Mengapa Aku (dan Mungkin Juga Kamu) Masih Sendiri? Sebuah Pengakuan

Singleness & Dating

3.6K
Sedikit tidak realistis ketika kita hanya mendamba-dambakan pasangan yang sempurna dengan kriteria yang muluk, tetapi kita lupa memperbaiki kualitas diri.

Mendekati usia “hampir panik” (baca: 25 tahun dan ke atas), saya pribadi atau mungkin beberapa di antara teman-teman yang masih single mulai merasa gelisah dengan berbagai macam pikiran tentang pasangan hidup.

Misalnya:

“Udah umur segini, kenapa masih sendiri, sih?”

“Heran deh sama temen yang itu, cepet banget dah gonta-ganti pasangan.”

Atau mungkin,

“Salah apa ya, kok sampe sekarang masih sendiri mulu?”

Sering kali, kita hanya berfokus pada apa yang ingin kita capai. Termasuk dalam hal kriteria pasangan hidup. Padahal, sedikit tidak realistis ketika kita hanya mendamba-dambakan pasangan yang sempurna dengan kriteria yang muluk, tetapi kita lupa memperbaiki kualitas diri. Kita pun sering lupa memikirkan seharusnya kita menjadi pasangan yang seperti apa.

Beberapa waktu yang lalu, secara sengaja saya bertemu dengan salah seorang teman. Kak Adiss, begitu saya memanggilnya. Kami menceritakan dan mencurahkan banyak hal. Sebagai sesama wanita, topik relasi dan pasangan tak luput masuk dalam daftar pembicaraan kami kala itu. Saya mengagumi bagaimana pergumulan dan cara Kak Adiss menemukan pasangannya. Banyak hal yang saya pelajari dari caranya berelasi, hingga akhirnya saya memahami mengapa saya masih menyandang status single saat ini.

Ada beberapa hal yang saya rangkumkan dari hasil pembicaraan saya dengan Kak Adiss mengenai pasangan.


Kurang Mengenal Karakter Diri Sendiri

Pengenalan akan diri sendiri jelas penting. Bukan hanya dalam berelasi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun, mengenali karakter diri sendiri tak kalah pentingnya.

Dengan pengenalan diri yang memadai, kita tentu tahu bagaimana kelebihan dan kekurangan kita. Dengan demikian, kita akan terampil menempatkan dan me-manage kelebihan dan kekurangan diri kita secara bijak.

Lebih jauh, ternyata pengenalan diri yang baik juga berpengaruh saat kita memilih atau menentukan pasangan hidup nantinya.

[image: P2p searcher]

Singkat cerita, Kak Adiss ternyata membuat list kriteria pasangannya. Mulanya saya merasa agak aneh, karena sejak awal saya berpikir, “Buat apa bikin kriteria, itu kan namanya mengotak-ngotakkan manusia? Toh, semua manusia pasti ada sisi baik buruknya.”

Jeng jeeeeeeeng. Ternyata saya salah besar. Dari Kak Adiss, saya belajar bahwa memiliki kriteria calon pasangan itu perlu.

Kenapa? Karena list tersebut bukan tentang tuntutan yang sempurna. Namun list itu berisikan kriteria di mana calon pasangan kita nantinya memiliki watak yang bisa mengimbangi karakter kita. Karena itu, kalau kita tidak memiliki pengenalan karakter diri yang baik, bagaimana kita bisa memilih calon pasangan yang sesuai dengan kebutuhan dan yang dapat mengimbangi karakter kita?

Baca Juga: Inilah 5 Kriteria Pasangan Hidup yang Tak Boleh Ditawar Lagi demi Kebahagiaan Pernikahanmu Kelak


Kurangnya Komunitas

Quote “Jodoh di tangan Tuhan” sepertinya sudah menjadi tameng bagi beberapa kaum single. Banyak yang merasa santai karena merasa aman bahwa Tuhan pasti sudah sediakan jodoh terbaik. Namun, bagaimana kalau ternyata Tuhan sudah sediakan, tetapi kita yang hanya duduk diam tanpa melakukan usaha sedikit pun? Tidak sedikit pula kaum hawa yang memiliki pemikiran “Jadi perempuan juga harus usaha gitu? Itu namanya agresif.”

NO!!! Itu bukan agresif. Kita tidak lagi hidup di era Kartini, di mana perempuan hanya tinggal di dapur dan menunggu perjodohan datang. Perempuan sudah memiliki ruang untuk memperluas relasinya dengan banyak orang. Salah satunya melalui komunitas. Tak jarang, komunitas berperan cukup banyak untuk mempertemukan berbagai pribadi di dalamnya.

Memiliki komunitas juga merupakan salah satu usaha. Usaha yang rapi dan elegan. Ya, bagaimana mungkin kita bertemu dan mengenal banyak orang kalau ruang lingkup kita hanya itu-itu saja dan monoton setiap harinya?

Tidak menutup diri, itu salah satu yang Kak Adiss tekankan berulang-ulang.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Mengatakan Benci, karena Cinta Bersemi Ketika Kita Membuka Diri


Sendiri Itu Candu

Beberapa orang yang sudah menyandang status single punya kecenderungan untuk berpikir: “Hidup sendiri asyik juga, kok. Bebas berteman dengan siapa saja. Tidak punya beban pikiran atau batasan dalam melakukan banyak hal.”

[image: holistischcoachen]

Hal tersebut juga sempat saya alami. Namun, salah seorang teman mengingatkan saya: Semakin kita nyaman dengan kesendirian, semakin kita harus waspada akan kebutuhan seorang pasangan (Mohammad Ainur Rofiqi, 24 th, Single).

Nyaman dengan kesendirian itu relatif. Tergantung seberapa butuhnya kita akan hadirnya seorang pasangan.

Jika memang dirasa belum butuh, kesendirian merupakan teman terbaik. Namun, pastilah kita wajib waspada apabila kita sudah merasa butuh hadirnya seorang pasangan, tetapi terlalu enggan memulai karena terlalu nyaman dengan kesendirian itu sendiri.

Baca Juga: Mana Lebih Baik : Menikah atau Tetap Sendiri? Inilah 3 Hal yang Menolongmu untuk Mengambil Keputusan


Orang Lama? Kenapa Tidak?

Saya mendeskripsikan orang lama sebagai kawan lama yang sudah kita kenal sejak lama (bukan mantan). Terlalu sibuk mencari orang-orang baru terkadang menghalangi kita menyadari bahwa sebenarnya ada orang lama yang sudah hadir dalam hidup kita. Hanya saja terkaburkan karena kita sibuk mencari di lingkungan baru.

Menurut saya, tidak ada salahnya menoleh sedikit ke arah lain dan tetap menjalin relasi dengan kawan lama. Jodoh datangnya bisa dari mana saja, bukan?

Baca Juga: 5 Keuntungan Ini Membuktikan bahwa Sahabat adalah Calon Terbaik Pasangan Hidup. Setuju?


Berdoa

Yup! Sedikit klise dan terlalu biasa kelihatannya. Namun, apa jadinya kalau kita berusaha sedemikian rupa tanpa memohon petunjuk Sang Pencipta? Hal sepele, tetapi dasar dari segala tindakan: DOA. Tanpa usaha, doa hanya sebagai tanda permintaan kepada-Nya. Demikian pula dengan doa. Tanpa doa, semua usaha kita tidak akan memiliki arah yang jelas.

[image: duhovnost]

Saya bersyukur boleh belajar banyak tentang relasi dan pasangan hidup.

Bukan hanya mencari sosok yang saya doakan. Saya juga berdoa, kelak bisa menjadi pasangan hidup dan jawaban doa bagi seseorang.


Semoga kita semua segera dipertemukan dengan pasangan masing-masing.

Selamat mencari, selamat menemukan, dan selamat menjadi jawaban doa!


Baca Juga artikel-artikel inspiratif yang akan membantumu mengurangi rasa gelisah dalam masa lajang:

Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Untukmu!

Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun

Belum Juga Menemukan Pasangan Hidup? Jangan Menyerah, 8 Langkah ini Akan Memberikan Harapan Baru Untukmu!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Aku (dan Mungkin Juga Kamu) Masih Sendiri? Sebuah Pengakuan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Listiyani Ellary | @listiyanichitaellary

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar