Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya

Reflections & Inspirations

[Image: blogs.unishanoi.org]

1.8K
This country suffers. Not only because the violence of bad people. But also because of the silence of good people.

Hampir petang di ruang guru, dan sebuah pertanyaan dari mentor saya terlontar,

“Miss Adiss kok bisa cinta banget sama Indonesia?”

Saya diam mencari jawaban. “Pernah merantau,” begitu jawab saya singkatnya. Setelah hampir dua bulan tinggal di negeri orang, itulah pertama kalinya saya merasakan betapa banyak kearifan lokal yang patut dibanggakan dari negeri kita. Apalagi jika membahas soal nikmat kuliner dan keindahan alam. Rasa rindu dan bangga membuncah justru saat raga jauh dari ibu pertiwi, Indonesia.

Baca Juga: Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Tapi, jika ditilik lebih dalam, rasa cinta negeri ini makin mengental sejak saya menjadi seorang guru. Seorang guru PKN, tepatnya. “Pendidikan Kewarganegaraan” bagi saya pribadi bukan sebatas mengerti secara kognitif apa itu otonomi daerah atau hak-kewajiban warga, tapi juga adalah tentang sepotong hati yang melunak untuk disinggahi rasa cinta negeri. Sedikit pun saya tidak menyesali profesi ini, bahkan saya bangga mengambil andil dalam pembentukan persepsi beberapa generasi muda tentang Indonesia. Walau demikian, dalam prosesnya saya harus berbenturan dengan beberapa kerikil tajam.


1. Paradigma: PKN Tidak Penting!

Tidak mudah menjalankan profesi guru. Terlebih tidak mudah memangku sebuah bidang studi yang kerap diremehkan dan dianggap tidak penting. Entah sejak kapan, negeri ini seakan menciptakan kotak-kotak tak kasat mata bahwa mata pelajaran sains jauh lebih penting dan berguna. Tak apalah tak paham soal negara, asal bisa menghitung dan hafal rumus kimia.

Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa PKN lebih penting daripada sains. Satu hal yang saya soroti adalah soal paradigma. Pendidikan, saat ini, seakan bergerak dengan cara pandang yang tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Bahwa Bahasa Inggris lebih penting daripada Bahasa Indonesia, bahwa IPA lebih mulia daripada seni rupa, dan bahwa PKN lebih 'murah' daripada matematika.

Tak perlu heran jika saat ini pendidikan seakan menjadi mesin pencetak, membentuk generasi yang lebih produktif ‘bekerja’ dibandingkan ‘berkarya’. Mengapa demikian? Karena kita melakukan diskriminasi terhadap beberapa bidang studi.

Baca Juga: Bersetia pada Panggilan di tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru



2. Musuh besar: Skeptisisme

Dalam masa berbagi ilmu dan mengedukasi, sekian kali saya harus terbentur dengan pandangan merendahkan terhadap bangsa sendiri dan tindakan pengabaian yang mendarah daging.

Ketika saya sedang membahas Liberland (sebuah negara ‘baru’ yang muncul tahun lalu), selalu saja ada respons penuh antusiasme bertanya, “Wah, Miss, gimana caranya pindah kesana?” Respons spontan tersebut bahkan masih pula disusul dengan beberapa pernyataan tentang betapa bobroknya Indonesia. Bagaimana mungkin seorang guru PKN tidak bersedih?

Tuntutan kurikulum soal konten kognitif harus tetap dikejar, di saat yang sama saya berusaha sedemikian membagikan fakta bahwa negeri ini sungguh luar biasa. Kadang soal keindahan alam, pencapaian anak bangsa, dan berbagai hal inspiratif lain. Tapi toh kadang semua itu terasa sia-sia, karena terlanjur ada semacam selaput di otak mereka yang mengasumsikan bahwa negara ini hanya penuh hal negatif. Bahwa cinta Indonesia biarlah jadi teori belaka.

Skeptisisme ini menjadi penyakit parah sebab kerap hadir sepaket dengan victim playing. Ketika bicara soal nasib negara, kebanyakan siswa [dan mungkin sebagian besar orang dewasa] berpikir, kita ini hanya korban pemerintah yang korup. Bahwa semua ini selalu tentang kesalahan para pejabat. Padahal, negeri ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi kita semua!

This country suffers. Not only because the violence of bad people. But also because of the silence of good people.



3. Kawan dan Lawan: Media

Di zaman ini, saya sangat terbantu dengan keberadaan media. Mereka menolong para tenaga pengajar membumikan sebuah ilmu dan mendaratkan beberapa teori lewat contoh kasus nyata. Ketika saya berbicara soal hak anak misalnya, para murid saya tertegun haru menyaksikan video para pekerja anak di Nias. Saya dengan mudah masuk menyelipkan petuah betapa mereka itu sangat beruntung dan patut banyak bersyukur.

Di saat yang lain, saya merasa media menjadi musuh besar tenaga pengajar, termasuk saya. Mereka kadang terlampau berat sebelah. Yang mereka blow up seringnya adalah perkara korupsi dan segala aib pejabat. Akhirnya masyarakat - yang tak sempat mencari tahu lebih dalam - menelan mentah dan menjadikan segala berita negatif tersebut sebagai gambaran utuh dari negerinya. Padahal tidak demikian!

Bukan hanya media dalam konteks berita, tetapi juga dalam hal hiburan. Saya ingat betul ketika sedang membahas norma kesopanan, seorang siswa mempertanyakan apakah memang sopan memukul kepala orang lain [walau dengan alat tak keras sekalipun]? Dari mana pertanyaan itu muncul? Tak lain dari beberapa acara komedi yang seakan tidak memanusiakan manusia dan kontra pendidikan moral di sekolah.

Itulah mengapa saya katakan, media sungguh bagaikan pedang bermata dua. Andai media sadar betul kekuatan mereka untuk mengedukasi anak negeri, maka perbaikan sinergis tidak akan begitu alotnya untuk dilakukan.

Baca Juga: 5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita



4. Harapan: Generasi yang Objektif

“Oh, jadi hanya ingin menampilkan Indonesia di wajah yang manis ya, Miss?

Begitu kira-kira dugaan kawan guru saya setelah mendengar penjelasan apa misi pribadi saya sebagai seorang guru PKN. Sayangnya, tebakan itu kurang jitu. Saya memang ingin para murid memiliki lebih banyak wawasan positif tentang Indonesia, tapi saya terlebih ingin mereka memiliki sebuah pikiran yang objektif. Menerima Indonesia dengan dua sisi yang tak terelakkan: kehebatan dan kelemahan.

Menyadari berbagai kelemahan negeri ini dan memiliki semangat untuk mengubahnya. Mengetahui berbagai sisi buruk, tanpa perlu mengeluarkan kutuk. Memahami apa kelebihan Indonesia, lalu mengolahnya; tanpa menjadi oportunis lalu menjualnya pada penjajah. Menghayati segala nilai luhur dan dan memiliki rasa bangga penuh syukur.

Karena kita bukan sedang membentuk generasi yang utopis dan juga bukan generasi yang apatis.

Baca Juga: Membentuk Anak menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya


***

Mendekati hari kemerdekaan Indonesia, saya sebagai anak negeri - yang kebetulan adalah seorang guru PKN - rindu melihat negeri ini dipenuhi orang yang proaktif bergerak, bukan hanya sibuk berdebat. Bangsa ini tak butuh lebih banyak sang jago kritik, tapi orang-orang yang mau beraksi nyata.

[Image: ributrukun.com]

Setidaknya jika belum bisa maksimal mencintai, tak perlu lah kita mengutuki dan membenci.



Baca Juga:

Setelah 71 Tahun Merdeka, 4 Hal ini Ternyata Masih Menjajah Indonesia. Ayo, Lanjutkan Perjuangan Kita!

Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar