Orangtua, Waspadalah! Predator Seksual Ada di Sekitar Kita. Kisah-Kisah Nyata Pelecehan Seks pada Anak Ini Buktinya

Parenting

photo credit: Alifa Kids

6.2K
Inilah kisah-kisah nyata tentang pelecehan seksual pada anak dengan pelaku yang tak terduga, yakni dekat dengan keluarga. Menyedihkan, tapi semoga kita bertambah waspada.

Tak terlupakan oleh saya, wajah pucat pasi, mata memerah dan basah air mata, suara yang bergetar dari seorang anak yang baru beranjak 13 tahun. Ia menceritakan bagaimana tiap hari suami tantenya melakukan pelecehan terhadap tubuhnya sejak ia duduk di bangku SD. Beberapa hari sebelum menemui saya untuk curhat, ia melaporkan kelakukan om tersebut pada tantenya dan ternyata tantenya membela sang suami dan menuding gadis kecil itu sebagai pembawa sial. Padahal ia sudah tinggal di sana sejak TK. Hal ini membuat ia putus asa.

Gadis kecil itu kehilangan orang tuanya sejak ia masih balita. Ia dirawat oleh kakek dan neneknya setelah kedua orang tuanya wafat. Namun, karena kondisi ekonomi, nenek menitipkannya kepada tantenya yang ekonominya cukup baik agar ia dapat dirawat dan disekolahkan.

Siapa sangka, seiring bertambahnya usia, ia bertumbuh menjadi gadis kecil yang molek dan akhirnya menjadi korban dari predator anak, yaitu suami tantenya sendiri.

Banyak orang yang menganggap predator anak adalah orang asing dan tinggal jauh dari rumah mereka. Itu sebabnya peringatan seperti berhati-hati terhadap predator anak seringkali dihubungkan dengan tindakan tidak memposting foto, info personal dan aktivitas anak di media.

Saya sangat setuju dengan hal tersebut, karena info personal tentang anak akan membuka kesempatan untuk para predator yang juga pengguna media sosial. Sayangnya, menjaga posting di media sosial saja masih jauh dari cukup agar kita dapat melindungi anak-anak kita dari predator anak.

Bisa saja orang yang tinggal dekat dengan kita yang justru menjadi predator seksual.

Dari kisah yang saya dengar, teman bermain, tetangga, sopir atau karyawan yang berada di sekitar anak-anak majikan, bahkan keluarga sendiri seperti om atau paman, sesama saudara kandung sendiri ternyata dapat menjadi predator saat orang tua lengah memperhatikan anaknya.

Baca juga: Pelecehan Seksual pada Anak: Orangtua, Bekali Anak-Anak dengan 5 Hal Penting ini agar Mereka dapat Melindungi Diri Sendiri


Lalu bagaimana kita bisa menjaga mereka?

Melalui tulisan ini saya akan berbagi 5 kisah yang patut menjadi bahan perenungan yang dapat mengubah pola pengasuhan dan pengawasan kita terhadap anak menjadi lebih baik. Semua kasus ini terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun.


1. Pagar yang makan tanaman

photo credit: Ryan Maddux-Lawrence -

Kisah ini menunjukkan adanya orang yang bak pagar makan tanaman. Ia yang dipercaya untuk mengasuh dan melindungi anak, tapi ia justru “memangsa” anak itu. Seburuk dan seberat apa pun beban yang sedang dihadapi oleh orang tua/wali, jangan pernah menitipkan anak pada keluarga lain ketika orang tersebut tidak diketahui dengan jelas integritas seksualnya.

Harga yang terlalu mahal harus ditanggung oleh sang anak mau pun orang tua/wali gadis 13 tahun tersebut. Setelah konseling tersebut, akhirnya gadis 13 tahun itu mengikuti saran saya untuk segera menceritakan kasusnya kepada neneknya dan meminta dijemput pulang dan tinggal bersama neneknya yang sederhana.

Namun sayangnya, beberapa minggu setelah itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Untunglah, ia masih sempat tertolong dan dirawat di rumah sakit, namun organ dalam tubuhnya mengalami kerusakan. Ia mengalami goncangan jiwa hingga membuatnya sering mengalami halusinansi atau schizorphenia.

Dampak pelecehan seksual oleh suami tantenya menghancurkan hidup gadis kecil itu dan menghancurkan hati sang nenek.

Baca juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!


2. 10 Menit yang dapat membawa petaka

photo credit: Huffington Post

Seorang ibu dengan panik membagikan kisahnya di dinding Facebook. Ia hanya sibuk di dapur sekitar 10 menit saja, membiarkan anak laki-lakinya, sebut saja Boy, yang berusia 5 tahun bermain berdua dengan anak tetangga, yang berusia sekitar 8 atau 9 tahun. Saat ia kembali untuk melihat kegiatan mereka, ternyata celana anaknya sudah melorot di lantai dan si anak tetangga lari ketakutan keluar rumah. S

Setelah ditanya apa yang mereka lakukan, Boy bercerita bahwa temannya tersebut yang menurunkan celana dan minta saling bertukar pegang alat kelamin masing-masing. Segera setelah itu, si ibu memberikan edukasi bahwa hal tersebut tidak benar. Ibu tersebut tidak menyangka bahwa dalam waktu sesingkat tersebut bisa terjadi hal yang di luar dugaan terhadap anaknya.

Baca juga: Mengenal atau Menjadi Korban Kekerasan Seksual? Jangan Berdiam Diri! Inilah Sesungguhnya Langkah-Langkah Terbaik yang Harus Diambil untuk Pemulihan

Mata yang tajam, ketelatenan, dan kewaspadaan yang ketat mestinya menjadi bagian pola pengasuhan dari setiap orangtua, khususnya yang memiliki anak di bawah umur.

Seringkali kita sibuk dan ingin menyelesaikan pekerjaan kita dengan tenang. Ketika ada yang bisa membuat anak kita sibuk bermain tanpa mengganggu pekerjaan, kita merasa senang. Tanpa sadar kita terlalu lama sibuk dengan urusan, lupa memperhatikan apa yang anak-anak lakukan dengan teman-temannya.

Kita terkejut mereka lakukan, dan terkejut kala melihat mereka sudah terlanjur di “kerjai” oleh teman mainnya. Kita berpikir hanya akan sibuk selama 10 menit, tapi ternyata lebih dari itu. Dalam waktu itu, ada hal-hal fatal yang dapat terjadi pada anak-anak.

Dalam beberapa kasus, kejadian serupa juga terjadi bahkan di antara sesama saudara kandung, akibat pengaruh dari pergaula di sekolah. Itu sebabnya orang tua harus juga secara telaten memperhatikan perkembangan dan pengalaman anak dari hari ke hari.


3. Air susu bisa dibalas dengan air tuba

photo credit: She Radio FM

Mita (bukan nama sebenarnya) adalah seorang gadis yang baru saja memasuki kelas 2 SMP. Hari itu kedua orang tuanya sibuk dengan acara di luar rumah. Ia ditinggal bersama seorang mahasiwa laki-laki yang merupakan anak asuh orang tuanya. Pemuda yang adalah sepupu Mita tersebut sudah tinggal bersama keluarga Mita bertahun-tahun, dan dibiayai pendidikannya oleh orang tua Mita.

Tiada pikiran buruk tentang pemuda itu. Dengan nyaman Mita ngobrol bersamanya, namun yang terjadi, hari itu ia merampas kesucian Mita.

Pada saat itu, masyarakat belum mengenal gadget, sehingga Mita baru dapat melaporkan hal tersebut pada orang tuanya sore hari ketika mereka pulang. Bisa dibayangkan betapa marah orang tua Mita pada anak asuh tersebut. Mereka mengusirnya dari rumah, tapi tindakan tersebut tak dapat membatalkan apa yang telah terjadi pada anak perempuan mereka. Mita sudah terlanjur dinodai. Nasi sudah menjadi bubur.

Baca juga: Telanjur Menyerahkan Keperawanan, Teman Saya Ingin Bunuh Diri. Kini, Ia Bangkit Kembali. Inilah Kisahnya

Berhati-hatilah dalam menerima tumpangan Inap di rumah. Sekalipun kita menganggap orang tersebut baik, jangan pernah membuka celah yang beresiko bagi anak-anak.


4. Domba dan Rubah

photo credit: huffingtonpost

Beberapa waktu lalu saya membaca kisah 2 anak kecil yang selamat dari predator anak. Ibu tersebut terpaksa meninggalkan anak-anak di sebuah lobi rumah sakit. Anak-anak itu akan dijemput oleh rekan dari ibu itu. Sang ibu tidak menyangka temannya akan terlambat menjemput anak-anaknya.

Selama 30 menit penantian, seorang pria mendekati dua anak itu dan mengajak mereka untuk masuk ke toilet dengan alasan ada orang frustasi yang butuh pertolongan. Pria tersebut berusaha meyakinkan mereka bahwa jika anak anak yang bicara, maka orang frustasi itu akan tersentuh dan bersedia keluar dari toilet. Untunglah, anak pertama bersikukuh tidak mau menuruti keinginan pria itu. Anak itu menolak dan menjawab," Anak-anak tidak bisa menolong orang dewasa."

Pria tersebut menghilang ketika sang ibu muncul. Sang ibu menarik nafas panjang, merasa bersalah bercampur lega ketika anaknya berkisah. Ia bertanya pada anaknya, apa yang membuat ia menjawab demikian? Anak tersebut menjawab," Ibu pernah mengajarkan kami untuk hati-hati terhadap orang yang licik, baik orang asing atau yang sudah dikenal."

Anak-anak perlu mengerti bahwa di dunia tempat mereka hidup bukan saja ada domba yang jinak, tetapi juga rubah yang licik. Orangtua perlu mengajar anak perbedaan antara domba dan rubah.

Baca juga: Seks Pranikah itu Mudah, tapi Membuat Resah! Inilah 5 Kunci Pengendalian Diri demi Masa Depan yang Indah


5. Waspada pada tetangga atau teman yang “terlalu baik” pada anak-anak


Seorang yang secara sadar berniat menjadi predator terhadap anak, umumnya sudah punya target dan strategi sendiri. Mendekatkan diri sebagai teman dengan kebaikan yang melimpah adalah salah satu strateginya.

Jangan terburu-buru untuk gembira, jika ada tetangga atau teman yang rajin mengajak anak Anda untuk bermain bersama atau jalan-jalan keluar rumah. Waspadai pemberian-pemberian yang dapat membuat hati anak terikat pada orang tersebut.

Dari screenshoot chat group predator anak yang pernah beredar, mereka seringkali memikat calon korban dengan kebaikan yang melimpah.

Baca juga: Mengalami Pelecehan Seksual, Inilah 4 Hal yang Teman Saya Lakukan untuk Mengatasi Traumanya


Akhir kata, jagalah anak-anak kita seperti kita menjaga biji mata kita sendiri. Jangan sampai ada penyesalan!


Tulisan-tulisan ini akan membantu kita menata anak-anak dan keluarga:

Lepas Diri dari Kecanduan Pornografi dan Masturbasi Bukanlah Kemustahilan! Lakukan 3 Langkah Mendasar Ini

Berniat Kabur dari Rumah dan Melarikan Diri dari Masalah? Renungkan Dulu Tiga Hal Ini

Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Orangtua, Waspadalah! Predator Seksual Ada di Sekitar Kita. Kisah-Kisah Nyata Pelecehan Seks pada Anak Ini Buktinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar