. Memang tak dapat dipungkiri, kejujuran itu membutuhkan proses, tidak semua hal dapat serta merta dibuka apa adanya. Namun, keinginan untuk jujur harus ada dan terus dipupuk sebelum kita memulai masa pacaran.

[Image: counselinglongbeach]
Kejujuran akan berbuah indah, karena kejujuran adalah awal dari sebuah penerimaan.

Baca Juga: Belajar dari Tax Amnesty: Ungkap Sejauh Apa dan Tebus Bagaimana yang Dapat Membawa Kelegaan dalam Relasi dengan Pasangan



3. Siap untuk Terluka

Last but not least, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. Kita pasti sering mendengar pepatah yang mengatakan, "Sedia payung sebelum hujan," bukan? Begitu pula dengan yang namanya pacaran. Berpacaran itu tidak selalu indah. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa pacaran itu indah, mohon maaf lahir batin, sepertinya orang itu sedang berada di dunia utopia.

Pacaran tidak akan luput dari masalah, karena dua insan yang sedang menjalin kasih itu tidaklah sempurna dan sama. Karenanya, sebelum memulai masa pacaran, kita perlu menyiapkan hati untuk segala hal buruk yang mungkin terjadi. Dengan kata lain, harus siap untuk terluka. Untuk gagal. Dan untuk memulai kembali.

[Image: huffingtonpost.com]

Masa berpacaran adalah masa yang penuh kesempatan, termasuk kesempatan untuk gagal. Karena kita masih hidup dalam kefanaan dunia, pacaran bukan sesuatu yang kekal. Ini perspektif yang harus kita miliki. Pacaran, jika demikian, adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, merupakan cicipan pernikahan. Tentu saja, cicipan bukan dalam aspek seksual, tetapi emosi. Mereka yang berpacaran sedang belajar mengenal satu dengan yang lain. Sebuah pengenalan yang akan berlanjut dalam pernikahan. Di sisi lain, juga adalah sebuah pembelajaran ketika harus berakhir dengan sebuah kegagalan.

Bayangkan jika kegagalan terjadi ketika kita sudah menikah. Lukanya tentu akan jauh lebih dalam dan sulit disembuhkan. Oleh karena itu, bersiaplah, tidak hanya untuk yang terbaik, tetapi juga yang terburuk.

Baca Juga: 3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai


Itulah 3 tips yang dapat menjadi bahan perenungan sebelum memulai masa berpacaran. Tiga tips yang hadir bukan untuk membuatmu takut melangkah, tetapi justru semakin mengasah arah. Tips-tips yang datang dari sebuah kenyataan hati, pikiran, dan tindakan yang lugas, namun juga dapat menginspirasi dalam menggagas sebuah relasi.

Karena cinta terlalu berharga jika hanya untuk dijadikan tambalan dan bukan tambatan.

Jadi, sudah siap berpacaran?



Baca Juga:

Bosan Putus Nyambung? Pacaran Langgeng Bukan Hal yang Mustahil, Inilah 3 Rahasianya

4 Fase dalam Pacaran yang Harus Kamu Lewati untuk Hubungan yang Mantap Menuju Pernikahan

Inilah 3 Cara Pacaran Berkualitas yang Akan Memantapkan Langkahmu dan Pasangan ke Pernikahan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pacaran: Bukan Tambal Sulam apalagi Gali Tutup Lubang. Mulailah Relasi Cinta yang Sehat dengan 3 Hal ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Misael Prawira | @misaelprawira

Manusia yang ditebus untuk menjadi terang dan garam. Menuangkan perasaan di dalam musik. Menuangkan pikiran dan menyikapi fenomena di dalam tulisan.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar