Menghasilkan Uang dari Hobi? Bisa, Asal Tahu Caranya. Mengubah Hobi Menjadi Hoki, Ini Strateginya

Work & Study

[Image: tastefulspace.com]

25K
“Happy is the man who is living by his hobby.” - George Bernard Shaw

Seorang bankir liburan ke Bali. Di sana dia tertarik untuk melihat para pematung berkarya. Tiba-tiba dia mendapatkan ‘aha moment’. Ketika kembali ke Eropa, dia memutuskan resign dari pekerjaannya. Tentu saja bosnya kaget. Namun, passion-nya lebih kuat ketimbang bujukan atasannya untuk tetap bekerja. Dengan tekun dia mulai belajar menjadi pematung. Ternyata hasilnya luar biasa. Keluarga yang semula khawatir penghasilannya menurun drastis kini justru kaget saat melihat harga jual sebuah patungnya yang dihargai selangit.

Seorang ibu bingung saat penghasilan suami menurun tajam. Bisnisnya bangkrut. Yang dia bisa kerjakan adalah membuat masakan. Seorang teman yang mencicipi makanannya berkata, “Wah, enak sekali. Kok nggak dijual saja?” Berawal dari situ, ibu ini mengembangkan bisnis kuliner keluarga kecil-kecilan. Usaha kecil yang disertai dengan tekad yang besar ternyata menghasilkan keuntungan berlipat. Kini ibu itu beserta suami, anak-anak dan cucu-cucu menikmati hasil olahan dapurnya. Restorannya yang menjamur baik di tanah air maupun di luar negeri membuatnya hidup makmur.

Seorang bocah laki-laki suka berkumpul dengan teman-teman perempuannya ketimbang bermain bola dengan teman-teman laki-lakinya. Hobinya bukan mobil-mobilan maupun perang-perangan, melainkan masak-masakan dan - ini yang terutama - ia suka mendadani teman-teman ceweknya. Keluarganya sempat khawatir kalau dia bukan laki-laki sejati. Ternyata keluarganya salah. Anak cowok ini bertumbuh normal sebagai pria sejati. Namun, dari hobinya yang suka me-make up teman-temannya, dia bukan hanya berhasil mendirikan salon kecantikan, tetapi juga menghasilkan produk-produk kecantikan yang membuat koceknya tak pernah kering. Setelah sukses pun dia mengembangkan sayapnya di bidang kuliner yang memang menjadi hobinya yang lain. Sukses juga.

Tiga kisah di atas membuka mata, kita bisa mengonversikan hobi menjadi hoki. Apa saja sih yang bisa mengonversikan hobi menjadi hoki? Ini strategi mengonversikan hobi menjadi hoki:



1. Kenali Passion Diri

Saya diundang ke Jakarta untuk seminar berjudul “Ke Mana Setelah SMA?” Di hadapan ratusan peserta saya tantang mereka untuk menggali ke dalam diri sendiri satu pertanyaan ini:

“Apa yang paling aku sukai,
yang bahkan tanpa dibayar pun,
akan aku kerjakan dengan sukacita?”

Jawaban atas pertanyaan inilah yang menunjukkan apa passion kita sebenarnya. Jadi, jika mereka melanjutkan ke jurusan yang cocok dengan burning desire mereka, kemungkinan lulus dan berhasil di kemudian hari lebih besar. Saya setuju dengan apa yang dikatakan George Bernard Shaw, “Happy is the man who is living by his hobby.”

[Image: llayered.com]

Ini salah satu strategi mengonversikan hobi menjadi hoki. Jika kita tahu kesukaan kita, maka tanpa diperintah, bahkan dibayar, kita mau melakukannya dengan senang hati. Seorang sahabat saya, yang dikenal sebagai fotografer model, saat mahasiswa senang memotret teman-temannya seharian penuh, bahkan sampai jauh malam, walau tidak mendapat bayaran apa pun. “Senyuman kepuasan dari teman-teman menyejukkan hati saya,” ujarnya.

Baca Juga: Inilah 6 Alasan Mengapa Kamu Harus Memilih untuk Bekerja sesuai Passion, walaupun Gajinya Belum Tentu Memuaskan



2. Lakukan dengan Sepenuh Hati

Jangan jadi orang yang hangat-hangat tahi ayam. Tahi ayam - walaupun hangat - tidak enak dimakan. Apalagi dingin! Wkwkwk.

Burning desire yang luar biasa besar pun, kalau tidak diberi bahan bakar dan dikipasi, pasti akan padam sendiri. Kipasnya adalah tekad untuk melakukan apa yang kita sukai dengan sepenuh hati.
[Image: unsplash]

Pekerjaan yang biasa-biasa saja, asal dikerjakan dengan semangat yang luar biasa, hasilnya amat membanggakan.

Saya mengenal seseorang yang kalau sudah melukis, bisa lupa waktu, bahkan lupa makan. Lukisannya begitu detail dan indah. Jika kini harga lukisannya membelalakkan mata yang melihat, itu disebabkan karena usahanya yang all out untuk menghasilkan karya masterpiece!

Baca Juga: Passion Penting, tapi Bukan Segalanya. 7 Alasan ini Membuktikan, Konsistensi Menghasilkan Kesuksesan



3. Perluas Koneksi

Ikut dalam komunitas atau kelompok orang yang punya hobi yang sama bukan hanya memperluas wawasan, tapi juga koneksi. Dalam setiap seminar yang saya pimpin, saya sering berkata,

“If you are not networking, you are not working!”
Jejaring penting, bukan hanya untuk ‘menjual diri’ Anda sendiri,
tetapi juga memasarkan hasil karya Anda.
[Image: hobbywomen.ru]

Bagaimana orang lain akan menghargai karya Anda jika hanya Anda simpan di laci atau di hard disk Anda?

Seorang mahasiswi mendatangi saya dengan cerita. Dia suka menulis, tetapi tidak suka karyanya dibaca oleh adiknya. Kepadanya saya katakan, “Jika engkau ingin eksis di dunia kepenulisan, engkau harus berani membuka diri dan mengizinkan karyamu dibaca orang banyak." Saya bantu edit tulisannya yang pertama dan berhasil menembus majalah di ibukota. Sejak itu, dia menjadi pribadi yang berbeda. Kini dia bahkan lebih jago ‘menjual diri’ dan memasarkan ‘karyanya’ ketimbang saya!

Baca Juga: How to Sell Yourself? Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup



4. Terus Tingkatkan Diri

Jangan berhenti sampai di sini!
Orang yang cepat puas diri justru akan terjeremus ke dalam lubang yang dibuat sendiri.

Lubang pertama bernama kesombongan. Kesombongan adalah kebanggaan yang kebablasan. Saya tidak terkecuali. Ketika melihat artikel, cerpen, puisi, dan buku saya bertebaran di sana sini dan dipajang di toko-toko buku, saya bisa berbangga diri atau justru melecut diri untuk tidak berpuas diri. Langkah konkret yang saya lakukan adalah terus-menerus mengikuti berbagai lokakarya maupun seminar tulis-menulis, bahkan kalau pembicaranya terbilang ‘junior’ ketimbang saya. Justru lewat acara semacam inilah saya semakin kagum dengan anak-anak muda yang di usia sedemikian dini sudah membuat pencapaian yang tidak pernah saya raih di usia mereka. Lalu, apa yang harus kita sombongkan? Di samping itu, hasil dari tulisan saya, honor maupun royalti, saya belanjakan lagi untuk membeli buku tulis-menulis maupun buku-buku penunjang lain yang sekarang memenuhi rumah saya. Setiap kali bertugas atau berlibur - atau gabungan keduanya, hehehe - tempat yang wajib saya kunjungi adalah perpustakaan dan toko buku, selain museum dan science center.

Lubang berikutnya adalah comfort zone. Hampir sama dengan lubang yang pertama, area kenyamanan bisa membunuh kita. Seorang pembicara kebugaran, jika tidak menjaga pola hidup dan pola makan, pasti tidak bugar lagi. Apa jadinya seorang pembicara di bidang fitness tetapi memiliki tubuh yang menggelembung di mana-mana? Bagi seorang penulis seperti saya, comfort zone-nya adalah menulis sesuai genre. Bagaimana keluar dari zona nyaman? Belajar menulis di luar kebiasaan kita selama ini.

[Image: theidealist]

Baca Juga: Lepaskan Diri dari Zona Medioker, Ingat Selalu 2 Hal ini dan Raihlah Kesuksesanmu!


Nah, tunggu apa lagi? Cepat pakai strategi ini untuk mengonversikan hobi Anda menjadi hoki.

Selamat mendaki. Jika sudah sukses, jangan lupa berbagi, terutama kepada yang menulis artikel ini. Hihihi!



Baca Juga:

9 Tips Mendapatkan Uang Sekaligus Mengatasi Kecanduan Game

Kaya: Tak Sekadar Meraih Banyak Uang, Namun Juga Hidup Penuh Berkat. Inilah 5 Caranya

Tak Sekadar Membesarkan Otot, Saya Mendapatkan 3 Pelajaran Berharga Ini di Pusat Kebugaran


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menghasilkan Uang dari Hobi? Bisa, Asal Tahu Caranya. Mengubah Hobi Menjadi Hoki, Ini Strateginya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar