Mengapa Tak Menolong? 4 Alasan Populer yang Mengikis Rasa Kemanusiaan Kita

Reflections & Inspirations

photo credit: vnhot

407
Bagaimana reaksi Anda ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan? Apa alasan di balik pilihan Anda tersebut?

Mungkin Anda pernah mendengar sebuah acara realita yang berjudul 'What Would You Do?' Acara ini menggunakan aktor untuk melakukan adegan-adegan seperti orang berkulit putih menghina orang yang berkulit hitam atau orang cacat yang sedang di-bully di tempat kerjanya, hanya untuk sekadar mengetahui bagaimana reaksi yang kira-kira muncul dari orang-orang sekitarnya. Dan tentu saja reaksi yang muncul dari masyarakat teramat beragam. Ada yang tidak peduli, cuek, pura-pura tidak tahu, ada yang melihat tapi enggan menolong, ada juga yang terlihat terganggu tapi tidak melakukan apa-apa, namun ada juga yang memutuskan untuk bertindak dan menolong sekalipun jumlahnya tak banyak.

Saya melihat bahwa reaksi yang dimunculkan ini merupakan sebuah realita yang sungguh-sungguh kita hadapi saat ini. Masyarakat kini semakin asyik dengan dunianya sendiri, dengan gadget, dan lain sebagainya, sehingga tak lagi memperhatikan sesamanya. Bahkan ketika sedang bersama keluarga, tak jarang masing-masing anggota keluarga asyik dengan gadget masing-masing dan tidak berkomunikasi satu sama lain. Bayangkan saja jika dengan orang terdekat saja sudah seperti itu, apalagi dengan orang lain. Pasti hanya dianggap sebagai angin lalu. Sehingga ketika ada orang lain yang membutuhkan pertolongan, tak satupun dari kita yang bereaksi, malah asyik dengan dunia masing-masing.

Kembali ke acara 'What Would You Do?' Pada setiap akhir acara, sang pembawa acara akan menanyai setiap orang yang berada di lokasi, mengapa mereka bereaksi seperti itu. Pertanyaan itu ditujukan tidak hanya pada mereka yang memberikan pertolongan tapi juga pada mereka yang memutuskan untuk diam saja atau berpura-pura tidak tahu. Rata-rata mereka memiliki jawaban yang sama.


"It's none of my business."

photo credit: Riskology

Orang-orang di sekitar lokasi itu paham benar bahwa sesuatu sedang terjadi, bahwa ada orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Namun mereka tidak melakukan apa-apa. Alasan mereka karena hal itu bukanlah urusan mereka. Satu kata, cuek. Dua kata, tidak peduli. Toh itu bukan urusan saya!

Mungkin orang-orang ini merasa bahwa bukan tugas mereka untuk memperhatikan orang tersebut, atau mungkin mereka merasa enggan untuk ikut campur urusan orang lain. Tapi apa pun alasan yang mendasari sikap 'it's none of my business', akhirnya memperlihatkan betapa dinginnya orang-orang saat ini. Masing-masing menciptakan tembok 'it's none of my business' dan tak ada lagi rasa simpati maupun empati yang ditunjukkan kepada sesamanya.


"Biarkan saja, nanti kan ada orang lain yang bantu."

photo credit: Critical Observations

Saya teringat sebuah kejadian yang saya alamai akhir pekan lalu ketika mengunjungi sebuah mall di Surabaya. Ada seorang asing yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia sedang mencoba menjelaskan kepada pegawai di sebuah toko benda apa yang sedang ia cari. Sayangnya tak seorang pun penjaga toko di tempat itu mampu memahami bahasa Inggris, sehingga orang asing ini terlihat sangat putus asa. Tampaknya barang yang ia cari teramat ia butuhkan.

Ada banyak orang yang lalu lalang di toko tersebut karena memang toko itu selalu padat setiap akhir pekan. Saya memperhatikan penampilan mereka, pakaian mereka rapi sehingga tentu saya menilai mereka orang-orang yang memiliki pendidikan yang baik. Apalagi anak-anak muda masa kini, sudah pasti dibekali dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik. Mereka melihat orang asing tersebut sedang kesulitan. Tapi tak seorang pun berhenti untuk menawarkan bantuan. Karena semakin lama saya merasa semakin terganggu dengan sikap orang-orang yang lewat dan juga kasihan pada si orang asing, saya berkata pada suami saya. "Coba kamu tolong dia."

Reaksi suami saya cukup menyebalkan saat itu. "Ga mau, kamu saja."

Seusai menolong orang asing tersebut, dengan kesal saya bertanya pada suami. "Kamu kan juga bisa bahasa Inggris, kenapa harus aku yang nolong?"

Dengan santai suami menjawab, "Kan ada kamu, ngapain aku nolong?"

Pikiran seperti ini sesungguhnya amat berbahaya. Di saat melihat kesulitan orang lain, kita berpikir 'ah nanti juga ada orang lain yang tolong'. Bayangkan jika pada akhirnya semua orang berpikir yang sama, maka tidak ada seorangpun yang bergerak untuk menolong.

Baca juga: Belajar Memuji dengan Tulus Namun Maknyus dari Pak Bondan


"I'm sorry but I'm busy."

photo credit: giantthinkers

Memang benar, waktu adalah uang. Tapi benarkah hal tersebut menyebabkan kita tak rela memberikan waktu kita yang berharga ini sedikit saja untuk menolong orang lain yang sedang kesulitan.

Baca juga: 6 Nasihat bagi Generasi Milenial dari Budaya Saprahan Melayu Pontianak

Pada acara 'What Would You Do?' Seringkali terlihat sang pembawa acara bersusah payah mengejar orang-orang yang tampak tergesa-gesa meninggalkan lokasi. Ketika ditanya mengapa mereka meninggalkan lokasi begitu saja tanpa melakukan tindakan apa pun, jawaban mereka singkat jelas dan padat: "I'm busy."

Kesibukan telah membuat kita seolah-olah mati rasa pada kejadian di sekitar kita. Ya, mungkin saja jika terlambat sedikit saja pekerjaan mereka menjadi taruhannya. Tidak hanya itu, mungkin juga nyawa seseorang menjadi taruhannya. Tapi apakah dengan demikian sah-sah saja jika kita beralasan bahwa kita terlalu sibuk untuk menolong seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan di depan mata?


"He/she might be dangerous."

photo credit: The Age

Memang akhir-akhir ini banyak orang yang berpura-pura kesulitan untuk meraup sejumlah keuntungan. Tak jarang muncul di berita, orang-orang yang berniat baik malah disakiti oleh orang yang ditolongnya. Sehingga kini orang merasa was-was untuk memberikan pertolongan. Bagaimana jika ternyata orang yang ditolong bukan orang baik-baik? Bagaimana jika ternyata orang yang ditolong justru hanya memanfatkan saja? Akibatnya, orang menjadi enggan untuk menolong orang lain yang sungguh-sungguh berada di dalam kesulitan. Solusinya? Bijaklah dalam memberikan pertolongan. Sama seperti dalam sebuah pesan yang dikirim berantai, jika ada orang yang tampak mencurigakan meminta pertolongan anda, bawalah ia segera ke kantor polisi, jangan begitu saja mempercayai dan menuruti permintaan mereka. Tetaplah berhati-hati dalam membuat keputusan.

Dari sekian banyak orang yang menolak untuk bertindak, pasti muncul juga satu atau dua orang yang bergerak untuk menolong. Tak jarang begitu satu orang memberanikan diri untuk menolong, maka orang-orang lain juga turut membantu. Ketika ditanya apa alasan mereka memutuskan untuk membantu orang yang sedang kesulitan tersebut, jawaban mereka sederhana saja, karena mereka menempatkan posisi mereka pada orang tersebut. Seandainya hal itu terjadi juga pada mereka, pasti mereka ingin ada orang yang datang untuk menolong mereka. Empati yang timbul dari rasa simpati, yang akhirnya menggerakkan mereka untuk melakukan sebuah tindakan untuk menolong orang lain, sekalipun mereka sama sekali tidak mengenal orang tersebut.

Baca juga: Inilah 3 Jalan Menuju Hidup yang Bermakna. Apakah Kamu Sedang Menjalaninya?

Lalu bagaimana dengan Anda? What would you do? Bagaimana reaksi Anda ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan? Dan apa alasan di balik pilihan Anda tersebut?

"In this life we cannot always do great things. But we can do small things with great love." Mother Teresa.

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Tak Menolong? 4 Alasan Populer yang Mengikis Rasa Kemanusiaan Kita". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar