Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

Parenting

[Image: Walt Disney Movie]

5.5K
Orangtua, tontonlah Moana bersama anak-anak dan dapatkan 5 pelajaran penting ini.

Baru-baru ini, kami sekeluarga pergi menonton Moana, film animasi Disney terbaru yang amat memanjakan mata dan telinga. Ceritanya pun sangat bermakna, sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang penting bagi anak-anak. Sammy, anak kami yang berusia 7 tahun, sangat menyukai film ini, walau ada adegan yang sempat membuatnya menangis karena takut.

Setelah nonton, kami makan. Sambil menikmati mie ayam, kami kembali membicarakan hal-hal yang kami sukai dari film tersebut. Sammy kemudian menceritakan bagian-bagian yang menjadi kesukaannya, termasuk tentang karakter Maui dan lagu-lagu yang dinyanyikan.

Sebagai orangtua, saya juga belajar banyak hal dari film ini. Berikut lima pembelajaran yang saya dapatkan dari film Moana:



1. Naikkan Ekspektasi Anda terhadap Anak

Di tengah segala kelebihan dan kemajuan teknologi, kita mengalami kemunduran dalam menempatkan harapan dan ekspektasi kepada anak-anak kita. Benar, anak-anak kita saat ini menghadapi ujian, les, latihan, ekskul, dan pembinaan yang jauh lebih banyak dari yang pernah kita bayangkan. Tetapi bagaimana dengan pengalaman hidup yang penuh risiko namun benar-benar memiliki dampak bagi kehidupan? Berapa banyak dari kita yang memberikan tantangan yang cukup besar kepada anak-anak kita hingga membuat mereka gentar dan mau mengangkat kepala dari permainan iPad, dari televisi, atau dari posting-an sosial media mereka?

Baca Juga: Anak Tidak Bisa Dipisahkan dari Gadgetnya? Orangtua, Segera Lakukan 5 Hal Penting Ini!

Tak perlu menengok terlalu jauh ke belakang, bukankah beberapa puluh tahun lalu, anak-anak berusia 17 tahun sudah diberi kepercayaan untuk maju ke medan tempur, berperang dan mengambil keputusan dengan nyawa rekan-rekan mereka sebagai taruhan?

Moana sendiri adalah seorang anak perempuan berusia 16 tahun. Remaja perempuan ini berhadapan dengan laut. Sesuatu yang bukan hanya menggentarkannya, tetapi juga menakutkan untuk orangtuanya.

Apa sih yang bisa dilakukan remaja berusia 16 tahun hari-hari ini? Apa yang menjadi ekspektasi kita, sebagai orangtua, untuk anak berusia 16 tahun? Kebanyakan kita hanya berharap agar mereka belajar dengan baik dan tidak mendapatkan pacar yang nyeleneh, bukan? Kita berharap agar mereka pulang sebelum jam 10 malam dan tidak minta ditato di sana sini, bukan?

Berapa banyak dari kita yang berharap kepada seorang anak berusia 16 tahun untuk menjadi penyelamat?

Tetapi justru itulah yang dilakukan Moana!

[Image: Walt Disney Movies]
Sesungguhnya itulah hidup berpetualang yang didambakan oleh anak-anak kita. Hidup yang bermakna.

Rekanku, seringkali kita mematok ekspektasi yang terlalu rendah untuk anak-anak kita. Bahkan harapan yang kita anggap tinggi pun seringkali ternyata tidaklah cukup tinggi bagi mereka. Ayah Moana berharap anaknya bisa menjadi kepala suku. Buatnya, itu sudah tinggi. Tetapi Moana melakukan itu dan bahkan melampauinya. Ia menjadi jauh lebih tinggi dari harapan yang dimiliki oleh keluarganya.

Mari kita belajar untuk mengevaluasi ekspektasi kita terhadap anak-anak kita.

Baca Juga: Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini



2. Teruskan Cerita Masa Lalu sebagai Penuntun untuk Hari Esok

Sejak kecil, Moana telah diperkenalkan kepada berbagai cerita leluhur oleh neneknya. Cerita yang terdengar seram buat anak-anak lain itu ternyata memiliki daya tarik tersendiri buat Moana. Ketika ia beranjak remaja, nenek membukakan kepadanya sebuah cerita rahasia yang selama ini tersembunyi tentang peran nenek moyang mereka sebagai pengembara laut. Hal ini kemudian memberikan keberanian ekstra bagi Moana untuk mengejar panggilan hidupnya.

[Image: baltana.com]

Setiap kita memiliki masa lalu yang perlu kita gali dan teruskan kepada anak-anak kita. Dengan hikmat, kita bisa mengambil kekuatan dari kesalahan masa lalu untuk dijadikan pelajaran penting bagi pembentukan karakter dan masa depan anak-anak kita. Contohnya, bila saya ingin anak saya bertumbuh dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan, maka saya perlu bercerita secara terus menerus kepada dia bagaimana Tuhan itu adalah Tuhan yang bisa diandalkan. Saya perlu menceritakan kisah ketika saya gagal dan mengecewakan Tuhan, tetapi Ia tidak meninggalkan saya. Saya juga perlu menceritakan penderitaan dan sakit yang dulu dialami oleh keluarga, tetapi bahkan di tengah segala bahaya dan kegelapan itu, Tuhan tetap kuat - bagaikan sebuah fondasi kokoh yang bisa menopang sebuah bangunan yang tinggi dan megah.

Baca Juga: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami

Cerita-cerita masa lalu merupakan kekayaan yang tak ternilai untuk anak-anak kita. Janganlah kita menguburkan dan mengabaikannya. Sebaliknya, biarlah cerita-cerita tersebut tetap hidup dan menjadi penuntun ketika anak-anak kita berada di dalam bahaya. Ketika mereka ingin menyerah, menghadapi tantangan, atau patah semangat, lewat kisah-kisah yang kita bagikan, mereka akan teringat bagaimana pendahulu mereka juga pernah menghadapi hal yang sama. Dan, belajar dari para pendahulu, mereka akan dimampukan untuk tetap kuat serta memilih jalan yang baik dan benar.

Baca Juga: Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Kamu Berikan kepada Anakmu pada Perayaan Tahun Baru Imlek



3. Berikan Ruang yang Cukup Luas untuk Kegagalan

Sebagai orangtua, kita ingin melindungi anak kita dari segala kemungkinan sakit dan luka. Naluri ini berlipat ganda ketika hal yang ingin mereka lakukan itu berhubungan erat dengan kegagalan dan luka masa lalu kita.

Ayah Moana pernah berlayar melewati zona aman di laut, dan pengalaman itu membuatnya harus kehilangan teman baiknya. Luka yang terus ia bawa hingga kini masih terasa menyakitkan dan ia tidak ingin Moana mengalami penderitaan yang sama.

Namun, dalam usahanya melindungi Moana, sang ayah juga jadi membatasi ruang geraknya. Ayahnya lupa bahwa satu-satunya cara untuk menghilangkan risiko luka, kematian, atau kehilangan teman adalah dengan mengurung seseorang dalam sebuah kamar, seperti yang pernah dicoba oleh Elsa dalam film Frozen. Akan tetapi, seperti yang juga terlihat dalam cerita itu, upaya melindungi seperti itu tidak membawa kebaikan dan hanya membuat situasi menjadi semakin buruk.

Hai orangtua, marilah kita belajar untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk mencoba sesuatu yang baru dan kemudian mengalami kegagalan. Marilah kita berikan kepercayaan kepada mereka untuk mengikuti kata hati mereka dan kemudian menanggung konsekuensi dari pilihan itu.

Bila hal ini kita lakukan sejak mereka kecil, ketika risiko yang harus ditanggung masih sangat kecil, maka ketika besar nanti, mereka sudah memiliki mental yang tahan banting ketika harus mengambil keputusan dengan risiko yang besar.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka



4. Bangunkan Rasa Percaya Diri untuk Mengejar Panggilan dari Laut

Laut adalah cinta pertama Moana. Sejak kecil, laut menjadi tempat yang memanggil jiwanya. Moana menemukan dirinya ketika ia berada di laut.

[Image: movieforkids.it]

Bagaimana dengan anak-anak kita? Bidang apakah yang mampu membangkitkan gairah dan menyalakan api jiwa mereka?

Kita perlu mengerti bahwa 'laut' untuk anak yang satu akan berbeda dengan anak lain, bahkan dengan saudaranya sendiri.

Terkadang, ada anak-anak yang sudah mampu mendengarkan panggilan hidup mereka sejak kecil. Anak-anak ini memiliki ketertarikan khusus kepada satu bidang tertentu, melebihi hal-hal lainnya. Ketika mereka melakukan hal tersebut, waktu terasa berlalu dengan sangat cepat. Ada yang suka menggambar, ada yang suka dengan angka, ada pula yang senang dengan segala kegiatan yang menguras tenaga dan keringat.

Kepekaan, sekali lagi, diperlukan oleh orangtua untuk mendampingi anak-anak mereka dalam mendengarkan panggilan dari laut ini. Kesukaan mereka perlu diuji dan ditempa. Pilihan mereka perlu diawasi dan dipagari, terlebih ketika mereka masih kecil. Konsistensi terhadap suara panggilan itu perlu tetap ada dan menjadi semakin kuat.

[Image: Walt Disney Animation Studio]
Akan tetapi, dalam semua yang kita lakukan, janganlah kita sampai memadamkan cinta itu.

Janganlah mempertanyakan kesukaan anak-anak kita, tetapi ajaklah mereka untuk bersama-sama menguji bilamana panggilan laut itu benar-benar untuk mereka.

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa, Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri



5. Carikan Suara Penting dari Perempuan Gila untuk Mereka

Dalam cerita Moana, 'perempuan gila' yang dimaksud adalah neneknya sendiri. Nenek ini seringkali terlihat memberikan masukan dan pandangan yang berbeda dari orangtua Moana. Yang menarik adalah bahwa walau pandangan itu berbeda, orangtua Moana tidak menghalangi Moana dari pengaruh si 'perempuan gila'. Mereka menyadari pentingnya Moana mendengarkan suara dan nasihat dari pihak lain. Mereka menyadari bahwa akan datang suatu waktu ketika Moana akan mencari pandangan dan pendapat dari orang lain. Dan neneklah orang yang mereka percayakan untuk menjadi suara itu. Mereka tahu bahwa walau kerap berbeda pendapat, nenek juga mengasihi Moana dan ingin yang terbaik untuknya.

[Image: Walt Disney Movies]
Siapakah yang menjadi 'perempuan gila' dalam hidup anak-anak kita? Adakah suara-suara lain yang kita izinkan untuk didengar oleh anak-anak kita sejak mereka kecil?

Saya mendengar cerita dari Dr. Tim Elmore, seorang ayah yang ketika anak perempuannya berusia 13 tahun, melakukan sesuatu yang mirip dengan poin ini. Kepada anak mereka, Tim dan istrinya mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan ia akan mengalami banyak perubahan. Tubuhnya, pandangannya terhadap laki-laki, bahkan pandangannya terhadap orangtuanya akan berubah. Di saat-saat seperti itu, ia akan memiliki banyak pertanyaan yang mungkin sulit untuk ditanyakan kepada ayah atau ibunya. Karena itu, pasangan suami istri ini mengajak si anak untuk bersama-sama memilih 6 wanita dewasa untuk menjadi mentornya selama sehari dalam satu tahun mendatang. Wanita-wanita ini adalah orang-orang yang dihormati oleh Tim dan istrinya, dan sekaligus dianggap 'keren' dan dikagumi oleh anaknya.

Baca Juga: 3 Langkah Efektif yang Harus Dilakukan oleh Orang Tua yang Rindu Menjadi Sahabat bagi Anak Remaja Mereka

Setelah itu, Tim dan istrinya menghubungi para wanita ini dan mengajukan permintaan unik mereka. Tim meminta tolong, bila mereka tidak keberatan, untuk menjadi mentor bagi anak perempuan mereka selama sehari. Dalam setahun ke depan, masing-masing wanita ini bisa memilih satu hari untuk melakukan mentoring tersebut. Di hari mentoring itu, anak remaja Tim akan menjadi 'bayangan' mereka, mengikuti semua aktivitas yang mereka lakukan. Bahkan, kalau perlu, mereka bisa memberikan pekerjaan untuk ia lakukan. Kemudian, mereka diminta untuk mengambil sebuah waktu khusus untuk melakukan ini: Bagikan kepada si anak sebuah nasihat yang mereka harapkan mereka dengar ketika mereka berusia 13 tahun.

[Image: mymamihood.com]

Wanita-wanita ini melakukan apa yang menjadi permintaan Tim dan jauh lebih banyak daripada apa yang diharapkan. Suara-suara dan pengalaman bersama wanita-wanita ini menjadi layaknya suara dari 'perempuan gila' yang berperan penting dalam langkah ke depan dari anak remaja itu.

Sudah adakah pria dan wanita seperti itu yang kita tempatkan di sekeliling anak kita? Terapkanlah prinsip ini. Mari berikan suara penting dari 'perempuan gila' untuk anak-anak kita.


Selamat berjuang, rekan-rekan orangtua!



Baca Juga:

Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak

Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orangtua, Inilah 3 Do's and Don'ts -nya

Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan itu pada Anak Sejak Dini!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar