Menjadi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kekuatan dan Keunikan Kami

Parenting

[Photo credit: Cynthia Chung Photography]

5.3K
Tidak ada satu keluarga pun yang berdoa agar anak mereka lahir sebagai seorang anak berkebutuhan khusus. Kami pun tidak.

Kabar kehamilan merupakan kabar sukacita bagi kebanyakan keluarga. Proses mukjizat yang berlangsung selama sembilan bulan dalam rahim seorang ibu merupakan anugerah ilahi yang luar biasa. Bahwa kita, sepasang suami istri yang tidak pernah mengambil kursus Bagaimana Menjadi Orangtua yang Baik, kini diberi kepercayaan untuk merawat dan membesarkan sebentuk kehidupan, adalah sebuah hal yang menakutkan dan menggentarkan untuk dijalani.



Jalur Unik dalam Perjalanan sebagai Orangtua.

Dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, semakin besar pula harapan agar anak yang sering menendang dari dalam perut itu akan lahir sebagai anak yang istimewa dan unik. Kita mulai bermimpi dan berdoa agar kelak ia bisa menjadi anak yang pintar, kuat, dan sukses.

Namun sesungguhnya setiap kita akan melewati jalur yang unik dalam perjalanan kita sebagai orangtua.


Tidak ada satu keluarga pun yang berdoa agar anak mereka lahir sebagai seorang anak berkebutuhan khusus.


Kami pun tidak.


Dan itulah sebabnya dunia seakan berputar ketika kabar tentang kelainan pertumbuhan anak kami diberitakan.


Ketika ia lahir, tidak ada ucapan selamat yang kami dapatkan. Dokter yang menemui saya seusai proses persalinan hanya mampu meletakkan tangannya di pundak saya, mencoba menguatkan. Keluarga dan teman-teman menjadi sangat berhati-hati ketika menanyakan kondisi anak kedua kami.

Apakah yang bisa kami jelaskan? Kami sendiri tenggelam dalam kebingungan.

Berbagai istilah kedokteran yang asing disebutkan setiap kali kami bertemu dokter, seakan istilah-istilah tersebut mampu menjawab pertanyaan yang tidak mampu kami tanyakan saat itu.

Bagaimana masa depannya? Berapa lamakah ia akan hidup? Seberapa normalkah hidupnya nanti? Apa yang harus kami lakukan sekarang?

Selama beberapa bulan pertama, anak kami tidak pernah keluar dari ICU. Ia hanya berada di ICU, kemudian masuk ke ruang operasi, kemudian kembali ke ICU lagi.

Namun, dalam kesendirian menemani bayi yang sangat rentan ini, kami dianugerahi teman-teman yang luar biasa. Ketika kami mengangkat kepala dan memandang sekeliling, kami menemukan orangtua lain yang juga menemani anak-anak mereka di ICU. Kami berkenalan dan perlahan-lahan menemukan komunitas. Komunitas yang terbentuk dari kasih yang besar terhadap anak.

Dari mereka, kami belajar untuk berteguh hati. Melihat mereka, yang setelah bertahun-tahun tetap tekun mengasihi dan membesarkan anak berkebutuhan khusus, kami belajar tersenyum. Kekuatan mereka kami serap, untuk kami curahkan kembali kepada anak kami.

Lingkaran persahabatan yang dimulai dari ICU itu bertumbuh kian besar. Kami mulai berkenalan dengan lebih banyak orangtua yang berjalan beberapa langkah di depan kami.

Melalui mereka, kami menyadari bahwa rasa syukur itu bisa muncul bahkan dari situasi yang terlihat sangat mustahil. Cara berpikir mereka berbeda dari kebanyakan kita. Sukacita mereka terlihat begitu nyata. Dan walau terkadang rasa sedih itu singgah kembali, mereka tetap tegar berdiri.

Baca Juga: Memilih Mempertahankan Kandungan Meski Janin Tak Berkembang Baik, Sebuah Pelajaran tentang Hidup dari Mengalami Kehilangan



Menghargai Hal-Hal Terpenting dalam Hidup.

Dalam perbedaan itu, kami belajar menghargai hal-hal terpenting dalam hidup ini.

Ketika kebanyakan orangtua memikirkan les apa yang harus diambil atau permainan apa yang akan mereka belikan untuk anak mereka, orangtua dari anak berkebutuhan khusus memikirkan terapi apa yang harus dilakukan selanjutnya atau kapan jadwal rutin bertemu dokter datang kembali.

Ketika kebanyakan orangtua mulai mengeluh anaknya nakal atau merasa dunia seakan runtuh ketika anaknya hanya duduk di peringkat ke-20 di kelas, maka orangtua dari anak berkebutuhan khusus belajar tersenyum ketika berada di hadapan anak mereka, agar anak itu tetap tegar dalam perjuangan hidup yang harus dihadapinya.

Ketika kebanyakan orangtua bingung memikirkan pilihan mana yang harus diambil dari sekian banyak sekolah dan variasi kurikulum yang tersedia, orangtua dari anak berkebutuhan khusus bingung mencari sekolah dengan guru dan teman-teman yang mau menerima sang anak apa adanya.

Ketika kebanyakan orangtua berdoa agar anak mereka bisa menjadi orang sukses atau Joey Alexander berikutnya, orangtua dari anak berkebutuhan khusus berdoa, berharap anaknya bisa bernafas tanpa bantuan alat atau sekadar menoleh melihat mereka.

Ketika kebanyakan orangtua menunjukkan kebahagiaan saat anak mereka menunjukkan prestasi dan kemampuan yang istimewa, berbeda dari anak-anak lainnya, orangtua dari anak berkebutuhan khusus berbahagia ketika anaknya tidak dibeda-bedakan dari anak-anak lainnya.

Baca Juga: Odil, Gadis Kecil dengan Kelainan Struktur Wajah Langka, yang Membuat Saya Belajar Memaknai Kembali 7 Hal yang Sungguh-Sungguh Penting dalam Hidup



Tidak Mudah. Tapi Bukan Tidak Mungkin.

Perjuangan menjadi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah. Tetapi bukan tidak mungkin.

Lewat kesempatan ini, kami ingin menguatkan orangtua-orangtua yang mungkin sedang berada di titik terkelam, lembah terdalam. Untuk ayah ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, kalian tidak sendirian.

Jangan menyerah. Kamu bisa membesarkannya dengan penuh kasih. Bukalah dirimu dan temukanlah komunitas yang bisa menguatkanmu.

Anakmu membutuhkan kamu untuk kuat bagi mereka.

Tidak ada satu orang pun yang dipersiapkan untuk menjadi seorang ayah atau ibu, apalagi menjadi ayah dan ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus.

Tetapi bila anak itu dipercayakan kepadamu,
maka kamu juga akan diberikan kekuatan
untuk mengasihi dia
sebaik yang kamu mampu.

Kamu bisa melakukan hal itu!

Benar, itu tidaklah mudah. Harga yang harus dibayar pun sangat mahal. Kebanyakan orang, di luar keluarga inti, tidak akan mengetahui apalagi mengerti berapa besar pengorbanan yang kamu berikan.

Tetapi kamu tidak sendirian, Sobat.

Jerih payahmu tidaklah sia-sia. Walau anakmu tidak dapat menunjukkan rasa sayangnya kepadamu seperti anak-anak lain, ia tahu betapa besar kasihmu kepadanya.

Jangan pernah dengarkan ocehan orang lain yang berkata bahwa anakmu yang berkebutuhan khusus itu tidak bahagia!

Ia mungkin tidak bisa bermain seperti anak-anak lain, tetapi itu bukanlah indikasi kebahagiaan seseorang.

Kasih kita kepadanya akan membuat ia berbahagia.
Ia berbahagia dengan caranya sendiri.

Baca Juga: Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya



Di tengah kesulitan dan tantangan yang dihadapi, marilah berhenti sejenak untuk bersyukur atas keluarga yang kita miliki. Untuk anak-anak yang telah dipercayakan kepada kita.

Untuk anak yang sehat, dan untuk anak yang berkebutuhan khusus. Untuk anak yang memusingkan kita dengan kenakalannya dan untuk anak yang menyadarkan kita betapa rentannya hidup ini. Untuk anak tempat orangtua menggantungkan impian, dan untuk anak yang menyandarkan hidupnya pada besarnya kasih kita.

Untuk kehidupan yang masih diberikan oleh Sang Pencipta.

Dan untuk tanggung jawab yang masih dipercayakan kepada kita.


[Photo credit: Kylie Turlie]


Orang yang paling kuat bukanlah orang yang memperlihatkan kekuatannya di hadapan kita

tetapi mereka yang memenangkan pertandingan

yang tidak pernah kita ketahui.



Baca Juga:

Saya Bertumbuh dengan Kaki yang Tak Sempurna. Orangtua Tak Menyerah dan Melakukan 5 Hal Ini untuk Masa Depan Saya

Hidup Setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang

Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur bersama Mama




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kekuatan dan Keunikan Kami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar