#MeToo: Fenomena yang Membuktikan Seks Bukan Sekadar Hubungan Fisik

Reflections & Inspirations

[image: Slovenske novice]

2.4K
Apakah kita berpikir bahwa seks itu hanya hubungan fisik semata, ataukah kita percaya bahwa seks itu bukan hanya sekedar hubungan fisik? Jawaban kita akan menentukan langkah dan keputusan yang kita ambil.

Beberapa waktu lalu, dunia hiburan di Amerika digoncangkan dengan berita pelecehan seksual oleh Harvey Weinstein. Sebagai produsen film Hollywood yang berkuasa, ia dipandang sebagai salah satu orang yang tidak dapat disentuh oleh hukum.

Budaya perfilman di sana memungkinkan Harvey menggunakan kekuasaan untuk kepuasan pribadinya. Besarnya kehausan akan konsumsi informasi dari masyarakat membuat ia bisa mendikte orang media untuk menguburkan berita negatif tentang dirinya dengan janji wawancara ekslusif tentang berita hiburan. Akan tetapi, semua itu akhirnya harus terungkap. Semua kebusukannya kini dibuka di hadapan umum.

Pada tanggal 8 Oktober 2017, ia akhirnya dipecat oleh perusahaannya sendiri. Hal ini baru awal dari kejatuhannya. Teman-temannya mulai membuat jarak dengannya. Kemudian ia menjadi guyonan pahit dari berbagai talk show. Karena perbuatannya, ia pun ditinggal pergi oleh istrinya.

Setelah itu, berbagai wanita yang juga menjadi korban pelecehan mulai mengeluarkan suara mereka. Bahkan, tidak sedikit yang keluar dari bayang-bayang rahasia dan mengatakan secara terbuka bahwa mereka adalah sebagian korban dari Harvey. Saat ini, jumlah korban yang mengaku pernah diperlakukan tidak senonoh oleh Harvey mencapai empat puluh orang.

Termasuk di antaranya adalah bintang film Rose McGowan, Gwyneth Paltrow, Ashley Judd, Angelina Jolie, dan Lena Headey yang berperan sebagai Cersei Lannister di serial TV “Game of Thrones”.

[sampul utama majalah Variety]



Gelombang #MeToo

Sementara orang banyak mulai tertarik untuk mengetahui siapakah Harvey dan mengapa ini bisa terjadi, serta apa yang membuat hal tersebut bisa terjadi di Hollywood pada saat ini, Alyssa Milano mendapatkan ide dari seorang teman untuk memanfaatkan berita panas ini untuk sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berita.

Pada subuh-subuh tanggal 16 Oktober, ia bangun dari tidurnya dan memasang berita ini di Twitter-nya:

"Bila semua wanita yang pernah dilecehkan secara seksual menuliskan “Saya juga,” atau “Me too,” sebagai status mereka, kita mungkin bisa memberikan bayangan kepada banyak orang betapa besarnya masalah ini."


Kemudian, inilah statusnya pada saat penulisan artikel ini, 2 hari setelahnya:


Lebih dari 64.000 orang sudah meninggalkan komentar dengan ribuan yang berkata: “Me too.” Mereka bercerita tentang pemerkosaan, pelecehan seksual, dan penyikasaan yang pernah mereka alami.

Menurut Twitter, hashtag #MeToo di-tweet sekitar satu juta kali dalam 48 jam pertama. Di Facebook, ada lebih dari 12 juta posting, komentar, dan reaksi yang muncul oleh lebih dari 4,7 juta pengguna FB di seluruh dunia.

Ketika ditanya alasan yang melatarbelakangi #MeToo, Alyssa Milano berkata bahwa: “Saya berharap bahwa orang bisa mendapat bayangan betapa besarnya, berapa banyak orang yang sudah menderita oleh hal ini di dunia, dalam waktu ini, dan di negara ini. Yang paling penting adalah bahwa #MeToo ini akan mengubah arah pembicaraan dari predator kepada para korban.”



Cerita Para Korban

Marya Jansen-Gruber yang kini berusia 47 tahun sudah pernah membagikan kisah pemerkosaan yang dideritanya. Namun inilah pertama kalinya ia membagikannya di dunia sosial lewat #MeToo.

Ia berkata, “Saya berpikir inilah waktunya untuk berbicara karena situasi politik saat ini. Sekarang, lebih dari sebelumnya, orang dari seluruh dunia, khususnya pria, perlu melihat apa yang kami hadapi sebagai wanita. Mereka perlu melihat bahwa ada masalah yang tidak boleh diabaikan atau disembunyikan.

Saya saat ini membesarkan seorang anak perempuan yang akan menghadapi banyak dari masalah yang sama yang saya hadapi. Perubahan di dunia untuk menolong para wanita dalam menghadapi situasi seperti ini masih kurang cepat, kurang banyak daripada yang seharusnya terjadi.”

Cerita demi cerita terus bermunculan. Harvey bukanlah sebuah insiden yang terisolasi. Berbagai artis mulai membuka suara memperlihatkan kotornya dunia Hollywood. Mereka membagikan cerita yang bahkan terjadi sejak puluhan tahun yang lalu, ketika produser memaksa mereka melakukan sesuatu yang meninggalkan luka dalam diri mereka.

Artis bukanlah satu-satunya pekerjaan di mana para wanita dilecehkan dan Hollywood bukan satu-satunya tempat di mana hal ini terjadi.

Seorang atlet juara olimpiade menceritakan bagaimana ia dilecehkan oleh dokternya sejak berusia 13 tahun. Para pekerja profesional, termasuk teman saya, menceritakan bagaimana atasan mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk mengambil keuntungan dari mereka. Bahkan orang-orang yang dipandang sebagai rohaniwan pun tidak luput dari kejatuhan ini.

Baca Juga: Mengenal atau Menjadi Korban Kekerasan Seksual? Jangan Berdiam Diri! Inilah Sesungguhnya Langkah-Langkah Terbaik yang Harus Diambil untuk Pemulihan



Apakah yang sedang terjadi?

Sambil berharap agar terjadi perubahan yang lebih baik, seperti Alyssa, saya pun ingin memanfaatkan berita hangat ini untuk mengajak kita semua berpikir tentang sebuah ide.

Ide ini dipromosikan secara gencar oleh budaya kita, baik itu lewat film, lagu-lagu, ataupun cerita-cerita yang menarik. Hampir setiap hari kita menerima informasi yang mengatakan bahwa ide ini adalah ide yang cemerlang, menguntungkan, dan perlu ditiru. Gaya hidup dari banyak orang yang kita kagumi sering juga memberikan konfirmasi terhadap kebenaran ide ini.

Seperti banyak ide yang lain, kita menerima ide ini tanpa berpikir panjang. Kalau semua melakukannya, tentunya hal itu benar, bukan? Kalau semua film dan lagu mengatakan bahwa itu nikmat, apa salahnya meniru mereka?

Dengan menggunakan jaket hiburan untuk menutupinya, kita menganggap bahwa tidak ada efek samping yang cukup berbahaya untuk kita mengeluarkan suara dan menolaknya. Ide ini mendapat angin untuk bertumbuh subur di tengah budaya kita saat ini.

Nah, sebelum membangun tembok penolakan, saya meminta kita membuka pikiran untuk mempertimbangkan ide ini dengan lebih matang lagi. Dengan latar belakang semua yang terjadi di atas, mari kita melihat kembali ide ini dan memikirkan:

“Benarkah ide ini hanya kita terima sebatas hiburan, ataukah keterbukaan terhadap ide ini telah mengubah cara pandang kita? Adakah efek samping yang tidak kita sadari dari ide sederhana ini?”

Inilah ide yang saya ingin ajak kita semua pikirkan bersama. Ide yang sedang dibagikan oleh budaya saat ini:

Seks itu hanya hubungan fisik saja

“Selama dua insan saling suka, silakan berhubungan seks.”

“Selama tidak ada yang dirugikan, monggo.”

“Selama keduanya tidak ada penyakit kelamin, silakan lakukan.”

Atau,

“Ini kan urusanku, nggak usah kamu ikut campur dengan apa yang aku lakukan” (Kemudian ia pun berhubungan seks dengan berbagai orang seakan-akan seks itu seperti makanan yang bisa dibagikan semaunya).

“Ini kan hanya sementara, hanya main-main, kok” (Mumpung kita masih muda dan lagi mencari pengalaman).

Dengan mengandalkan perasaan, maka seks itu dilakukan. Mulai dari masa SMP. Tanpa komitmen, tanpa keintiman, tanpa eksklusivitas.

One night only.

“Kalau sampai hamil, ya sudah. Saya siap kok untuk bayarin agar diaborsi. Kalau dia masih tetap mau anak, ya itu urusannya. Saya kan sudah melakukan bagian saya.”

Kita pun mengangap seks itu hanya sebatas hubungan fisik semata.

Seperti kebanyakan hal, kita memberikan perhatian pada tempat yang keliru, dan kita mengajukan pertanyaan yang salah.

Baca Juga: Relationship Goals Bukanlah Tentang Keintiman Fisik. Inilah 7 Aktivitas yang Bisa Kamu Lakukan Bersama Pacar untuk Meraih Relationship Goals yang Tepat



Pertanyaan yang Benar

Menurut saya, inilah waktunya kita mengubah pertanyaan kita. Pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada dunia ini adalah:

“Mengapa budaya terus mempromosikan hal ini? Bila hal ini salah, mengapa dunia hiburan terus memberikan sorotan kepada seks bebas ini? Adakah keuntungan yang bisa diambil dari mereka yang secara konsisten meneriakkan ide ini?”

Jawaban sederhananya adalah:

“Iya. Ada keuntungan yang sangat besar untuk mereka yang sibuk meneriakkan ide ini.

Karena uang. Demi uang semata.”

[image: xsentrixmedia]

Mengapa?

Karena seks suami istri yang indah dalam pernikahan yang bahagia tidak cukup menjual. Tidak ada orang yang mau menghabiskan waktunya untuk melihat film tentang keluarga yang menjalani hidup dengan bahagia dan penuh kasih. Tidak ada orang yang mau mengeluarkan uang untuk mendengar lagu tentang keluarga yang bahagia atau komitmen pernikahan.

Atau tidak sadarkah kita bagaimana film-film kesukaan kita selalu berakhir pada “happily ever after?”

Jangan-jangan karena setelah itu, ceritanya akan menjadi monoton dan tidak menarik untuk diikuti lagi.



Pertanyaan Berikutnya

Bila pertanyaan di atas kita lemparkan keluar, maka pertanyaan berikut harus kita tanyakan kepada pribadi masing-masing:

“Ingin menjadi seperti apakah hidup relasi yang kita bangun saat ini?”

“Apakah benar kita sedang mengejar kebahagiaan dalam pernikahan?”

“Bila kita ingin memiliki pernikahan yang penuh dengan intimasi, seks yang memuaskan, dan keluarga yang bahagia, maka bagaimanakah seharusnya kita bertindak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini akan memaksa kita untuk menyaring ide yang ditawarkan oleh budaya dengan lebih baik. Kemudian, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat kita tiba pada titik kesadaran bahwa seks bukan hanya sebatas hubungan fisik saja.

Namun ini bukan hal yang aneh, kan? Ketika kita tiba pada kesimpulan itu, kita tidak berkata, “Oh ya?”

Karena jauh di dalam hati, kita tahu bahwa seks itu bukan hanya sebatas hubungan fisik


Kalau seks hanya sebatas hubungan fisik, maka persentasi dari para korban pelecehan seksual yang melaporkan kepada polisi akan sama banyaknya dengan mereka yang menjadi korban pencurian atau pemukulan.

Kenyataannya, hampir semua orang yang menjadi korban memilih untuk menutup diri dan menguburkan rahasia ini, aib ini, dari siapa pun juga.


Kalau seks hanya sebatas hubungan fisik, maka seorang wanita yang disentuh dan dipegang-pegang ketika sedang berada di tempat yang ramai seharusnya bisa melupakan kejadian itu seperti ketika ia bersentuhan dengan penonton lain dalam sebuah acara konser

Kenyataannya, hal itu masih membekas dalam pikirannya, 48 tahun kemudian.


Bila seks hanya sebatas hubungan fisik, maka ketika luka-luka luarnya sembuh, para korban seharusnya bisa melanjutkan hidupnya sama seperti dulu, seakan-akan tidak ada yang terjadi. Bukankah itu yang kita lakukan setelah kita sembuh dari luka mermar karena dipukul orang atau karena jatuh dari motor?

Kenyataannya, hampir semua orang yang menjadi korban akan mengalami perubahan hidup yang drastis, membuat mereka seakan menjadi orang lain.


Bila seks hanya sebatas hubungan fisik, maka orang-orang akan menertawakan para korban yang membuka suara dan berkata #MeToo.

Kenyataannya, #MeToo menegaskan bahwa ada sisi gelap yang menakutkan ketika seks tidak diperlakukan sebagaimana semestinya. Salah satunya adalah banyak korban menyalahkan diri mereka.


Baca Juga:Mengalami Pelecehan Seksual, Inilah 4 Hal yang Teman Saya Lakukan untuk Mengatasi Traumanya

[image: PourFemme]

Sobatku, topik ini adalah topik yang sangat besar. Memerlukan orang yang jauh lebih pintar dari saya untuk menjelaskan dampak dari pandangan yang keliru ini. Itulah sebabnya saya tidak berusaha untuk menjawab apa pun juga, apalagi menasihati kita tentang arah yang harus kita ambil.

Harapan saya adalah, selagi perhatian ini kita berikan pada persoalan pelecehan seksual yang terjadi di sekitar kita, selagi hati kita melembut untuk peduli pada teman-teman yang pernah menjadi korban pelecehan seksual, marilah kita memikirkan bersama pandangan kita tentang seks:

Apakah kita berpikir bahwa seks itu hanya hubungan fisik semata, ataukah kita percaya bahwa seks itu bukan hanya sekedar hubungan fisik?

Jawaban kita akan menentukan langkah dan keputusan yang kita ambil.


Sumber berita:

Washingtonpost, CNN, Huffingtonpost, Variety



Baca juga artikel-artikel inspiratif ini:

Seks Pranikah itu Mudah, tapi Membuat Resah! Inilah 5 Kunci Pengendalian Diri demi Masa Depan yang Indah

Tanya-Jawab 9 Detik : Apa Dampak Seks Pranikah, Selain Rasa Bersalah?





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "#MeToo: Fenomena yang Membuktikan Seks Bukan Sekadar Hubungan Fisik". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar