Merasa Salah Memilih Pasangan setelah Menikah? Inilah 5 Penyebab Utamanya

Marriage

[Image: forlovers.be]

21K
Kadang tebersit rasa dan pikir, "Saya telah salah memilih pasangan," setelah beberapa tahun menikah. Mengapa? Harus bagaimana?

“Setelah 5 tahun menikah, Pak Wepe, saya semakin yakin telah salah memilih suami,” tutur seorang perempuan sambil meneteskan air mata.

“Makin lama, saya makin merasa jauh dari istri. Saya merasa asing dengannya. Ia tidak seperti dulu. Rasanya saya salah memilih istri,” ujar seorang pria sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Saya rasa hampir semua yang telah menjalani pernikahan pernah mengalami saat-saat di mana muncul perasaan dan pemikiran bahwa telah salah memilih pasangan. Bisa saja perasaan itu muncul ketika konflik menghebat, atau malah dalam suasana biasa-biasa saja. Apa yang salah? Mengapa muncul rasa dan pikir bahwa telah salah memilih pasangan? Inilah 5 penyebabnya.



1. Iklan tak seindah pengalaman

Pernahkah Anda tertarik untuk mengunjungi tempat wisata tertentu setelah melihat gambar atau tayangan video promosinya? Anda sangat bersemangat mengatur kunjungan ke tempat itu, berharap bertemu dengan segala keindahan yang ada di gambar atau video promosinya. Realitanya? Toiletnya kotor dan bau, karyawan tempat wisata itu jutek dan bikin bete, keindahan tempatnya tak seindah gambar atau video iklannya. Anda merasa tertipu mentah-mentah! Keindahan gambar dan video promosi ternyata hasil setting-an dan olah digital.

Begitulah perasaan sebagian orang tentang pasangan mereka. Mereka yang sudah berpacaran lama pun mengalaminya, apalagi yang baru kenal beberapa bulan dan kemudian menikah. Ternyata suami atau istri tak seindah yang dikenal pada waktu pacaran. Tampilan fisiknya tak lagi semenawan sebelum menikah. Kebiasaan-kebiasaannya menjengkelkan dan perkataaannya tak lagi manis.

[Image: NYC Wedding Blog]

Merasa tertipu? Tak harus demikian sebenarnya. Pernikahan tidak dengan sendirinya mengubah seseorang tiba-tiba menjadi lebih buruk.

Pernikahan hanya membuka kedok yang selama ini digunakan waktu pacaran.

Di dalam pernikahan, tidak ada waktu untuk mengatur setting penampilan dan perkataan, seperti waktu pacaran dulu.

Baca Juga: Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan



2. Akar memang bukan rotan

"'Tak ada rotan, akar pun jadi,' begitulah kira-kira mengapa saya menikah dengannya, Pak Wepe." Demikian seorang wanita berpenampilan menarik membuka percakapan kami di sebuah kedai kopi.

“Pacar saya yang dulu memang paling ideal. Memenuhi harapan dan doa-doa saya. Semuanya. Tapi sayangnya keluarganya tak merestui rencana pernikahan kami. Kami pun terpaksa berpisah,” tuturnya sambil berjuang menahan tetes air matanya.

“Suami saya yang sekarang bukan orang yang jahat. Ia baik. Bahkan baik sekali malah. Tapi, ya itu, ia tak akan menjadi seperti mantan saya yang dulu. Akar memang bukan rotan ya, Pak Wepe?”

[Image: Huffington Post]

Percakapan seperti itu tak asing bagi saya. Banyak pasangan yang mengalaminya. Akar memang tak akan menjadi Rotan. Tapi bukan berarti Rotan tak punya masalah sendiri, bukan? Rotan, sama seperti Akar, tak sempurna.

Kenanganlah yang memilih hanya untuk memunculkan keindahan mantan, dan bukan kekurangannya.

Baca Juga: Cinta Lama Bersemi Kembali. Benarkah Cinta Pertama Paling Murni dan Tak Pernah Mati?



3. Rumput tetangga memang lebih hijau

Seiring dengan waktu, lingkup pergaulan kita makin meluas. Kita bertemu dengan orang-orang yang baru, termasuk suami atau istri orang lain. Dalam pertemuan-pertemuan bisnis yang terjadi, kita bertemu dengan orang-orang yang berpenampilan rapi, wangi dan menawan. Beda jauh dengan istri yang di rumah hanya mengenakan daster atau baby doll yang sama sejak lima tahun lalu, atau suami yang hanya bercelana pendek dan mengenakan kaos singlet bolong-bolong kesayangannya.

Pergaulan sehari-hari memang berbeda dengan hidup sehari-hari di rumah. Perbedaan yang membuat kita melihat bahwa rumput tetangga memang lebih hijau.

Istri atau suami orang lain dan bahkan mantan menjadi terlihat menawan. Tak terhindarkan, bukan?

Seringkali bukan sekadar soal penampilan, tetapi juga perhatian yang diberikan. Mereka yang sudah lama menjalani pernikahan akan mengalami hal-hal baik yang kemudian menjadi rutin dan kehilangan gregetnya. Pujian dari suami atau istri menjadi hal yang biasa, tak lagi membuat kita berseri-seri. Pujian dari rekan kerja? Wah, bisa membuat hati berbunga-bunga. Percakapan suami dan istri tak lagi terasa gregetnya. Percakapan melalui WA pun seperlunya. Namun, percakapan dengan rekan kerja, bisa jadi membuat kita tersenyum-senyum sendiri. Bahagia.

[Image: Huffington Post]

Ya, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau bukan? Lebih menarik karena tak sesehari kita melihatnya. Coba kita terus menatapnya setiapnya hari. Keindahan itu akan menjadi rutin dan kehilangan daya pikatnya lagi.

Baca Juga: Suami Selingkuh: Bukan Cerai, 4 Hal ini yang Dilakukan Sahabat Saya untuk Menyelamatkan Pernikahannya



4. Americano ternyata lebih enak dari kopi tubruk

“Sama seperti Pak Wepe, saya suka sekali minum kopi. Hanya bedanya, dulu saya hanya bisa nyeruput kopi tubruk di warung-warung kecil, bukan di café seperti ini,” kata seorang pria membuka percakapan kami di sebuah café yang mempunyai jaringan internasional.

“Seiring dengan perkembangan pekerjaan, saya makin mempunyai uang dan kesempatan untuk menikmati kopi di tempat-tempat yang bagus seperti ini. Ternyata Americano memang lebih enak dari kopi tubruk. Tak ada ampasnya,” katanya sambil terbahak-bahak.

Americano adalah minuman kopi yang dibuat dengan mencampurkan espresso [sari pati kopi] dengan air sejumlah air panas. Berbeda dengan kopi tubruk yang menyisakan ampas di bagian bawah, kita bisa menyesap Americano hingga tandas.

“Bukan hanya soal kopi selera saya berkembang, termasuk juga soal perempuan,” ujar pria itu sambil menyeruput Americano di cangkirnya.

[image: finest.se]

Percakapan itu pun berlanjut dengan serangkaian keluhan tentang istri, yang menurutnya tak lagi bisa mengikuti perkembangan gaya hidupnya. Mulai dari soal berpakaian, make up, selera makan, dan lebih lagi, cara berpikir. Kesimpulannya?

Semakin seseorang berkembang dalam karier dan pergaulannya, terbuka kemungkinan berkembang pula seleranya terhadap lawan jenis.

Apa yang dulu dianggap cocok, kini terasa banyak kekurangannya. Terus mau apa?

Apakah kita yang telah menjalani pernikahan merasa perlu berganti pasangan tiap periode waktu tertentu? Ya, jika kita hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri. Apa adanya diri kita pada saat ini juga ada andil dari kehadiran pasangan. Belum lagi jika dalam perjalanan pernikahan, Tuhan menganugerahkan anak-anak. Apa yang akan dikatakan anak-anak jika orangtua mereka berpisah karena merasa tak ada kompatibilitas lagi?

Jika kita merasa pasangan “tertinggal” jauh dengan perkembangan kita pada saat ini, maka tugas kita untuk “meng-upgrade” pasangan, bukan? Jangan kita lupa bahwa bisa jadi dalam hal-hal tertentu kita malah yang “tertinggal” di mata pasangan.

Baca Juga: Mengapa Pria Berselingkuh? Inilah 5 Pengakuan Mengejutkan Pria Peselingkuh



5. Weekend memang lebih menyenangkan ketimbang Senin

Apa yang Anda rasakan tiap Jumat sore? Saya rasa sebagian orang merasa gembira karena weekend segera datang. Bagi Anda yang Sabtu tak harus bekerja, Jumat sore sangat dinanti-nantikan. Bebas dan lepas dari tuntutan tanggung jawab. Merdeka!

Sebaliknya, apa yang Anda rasakan ketika Minggu malam dan Senin segera menjelang? Ada rasa malas yang diam-diam menyelinap. Rasa enggan untuk memulai hari Senin. Mengapa? Ya, karena harus bekerja. Ada tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan sekuat tenaga.

Bagi sebagian suami atau istri, berelasi dengan pasangan orang lain seperti rasa akhir pekan alias weekend: lebih menggembirakan juga menggairahkan. Sementara berelasi dengan suami atau istri sendiri seperi harus menghadapi hari Senin. Ada tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan baik.

[Image: thedailypedia.com]
Itulah yang menyebabkan beberapa orang merasa salah menikah. Bukan karena salah memilih pasangan, namun salah karena memilih menikah.

Mengapa tidak single saja, ketika ternyata pernikahan seperti menghadapi hari Senin?

Pernikahan ternyata bukan saja membawa kebahagiaan, tetapi juga tanggung jawab. Tak akan cocok bagi mereka yang hanya mencintai weekend dan membenci Senin. Seperti perkataan bijak dari masa lampau, ”Love never gives up. Love cares more for others than for self. Love isn’t always 'me first.'” [St. Paul]

Baca Juga: Selingkuh itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Seringkali Tak Terungkap


Nah, Anda pernah atau sedang merasa salah memilih pasangan setelah beberapa tahun menikah? Mana dari 5 hal di atas yang menjadi penyebabnya? Apakah Anda punya alasan yang berbeda dari 5 hal itu? Tuliskanlah!



Baca Juga:

3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai

Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan

Pria Berubah setelah Menikah? Ketahui 5 Hal yang Menjadi Penyebabnya dan 10 Cara Mengembalikan Romantisme Masa Pacaran dalam Pernikahan

3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Merasa Salah Memilih Pasangan setelah Menikah? Inilah 5 Penyebab Utamanya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar