Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!

Parenting

[Image: heartchildyoga.com]

12.4K
Tanpa sadar, banyak orangtua yang mengangkat mimpi masa kecil mereka dan menuangkannya ke dalam cangkir pribadi anak-anak mereka. Demi kasih dan pengabdian, anak-anak rela melakukannya. Dan untuk kesalahan yang kita lakukan ini, ada harga yang harus kita bayarkan

Dalam salah satu bukunya, Tim Elmore bercerita tentang pertemuannya dengan dua orang kepala sekolah tingkat menengah. Sekolah mereka berada di dua tempat yang berbeda. Dua kepala sekolah itu pun bertemu dengannya pada waktu yang berbeda. Akan tetapi cerita yang mereka sampaikan sangatlah mirip. Begini ceritanya.


Terlalu Besar untuk Sekadar Tugas

Suatu hari, seorang ibu dengan penuh amarah mendatangi kantor kepala sekolah untuk mengajukan keberatan atas buruknya nilai tugas yang diperoleh anaknya. Dengan tenang, kepala sekolah mengajak sang ibu untuk duduk dan mulai berdialog. Tidak lupa dihadirkan pula guru yang memberikan tugas yang dimaksud, yaitu tugas menulis.

Guru-guru yang bersangkutan merasa sedikit heran dengan kemarahan yang besar hanya untuk sebuah tugas di sekolah. Mereka pun mencoba memahami asal usul kemarahan itu. Dengan nada emosi, ibu ini mulai menjelaskan dengan detail isi tulisan yang dibuat oleh anaknya. Poin-poin pertimbangan yang diajukan oleh guru pelajaran juga dijawab dengan sangat cepat dan spesifik. Mengagumkan betapa ibu ini sangat mengerti isi dari tugas yang diberikan.

... Bahkan seakan ...

Akhirnya, kepala sekolah ini sadar apa yang sedang terjadi. Ternyata ibu inilah yang mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh anak SMPnya. Dan itulah sebabnya ibu itu menjadi begitu marah dengan nilai jelek yang diperoleh. Nilai jelek itu bukan menunjukkan tingkat kemampuan para siswa, tetapi memperlihatkan ketidakmampuan orangtua mereka. Para orangtua menjadi tersinggung karena hasilnya menunjukkan nilai jelek mereka, bukan anak-anak mereka.



Berpikir Layak menjadi Superstar, Bodoh?

Pada waktu yang tidak jauh berbeda, di tempat yang lain dengan suasana yang jauh lebih meriah dan disaksikan oleh jutaan pasang mata, satu anak demi satu anak naik ke atas panggung untuk memberikan penampilan terbaik mereka. Dengan dorongan keluarga dan teman-teman, mereka mendaftarkan diri untuk memenangkan kompetisi nasional ini.

Juri yang terdiri dari empat orang menunggu, siap memberikan penilaian mereka. Apakah anak ini adalah anak yang berbakat ataukah tidak? Apakah anak ini bisa menjadi idola selanjutnya ataukah ia hanya merupakan seorang bodoh yang berpikir bahwa ia layak menjadi seorang superstar?

Salah satu daya tarik dari reality show pencarian bakat seperti ini adalah menyaksikan peserta-peserta yang kelihatan begitu percaya diri, namun ketika mereka membuka suara, telinga kita seketika menjadi gatal. Reaksi yang muncul ketika para juri mengatakan “Anda tidak lolos," atau "Anda tidak berbakat,” merupakan momen yang menggelikan sekaligus menyedihkan. Ada peserta yang sampai menangis, sungguh tidak menyangka bahwa suaranya tidak bagus.

Mereka berpikir,

"Bukankah selama ini orangtuanya berkata bahwa ia memiliki suara seperti malaikat?"

"Bukankah selama ini teman-temannya selalu mengelu-elukan dia ketika ia bernyanyi karaoke?"

Mengapa kini para juri dan penonton memberikan reaksi penolakan?

Apa yang salah dengan telinga mereka?


Bila saja kita bisa menjawab pertanyaan anak-anak itu, maka kita semua yang berada di sana atau menonton di depan layar TV akan berkata,

"Kamu mungkin berbakat di suatu bidang, tapi bidang itu bukanlah bidang tarik suara."

'Inilah realita dibalik dunia impian yang selama ini telah dibangun oleh keluargamu."

[Image: univision.com]
"Kamu telah dibohongi. Oleh orangtuamu. Oleh teman-temanmu."

Baca Juga: Endorse Anak: Eksplorasi atau Eksploitasi? Pertimbangkan 2 Hal ini sebelum Memutuskan



Menginginkan yang Terbaik: Kecenderungan Setiap Orangtua

Sobatku, sebagai orangtua, saya bisa mengerti kecenderungan yang dimiliki oleh para orangtua di atas. Mereka menginginkan yang terbaik untuk anak mereka dan mereka percaya bahwa anak-anak mereka layak mendapatkan yang terbaik. Sejak kecil, mereka membangun dunia anak-anak mereka dengan berbagai impian yang mereka miliki. Tanpa memandang kemampuan anak-anak, para orangtua ini mendorong anak-anak untuk menjadi seseorang yang mereka idolakan. Seseorang yang mereka harapkan.

Tanpa sadar, banyak orangtua yang mengangkat mimpi masa kecil mereka dan menuangkannya ke dalam cangkir pribadi anak-anak mereka.

Bila anak-anak mereka tidak mampu, maka orangtua ini tidak segan untuk turun tangan memotong rumput dan memberi aspal pada jalan terjal yang seharusnya dilewati oleh anak-anak mereka. Atau menuliskan essay agar si anak bisa menjadi juara kelas.

Dan semakin kaya dan berpengaruh orangtua itu, maka semakin lama dan banyak yang bisa ia lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan dengan kekuasaan dan kedudukan yang tepat, seorang ayah dengan sangat mudah mampu mengubahkan haluan hidup anaknya, menjadi sesuai yang ia inginkan.

Baca Juga: Membentuk Anak menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya

Contohnya, seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter terpaksa melepaskan hasrat menolong orang ketika ia diberikan tanggung jawab untuk 'memegang' salah satu perusahaan orangtuanya yang bernilai puluhan milyar. Atau seorang tentara yang harus melepaskan karier yang sudah dibangunnya sejak muda, ketika dalam sehari, lampu sorot politik diperhadapkan kepadanya di panggung utama bangsa yang dicintainya oleh ayahnya sendiri.

[Image:skyword.com]

Bila kita yang menjadi mereka, bagaimana mungkin kita berkata tidak, bukan?

Sementara seperti kita, anak-anak ini juga mencintai orangtua mereka dan ingin membuat keluarga mereka bangga.



Ada Harga yang Harus Dibayar, Selalu

Akan tetapi sobatku, ketika kita mendorong anak untuk menjadi seseorang yang kita inginkan, maka kita sedang membentuk mereka dengan model yang tidak tepat. Anak-anak yang mengasihi orangtua mereka akan mendengarkan perintah orangtua mereka. Anak-anak ini akan berlari dengan sekuat tenaga, bahkan ketika mengetahui bahwa di hadapan mereka terdapat dinding kokoh yang menghadang. Demi kasih dan pengabdian, mereka rela melakukannya.

Dan untuk kesalahan yang kita lakukan ini, itu adalah satu satu harga yang harus mereka [dan kita sebagai keluarga] bayar.

[Image: pexels.com]

Hal kedua yang menjadi price tag untuk kesalahan ini adalah munculnya stres yang tidak perlu dalam diri mereka. Kita membuat mereka tidak bisa menerima diri sendiri. Kita membuat mereka kehilangan rasa damai karena mereka akan mendapati diri mereka selalu mengecewakan orangtua mereka.

Harga ketiga yang akan dibayar adalah harga relasi dalam keluarga. Setelah berulang kali mencoba menyenangkan orangtua mereka, maka anak-anak ini akan mendapati bahwa hal itu mustahil. Mereka tidak akan mampu menyenangkan orangtua dengan cara yang diinginkan oleh orangtua mereka. Akhirnya, mereka akan menyalahkan diri sendiri dan tanpa sadar, menjauhkan diri dari orangtua mereka.

Baca Juga: Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat



Sepuluh, Dua Puluh, Tiga Puluh, lalu Lepaskan

Setiap kita boleh memiliki mimpi dan berusaha untuk mengejarnya. Mari kita hargai anak-anak kita sebagai individu yang unik dengan mimpi yang unik untuk diraih.

Sebagai orangtua, mari kita belajar untuk menghindarkan diri dari kesalahan ini: kesalahan ketika kita memproyeksikan impian kita kepada anak-anak kita.

Sebaliknya, marilah kita saling mengingatkan untuk terus memberi support kepada anak-anak kita. Bagi kita yang berharap agar anak-anak kita bisa menjadi dokter, maka ketika pilihan mereka adalah menjadi seorang akuntan, marilah kita terus memberi mereka semangat. Bagi kita yang menginginkan anak kita menjadi seorang atlet tetapi kemudian mereka memilih untuk menjadi programmer, dukunglah mereka.

Janganlah kita lupa, anak-anak merupakan titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Sebagai orangtua, merupakan peran kita untuk menggunakan sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun pertama dalam hidup mereka untuk memberikan dasar yang kuat dan pedoman yang benar. Setelah itu, biarlah mereka mengembangkan sayap mereka untuk terbang tinggi. Dukunglah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kokoh dan mandiri.

Dengan fondasi yang kuat, lepaskanlah mereka untuk bertumbuh indah dalam tarian hidup pilihan mereka sendiri.
[Image: kariswong.com]

Di saat itu, kita akan menyadari bahwa mimpi yang mereka kejar itu jauh lebih indah daripada impian yang ingin kita proyeksikan kepada mereka. Dan kita akan bersyukur karena telah menghindarkan diri dari kesalahan yang banyak dilakukan oleh orangtua ini.

Mari bersama kita berjuang!



Baca Juga:

Setiap Anak Istimewa. Bantu. Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri

Belajar dari Joey Alexander: Kesuksesan Seperti Apa yang Kita Inginkan untuk Anak-Anak Kita?

Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar