Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya

Love & Friendship

[Image: joemcgeeministries.com]

9K
Kita tidak pernah tahu peluang apakah yang akan terbuka di kemudian hari berkat pertemanan yang tidak memandang suku dan agama. Kita juga tidak akan pernah tahu, amat mungkin orang yang beda agama dan suku dengan kitalah yang justru akan menjadi penyelamat kita.

Masih jelas terekam dalam ingatan, masa kecil indah yang saya lalui di perumahan sederhana di kawasan Jakarta Utara. Saya, seorang anak dari etnis Tionghoa, berteman dengan anak tetangga dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda. Tak tanggung-tanggung, teman-teman saya itu tersebar hingga dua RT banyaknya. Di antara mereka semua, saya justru paling dekat dengan Pipi, sahabat saya yang adalah seorang anak keturunan 'asli' Indonesia. Pribumi, demikian orang biasa menyebutnya. Berbagai perbedaan yang hadir mewarnai persahabatan kami tidaklah membuat canggung, apalagi membuat kami saling membenci. Justru semua terasa begitu indah. Dan saya masih mengenangnya hingga kini.

Dalam perjalanan hidup saya yang belum panjang ini, sudah banyak kisah unik yang saya miliki karena berteman dengan orang yang berbeda suku dan agama. Saya yakin, di Indonesia ada begitu banyak orang yang juga seperti saya dan sahabat saya, menjalin persahabatan dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda.

Saya mengumpulkan beberapa kisah dari teman-teman dan merangkumnya untuk Anda. Inilah 5 keuntungan bersahabat dengan teman yang berbeda suku dan agama:



1. Memiliki Banyak Hari Raya

Teman saya menceritakan kisahnya ketika ia pergi belajar ke luar negeri. Saat berada jauh di negeri orang, satu hal yang paling dia rindukan adalah merayakan hari raya bersama keluarga. Namun, apa boleh dikata, dalam perantauan itu biaya untuk kembali ke rumah terbilang mahal. Pilihan yang bisa diambil karenanya adalah merayakan dengan teman-teman, bahkan yang berbeda suku dan agama. Teman saya adalah seorang keturunan Tionghoa beragama nasrani. Ia berteman baik dengan seorang muslim dari Bangladesh. Saat Hari Raya Idul Fitri, sang teman baik mengundang untuk makan malam dan merayakan bersama di apartment-nya. Begitu pula sebaliknya ketika hari raya Tahun Baru Imlek tiba. Di Indonesia saja, banyak keluarga keturunan Tionghoa yang membuka rumah mereka untuk dikunjungi rekan-rekan yang berbeda suku. Selain makanan, anak-anak kecil juga diberi angpao. Itulah salah satu keuntungan memiliki teman yang beda suku dan agama, kita jadi memiliki banyak hari raya.

Baca Juga: Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Kamu Berikan kepada Anakmu pada Perayaan Tahun Baru Imlek

Waktu saya masih kecil, kami sekeluarga masih melakukan ritual sembahyang leluhur dan beragama Kong Hu Cu. Setiap Hari Raya Imlek, kami sekeluarga sebagai keturunan etnis Tionghoa akan sembahyang leluhur, sembahyang Lao Co Tse dan sembahyang Tian [langit]. Adat berkunjung ke rumah saudara dan mendapatkan angpao adalah hal yang paling saya nantikan. Namun, ada satu kebiasaan keluarga kami yang cukup unik, yaitu ikut merayakan hari raya agama lain. Setiap kali Hari Raya Idul Fitri, Mama selalu memasak ketupat sayur, opor ayam, dan sambal bawang. Di sisi lain, menjelang bulan Desember, kami memasang pohon natal di rumah dan mengumandangkan lagu-lagu natal. Mama juga sering memberikan kue kepada kerabatnya yang beragama Kristen. Banyak orang bertanya, "Kalian agamanya apa sih?" Ya ... kami sembahyang Lao Co Tse. Tapi kami kami bersukacita.

Baca Juga: 3 Hal yang Saya Syukuri karena Bisa Merayakan Natal di Tengah Keluarga Besar yang Berbeda Keyakinan

Sejak kecil, saya menikmati semua ini. Rasanya senang, memiliki banyak hari raya dan bersukacita karenanya. Ketika pada akhirnya memutuskan untuk menjadi Kristen, kami sekeluarga pun tidak melakukan ritual sembahyang dewa lagi. Namun, kami tidak meninggalkan budaya merayakan Tahun Baru Imlek. Dan tentu saja, makan ketupat sayur di hari Raya Idul Fitri adalah hal yang selalu kami rindukan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Perayaan, Inilah 5 Nilai Kehidupan yang Diwariskan Leluhur Lewat Tahun Baru Imlek



2. Memiliki Jaringan yang Luas

Memiliki banyak teman dari berbagai suku dan agama akan membuat pergaulan kita menjadi luas. Hal ini akan membuka pintu-pintu peluang, baik untuk bisnis maupun kerja sama lainnya. Ketika kita membuka usaha, tentu perlu memiliki jaringan supplier maupun customer. Semakin luas jaringan kita, semakin luas pula peluang usaha yang terbuka.

Sejak dulu, persahabatan yang saya jalin dengan banyak teman adalah murni untuk bersahabat, tanpa pretensi, tanpa memikirkan untung/rugi, apa pun itu. Namun, beberapa waktu lalu, sesuatu membuka mata saya. Waktu itu, ketika saya benar-benar berada dalam kesulitan, saya mencoba menghubungi sahabat lama saya yang beda suku. Meskipun dia telah berkeluarga dan rumahnya jauh, dia mau datang menemui saya dan memberikan saran - sebagai teman dan seorang yang ahli di bidangnya. Masukan yang diberikannya itu benar-benar menolong saya keluar dari masalah. Dia melakukannya dengan ikhlas, sebagai seorang teman.


[Image: ributrukun.com]

Ya, kita tidak pernah tahu peluang apakah yang akan terbuka di kemudian hari berkat pertemanan kita yang tidak memandang suku dan agama. Kita juga tidak akan pernah tahu, amat mungkin orang yang beda agama dan suku dengan kitalah yang justru akan menjadi penyelamat kita.

Baca Juga: Sahabat Sejati atau Sekadar Kawan? Inilah 10 Tanda yang Menjadi Pembedanya



3. Wawasan menjadi Luas

Setiap suku memiliki adat istiadat maupun bahasa daerah yang berbeda. Saya memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi untuk mengenal dan memahami keanekaragaman tersebut. Bagi saya, itu adalah hal menarik yang dapat memperkaya wawasan saya.

Sahabat saya, orang Toraja, bercerita tentang adat istiadat penguburan yang cukup unik di sukunya. Mereka merayakan penguburan kerabat yang meninggal dengan pesta besar. Sambil menunggu acara penguburan, jenazah disuntik formalin dan diletakkan di salah satu kamar di dalam rumah. Well, jadi jangan kaget atau lekas berpikiran negatif kalau kita menemukan jenazah di dalam rumah, bisa jadi itu adalah budaya orang Toraja.

Saya pernah sempat bingung saat teman kantor saya memanggil seorang rekan yang lebih tua dengan sebutan “Tulang”.

“Mengapa dia dipanggil 'Tulang'? Apakah karena dia kurus seperti tulang?” tanya saya.

Sambil tertawa, teman saya menjawab, “Von, 'tulang' itu dalam bahasa Batak adalah sebutan untuk seorang paman.”

Sekarang, saya sudah tidak bingung lagi jika ada yang memanggil “Tulang” kepada rekan yang lebih tua. Bukannya hinaan, itu justru adalah panggilan kehormatan.

Ketika SMA, guru biologi saya pernah mengatakan, semua mahluk hidup yang Allah ciptakan pasti memiliki manfaat bagi manusia, hanya saja kita mungkin yang belum menemukan khasiatnya. Beliau kemudian bercerita tentang suaminya yang pernah sakit keras. Dalam rangka mencari pengobatan, ia pergi menghadap seorang Sensei [tabib Cina]. Setelah memeriksa, Sensei membuatkan sebuah ramuan, terdiri dari binatang-binatang beracun yang sudah dikeringkan: kalajengking dan kelabang sekeluarga ada di sana. Dia kaget, mengapa diberi obat semacam itu. Sensei menjelaskan, ia menggunakan metode racun melawan racun. Terbukti, setelah minum ramuan itu sang pasien sembuh. Pengalaman itu membuka pikiran guru saya.


[Image: ributrukun.com]

Berkawan dengan teman-teman dari berbagai macam suku dan agama akan membuka wawasan kita. Dengan tahu lebih banyak hal, kita tidak mudah berburuk sangka.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



4. Tidak Mudah Terprovokasi

Dari pengalaman saya menemukan bahwa dari agama atau suku mana pun akan selalu saja ada orang-orang yang berpikiran sempit. Mereka yang berpendapat bahwa di muka bumi ini orang yang paling baik hanyalah yang satu suku dan satu agama dengan dirinya. Lebih jauh lagi, soal agama, meskipun agamanya sama, namun jika beda aliran, tetap saja dianggapnya aliran dia yang paling baik dan benar. Oleh karena itu, akan selalu ada orang yang mengatakan hal-hal buruk tentang suku, agama, dan aliran yang berbeda.

Saya cukup beruntung. Karena tumbuh besar dikelilingi kemajemukan, saya jadi tidak mudah terprovokasi atau terhasut dalam kebencian karena SARA. Saat kerusuhan melanda Jakarta, Mei 1998, seorang guru - yang juga adalah seorang muslim yang taat - mengatakan kepada saya, betapa ia amat menyesali kerusuhan yang terjadi, bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang damai, bahwa kerusuhan itu adalah sebuah rekayasa politik yang 'menggunakan' agama dan suku. Hatinya hancur atas kejadian itu. Saya percaya sepenuhnya. Dalam keseharian, Beliau selalu menunjukkan sikap yang baik kepada para murid yang mayoritas adalah keturunan Tionghoa.

Beberapa teman juga bercerita, saat kerusuhan Mei 1998 terjadi, di beberapa daerah justru tetangga-tetangga muslim dan pribumi yang maju melindungi tetangga keturunan Tionghoa. Mereka bahkan juga ikut bersiskamling selama beberapa bulan sejak kejadian. Fakta ini membuka mata saya.


[Image: ributrukun.com]

Di sisi lain, dalam pergaulan yang luas, kita perlu mengambil peran untuk membuka mata orang lain bahwa tidak semua orang dari suku atau agama tertentu 'seperti itu'.

Saya pernah memiliki sahabat baik di kantor. Dia berasal dari suku Jawa dan beragama Islam. Kami berteman baik dan sering bertukar pikiran tentang banyak hal. Suatu hari dia datang ke kantor sambil mengeluh, “Gua benci orang Cina!”

Saya kaget mendengarnya, “Hah? Kamu bilang apa?”

Spontan dia menangkis, “Eh, engga. Bukan kamu. Kamu kan bukan orang Cina. Kamu kan orang Jawa, hehehe ...”

“Ada apa? Kenapa bicara seperti itu?” tanya saya singkat.

Dia kemudian bercerita tentang kejadian kurang menyenangkan di tengah jalan menuju ke kantor. Intinya, dia bertemu 'Orang Cina' yang arogan. Itu membuat dia kesal. Ia jadi berpikir, 'orang cina' memang seringkali arogan. Lalu saya bertanya, “Apakah saya seperti itu?”

Sambil tersenyum malu, dia menjawab, “Tidak. Kamu berbeda, Von.“

“Ya, makanya. Jangan menyamaratakan orang dari sukunya dong,“ jawab saya.

Dia tersenyum dan meminta maaf. Di kemudian hari, saat saya hendak resign dari kantor itu, dia sedih dan menangis.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh

Apa pun agama dan sukunya, pasti akan ada orang jahat yang tidak dapat dipercaya. Apa pun agama dan sukunya, pasti juga ada orang yang baik dan bijak. Apa pun agamanya, ada saja pemimpin agama yang memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi maupun politik, tetapi tidak semua pemimpin agama juga seperti itu.

Jadi balik lagi, semua bergantung pada orangnya, bukan suku atau agamanya.

Jangan menyamaratakan semua orang hanya berdasarkan agama dan suku. Kita sendiri tentu juga tidak ingin diberi label sepihak seperti itu, maka jangan lakukan itu kepada orang lain.

Baca Juga: Ketika Pemimpin Mengalami Kejatuhan Moral, Berikan Pertolongan dengan Memahami 4 Hal Berikut



5. Menjadi Manusia yang Semakin Bijak

Kita boleh saja berbeda pendapat, tetapi tidak berarti kita harus menjadi musuh. Kita boleh saja berbeda kebiasaan, namun kita dapat saling menghargai. Kita dapat berbeda kepercayaan, namun kita tetap adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang harus kita hargai.

Saat semakin mengerti dan menghargai perbedaan, kita akan bertumbuh menjadi orang yang semakin bijak. Kita akan mampu menyesuaikan diri ketika berada di lingkungan baru. Kita akan mampu untuk bekerja sama dengan siapa saja. Kita juga akan bijak dalam bertutur kata dan bersikap dalam bangsa yang majemuk ini.

Tokoh-tokoh nasional yang besar dan dikenang oleh banyak orang bahkan ketika raganya sudah tiada, umumnya adalah mereka yang berjiwa besar dan menghargai kemajemukan. Tentu kita semua mengenal dan mengenang tokoh bangsa yang besar ini, K.H. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa 'Gus Dur', seorang tokoh Muslim Indonesia dan Presiden Republik Indonesia yang keempat. Ketika Beliau masih hidup, banyak orang menghormati Beliau. Bahkan setelah Beliau tiada, orang terus mengabadikan kata-kata bijak yang pernah terucap dari mulutnya. Berikut adalah beberapa kata bijak tersebut:

"Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menista penciptanya."

"Tidak penting apa pun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan apa yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu."

"Indonesia bukan negara agama, tetapi negara beragama. Ada 6 agama yang diakui di Indonesia, jadi tolong hargai 5 agama yang lain."

Mereka yang berpikiran sempit hanya akan dihargai dan dikenang oleh segelintir orang saja, orang-orang yang sama sempitnya dengan mereka. Hanya orang yang berpikiran bijak dan berjiwa besar sajalah yang akan dihargai, dikenang sepanjang masa oleh orang dari berbagai kalangan.

Pilihan selalu ada di tangan kita, mau menjadi pribadi yang seperti apakah kita. Jika kita mau menjadi orang besar, milikilah hati yang juga besar.

Salam Bhinneka Tunggal Ika!



Baca Juga:

Ketika Cinta Terhalang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?

Pacaran Beda Agama, LDR Terjauh. Sebelum Lanjut, Pastikan 4 Hal Penting ini Kamu Miliki

Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru Ketika Studi di Luar Negeri



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Vonny Thay | @vonnythay

Bloger vonnythay.wordpress.com writter Finance Controller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar