Orang Tua Gagap Laku : Bisa Menasihati, namun Gagal Memberi Teladan. Bagaimana Mengupayakan Perubahan?

Parenting

www.impactlab.net

1.8K
“Anak-anak mungkin akan menutup telinga mereka untuk nasihat, tetapi mata mereka selalu terbuka untuk contoh” (nn) Mengapa ada anak yang sampai bisa menyematkan stigma kepada ayahnya sebagai sosok pembohong dan aktor watak yang licik? Bisa jadi karena Ia tak sanggup lagi berpura-pura buta dan tuli terhadap kebohongan ayahnya.

“Anak-anak mungkin akan menutup telinga mereka untuk nasihat,tetapi mata mereka selalu terbuka untuk contoh” (nn)


Mengapa ada anak yang sampai bisa menyematkan stigma kepada ayahnya sebagai sosok pembohong dan aktor watak yang licik? Bisa jadi karena Ia tak sanggup lagi berpura-pura buta dan tuli terhadap kebohongan ayahnya. Selembar foto ayahnya bersama perempuan lain yang bukan ibunya, dan anak mereka, sertakonfirmasi langsung dari ayahnya bahwa Ia memang telah menikah lagi,rasanya cukup menjadi bukti fisik dan alasan untuk kemarahannya. Tetapi celakanya, Ia harus menyimpan ini dari ibunya yang sedang sakit. Rasanya tidak adil. Ini yang membuatnya lelah, bahkan lelah dan marah karena ayahnya tampil apik seolah semua baik-baik saja. Bila sudah terjadi demikian, apa yang dapat kita perbuat terhadap kesan negatif yang terlanjur terbentuk tentang ayahnya?


Mengapa pula ada anak yang merasa malas sekali pulang ke rumah cepat-cepat? Loh, bukankah rumah adalah tempat, wadah bercurah, wadah rekreatif dan relaksasi bagi penghuninya? “Malas ketemu papa!” Hmmm, terus? “Kalau pulang sekolah dan ada dia di rumah, ya langsung saja ke kamar!”Jawaban atas tanya ‘mengapa’ berikutnya adalah karena matanya melihat papa sering bertindak kasar terhadap mama; telinganya sering bingung, dan berikutnya marah, ketika dari mulut papa keluar kalimat-kalimat yang membuat anak bertanya: “Sebenarnya aku ini anak siapa?” Matanya melihat dan telinganya mendengar apa adanya, asli keseharian orangtuanya.


Kita semua harus jujur, selaku orangtua kita seringkali angkuh, merasa sokbenar dan dewasa berbajukan nasihat-nasihat bijak. Namun sadarkah kita, semakin bijak, semakin rohani, semakin bermoral kata-kata seseorang, maka kepadanya juga dituntutkan hal kebaikan moral yang lebih tinggi? Dan, lagi-lagi kita harus jujur, kita kaya stok nasihat tapi alpa dalam menerapkan atau belum tuntas dalam menyelesaikannya. Saya menyebutnya ‘gagap laku’. Bila demikian terjadi, maka sejatinya kita sedang menggiring hati anak-anak kita pada kegersangan cinta, pada suasana nihil teladan. Orangtua yang demikian, perlahan namun pasti, sedang mempersiapkan bumerang bagi dirinya sendiri. Mengapa? Karena tentu saja anak-anak kita, kalau kurang etis disebut menuntut, sebut sajalah mereka rindu kita menjadi pemeran dari nasihat-nasihat kita, kita menjadi role model (teladan) bagi mereka. Kalau kita alpa, maka cepat atau lambat bumerang itu pun akan berbalik mengenai kita. Itu yang pertama.


Yang kedua, anak-anak kita adalah foto kita. Bila mereka mempunyai orangtua lengkap tetapi yatimrole model, maka jangan kaget, heran atau marah bila kita mendapati anak-anak kita justru mengidolakan orang lain; atau jika kita merasa tidak lagi mengenal anak-anak kita. Hello, kemana saja saat mereka haus model?


Ketiga, kita tidak bisa marah bila kita kehilangan wibawa di depan mereka, bila anak-anak kurang hormat kepada kita selaku orangtua. Mengapa? Karena lisan kita berbanding terbalik dengan laku. Ibarat kata, mereka memegang kartu mati kita. Lagi-lagi, sebenarnya yang mereka inginkan sederhana saja: kita melakukan apa yang kita tuturkan, bukan ‘jarkoni’, bisa ujar (berkata-kata) tetapi tidak nglakoni (melakukan). Maka saya pun bisa mengerti bila ada seorang anak laki-laki yang berani menjadi tameng ibunya dari tamparan ayahnya; atau seorang anak lain yang tega melaporkan ayahnya ke polisi. Akhirnya diam-diam saya mengiyakan bila lelaki muda itu memberi cap ‘pecundang’, ‘cemen’ pada ayahnya. Bila demikian, rasanya wajar jika anak tak menyesal melawan dan melaporkan ayahnya ke polisi.


Keempat, kita tak perlu alergi dan lantas takut berpetuah bijak. Mari memandang ajaran moral kita kepada anak-anak kita juga sebagai media pembentukan kita, bahwa melaluinya kita juga diarahkan untuk belajar hidup baik. Menurut pemahaman iman saya, di dalam perintah yang terdapat dalam hukum kelima Dasa Titah“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12), juga tersirat panggilan bagi orangtua untuk berbenah diri, memantaskan diri, agar mampu menempatkan diri sebagai sosok yang patut dihormati dan tidak menjadi batu sandungan bagi anak-anaknya. Bila kita mau anak-anak kita bertumbuh baik dan dewasa, sejatinya kita pun harus tumbuh dewasa terlebih dahulu. Itulah cara kita menolong anak-anak kita bertumbuh.


Banyak orangtua yang merasa sudah cukup hadir dalam hidup anak-anak mereka melalui kecukupan materi. Toh kesibukan dan ketidakhadiran mereka juga karena bekerja demi anak-anak, seringkali itu dijadikan dalil ‘pembenar’. Anak-anak kemudian dihujani dengan barang-barang mewah. Bukan itu sesungguhnya makna hadir dan mendidik.


Sebagai orangtua, keseharian kita, lisan dan laku kita adalah kitab terbuka bagi anak-anak kita. Apa yang mereka dengar dan lihat pada kita adalah rekaman teladan. Tentu saja kita harus berpikir jauh pada tumbuh kembang mereka nantinya. Itu bukan urusan nanti, tetapi perlu bentukan sejak sekarang. Itu urusan kini, untuk nanti. Itu bukan hal mahal, bahkan sejatinya gratis. Hanya saja memang perlu dilakukan dengan kesadaran cinta. Cinta keluarga, cinta anak, cinta masa depan yang lebih baik.


Mari Ayah, Bunda, kita hadir dalam lisan-laku cinta bagi buah hati kita.


“Anak-anak membutuhkan kekuatan untuk bersandar,membutuhkan pundak untuk menangisdan membutuhkan contoh untuk mempelajari sesuatu dari seseorang.” (nn)



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Orang Tua Gagap Laku : Bisa Menasihati, namun Gagal Memberi Teladan. Bagaimana Mengupayakan Perubahan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar