Menjadi Korban Rasisme, Ini Kisah Saya sebagai Keturunan Tionghoa

Reflections & Inspirations

1.1K
Sebagai seorang keturunan tionghoa yang hidup di satu wilayah yang mayoritas non tionghoa membuat saya dan beberapa teman saya mengalami perlakukan rasisme yang bahkan sampai tahap kekerasan.

Baru-baru ini media sosial heboh karena pidato gubernur DKI Jakarta yang baru mengenai pemisahan antara pribumi dan non pribumi. Terlepas dari apa sebenarnya maksud dari perkataan itu, hanya pak Anies yang tahu, tetapi kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana perlakukan rasisme yang saya pernah alami.


Masa kecil saya dipenuhi perlakukan rasisme yang bahkan sampai tahap kekerasan

Sebagai seorang keturunan tionghoa yang hidup di satu wilayah yang mayoritas non tionghoa membuat saya dan beberapa teman saya mengalami perlakukan rasisme yang bahkan sampai tahap kekerasan.

Beberapa kali saya dan adik saya ingin mencari makan di luar pada tengah malam. Beberapa kali juga di tengah jalan kami berusaha dicegat dengan kasar, teriakan-teriakan seperti “woi cina”, “cina babi” dan sebagainya begitu mudahnya keluar dari mulut mereka. Kejadian-kejadian tersebut, tidak kami hiraukan, kami hanya mengendarai motor dengan cepat agar mereka tidak bisa mengejar.

Baca juga: Selama Studi di Swedia, Inilah 4 Hal Sederhana yang Membuat Saya Makin Mencintai Indonesia

Beberapa kali tindakan rasisme terjadi ketika kami berangkat ke gereja. Di tengah perjalanan, kami sering diganggu, di permainkan dengan teriakan “cina.” Sampai pada suatu hari, karena sudah terlalu sering diganggu ketika ke gereja, kami akhirnya terlibat perkelahian.


Tak hanya verbal, kekerasan fisik pun pernah kami alami

Pernah juga satu kali ketika di tempat kami ada acara pasar malam. Kami pun pergi ke sana sekadar melihat-lihat. Saya bersama adik dan seorang teman. Ketika pulang, kami berjalan kaki sambil mengobrol dan bercanda. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di kepala teman saya. Mereka juga berkata “Ayo sini cina kalo berani”. Mereka begitu ramai untuk melawan kami bertiga yang sama sekali tidak mengganggu mereka. Satu-satunya hal yang menganggu mereka adalah “Kecinaan” kami. Bahkan adik saya sendiri mengalami tindakan kekerasan di kampusnya baru-baru ini hanya karena dia adalah seorang cina.

Perlakuan-perlakuan seperti itu memang sudah kami lupakan dan maafkan. Kami tidak pernah terlalu sakit hati, tetapi harus kami akui beberapa pengalaman tersebut membuat kami trauma. Misalnya, kami tidak akan pernah lagi mau berjalan kaki di malam hari waktu ke gereja, atau kami tidak akan mau lagi pergi ke acara pasar malam.

Dari beberapa hal ini, saya akan coba membagikan bagaimana menyikapi permasalahan diskriminasi ras ini.


1. Akhirilah pandangan pribumi dan non pribumi: kita Indonesia

photo credit: Medium

Sejarah mencatat bagaimana bangsa Indonesia, sejak semula sudah ada beraneka ragam suku dan budaya. Oleh karena itulah, bapak-bapak bangsa kita membuat motto "Bhineka Tunggal Ika" agar menjadi sebuah hal yang mempersatukan kita. Sebenarnya, pandangan tentang pribumi dan non pribumi sendiri tidak hanya ada dalam pandangan mereka yang mengaku ‘pribumi'. Kita yang “non pribumi” pun kerapkali menempatkan diri kita sebagai seorang yang memang berbeda. Misalnya penggunaan istilah “fan nyin/ fan kui” untuk menunjuk kepada mereka yang bukan tionghoa sebagai orang asing. Dari kedua pihak ini, akhirilah pandangan fragmentasi dan diskriminatif ini, mulailah dengan sebuah kata: Kita Indonesia.


2. Gunakan identitas “keasingan” sebagai senjata kebaikan

Meskipun saya sering mengalami perlakukan rasial, tetapi saya merasa tidak ada yang perlu dibenci dan dibalas. Akan jauh lebih baik jika identitas “keasingan” itu kita manfaatkan untuk melakukan kebaikan kepada semua orang. Dengan demikian, mereka yang membenci, justru akan malu karena telah membenci tanpa alasan.


3. Tak perlu menutup diri

photo credit: ShowBiz

Ada banyak orang tionghoa yang menutup diri dan enggan bergaul dengan suku lain. Hal ini justru akan menguatkan pandangan, bahwa kita adalah orang non pribumi yang sangat eksklusif. Ada banyak orang tionghoa yang bahkan tidak memiliki teman dari suku lain, kalaupun ada itu hanya sebatas kenal tanpa ada pertemanan yang akrab.


4. Tuhan yang menciptakan suku, membenci salah satunya berarti menghina ciptaan Tuhan

Ini satu prinsip yang saya pegang. Tuhan pecinta warna. Oleh karena itu dia menciptakan perbedaan-perbedaan, yang jika dipadukan itu menjadi sebuah karya yang sangat indah. Membenci salah satu suku yang diciptakan Tuhan, artinya menghina ciptaan Tuhan.


5. Kesatuan Indonesia bergantung pada sikap kita

photo credit: megapolitan.kompas

Memang masyarakat Indonesia masih sangat mudah dipecah belah oleh banyak hal. Politik pun memakai isu sara sebagai sebuah isu yang paling mudah menarik simpati. Tetapi kita punya pilihan untuk menentukan bangsa kita. Kesatuan bangsa kita tergantung pada sikap kita dalam menyikapi perbedaan-perbedaan. Oleh karena itu, pada akhirnya jangan ada lagi perkataan pribumi dan non pribumi, yang ada hanyalah kita Indonesia!

Apa yang telah kamu lakukan untuk Indonesia jauh lebih penting dari pada apa identitasmu di Indonesia.

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Korban Rasisme, Ini Kisah Saya sebagai Keturunan Tionghoa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yogi Liau | @yogiliau

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar