Mengenal atau Menjadi Korban Kekerasan Seksual? Jangan Berdiam Diri! Inilah Sesungguhnya Langkah-Langkah Terbaik yang Harus Diambil untuk Pemulihan

Love & Friendship

[Image: SASS]

3K
Apakah memang cara terbaik untuk ‘menghargai’ para korban adalah dengan jalan menutupi apa yang telah terjadi? Adakah kemungkinan kita dapat menemukan cara lain, yang lebih tepat, untuk menyingkapkan cahaya terang terhadap topik yang sangat sensitif ini?

Baru-baru ini, dunia entertainment dihebohkan dengan berita pernikahan kilat dari presenter Rey Utami dengan pengusaha Pablo Putra Benua. Lewat Tinder, sebuah aplikasi pencari jodoh, Rey berkenalan dengan Pablo. Di suatu hari akhirnya mereka berdua berjanji bertemu muka untuk pertama kali. Hari keempat setelah pertemuan itu, Pablo melamar Rey. Tiga hari kemudian, mereka menikah.

Ketika berita ini sampai ke ruang dengar dan baca masyarakat, reaksi mereka tidak jauh berbeda dengan Anda dan saya. Dan, hebohnya reaksi tersebut muncul bukan hanya karena singkatnya jarak waktu antara berkenalan hingga ke pernikahan yang hanya tujuh hari. Alasan lain yang membuat berita ini banyak dibicarakan adalah karena rasa tidak percaya akan adanya kisah cinta yang bisa berjalan dengan begitu mulus dan cepatnya.

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, tapi Tidak Karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini

Bagi sebagian besar orang, relasi yang dibangun di dunia maya lebih banyak berakhir mengecewakan. Bahkan, tidak sedikit yang berakhir dengan tragis. Seperti cerita yang saya dengar dari seorang satpam penjaga keamanan di sebuah kompleks perumahan ini:

***

Beberapa waktu lalu, salah satu keponakannya berkenalan dengan seorang pria lewat Facebook. Dalam waktu singkat, pria itu berhasil membangun sebuah pertemanan dengan wanita yang selama ini telah bekerja di salah satu stand dalam sebuah mal. Semua berjalan sebagaimana sebuah relasi seharusnya bertumbuh. Hingga suatu hari, ini terjadi.

Pria itu mengajak kawin lari. Si wanita tidak mau. Mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan kehendaknya, pria itu akhirnya menculik dan menyandera wanita tersebut.

Keluarga si wanita kemudian menghubungi polisi setempat untuk meminta bantuan. Pencarian pun dimulai. Setelah mengumpulkan data yang akurat, mereka melakukan penggerebekan ke tempat yang dicurigai sebagai lokasi penyekapan. Satpam, teman bicara saya, ikut serta mendampingi keluarga dalam misi penyelamatan itu. Dengan perencanaan yang matang, mereka mendatangi kampung dan menemukan rumah yang dimaksud. Pintu didobrak. Mereka menyebar masuk, menyisir semua area rumah.

Tak menyangka akan disergap polisi, pelaku melarikan diri. Sementara si wanita, sang korban, ditemukan dalam kondisi yang menyedihkan. Ia menderita kelaparan dengan emosi yang terkuras habis. Bukan hanya kekerasan verbal berupa ancaman yang melemahkan jiwanya, di badannya juga terdapat berbagai memar – tanda bekas pukulan. Untungnya, ia berhasil diselamatkan dan dibawa pulang.

Dari pembicaraan lebih lanjut dengan pihak kepolisian, ditemukan fakta bahwa ternyata wanita tersebut bukanlah korban pertama. Pria itu sudah pernah melakukan aksi serupa di berbagai kota di Indonesia, tetapi sayangnya, tidak pernah ditangkap. Penyebab utamanya adalah keluarga korban yang tidak ingin memperpanjang persoalan. Mereka menganggap, selama anak perempuan mereka selamat, maka tidak perlu lagi memperpanjang urusan yang tidak enak semacam itu.

***

Beberapa waktu setelah pembicaraan itu selesai, hal ini masih tertinggal dan menggelitik pemikiran saya.

Mengapa demikian, Sobatku?

Mengapa mereka [dan banyak dari kita juga] memilih untuk tidak melanjutkan proses hukum? Tidakkah kita sadar bahwa dengan melakukan itu, besar kemungkinan si pelaku akan kembali mengulangi perbuatannya? Bukankah pelaku sudah seharusnya menerima hukuman atas kejahatannya? Mengapa banyak korban memilih untuk berdiam diri?

Apakah yang menghalangi kita melakukan hal yang kita ingin orang lain lakukan bila mereka berada di posisi kita?

Saat ini saya ingin mengajak kita untuk mengelupas hal yang seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan. Pertemanan dengan maksud jahat, penipuan relasi dengan motif keuangan, pemerkosaan yang diselubungi dengan rayuan, hingga relasi merusak yang disertai dengan berbagai ancaman dan pukulan. Itulah sebagian kecil contoh kejahatan yang berakhir dengan didiamkan begitu saja, dianggap sebagai pil pahit kehidupan yang harus ditelan.

Apakah memang cara terbaik untuk ‘menghargai’ para korban adalah dengan jalan menutupi apa yang telah terjadi? Adakah kemungkinan kita dapat menemukan cara lain, yang lebih tepat, untuk menyingkapkan cahaya terang terhadap topik yang sangat sensitif ini?

Melalui pembicaraan hari ini, saya berharap kita bisa menemukan cara itu. Dengan bersama-sama membedah permasalahan ini di atas meja otopsi yang terang, mungkin kita pada akhirnya akan mendapati bahwa hal tabu itu sesungguhnya tidaklah begitu menyeramkan dan kekuatannya tidaklah sebesar yang digembar-gemborkan selama ini.



Maksud Baik yang Bisa Menjadi Lebih Baik

Yang mengejutkan tetapi juga sangat bisa dimengerti: kendala utama yang menghalangi seorang korban dari melanjutkan proses hukum, seringnya, justru datang dari keluarga. Alasan yang diberikan pihak keluarga untuk pilihan itu sangat logis, sangat masuk akal: demi kebaikan si korban. Mereka ingin agar penderitaan si korban segera berakhir. Agar ia tidak perlu melihat atau terlibat apa pun lagi dengan si pelaku.

"Asal anak kami selamat dan sudah pulang kembali, cukuplah."

Perihal luka dan penderitaan yang ia alami, semua itu [akan?] bisa sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Dan agar luka itu tidak muncul kembali, maka sebaiknya episode kelam ini diisolasi saja, dikunci rapat-rapat dalam salah satu ruang rahasia keluarga. Jangan sampai hal ini menghancurkan masa depannya. Jangan sampai memalukan keluarga.

Cara berpikir ini kemudian seolah mendapat konfirmasi ketika si korban memilih berdiam diri dan menganggap bahwa ia tidak ingin merepotkan keluarganya lagi. Biarlah mimpi buruk yang masih menghantui itu dihadapi sendiri. "Itu kan hanya urusan kecil, mungkin suatu hari nanti akan bisa baik sendiri," demikian ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Sehingga ketika suatu hari pihak keluarga bertanya tentang kondisinya, ia akan berkata bahwa ia 'baik-baik saja.'

[Image: pinterest]

Ketika seorang anak mengalami kekerasan seksual, penipuan emosi atau perbudakan harga diri, maka keluargalah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya untuk berpaling dan mencari perlindungan.

Namun sayangnya, sedikit anak-anak yang mengerti bahwa rasa aman itu tersedia untuk mereka.

Hal itu terjadi, seringnya, bukan karena kita – para orangtua – sengaja melakukannya. Contohnya, ketika kita sedang menonton berita di televisi tentang korban pemerkosaan atau korban penipuan, kita secara refleks berkomentar tentang betapa bodohnya perilaku si korban. Bila saat itu anak kita sedang duduk di samping dan mendengar respons kita, ada kemungkinan pikiran semacam ini yang akan tertanam dalam benaknya: bahwa seorang korban adalah orang yang bodoh, dan orangtua saya tidak suka dengan orang yang bodoh. Oleh karena itu, ketika suatu ketika ia mengalami penderitaan dan menjadi korban, ia menjadi ragu untuk menceritakan dan mencari perlindungan kepada orangtua. Ia takut dianggap bodoh dan tidak disayangi.

Para orangtua mungkin seringkali lupa, ada cara yang lebih baik untuk berespons terhadap sebuah berita buruk.

Orangtua yang bijak akan menggunakan berita kriminalitas di TV itu sebagai bahan diskusi dengan anak. Kepada anak-anak yang masih kecil, orangtua bisa mengajarkan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian di setiap waktu. Anak-anak juga perlu ditunjukkan bahwa tidak ada topik yang tabu untuk ditanyakan kepada orangtua mereka. Anak-anak perlu mendengar bahwa orangtua akan berada di pihak mereka untuk melindungi ketika rasa aman mereka terancam.

Dengan anak-anak yang sudah beranjak remaja atau dewasa, gunakanlah kesempatan ini untuk berdiskusi dan menanyakan kepada mereka, apakah yang akan mereka lakukan bila suatu ketika mereka berada dalam kondisi itu? Kepada siapakah mereka akan meminta pertolongan? Adakah orang yang bisa mereka ajak bicara tentang permasalahan yang dihadapi? Dan, bila sudah terjebak, apakah yang akan mereka lakukan? Pengalaman berdiskusi seperti ini akan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak pernah sendirian. Bahwa mereka memiliki keluarga yang akan selalu siap menolong mereka, seberapa parah pun kondisi yang akan mereka alami.

Akan tetapi, keterbukaan dalam komunikasi tidak terjadi secara otomatis, bukan? Dibutuhkan waktu yang panjang dan pengulangan yang sering untuk bisa membangun sebuah jalur komunikasi yang sehat dengan orang lain.

Ketika kita menghadapi persoalan, apakah kita berani mendiskusikan persoalan kita - orang dewasa - dengan anak-anak kita?

Ketika si anak, misalnya, meminta mainan atau jalan-jalan sedangkan keuangan kita sedang terbatas, apakah kita menyediakan waktu untuk menjelaskan kepada anak sesuai dengan umurnya? Tidak sedikit orangtua yang memilih jalan pintas dengan berkata: “Papa bilang tidak usah, ya tidak usah. Jangan tanya lagi atau nanti Papa hukum!”

[Image: ributrukun.com]

Di saat-saat seperti itu, keberanian kita sebagai orangtua untuk menggunakan momentum yang ada - menjelaskan masalah yang sedang kita hadapi kepada anak-anak, akan membukakan pintu keberanian dan memberikan mereka contoh bagaimana harus bertindak ketika mereka menghadapi masalah di kemudian hari.

Bila kita mau secara konsisten menabur bibit-bibit komunikasi yang terbuka sejak mereka kecil, bila kita berani menunjukkan kepada anak-anak bahwa kita bisa mempercayakan masalah yang kita hadapi sebagai orangtua kepada mereka, maka yakinlah, suatu hari bibit-bibit itu akan bertumbuh. Dan akan tiba saatnya kita menuai kepercayaan itu dalam bentuk keberanian dari mereka untuk membagikan masalah yang dihadapi kepada kita.



Sebuah Stigma yang Menyesatkan

Bila alasan utama yang menghalangi seorang korban dari melapor dan melakukan proses hukum terhadap pelaku datang dari keinginan keluarga untuk melindungi dirinya, maka alasan kedua muncul dari kecenderungan keluarga untuk tidak menyembuhkan luka dan trauma tersebut secara tuntas.

Begini maksud saya.

Trauma yang dialami wanita tadi, dan juga setiap korban, tidaklah sebatas luka memar yang membekas akibat pukulan atau kerugian finansial dalam nominal tertentu.

Ada luka tidak terlihat yang membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius. Luka-luka ini bukan hanya tidak terlihat, seringkali bahkan, tidak disadari oleh si korban.
[Image: ributrukun.com]

Bekas-bekas luka ini, di kemudian hari, akan muncul secara tiba-tiba seperti badai keras – menghantam hidup relasi mereka. Contohnya: seorang pebisnis sukses yang menyaksikan keluarganya hancur berantakan karena perbuatannya. Betapa terkejutnya ia, ketika pada akhirnya bersama konselornya, menemukan bahwa pelecehan seksual yang pernah ia alami ketika masih kanak-kanak – puluhan tahun yang lalu – lah yang menjadi penyebabnya. Hal yang sudah ia lupakan itu ternyata tanpa sadar bekerja seperti tumor terhadap relasinya dengan orang-orang yang ia kasihi.

Rekanku, teman-teman yang menjadi korban kekerasan seksual, penipuan emosi, perbudakan harga diri memerlukan bantuan untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Kita perlu menyadari bahwa mereka tidak akan bisa kembali sama, seperti sebelum peristiwa buruk itu menimpa mereka. Oleh karena itu, janganlah kita memaksa mereka untuk menganggap seakan hal traumatis itu tak pernah terjadi. Sebaliknya, marilah kita menghargai penderitaan mereka dan mendorong mereka untuk bangkit menjadi individu-individu yang lebih kuat dan sehat.

Salah satu cara yang tersedia namun jarang dimanfaatkan adalah konseling. Entah mengapa, di Indonesia berkembang pandangan negatif terhadap orang-orang yang memakai jasa konselor. Banyak orang menganggap bahwa yang butuh konseling itu hanyalah mereka yang sakit jiwa atau yang berperilaku ‘menyimpang.’ Itu pandangan yang salah. Sama seperti orang berobat ke dokter tidak berarti harus mengidap kanker atau sudah menunggu ajal, demikian pula orang bisa memanfaatkan jasa konsultasi dengan konselor untuk berbagai perihal, terutama dalam usaha memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Kita perlu meluruskan stigma yang keliru itu.

Sebagai keluarga, kita perlu menyadari adanya luka yang tak terlihat dalam diri korban. Sebuah luka yang tak bisa kita sembuhkan sendiri. Seperti juga luka luar yang memerlukan diagnosa dan obat dari dokter, “luka dalam” ini memerlukan penanganan dan keahlian seorang konselor. Dalam usaha mengasihi dan membantu mereka, marilah kita lakukan dengan tuntas upaya penyembuhan ini.

[Image: deviantart]

Ketika mengetahui bahwa saya sedang menuliskan topik ini, Melly Auw, seorang teman yang juga berprofesi konselor, membagikan sebuah pemikiran yang amat berharga untuk kita – yang mungkin menjadi keluarga atau teman dekat dari para korban. Ia mengatakan bahwa di saat-saat setelah peristiwa naas menimpa seseorang, peranan dan support dari keluarga sangat penting dan menentukan.

Karena umumnya, di saat-saat seperti itu para korban sudah tidak dapat lagi berpikir secara jernih. Mereka tidak mampu menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Dan karenanya, secara otomatis mereka menyerahkan semua keputusan penting kepada orang-orang terdekat, keluarga mereka.

Keluarga harus menyadari akan tanggung jawab ini dalam usaha menolong si korban menjalani hari-hari ke depannya.



Pelampung Pengharapan

Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh keluarga dan orang-orang terdekat korban?

Setelah memberikan perhatian dan menyembuhkan luka fisik, maka tindakan selanjutnya adalah mencari pertolongan seorang konselor yang baik untuk membantu pemulihan luka batin yang diderita oleh korban. Upaya penting lainnya adalah memberikan dorongan kepada korban untuk meneruskan proses hukum terhadap si pelaku. Tidak jarang proses pemulihan diri si korban akan menjadi lebih lancar setelah ia melihat bahwa si pelaku menerima hukuman yang setimpal. Hal keempat, yang tidak kalah pentingnya, adalah kepekaan terhadap komunitas di mana korban tinggal. Ada kalanya terjadi penolakan dan penghakiman sosial yang terlalu besar terhadap si korban. Mereka dikucilkan dari hidup bermasyarakat. Dalam kondisi demikian, keluarga perlu memikirkan kemungkinan untuk mencari komunitas baru yang lebih sehat untuk kehidupan si korban.

Topik ini adalah topik yang besar dan jumlah para korban sesungguhnya jauh lebih banyak dari yang kita sadari. Mereka mungkin saja orang yang sedang berada di samping kita, tersenyum mendengar canda dan tawa kita. Namun, jauh di dalam diri mereka, tersembunyi luka yang belum pernah disembuhkan dengan tuntas. Baru-baru ini, Kelly Oxford – seorang penulis dari Kanada, menuliskan sebuah tweet di akun twitternya. Saya terjemahkan tweet-nya sebagai berikut:

Hai Para Wanita: Tolong tweet kekerasan [seksual] yang pertama kali kamu alami. Ini bukanlah tentang statistik. Saya akan memulainya dengan ini: Seorang pria tua di atas bus memegang alat kelamin saya dan tersenyum padaku. Saya berumur 12. [Twitter @kellyoxford, 8 Oktober 2016].

Kelly berpikir, bila dalam beberapa jam ke depan tidak ada yang bereaksi terhadap tweet-nya itu, maka ia akan menghapusnya.

Tetapi ternyata ia tidak sendirian dalam hal ini. Seseorang kemudian membalas, menceritakan kisah dirinya yang telah menjadi korban. Dan kemudian, orang lain membalas dengan cerita mereka. Dan seorang lagi. Dan seorang lagi. Dan tweet berbagi tentang kekerasan seksual itu terus berlanjut dengan kecepatan dua cerita per detik. Dan cerita-cerita baru masih saja terus berdatangan.

Hampir tiga puluh tahun setelah peristiwa di bus itu, Kelly masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa terkejut, takut dan malu itu melingkupi dirinya. Ia, yang saat itu sedang mengalami masa puber dan ingin disukai banyak orang, mengalami hal yang begitu memalukan. Ia saat itu tidak mengerti apakah itu sebuah kekerasan seksual, tetapi peristiwa itu telah menggoncangkan harga dirinya.



Sobatku,

tulisan ini dibuat untuk memulai sebuah pembicaraan yang jarang diangkat dengan harapan untuk memberikan titik terang kepada permasalahan yang seringkali ditutupi dengan alasan-alasan yang baik namun berisiko besar. Saya menyadari sensitivitas dari topik ini, karenanya saya tidak berusaha menghakimi keputusan apa pun yang dibuat oleh masing-masing keluarga.

Bila ada di antara rekan sekalian yang pernah menjadi korban kejahatan tersembunyi ini, hati saya hancur untukmu. Saya berharap kamu bisa bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Bila ingin berbagi cerita, kamu bisa meninggalkan message di Facebook page RibutRukun.com atau mengirimkan email ke warungpemimpin@gmail.com. Tulisan ini dibuat dengan harapan bisa membantu kamu, yang telah menjadi korban, dan keluargamu dalam menghadapi masa-masa kelam.

Selamat berdiskusi!

Dan marilah kita, para teman dan keluarga, berani mengambil langkah-langkah yang paling baik untuk masa depan para korban.

Mereka tidak harus berjuang sendiri.

Kita bisa melakukan sesuatu untuk mendukung mereka.



Baca Juga:

Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya

Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengenal atau Menjadi Korban Kekerasan Seksual? Jangan Berdiam Diri! Inilah Sesungguhnya Langkah-Langkah Terbaik yang Harus Diambil untuk Pemulihan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar