Meninggalkan Orangtua demi Pacar, Saya Terjebak di Pernikahan yang bagai Neraka

Love & Friendship

[Photo credit: Nikoline L. Rasmussen]

3.6K
Seandainya dulu saya menuruti orangtua.

"Seandainya dulu saya menuruti orangtua,

tidak backstreet saat pacaran dan kabur dari rumah,

saya tidak akan mengalami hidup bak di neraka!"


Kalimat itulah yang keluar dari mulut seorang ibu muda beranak dua kepada saya saat kami berada di sebuah taman kota, di kota dingin. Sambil menyesap english breakfast tea kesukaan saya, saya membuka telinga - dan juga hati - untuk mendengarkan kisah pilunya.



"Mengapa, Ma? Mengapa?"

“Saya dilahirkan dari keluarga yang cukup berada sehingga sejak kecil saya sudah dikirim orangtua untuk sekolah di sini,” demikian ia mengawali kisahnya. Matanya jauh menerawang, seakan menyibak kabut kelam masa lalunya.

“Saya beruntung bisa bersekolah di sekolah elit dan mendapat sahabat dari keluarga 'the haves' di Indonesia. Di samping teman-teman kulit putih, saya punya beberapa teman yang sama-sama orang Indonesia. Meskipun saya tidak membeda-bedakan teman, namun karena sama-sama di perantauan, saya lebih dekat dengan teman-teman setanah air. Apalagi jumlah kami bisa dihitung dengan jari,” tambahnya.

Saat menginjak bangku kuliah, Angel mengenal seorang pria yang baru datang dari Jakarta. Namanya, sebut saja, Draco.

Draco adalah tipe pria romantis yang selalu ada di sisi Angel saat Angel membutuhkan sesuatu. Selain bertubuh atletis dan berwajah tampan, Draco pria yang royal. Apa pun keinginan Angel, selalu dia belikan. Bahkan tanpa diminta pun, Draco sering memberikan kejutan, membelikannya kado barang-barang branded. Sejak itu mereka mulai dekat. Ke mana-mana mereka bersama. Mengerjakan tugas bersama. Ke perpustakaan bersama. Jajan bersama. Hang out bersama.

Cinta mulai bersemi di hati mereka. Kids zaman old berkata, "Lengket kayak perangko."

Sampai suatu kali orangtua Angel datang berkunjung dan mencium hubungan mereka.

“Angel, you harus segera putus dengan Draco!” begitu ultimatum Sang Mama.

“Mengapa, Ma? Mengapa?” tanya Angel dengan suara bercampur air mata.

“Mama dan Papamu kenal betul siapa Draco. Dia bukan pemuda baik-baik. Mama juga tahu keluarganya. Mereka memang kaya, tetapi kekayaan mereka berasal dari tipu sana tipu sini. Pokoknya Mama tidak setuju you jalan sama Draco. Dia tidak cocok denganmu,” ujar mamanya memungkasi pembicaraan.

Angel menghentikan ceritanya sejenak. Selembar daun menimpa rambutnya yang segera ditepisnya.

[Photo credit: Tina Sosna]

Keindahan musim gugur kontras sekali dengan wajahnya yang ‘babak belur’. Make up-nya luntur oleh air mata yang berkali-kali jatuh di pipinya yang tirus. Tulang rahangnya sampai menonjol. Sisa kecantikannya kalah dominan dengan penderitaan yang dialaminya bertubi-tubi. Penderitaan sangat ganas menggerogoti wajah yang rupawan itu. Angel tampak jauh lebih tua ketimbang usia sebenarnya.



"Ternyata Mama benar."

"Singkatnya, saya melawan orangtua saya, Pak Xavier," ucapnya setelah mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu yang berserakan laksana daun-daun merah kekuning-kuningan di taman. “Dari backstreet, akhirnya saya kabur dengan Draco,” lanjutnya.

Kakinya menyaruk dan menendang daun-daun di bawah tempat duduk kami. Angel berdiam diri cukup lama. Saya membiarkannya beberapa saat.

“Ternyata Mama benar,” ujarnya sambil sekali lagi mengusap matanya dengan tisu yang sudah kuyup.

“Bulan madu yang saya rindukan hanya berlangsung sekejap. Rasanya seperti mimpi. Draco yang begitu romantis bisa berubah drastis menjadi bengis. Saya salah sedikit, sudah dibentak-bentaknya seperti pembantu. Berkali-kali saya harus mengganti HP karena dibantingnya saat saya membalas pesan teman-teman. Dia posesif. Pencemburu gila. Saya nggak boleh pakai make up. Ke mana-mana harus lapor. Telat sedikit, saya disemprot. Puncaknya adalah ketika saya berani menjawab karena tidak tahan lagi. Pukulan dan tendangan mendarat, bukan saja di tubuh saya, tetapi di wajah saya. Gigi saya yang di depan ini hasil implant, Pak Xavier,” ceritanya dengan mata yang menyiratkan kesedihan sekaligus kebencian.

“Saat saya memberinya anak yang manis, saya kira dia berubah. Ternyata tidak. Nonik sampai takut setiap kali melihat papanya pulang. Saat mengalami KDRT seperti itu, saya pengin pulang, tapi malu.

[Photo credit: Franca Gimenez]
Bagaimana saya harus menghadapi Mama yang dulu begitu keras melarang saya, dan saya balas dengan keras kepala saya?"

"Saat anak kedua kami lahir, dia bahkan tidak mengantar saya ke dokter. Setelah lahir pun, dia tidak mau menyentuhnya. Seperti Nonik, Sinyo mengalami kepahitan yang sama terhadap papinya. Saya masih mencoba bertahan. Bujukan Mama untuk pulang tidak pernah saya gubris. Mungkin saya menuruni kekeraskepalaan Mama. Meskipun jelas-jelas salah, saya menjunjung gengsi saya terlalu tinggi."

"Kesabaran saya habis saat Draco pulang dalam keadaan mabuk. Ia bukan saja menghajar saya, tetapi juga mengancam anak-anak. Cukup sudah! Enough is enough."

"Dengan menebalkan muka, saya pulang ke rumah Mama dan Papa. Mereka menyambut saya dan memberi saya tempat berteduh yang nyaman. Saya diberi pekerjaan oleh Papa. Kini, meskipun saya single mother, hidup saya lebih tenteram. Kalau tadi Pak Xavier tidak tanya, saya mungkin akan menyimpan kisah hidup kelam ini seumur hidup saya,” demikian Angel menutup ceritanya.

Baca Juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - Tentang Cinta dan Mencintai - dari Peristiwa Itu


Angin musim gugur membuat kami pindah masuk ke dalam café yang lebih hangat. Saya pesan teh lagi untuk menghangatkan tubuh kami berdua.

Dari perbincangan dengan Angel, saya belajar empat hal:


Pertama,

Segalak-galaknya singa, saya belum pernah melihat induk singa memakan anaknya sendiri.

Meskipun orangtua Angel, khususnya sang mama adalah tipe wanita dominan, dia mengasihi Angel dengan sepenuh hati. Caranya mungkin salah dan galak, tetapi motivasinya tetap benar.

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting Ini


Kedua,

Orang yang sedang jatuh cinta biasanya memang buta atau—lebih parah lagi—membutakan diri terhadap dunia nyata.

Yang lebih menyakitkan orangtua, bukan saja membutakan mata, tetapi juga menulikan telinga sehingga tidak mau mendengar nasihat orangtua—sebaik apa pun itu. Entah dari mana, ortu ‘mahatahu’ tentang anak-anak dan teman-temannya. Dan insting mereka—meskipun tidak bisa dijelaskan secara ilmiah—sering kali benar.

Baca Juga: Tanpa Kamu Sadari, 7 Perubahan Setelah Kamu Pacaran Ini Bikin Ortumu Sedih, Lho


Ketiga,

Penyesalan selalu berada di bagian paling akhir.

Saat sudah babak belur, barulah kita terbangun dari mimpi indah yang semu. Nasi yang telah jadi bubur dengan cara apa pun, tidak akan berubah menjadi nasi kembali.

Baca Juga: Beberapa Pernikahan Memang Adalah Kesalahan


Keempat,

Saat nasi sudah jadi bubur, jangan dibuang. Masih ada harapan dan masa depan yang membentang.

Luka hati membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sembuh. Namun, kita harus mengobatinya dengan tekad kuat dan keyakinan bahwa Sang Pencipta masih belum selesai dengan kita. Proses pembentukan dan permunian memang menyakitkan, tetapi hasilnya layak diperjuangkan.

Pengampunan, seberat apa pun, perlu kita lakukan. Pengampunan membuka jalan terhadap pengobatan luka hati kita sendiri.

Baca Juga: Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin



“Ngel,” panggil saya lembut, “tugasmu sekarang adalah fokus membesarkan anak-anakmu. Mereka membutuhkan seorang mama yang tegar. Hanya ibu yang tegarlah yang menghasilkan anak yang mampu berdiri tegap menghadapi masa depan.”

Saya melambaikan tangan kepada pramuniaga untuk meminta bill. Saat kami meninggalkan taman kota, mentari mulai tenggelam.

“Jalan masih panjang, Ngel. Jangan berhenti melangkah. Bukankah dulu engkau adalah pelari yang tangguh?”

Saya senang saat melihat senyum Angel kembali mengembang.




“The most beautiful people we have known are those who have known defeat, known suffering, known struggle, known loss, and have found their way out of those depths.” - Elisabeth Kubler-Ross





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Meninggalkan Orangtua demi Pacar, Saya Terjebak di Pernikahan yang bagai Neraka". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar