Tak Terbayangkan! Inilah 8 Alasan Wanita Memilih Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa

Love & Friendship

[Image: malibuvista.com]

15.5K
Tidak mudah hidup dengan tekanan sedemikian berat, namun bagi sebagian wanita kerelaan menjalani kehidupan seperti itu diberi judul “cinta dan pengabdian”.

Duduk di hadapan saya seorang wanita menjelang tua, wajahnya menyiratkan kelelahan, meskipun secara fisik penampilannya terlihat cukup rapi dan modis untuk ukuran wanita seusianya. Ketika saya mulai mengajaknya bicara, Ia menatap saya, kemudian menunduk cukup lama, menguatkan diri sendiri untuk berbicara, mungkin. “Saya tidak tahu harus mulai dari mana”, kalimat pertama yang terucap dari mulutnya. Seketika itu pula, terbayang dari sorot matanya hidup yang tidak mudah yang telah dilaluinya.

Akhirnya, Si "Tante" demikian saya memanggilnya, menceritakan juga apa yang membawanya hadir di ruangan saya pagi ini. Ia bercerita tentang kehidupan pernikahannya yang berat dan penuh dengan kekerasan. Ketika anaknya masih berusia balita, suaminya pernah memukulnya sampai Ia harus dirawat di rumah sakit karena wajah dan tubuh babak belur dan tulang rusuknya patah. Tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika Ia sudah mulai sehat dan kembali mengurus tokonya, seseorang memberikan kabar buruk ini padanya: suaminya punya wanita simpanan. Awalnya Ia tidak percaya, namun akhirnya Ia harus berhadapan dengan kenyataan, memang wanita lain itu benar ada.

Karena merasa sudah tidak mampu bertahan lagi, akhirnya Tante menuruti anjuran dari keluarga untuk mengurus perceraian. Namun, entah mengapa keputusan bercerai yang tadinya sudah bulat, akhirnya Ia batalkan lagi sendiri setelah mendapat kesempatan untuk bicara dengan suami. Rasa marah yang tadinya begitu menggebu-gebu seperti hilang, lenyap begitu saja saat dipertemukan untuk bicara berdua.

Tak berapa lama setelah pembatalan perceraian, sang suami pergi dengan wanita simpanannya, menghilang entah kemana meninggalkan Ia dan anak-anak, dengan membawa serta banyak barang berharga milik mereka. Sakit hati yang makin mendalam dirasakan, namun coba untuk dilupakannya dengan bekerja semakin keras mengurus usaha dan membesarkan kedua anak yang ditinggalkan begitu saja oleh suaminya.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha Tante semakin berkembang dan semakin berhasil. Anak-anak pun sudah mulai bisa memulai kehidupan mereka sendiri.

Pada suatu hari, sang suami muncul kembali. Dengan hanya menggendong sebuah bungkusan dari kain sprei yang sudah dekil, laki-laki yang sekarang kurus, tidak terawat, dan terlihat sakit-sakitan itu berdiri seorang diri di pintu toko. Di hadapan Tante, laki-laki itu kemudian berucap, "Saya minta maaf." Kepada saya, sambil menerawang mengingat peristiwa itu, Tante berkata, "Saya seperti melihat setan!" Orang yang sudah Ia anggap mati tiba-tiba berdiri di hadapannya, mengorek kembali luka lama yang sudah dikuburnya.

Di antara rasa benci, jijik, dan marah, masih juga terselip rasa tidak tega melihat suami berada dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, Tante mengizinkan laki-laki itu, "suami" yang selama ini telah menyakiti dan mengkhianatinya, untuk tidur di sofa ruang tamu. Tentangan datang dari anak-anak yang sudah terlanjur membenci papa mereka. Namun, entah mengapa, hati Tante tidak tega untuk mengusir. Berawal dari tidur di sofa, akhirnya naik kelas, pindah ke kamar tamu. Sang suami yang sudah kembali sehat seperti sedia kala itu ternyata kembali lagi ke kebiasaan lamanya. Meskipun tidak lagi melakukan kekerasan secara fisik, namun ucapan-ucapan kasar kembali terlontar, dan apa mau dikata, hadir lagi seorang wanita lain yang sekarang malah dibawa tinggal bersama, bersebelahan dengan Tante.

Mendengar cerita Tante demikian, saya seperti mendengar sebuah kisah dari sinetron televisi Indonesia. Sungguh. Kehidupan seperti apa yang sudah Beliau jalani selama berpuluh tahun ini? Di tengah keheranan, saya hanya bisa bertanya, "Bagaimana Tante bisa bertahan selama ini, jatuh bangun dalam hubungan yang menyakitkan seperti itu?"

Mungkin seperti sinetron, namun ini nyata. Realita dalam banyak relasi, dialami oleh banyak pribadi. Orang-orang (wanita, terutama) yang sepertinya memiliki kesabaran tanpa batas, berhadapan dengan situasi hubungan yang menyakitkan dan sepertinya tidak pernah mengalami kebahagiaan di dalamnya. Apa yang membuat mereka mampu bertahan? Hidup di dalam kepahitan, namun seperti membiarkan diri terjebak di dalamnya, tidak mampu mengambil keputusan untuk mencari pertolongan, apalagi keluar dari situasi yang menyakitkan itu.

Berikut beberapa alasan yang membuat seseorang (wanita) tetap mencoba bertahan dalam sebuah hubungan yang tidak sehat:


1. Tidak Berani untuk Hidup Sendiri

“Fear of being alone keeps people in all kinds of horrible situations and relationships.” - Lauren Mackler, life coach.

Pada umumnya, wanita lebih takut ketika harus berjuang sendiri dibanding pria. Keinginan untuk mendapat dukungan secara emosional ketika harus memutuskan dan melakukan sesuatu membuat wanita memiliki rasa takut yang cukup besar ketika harus ditinggal sendiri. Pemikiran ini yang menyebabkan wanita rela untuk menutup mata dan mengambil risiko hidup dalam relasi yang menyakitkan.

Tidak mudah pasti hidup dengan tekanan sedemikian berat, namun bagi sebagian wanita kerelaan menjalani hidup seperti itu diberi judul “cinta dan pengabdian”.
[Image: wallpapers.altervista.org]

2. Tergantung secara Finansial

Mungkin hal ini sudah bukan lagi menjadi alasan yang valid sejalan dengan perkembangan kemampuan wanita dalam bersaing dengan pria dalam berbagai bidang kehidupan, seperti Tante, misalnya. Namun, masih cukup banyak wanita yang memiliki ketergantungan secara finansial terhadap pasangan. Mereka merasa takut nantinya tidak ada yang menghidupi atau tidak ada lagi tempat tinggal jika meninggalkan pasangan mereka yang abusive.


3. Pasangan Saya Memang Bukan Pria sempurna

Pasrah sempurna! Mungkin itulah 2 kata yang tepat menggambarkannya. “Namanya juga manusia, bisa saja jatuh. Lelaki lain pun pasti pernah jatuh”, “Sudahlah, tidak ada pernikahan yang sempurna, suami saya pun bukan pria sempurna.”

Selalu memberi pengertian atas kesalahan pasangan, dan menyediakan penerimaan tanpa batas atas kelemahan pasangan. Sikap seperti ini biasanya diambil oleh orang-orang yang memang tidak berani untuk mengonfrontasi masalah dan memilih untuk mendiamkan dengan harapan masalah akan selesai dengan sendirinya.

[Image: youthab.ca]

4. Terikat dengan Status

Bagi wanita, sebuah status bisa didapat dari pernikahan. Jika bersuamikan seorang dokter, dipanggil dengan sebutan "Ibu dokter," istri seorang direktur dipanggil "Ibu direktur," bersuamikan gubernur dipanggil "Ibu gubernur." Bagi sebagian wanita, ketakutan akan kehilangan status tertentu membuat mereka membiarkan diri menutup mata terhadap relasi yang semakin hari semakin tidak sehat.


5. Takut Kehilangan Teman

Menyedihkan namun nyata, wanita yang memilih hidup sendiri pada umumnya akan merasa semakin tertekan dalam pergaulan sosial. Tekanan terutama datang dari sesama teman yang masih menikah. Percakapan atau gurauan seringkali secara tidak sengaja membawa luka tersendiri, sehingga perlahan namun pasti, membuat mereka meninggalkan komunitas lama dan harus keluar untuk mencari komunitas yang baru. Ini bukanlah hal yang mudah bagi orang-orang tertentu.

[Image: heartofthehearts.files.wordpress.com]

6. Tentangan atas Perceraian

Meskipun perceraian sudah menjadi hal yang umum terjadi saat ini, namun masih tetap menjadi hal yang tabu dibicarakan dalam keluarga, terutama keluarga besar, dan terutama lagi untuk kita yang hidup di lingkungan dengan budaya timur seperti di Indonesia. Sisi positif dari hal ini, 'ketabuan' akan membuat orang berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan untuk mengkahiri sebuah pernikahan. Namun, sisi negatifnya, bisa menyebabkan orang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, hanya demi menghindari rasa tidak nyaman menghadapi tekanan keluarga.


7. Tergantung secara Emosional

Masih banyak wanita yang belum bisa memisahkan dirinya dengan suaminya. Ini biasanya terjadi pada orang yang sebelumnya dibesarkan dengan apa yang disebut “emotional fusion“ oleh Bowen, seorang penulis teori tentang family therapy.

Emotional fusion membuat seseorang punya ketergantungan secara emosional dengan orang lain, awalnya dengan orangtua, biasanya ibu, sehingga orang tersebut tidak bisa melihat keutuhan diri sendiri.

Jika ini berlanjut kepada pasangan, dapat membuat seorang wanita tidak mampu memahami keinginan diri sendiri, membiarkan diri, dan mengorbankan diri agar pasangan tetap menjadi miliknya walaupun hanya secara fisik.

[Image: robowecop.com]

8. Punya Agenda Terselubung

Ini yang mungkin juga terjadi dengan Tante, klien yang saya ceritakan di atas. Ketika saya bertanya kepadanya mengapa tetap mempertahankan pernikahan sampai saat ini, jawabnya kalau dulu karena masih ada rasa kasihan dan ada cinta, sekarang karena takut kehilangan harta karena perpisahan yang terjadi. Adanya masalah harta gono gini terkadang membuat seseorang membiarkan dirinya bertahan dalam situasi pernikahan yang sudah tidak sehat lagi.


[Image: i.ytimg.com]

Terkadang kita bisa menjadi begitu gemas menyaksikan mereka yang rela diperlakukan dengan tidak adil dalam sebuah hubungan. Kerelaan mereka untuk bertahan adalah satu hal yang mungkin sulit, jika tidak bisa dikatakan tidak dapat, kita pahami.

Sesungguhnya, setiap hubungan pasti diwarnai dengan rasa saling menyakiti. Pertemuan dua pribadi yang berbeda pasti akan memunculkan perbedaan-perbedaan lain, sehingga saling menyakiti adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Namun, dalam level tertentu, ketika warna menyakitkan itu semakin membahayakan, bahkan mematikan kehidupan salah satu pihak, maka sebaiknya pihak "korban" tersebut harus bergerak mencari pertolongan. Bukan hanya dengan mencari jalan pintas, seperti memutuskan berpisah atau bercerai, ada cara-cara lain yang juga bisa dilakukan.

Menemukan orang yang tepat untuk diajak berbicara mengenai masalah dalam hubungan, seperti konselor, adalah salah satu caranya. Mungkin tidak serta merta menyelesaikan masalah, tapi paling tidak ada pihak yang bisa terlibat membantu. Membantu dengan menjadi tempat penyaluran beban emosi, juga memberi pendapat objektif sejauh mana pihak "korban" harus berespon dalam tiap-tiap kejadian yang dialami dalam relasinya, dan dalam kasus tertentu, memberikan perlindungan yang diperlukan manakala situasi menjadi semakin memburuk.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Terbayangkan! Inilah 8 Alasan Wanita Memilih Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Henny Lokan | @hennylokan

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar