Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh

Love & Friendship

[Image: shutterstock]

4.5K
Mengapa ya, banyak orang suka menghakimi orang lain? Mungkin, dengan menghakimi orang lain, orang mendapatkan rasa aman, sekalipun palsu, bahwa dirinya tidak jelek-jelek amat, masih ada yang lebih jelek dari dirinya.

Tulisan ini saya buat karena terdorong oleh rasa ngeri membaca tanggapan-tangggapan sadis dan penuh penghakiman di media sosial terhadap seorang gadis. Gadis itu baru berusia belasan tahun. Ia tidak tahu bahwa dirinya hamil, hingga akhirnya suatu waktu Ia merasa sakit perut dan kemudian melahirkan seorang bayi.

Ada yang menulis komentar "Makanya, jadi perempuan jangan....", "Masa tidak tahu hamil, memangnya waktu...", dan komentar-komentar lain yang bernada kurang lebih sama. Saya tidak berani meneruskan kalimat-kalimat di atas, karena bagi saya, amat keterlaluan.

Kenyataan bahwa pelaku yang menghamili gadis tersebut adalah seorang kakek yang berumur tujuh puluhan tahun pun tidak membuat 'para hakim' itu berpikir bahwa mungkin saja gadis itu adalah korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), atau, bahwa bisa juga terjadi gadis itu seorang yang polos, lugu, dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.

Teman saya, seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sebuah Sekolah Menengah Pertama, melihat seorang siswinya sedang disayang-sayang oleh seorang guru laki-laki. Dalam pandangannya, ada sesuatu yang tidak wajar dalam hubungan siswi dan guru laki-laki itu, maka esok harinya Ia memanggil siswi itu untuk berbicara secara pribadi dengannya. Ternyata siswi tersebut adalah seorang anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang ayah. Ayahnya meninggalkan keluarganya dan pergi dengan perempuan lain sejak Ia masih di dalam kandungan ibunya. Hal ini menyebabkan ketika ada seorang guru laki-laki yang memberikan perhatian lebih kepadanya, Ia mengira itulah kasih sayang ayah, sesuatu yang selama ini Ia cari dan rindukan. Ia sama sekali tidak mencurigai bahwa ada maksud-maksud lain dari guru laki-laki tersebut. Syukurlah teman saya cepat tanggap sehingga siswi tersebut bisa diselamatkan.

Saya jadi ingat kisah Amanda Todd yang sempat menjadi berita utama di media massa. Ia tewas bunuh diri karena tidak tahan dengan tudingan penuh penghakiman dari segala penjuru melalui media sosial akibat kesalahan satu detik yang pernah dilakukan di dalam kepolosan dan keluguannya sebagai seorang remaja. Alangkah tragisnya!!! [Artikel mengenai Amanda Todd dapat Anda temukan di sini]

Saya kemudian merenung dan mencoba mencari jawab, mengapa ya banyak orang suka menghakimi orang lain?

Mungkin, dengan menghakimi orang lain, orang mendapatkan rasa aman, sekalipun palsu, bahwa dirinya tidak jelek-jelek amat, masih ada yang lebih jelek dari dirinya.

Orang seperti ini tidak sadar bahwa sebenarnya Ia sedang menipu dirinya sendiri dan, yang lebih parah, menghindar dari tanggung jawab untuk bertumbuh, sebab bertumbuh itu adalah sebuah proses yang menyakitkan. "Bukankah saya sudah baik, atau paling sedikit, sudah lebih baik dari orang lain? Mengapa harus susah-susah bertumbuh?" Maka tidak heran jika perilaku seperti ini tidak segera dihentikan, cepat atau lambat akan membuahkan pribadi-pribadi yang picik.

Agar kita terhindar dari menjadi pribadi yang picik, sebelum menghakimi orang lain, mari kita lakukan beberapa hal berikut ini:


1. Tempatkan Diri di Posisinya

"Seandainya aku jadi dia, bagaimana perasaanku?"

Orang yang jatuh sudah terhukum oleh perbuatannya sendiri. Apalagi kalau itu bukan murni kesalahannya. Jadi, mengapa kita tega menambah beban rasa bersalahnya dan menghancurkannya?


2. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Terjadi

Selalu cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, atau kalau hal tersebut tidak memungkinkan, pikirkan berbagai kemungkinan situasi yang dihadapi yang menyebabkan Ia jatuh dan renungkan,

"Seandainya aku berada dalam situasi seperti yang dia hadapi, apakah aku bisa lebih baik dari dia?"

Kita semua adalah mahluk ciptaan yang lemah dan mudah jatuh. Kalau hari ini kita tidak jatuh, bukan berarti kita lebih baik atau lebih kuat dari orang lain. Kita hanya belum mengalami apa yang dialami orang tersebut. Seandainya kita mengalami hal yang sama, tidak tertutup kemungkinan bahwa kita akan melakukan hal yang bahkan lebih buruk dari dia.


3. Pikirkan Bagaimana Cara Menolong untuk Bangkit Kembali

Orang yang jatuh tidak butuh dihakimi dan ditunjuk-tunjukkan kesalahannya, lagi dan berulang-ulang kali lagi. Ia sudah mengerti bahwa Ia bersalah. Yang Ia butuhkan adalah didengarkan, diampuni, dipahami, dirangkul, diberi pengharapan bahwa semua itu bukan akhir dari segalanya, dan didorong untuk bangkit kembali. Bangkit kembali tanpa mengulangi kesalahan yang sama, serta bangkit kembali dengan menjadikan kejatuhannya sebagai pelajaran yang berharga untuk, bukan hanya membentengi dirinya sendiri agar tidak jatuh lagi, melainkan juga untuk menolong orang lain yang jatuh seperti dirinya.

Pada kenyataannya, tidak ada orang yang dapat menolong orang lain yang jatuh sebaik Ia yang pernah jatuh untuk hal yang sama.


4. Lakukan Pendampingan

Jikalau memungkinkan, lakukan pendampingan, atau paling sedikit, doakan agar Ia segera menemukan jalan hidup yang benar.


Jika kita melatih diri untuk bersikap benar terhadap orang yang jatuh, maka kita juga akan menolong diri kita sendiri untuk bertumbuh dari pribadi yang picik menjadi pribadi yang penuh belas kasihan.


Kiranya Tuhan menolong kita untuk berhenti menghakimi dan mulai belajar memahami, serta menolong orang yang jatuh untuk bangkit kembali.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Ruth Retno Nuswantari | @Ruth357

Cocern di bidang kelompok kecil dan konseling pemulihan

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar