Hamil di Luar Nikah? Bukan Hanya Aborsi atau Terpaksa Menikah Solusinya. Renungkan 7 Hal ini!

Singleness & Dating

24.5K
Ini yang paling utama: aborsi itu menghilangkan nyawa, membunuh manusia. Bukan hanya urusan medis, ini urusan dengan Tuhan, Sang Pemberi dan Pemelihara Kehidupan. Jangan coba-coba!

Istri yang sedang hamil dan bersama-sama menantikan momongan pastilah merupakan sebuah pengalaman yang membahagiakan bagi sebagian besar pasangan. Ya, pasangan suami-istri, tentunya! Perasaan yang bertolak belakang, sebaliknya, pasti akan dirasakan oleh pasangan (calon) suami istri jika menghadapi situasi serupa. Beda perkara pula jika hal yang sama dialami oleh pasangan main semalam. Bukan main game online, atau futsal tentunya; ini terkait dengan hubungan seksual di luar pernikahan, one night stand istilah kerennya.

Memang, saat ini seks pranikah dan hamil di luar nikah seolah sudah bukan lagi menjadi suatu hal yang tabu, tidak lagi dianggap sebagai aib yang memalukan. Social punishment yang harus ditanggung oleh pihak perempuan ataupun kedua belah pihak pasangan pelakunya tidak lagi seberat, katakanlah, 5 atau 10 tahun ke belakang. Namun, itu semua tidak berarti bahwa hamil di luar nikah bukan masalah. Keputusan untuk memiliki, merawat, dan membesarkan seorang anak dalam sebuah pernikahan saja sudah sedemikian rumit pernak-perniknya. Apalagi ini, hamil dan memiliki anak di luar harapan dan rencana. Banyak hal yang harus dipikirkan untuk mengatasi kondisi yang sudah terlanjur salah ini. Jangan sampai membuat keputusan yang (lagi-lagi) salah, dan akhirnya hanya menciptakan lingkaran masalah yang tak ada ujungnya.

Sebagian orang akan berpikir, “Ah, masa bodoh. Aborsi saja, beres!” Hei, tunggu dulu! Semudah itu mengucapkan kata "aborsi", sudahkah benar-benar memahami risiko aborsi? Aborsi, bukan kanker atau penyakit jantung, adalah penyebab kematian paling utama di dunia. Risiko medis lain dari tindakan aborsi? Tanyakan kepada Pak Dokter Google, Anda akan menemukan jawabannya di sana. Bertanyalah pada Ibu Psikolog Google dan Beliau akan memberikan data, 40 % ibu yang menggugurkan kandungan mengalami perasaan bersalah, depresi, atau masalah emosional lainnya.

Ini yang paling utama: aborsi itu menghilangkan nyawa, membunuh manusia. Bukan hanya urusan medis, ini urusan dengan Tuhan, Sang Pemberi dan Pemelihara Kehidupan. Jangan coba-coba!

Saya tidak sedang mencoba menakut-nakuti, tapi mengajak untuk berpikir dengan jernih:

Mengatasi masalah hanya dengan melenyapkan bukti dan gejala tidak akan mengatasi masalah yang sebenarnya.

Tinggal menunggu waktu saja, kapan kesalahan yang sama akan dilakukan lagi atau muncul dalam bentuk perilaku yang lain. Seperti membungkus masakan busuk dalam plastik, makanan akan tetap membusuk walau belum berbau. Tunggu saja bungkusnya bocor dan kita niscaya akan muntah dibuatnya.

Menikah karena sudah terlanjur hamil? Sebuah pertimbangan yang masuk akal, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah. Pasangan yang menikah dengan persiapan yang baik pun masih perlu banyak penyesuaian dalam perjalanan hidup pernikahan mereka, apalagi jika menikah karena terpaksa dan dengan diburu waktu?

Jika sudah terlanjur hamil sebelum menikah, jangan lagi menambah kesalahan; perhatikan, pertimbangkan, dan lakukan hal-hal ini:


1. Akui Bahwa Seks Pranikah itu Salah

Zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dengan katakanlah 10 tahun yang lalu. Dulu hamil di luar nikah dianggap sebagai aib yang sangat memalukan; seumur hidup hampir pasti akan jadi bulan-bulanan tetangga. Memberi sebutan "anak haram", meskipun tidak sepenuhnya dapat dibenarkan untuk dilakukan, merupakan salah satu contoh konkrit kontrol sosial masyarakat terhadap tindakan yang dianggap menyimpang dari norma-norma sosial. Masyarakat kini nampaknya makin toleran terhadap perilaku-perilaku seperti seks pranikah dan hamil di luar nikah. Namun demikian, dengan toleransi masyarakat yang bertambah, tidak berarti bahwa perilaku seks pranikah dapat dibenarkan.

Baca Juga: Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, 3 Hal Penting ini Ikut Lenyap

Seks pranikah menunjukkan kurangnya pengendalian diri. Bukan hanya itu, kedua pasangan yang terlibat juga biasanya memiliki problem psikologis yang melatarbelakangi. Konsep diri yang salah, kebutuhan akan pengakuan dan dominasi yang tinggi, merasa tidak dikasihi, merasa diri tidak berharga, perasaan takut tertolak sehingga tidak sanggup menolak ajakan, dan banyak lagi.

Baca Juga: Cara Menolak Rayuan Pria untuk Berhubungan Seks Sebelum Menikah

Seks pranikah hanyalah gejala, ada masalah besar yang tersembunyi di baliknya. Jika masalah tersebut tidak dibereskan, kemudian kedua orang yang sama-sama masih bermasalah tersebut menikah, maka ucapkanlah selamat datang ke neraka abadi yang bernama "rumah tangga".

Hal utama dan pertama-tama yang perlu dilakukan adalah kemauan untuk mengakui kesalahan dan berbenah diri. Pepatah bijak mengatakan, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya, tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Cobalah untuk merefleksi diri: apa yang membuatmu tak sanggup menahan dorongan atau tak sanggup menolak ajakan seks pranikah?

Jika kamu merasa kesulitan untuk menemukan jawabannya, tidak ada salahnya mencari bantuan dari psikolog profesional. Memahami diri lebih dalam dan menemukan apa yang perlu untuk diperbaiki di dalam dirimu adalah hal yang amat penting. Ini berkaitan dengan masa depanmu, tentang bagaimana menemukan damai sejahtera di dalam hidupmu sendiri. Walaupun sepertinya menyakitkan, langkah kecil yang diambil saat ini bisa membuat perubahan besar di kemudian hari. Namanya juga obat, lumrah kan kalau terasa pahit?



2. Jangan Pernah Remehkan Ikatan Pernikahan

Dalam keadaan hamil di luar nikah akibat seks pranikah dengan pasangan, bisa saja terpikir solusi menikah untuk sementara. Menikah hanya agar si bayi dilahirkan dengan status hukum mempunyai seorang bapak. Setelah bayi lahir dan akta tercetak, diuruslah perceraian. Itu bukanlah langkah yang bijak! Jika kamu belum tahu, anak tanpa ayah pun dapat tetap dicatatkan kelahirannya, akta kelahiran bisa dibuat dengan hanya mencantumkan nama ibu saja. Coba cek di Peraturan Pemerintah no 37 tahun 2007 pasal 55.

Pernikahan adalah ikatan komitmen sekali seumur hidup di depan Allah. Sekali mengangap remeh sebuah pernikahan, maka kecil kemungkinan untuk dapat mempertahankan dan memperjuangkan sebuah pernikahan.

Efeknya, menikah-cerai hanya dianggap sebagai siklus hidup semata. Tentu bukan ini yang diinginkan, bukan? Lain soal jika kamu memang bermaksud meneladani kisah hidup Si Meong Berbelang Tiga. Memang secara hukum negara perceraian itu dimungkinkan, tetapi dari sisi kondisi psikologis orang yang mengalaminya, perceraian hanya akan menambah luka dan pengalaman-pengalaman buruk lain.

Menikah artinya berbagi kasih sampai mati. Menikah memerlukan kesediaan untuk mengalah, belajar untuk saling memaafkan, berani untuk menjalin komunikasi dan relasi terbuka. Menikah artinya menerima -bukan menuntut- pasangan dengan apa adanya, sekaligus mendorong pasangan untuk bertumbuh, baik dalam kedewasaan emosional dan juga relasional. Pernikahan butuh perjuangan. Pernikahan itu sendiri, bahkan, adalah perjuangan.

Jangan terburu-buru menikah, apalagi hanya untuk menutupi aib sesaat. Pernikahan adalah sebuah komitmen jangka panjang. Oleh karena itu, menikahlah jika memang sudah benar-benar siap, bukan sebagai siasat untuk melarikan diri dari masalah.



3. Dari Hatimu yang Paling Dalam: Apakah Memang Mau Menikahi Pacarmu?

[Image: pureleverage.com]

Jika menikah adalah keputusan sekali seumur hidup, maka pertimbangkan baik-baik dengan siapa kamu menikah. Siapkah menghabiskan sisa waktu hidup bersama dia? Pertimbangkan matang-matang sisi positif dan negatif karakter calon pasanganmu. Jangan pernah berpikir 'semoga' setelah menikah nanti si pasangan akan menjadi semakin begini atau begitu. Karena pada kenyataannya nanti, tidak (atau belum tentu) demikian. Jangan pernah mengharapkan pasangan untuk berubah karena pernikahan, itu hanya akan menambah panjang daftar kekecewaanmu saja.

Alih-alih berharap pasangan berubah, pertimbangkanlah ini: jika karakter buruknya menetap, bersediakah dirimu untuk tetap menerima dan mengasihinya?

Baca Juga: Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan Karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat ini!

Jika memang sudah mengenal dan berkomitmen mengasihi pacarmu, menikah boleh dijadikan pertimbangan. Jika sepertinya pasangan saat ini bukan jodohmu, lebih baik segera putuskan hubungan; daripada kamu tenggelam terlalu dalam lautan hubungan yang kelam? Jika kamu dan pasangan mau mencoba berkomitmen tetapi hingga saat ini masih banyak problem di antara kalian, ambil waktu, benahi dulu masalah emosional yang ada. Tak perlu buru-buru. Ini pernikahan, bukan lomba lari. Kawin lari saja nggak sambil berlari-larian, kan?

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, Tapi Bukan Karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini

Bagi kalian para laki-laki, jangan juga “sok” menyediakan diri untuk menikahi seorang wanita hanya karena kasihan. Perasaan kasihan itu akan hilang seiring waktu. Menikah menuntut kasih sepanjang hidup, bukan kasihan yang sifatnya sesaat. Lebih baik menyakitinya sekarang daripada mengkhianatinya nanti; apalagi dengan alasan, “Aku sudah nggak sayang lagi sama kamu.” Hentikan sikap sok pahlawanmu, jadilah dewasa dengan membuat keputusan yang matang untuk kebaikan bersama, bukan berdasarkan perasaan sesaat.



4. Sayangi Bayi dalam Kandungan

[Image: anmum.com]

Memang kehadiran bayi di kandunganmu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak kamu harapkan. Kamu mungkin sudah berupaya mencegah kemungkinan hadirnya bayi dalam kandungan. Namun, apabila bayi itu tetap hadir, maka itu adalah konsekuensi yang harus kamu terima.

Seks pranikah itu salah, tetapi bayi dalam kandungan tak punya kesalahan.

Jangan lampiaskan kesalahanmu dengan menyakiti atau membunuh bayi yang tak bersalah itu! Ingat, kehadiran bayi dalam kandunganmu, meski merupakan hasil dari sebuah kesalahan, pasti ada kehendak Sang Pencipta Kehidupan di dalamnya. Kepada Dia, Pencipta dan Pemeliharan Kehidupan lah kamu mesti mempertanggungjawabkan kesalahanmu dengan memelihara bayi dalam kandunganmu.

Melakukan aborsi bukanlah solusi. Hati nuranimu pun tahu hal itu.

Bayi dalam kandungan dapat turut merasakan apapun yang dirasakan oleh Ibunya. Apabila ada sedikit saja respons penolakan akan keberadaannya, bayi dalam kandungan dapat merasakan penolakan tersebut. Hal itu akan berdampak secara psikologis terhadap bayi dalam kandungan dan akan memengaruhi perkembangannya. Jangan menambah masalah dengan menolak, apalagi melakukan aborsi - membunuh buah kandunganmu. Sayangi, jangan sakiti!



5. Lanjutkan Pendidikan dan Pekerjaan

[Image: bisonwood.com]

Ya, memang kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu dengan mengasuh bayi yang dalam waktu dekat akan lahir. Tetapi pertimbangkan juga bahwa kamu perlu melanjutkan pendidikan dan pekerjaanmu. Melanjutkan pendidikan dan pekerjaan bukan berarti melepas tanggung jawab dan tidak peduli terhadap anak. Sembari terus merajut masa depan, rawat dan kasihilah anakmu. Meneruskan pendidikan dan pekerjaan juga bermanfaat untuk menambah relasi. Bukan tidak mungkin kamu nantinya akan menemukan jodohmu di sana, jika memang ayah dari anakmu bukanlah orang yang tepat.

Bagaimanapun juga, pendidikan yang diselesaikan dengan baik adalah modal agar nantinya kamu mampu membiayai diri sendiri dan anakmu.

Pada kondisi ini, kamu akan sulit mengandalkan dia, lelaki yang telah menghamilimu, ayah dari anakmu. Menikah dengannya? Ia sendiri belum tentu siap secara emosional, finansial, dan juga dari segi kedewasaan. Tidak menikah apalagi, akan semakin sulit untuk mengharapkan dia berkomitmen soal biaya hidup anak kalian. Maka, bersiaplah untuk hidup mandiri. Jangan terpuruk dan terus tergeletak di titik nadir. Gunakan masalah ini sebagai titik balik untuk berjuang dan menjadi pribadi yang lebih baik.



6. Bagaimana Respons Orangtua?

What? Bilang ke orangtua? Ya! Kecuali orangtuamu secara harafiah akan membunuh kamu atau janinmu, atau sebaliknya, kabar ini yang justru dapat membunuh orangtuamu, sebaiknya sampaikan saja sejujurnya. Entah bagaimana hubungan kalian dengan orangtua masing-masing, tetapi satu hal yang pasti, orangtua telah memiliki jam terbang hidup yang lebih lama. Jika memang kamu dan orangtuamu punya sejarah perang yang panjang, carilah seorang senior yang kamu percaya. Oom, tante, atau orangtua sahabat yang kamu percaya bisa kamu ajak bicara, untuk menjadi perantara antara kamu dan orangtuamu.

Mengakui dan menanyakan pada orangtua juga bertujuan untuk menjajaki kemungkinan, apakah orangtua dapat membantu mengasuh bayi yang akan dilahirkan nantinya.

Kalian jelas harus bertanggung jawab dengan membesarkan dan menanggung biaya atas bayi yang akan lahir kelak. Namun, di samping itu, kalian juga tetap perlu menata kehidupan sehingga dapat menjadi Ibu dan Bapak yang baik bagi anak kalian. Jika masih berkuliah, setelah bayi berusia setahun, lanjutkan kuliah. Jangan sampai satu kesalahan di masa lalu menghancurkan seluruh masa depanmu!

Nah, selama kalian berusaha untuk mengejar ketertinggalan studi atau harus bekerja, keberadaan orangtua yang bersedia untuk membantu menjaga dan mengasuh si kecil adalah bantuan yang tak ternilai harganya.



7. Siapa yang Akan Mengasuh Si Bayi Kelak?

Syukurlah jika lelaki yang menghamili memang orang yang benar-benar mengasihi ibu dan calon bayi dalam kandungan. Jika memang pasangan ini benar-benar siap menikah, maka bayi yang akan lahir akan dapat diasuh oleh ayah dan bundanya.

Namun, jika kemudian pasangan tersebut memutuskan untuk tak menikah pun, tak mengapa, masih bisa dicarikan jalan keluarnya. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pilihan utama tentulah bayi diasuh oleh ibunya, dan lebih baik lagi jika dengan dibantu oleh orangtua si ibu (kakek dan/atau nenek si bayi). Dalam kondisi demikian, kakek si bayi perlu mengambil peran lebih besar, karena bayi itu tetap membutuhkan figur ayah yang mengasihi dan melindunginya. Pilihan lainnya, bayi diasuh atau diangkat menjadi anak oleh kerabat yang bisa dipercaya. Pastikan kerabat ini bersedia mengasuh atau mengangkat anak bukan karena paksaan atau karena kasihan, tetapi digerakkan oleh rasa kasih sayang yang tulus pada bayi dan ibunya.

Dalam beberapa kasus, dapat terjadi baik ibu maupun ayah, keduanya menolak bayi mereka. Jika ini yang terjadi, pertimbangkan untuk mencari tempat naungan. Terdapat beberapa yayasan yang dapat menampung ibu-ibu yang hamil di luar nikah atau yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi. Yayasan ini bahkan bersedia menampung anak yang akan dilahirkan, jika si ibu tidak dapat mengasuh anaknya. Salah satu yayasan itu adalah Pondok Hayat.


Semoga beberapa pertimbangan di atas dapat membantumu untuk membuat keputusan yang tepat. Tidak ada jawaban tunggal yang mutlak benar untuk menjawab permasalahan seperti ini. Karena sifatnya yang sangat kasuistik, pasangan yang satu tak dapat dibandingkan dengan pasangan yang lain, masing-masing tentu punya masalah dan situasinya sendiri.

Pasangan hamil di luar nikah bisa memutuskan untuk menikah, tapi pastikan bahwa itu bukan keputusan emosional. Tak perlu dikejar waktu, harus menikah sebelum perut terlihat besar atau sebelum waktu kelahiran, menikahlah jika memang telah siap. Jangan bertindak gegabah lagi dengan menciptakan neraka dalam wujud rumah tangga sendiri. Jika tidak menikah pun, dunia belum berakhir, bersama bayi yang akan dilahirkan kelak, tatalah kembali kehidupan!


Meski nasi sudah menjadi bubur, hidup tak sepenuhnya hancur.

Asal tak mengulang takabur, hidup bisa kembali akur - teratur.



Bagi kalian yang masih berpacaran dan berkomitmen untuk tidak melakukan seks pranikah, kalian hebat! Keren! Teguhlah berpegang pada komitmen kalian untuk berpacaran dengan sehat. Jika kalian pernah atau sering berhubungan seks di luar nikah, hentikan, kecuali kalian memang telah siap dan berniat untuk menghadapi apa yang telah panjang lebar dipaparkan di atas. Be Smart! Kalian punya masa depan yang indah, jangan sia-siakan!


Baca Juga:

Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?

Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji Ini!

Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah Akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-hati!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hamil di Luar Nikah? Bukan Hanya Aborsi atau Terpaksa Menikah Solusinya. Renungkan 7 Hal ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Sastra Budiharja | @sastrabudiharja

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar