Merdeka Berarti Bersedia Berjuang, Tak Bermental Pengemis. Sebuah Kisah Nyata

Reflections & Inspirations

[image: SMK Negeri 3 Metro]

2.3K
Kemerdekaan yang sudah kita dapatkan ini bukan hasil mengemis-ngemis. Kemerdekaan bangsa ini adalah hasil sebuah perjuangan. Marilah kita terus melanjutkannya!

Ketika sedang asyik menikmati makanan di sebuah warung makan, seorang anak kecil datang dari arah depan saya. Ia menghampiri meja tempat orang-orang menyantap makan malamnya.

Dalam hati saya berkata, “Anak ini pasti mau mengemis.”

Dugaan ini bukan tanpa alasan. Selama lima menit menunggu di warung makan itu, sudah tiga orang pengemis datang silih berganti.

Karena sangat lapar, saya tidak terlalu peduli dengan kehadiran anak itu. Rasa lapar dan rasa nikmat dari makanan itu, seolah menyatukan konsentrasi saya untuk segera menghabiskannya. Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba perhatian saya teralihkan kepada dua orang yang bercakap-cakap di depan saya.

“Ini ambil aja uangnya, gak apa-apa, buat kamu,” kata seorang bapak kepada anak itu.

Ternyata anak itu tidak sedang mengemis. Ia sedang menjajakan beberapa bungkus telur puyuh. Sedangkan bapak itu ingin memberinya uang tanpa membeli barang jualannya.

“Bapak itu baik sekali,” kataku dalam hati. Ia memberi selembar uang yang menurut saya cukup besar kalau hanya untuk diberi secara cuma-cuma.

Namun yang menarik, si anak tidak mau menerima uangnya. Si bapak berusaha menyelipkannya di tangan anak itu, tetapi ia tetap menolaknya. Dalam hati, saya bertanya, “Kok anak ini gak mau ambil uang itu ya? Bukannya dia untung dua kali lipat, ya? Dia dapat uang, dagangannya masih bisa tetap dijual.” Entahlah.

Sembari si bapak berusaha membujuk anak itu menerima uang tersebut, si anak itu mengagetkan saya dengan suaranya yang agak keras kepada bapak itu. Ia berkata,

“Aku bukan pengemis, kalau mau silakan beli telur puyuh ini.”

Setelah itu, si anak langsung meninggalkan si bapak dan menghampiri meja lainnya.

“Berani sekali,” pikirku.



Bukan pengemis

[image: Malay Mail Online]

Beberap saat kemudian, ia menghampiri tempat saya dan menjajakan telur puyuh jualannya. Namun, yang membuat saya kagum, ia bukan berkata, “Tolong beli telur puyuh ini!” Seperti beberapa anak yang saya temui ketika menjajakan barang dagangannya. Tidak! Yang ia katakan pada saya, “Mau beli telur puyuh?”

Ia tidak meminta saya untuk membelinya, tetapi menanyakan apakah saya mau membelinya atau tidak. Sangat mengagumkan!

“Ya, saya mau lihat terlebih dulu,” jawabku singkat. Sambil melihat-lihat, saya bercakap-cakap dengannya. Dari situlah saya tahu bahwa namanya adalah Demas. Ia sekarang kelas 4 SD dan sedang membantu ibunya untuk bekerja.

Ketika ia memberitahu harga barang dagangannya itu, saya kaget. Bukan karena harganya yang mahal, tetapi saya ingat dengan peristiwa sebelumnya. Kalau dihitung-hitung, uang yang ia tolak dari si bapak tadi sebenarnya bisa membeli sepuluh bungkus telur puyuh yang ia jual. Tentu, itu sangat menguntungkan. Akan tetapi, ia tetap menolak kalau uang itu hanya diberikan secara gratis. Ia tidak mau dibilang pengemis. Lagi-lagi saya harus mengatakan: Sangat mengagumkan!

Akhirnya, setelah saya membayarkan sejumlah barang yang saya beli, Demas melanjutkan lagi pekerjaannya untuk menjajakan telur puyuhnya.


Apa yang ada di pikiran saya?

Satu,

Saya teringat dengan tiga orang yang datang sebelum Demas. Dua pria dewasa dan satu wanita dewasa. Tepat sebelum Demas datang, mereka silih berganti datang. Mereka mengelilingi meja-meja bukan untuk menjual sesuatu, tetapi menyodorkan tangan meminta uang kepada setiap pengunjung yang datang. Usia Demas boleh muda, tetapi mentalitasnya bukan mentalitas seorang pengemis. Ya, Demas bukan pengemis. Ia juga bukan hanya sekadar penjual. Demas adalah seorang pejuang.

Baca Juga: Inilah Kisah Perjuangan Hidup Sahabat Saya: Seorang Anak Pemulung yang Berhasil Menyelesaikan Studi D3


Dua,

Mentalitas sebagai pejuang itu membentuknya menjadi seorang anak yang tidak rakus terhadap uang. Sebenarnya, tidak ada yang salah kalau ia mengambil uang dari bapak itu. Namun ia memilih untuk menolaknya, karena ia ingin mengatakan bahwa ia bukan pengemis. Ia seorang pejuang. Sekali lagi, usianya boleh muda, tetapi apa yang ia lakukan mengajarkan kepada kita yang lebih tua bahwa hidup ini bukan tentang uang, tetapi tentang perjuangan.


Tiga,

Jangan pernah menyamaratakan semua orang dengan stigma negatif. Seperti saya yang tadinya telah menyamakan Demas dengan pengemis lainnya. Ternyata saya salah! Ia bukan pengemis. Demas seorang pejuang cilik. Ia sangat mengagumkan. Meskipun tidak pernah bertemu lagi, semoga Demas kelak menjadi anak yang berhasil dan sukses.


Terakhir…

Pertemuan saya dengan Demas pada malam itu seperti meninggalkan suara yang harus digaungkan di negeri Indonesia ini. Kita adalah bangsa yang sudah merdeka dari penjajahan bangsa asing puluhan tahun. Namun tampaknya, kemerdekaan itu masih menyisakan orang-orang yang terjajah oleh sikap mentalitas seperti pengemis. Hanya bisa meminta-minta, tanpa mau berjuang.

[image: staffeventos]

Di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini, marilah kita bersama memutuskan rantai bermentalitas seperti pengemis. Demas si anak kecil, penjual telur puyuh itu sudah memulainya. Mari kita turut serta memutuskan rantai mentalitas pengemis dalam diri anak bangsa ini.

Kemerdekaan yang sudah kita dapatkan ini bukan hasil mengemis-ngemis. Kemerdekaan bangsa ini adalah hasil sebuah perjuangan. Marilah kita terus melanjutkannya!

Berjuang, berjuang, dan BERJUANG!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Merdeka Berarti Bersedia Berjuang, Tak Bermental Pengemis. Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yunus Septifan Harefa | @yunusharefa

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar