Mencari Pekerjaan, Kehilangan Kesempatan dan Terpaksa Harus Menganggur, Pengalaman Saya Mengajarkan 3 Hal Berharga Ini

Work & Study

[Image: forumdaily.com]

6.9K
Dari pengalaman, saya bisa mengatakan, tak selamanya menganggur itu hina. Saya justru belajar beberapa hal penting di masa penantian itu. Inilah beberapa hal yang saya lakukan saat menganggur dan menanti tawaran pekerjaan baru.

“Aduuuhh ... tau gitu kan kamu masuk kerja aja dulu di situ. Ntar kalo emang di tengah jalan ada yang lebih baik, kamu tinggal pindah aja. Zaman sekarang itu susah buat nyari pekerjaan, Bos!”

Demikian komentar 'keprihatinan' seorang teman ketika saya menceritakan pergumulan saya kepadanya. Siapa sih yang gak suka kalau ada teman yang perhatian sama kita? Namun, mungkin karena saking perhatiannya atau persoalan itu merupakan isu yang sensitif untuk saya, lama kelamaan saya merasa kalimat yang mereka lontarkan mulai menjadi semu. Antara bentuk perhatian atau hinaan, sungguh tipis bedanya.


Beberapa saat setelah lulus dari dunia perkuliahan, saya melakoni hal yang pada umumnya dilakukan kebanyakan fresh graduate: mencari pekerjaan. Sebagaimana para fresh graduate, saya juga berharap untuk bekerja di perusahan prestisius, yang namanya dikenal khalayak. Sembari itu, saya juga bekerja part-time sebagai pelayan, koki, hingga bagian bersih-bersih di café milik kolega saya.

Baca Juga: Lulus S1: Kerja atau Lanjut S2? 3 Pedoman ini akan Membantumu dalam Mengambil Keputusan

Penantian saya tak berlangsung terlalu lama. Beberapa hari setelah Idul Fitri, dua perusahan menghubungi saya untuk menjalani proses rekrutmen di saat yang bersamaan. Perusahaan I dan D, sebut saja demikian. Singkat cerita, pengumuman hasil rekrutmen kedua perusahaan tersebut juga terjadi di waktu yang hampir bersamaan, hanya berselisih beberapa hari saja. Perusahaan I mengumumkannya dua hari lebih cepat daripada perusahaan D.

Kabar baik, saya berhasil. Perusahaan I mengajukan penawaran dan meminta saya untuk segera menandatangani kontrak kerja. Namun, karena sebenarnya saya lebih berminat dengan perusahaan D, saya meminta waktu beberapa hari kepada perusahaan I untuk mempertimbangkan penawaran yang mereka ajukan. Tentunya dengan harapan, sebelum waktu tunda itu habis, perusahaan D menghubungi dan menyampaikan berita gembira untuk saya.

Dua hari menunggu, perusahaan I kembali menelpon untuk menanyakan keputusan saya. Sementara itu, perusahaan D belum kunjung menghubungi. Situasi mendesak saya untuk mengambil keputusan saat itu juga. Saya tak mungkin menunda lagi.

Jadi, saya putuskan untuk tidak mengambil tawaran dari perusahaan I. Selain karena memang lebih ingin bekerja di perusahaan D, saya merasa proses interview dengan perusahaan D berjalan lancar. Feeling saya berkata, saya pasti diterima bekerja di perusahaan D.

Esok harinya, perusahaan D menghubungi. Kabar buruk, saya tidak lulus proses rekrutmen mereka. Ternyata feeling saya salah. Dan kini, saya pun harus resmi menyandang status 'pengangguran'.

"Terima kasih," jawab saya sopan. Telepon saya tutup.

[Image: glamour.com]

Detik demi detik kemudian terasa berjalan dengan amat lambat.

"Siapa saya hingga berani menolak rezeki yang mengetuk di depan pintu? Manusia bodoh macam apa yang memilih meninggalkan orang yang benar-benar mencintainya demi mengejar orang lain yang disukai?" kutuk saya dalam hati.

Pahit. Namun inilah kenyataan. Saya harus menghadapinya.


Dari pengalaman, saya bisa mengatakan, tak selamanya menganggur itu hina. Saya justru belajar beberapa hal penting di masa penantian itu. Inilah beberapa hal yang saya lakukan saat menganggur dan menanti tawaran pekerjaan baru.



1. Belajar PDKT

Selama lebih dari sepuluh tahun - terhitung sejak Sekolah Dasar hingga kuliah - waktu kita habis dengan kewajiban menyelesaikan tugas dan bersosialisasi dengan sekitar. Kita bisa jadi begitu akrab dengan angka dan huruf, standar yang menentukan seberapa cerdas kita, yang menentukan 'kasta' kita di dunia ilmiah. Dan tanpa sadar, kita jadi asing dengan diri sendiri.

[Image: teenrehab.org]

Siapa saya selama ini?

Apakah saya laksana seekor ikan yang hanya hanyut mengikuti arus aliran sungai? Ataukah saya ikan lain, yang melompat-lompat berjuang menentang arus yang demikian deras?

Lepas dari kewajiban sekolah, bebas dari tugas kuliah, fase menganggur itu membuat saya punya banyak waktu untuk belajar untuk mengenal lebih dalam, siapakah aku selama ini?



2. Belajar Menetapkan Tujuan

Bagi sebagian besar orang, lulus kuliah adalah jalan kebebasan. Namun, bagi saya, sejujurnya, malah menjadi sebuah beban. Ekspektasi orang-orang terdekat sebabnya. Sudah lumrah jika orang mengharapkan seorang sarjana untuk lekas mempunyai pekerjaan yang mapan dengan gaji rupawan. Jangan lupa, dengan jenis pekerjaan yang sesuai dengan jalur ilmu yang dipelajari, tentunya.

Di waktu tunggu ini, saya jadi menantang pandangan saya sendiri tentang bekerja dan pekerjaan. Apakah benar saya akan melakukan suatu pekerjaan tertentu saja dengan begitu betah hingga masa pensiun nanti? Atau jangan-jangan saya akan menjadi sekadar robot pemburu uang, yang sekadar bekerja tanpa makna? Apakah sebagai manusia, saya menjalani hidup sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan oleh Pencipta saya?

Seiring dengan perjalanan waktu, saya jadi tahu: idealisme saya harus mencoba berkenalan dengan realisme dunia ini.
[Image: medium.com]

Saya juga belajar untuk lebih bijak mengambil keputusan, lebih baik berjalan beriringan dan tidak serta merta menutup pintu kesempatan - sebagaimana kesalahan yang saya lakukan sebelumnya.

Baca Juga: Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan



3. Belajar CLBK

Saya jadi punya kesempatan untuk kembali membangun relasi dengan kawan lama. Mereka yang karena kesibukan seringkali jadi tersisihkan.

[Image: Odyssey Online]

Hanya waspada, Cinta Lama Bersemi Kembali jangan disalahartikan menjadi meng-update koleksi mantan untuk menyambung kembali ikatan terdahulu dalam wadah ikatan alumni para mantan lho, ya!

Baca Juga: Cinta Lama Bersemi Kembali saat Reuni. Benarkah Cinta Pertama Paling Murni dan Tak Pernah Mati?

Sebaliknya, mencari kawan-kawan yang sungguh berarti, partner in crime kita di masa lalu. Selalu menyenangkan merajut kembali persahabatan dengan kawan yang lama tak kita jumpai. Selain bernostalgia, menertawakan kembali kenakalan-kenakalan yang dulu dinikmati bersama, kita juga bisa berbagi cerita, apa yang selama ini telah dilalui, apa yang kini tengah dihadapi.

Lewat sebuah cerita, kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Kita juga bisa berbagi semangat dan dukungan untuk apa yang sedang kawan kita perjuangkan. Dan menjadi sebuah bonus yang luar biasa, ketika ternyata meskipun terpisah jarak dan waktu, kita telah dan sedang mengerjakan proyek bersama, bukan?

Baca Juga: Sahabat Sejati atau Sekadar Kawan? Inilah 10 Tanda yang Menjadi Pembedanya



Tak pernah berhenti mengucap syukur, itu yang selalu coba saya lakukan atas tiap hal yang datang dalam hidup.

Meskipun jujur, kadang ungkapan syukur saya juga masih disertai dengan keluhan. Tak jarang pula ucapan syukur malah diikuti dengan datangnya hal-hal lain yang tak diinginkan. Namun itulah dinamika kehidupan manusia. Naik turun dan lika-liku dari sebuah proses pendewasaan diri yang tak akan pernah usai.

”Roma tidak dibangun dalam satu hari,” kata pepatah kuno.

[Image: phiilip-james

Jadi, mari jalani dan nikmati proses membangun diri. Menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang lain, hari demi hari.



Baca Juga:

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar Sebagai Pemenang

Bersetia pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman: Ini Tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru

Inilah 6 Alasan Mengapa Kamu Harus Memilih untuk Bekerja Sesuai dengan Passionmu, walaupun Gajinya Belum Tentu Memuaskan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mencari Pekerjaan, Kehilangan Kesempatan dan Terpaksa Harus Menganggur, Pengalaman Saya Mengajarkan 3 Hal Berharga Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bon Ryant | @bonryant

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar