Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati

Parenting

[Image: Huffington Post]

9.2K
Pujian dan usaha untuk memuluskan jalan yang akan dilalui oleh anak kita pada hari ini akan berdampak lubang risiko yang lebih besar pada jalan yang akan dilalui anak kita sepuluh atau dua puluh tahun di depan. Dan itu bukanlah sesuatu yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita, bukan?

Beberapa waktu lalu, anak saya yang duduk di kelas 2 SD mulai mendapatkan tugas untuk belajar menghafal perkalian. Perkalian 1, 2 dan 10 dapat ia kuasai tanpa kesulitan yang berarti. Perkalian 5 membutuhkan waktu lebih panjang untuk dipelajari. Dan kemudian muncul perkalian 4, 6 dan 8. Sammy kebingungan menghadapi perkalian-perkalian tersebut dan berulang kali membuat kesalahan dalam hitungannya.

Kami menyadari pentingnya ia menghafal perkalian dasar ini untuk perhitungan yang lebih rumit di kemudian hari. Oleh karena itu, istri saya dengan telaten dan sabar terus memberikan latihan kepadanya. Dengan masukan dari teman, istri saya membuat lembaran perkalian yang kemudian ditempelkan pada dinding atau pintu lemari yang sering dilihat oleh anak kami. Cara ini cukup efektif dalam membantu ia menghafalkan perkalian tersebut, karena secara tidak sadar, ia jadi melihat perkalian itu dengan lebih sering.

Gabungan dari penambahan waktu latihan dan penempelan daftar perkalian ternyata sangat membantu anak kami dalam menguasai perkalian yang sulit. Dalam waktu cukup singkat, ia mampu menghafal perkalian dari 1 hingga 10 dengan benar. Setelah beberapa minggu, kami mulai melihat perbedaan dalam diri anak kami ketika pertanyaan seputar perkalian diberikan kepadanya. Ia, yang dulunya selalu mengelak ketika diajak untuk menghitung perkalian, kini mulai mau tenang dan berpikir untuk menjawab soal yang diberikan.

Dalam perjalanan ke tempat makan, contohnya, kami mengajaknya bermain dengan angka dan perkalian. Dengan rasa percaya diri, ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

"Tujuh dikali tujuh sama dengan?"

"Empat puluh sembilan."

"Berapa kali enam sama dengan empat puluh dua?"

"Tujuh"

"Berapa kali berapa sama dengan tiga puluh?"

Setelah berpikir sesaat, ia menjawab, "Lima kali enam!"

"Masih ada lagi yang lain. Hayo, coba pikir. Sammy pasti bisa."

Dengan senyum, ia kemudian berkata, "Tiga kali sepuluh."

Sekarang, pembelajaran perkalian ini kami mainkan dengan situasi berbelanja di pasar atau toko buku. Sammy sangat menikmati dan ia bisa memainkan dengan percaya diri, karena perkalian dasar dari 1 sampai 10 sudah ia kuasai.

Pengalaman ini teringat kembali ketika saya sedang membaca buku tentang membangun rasa percaya diri dalam diri seorang anak. Dalam buku itu, Tim Elmore, sang penulis menjelaskan kecenderungan yang dilakukan banyak orangtua dalam menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak mereka.



Kecenderungan Orangtua

Ketika membesarkan seorang anak, maka ayah dan ibu akan berusaha sebaik mereka untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak. Mereka berharap rasa percaya diri itu akan memampukan sang anak untuk berjuang dan meraih sukses di hari esok. Kita sering melakukan itu dengan cara memuluskan jalan mereka. Rintangan atau masalah yang ada di hadapan akan kita singkirkan sehingga hanya jalan mulus yang tersedia untuk mereka lalui.

Cara lain yang kita lakukan adalah dengan memberikan pujian dan bantuan terus menerus kepada si anak. Yang pasti, selama kita mampu, kita akan terus memberikan bantuan kepada mereka sehingga mereka tidak mengalami masalah dan tantangan yang berat. Bukankah kita semua akan merasa sulit untuk tinggal diam ketika kita mengetahui bahwa anak kita sedang bergumul dan berjuang, padahal kita bisa melakukan sesuatu untuk mengangkat kesulitan itu? Bila kita mampu menghindarkan mereka dari situasi yang memungkinkan mereka untuk menangis dan mengalami sakit, bukankah itu termasuk sukses?

Dengan banyaknya 'kesuksesan' itu, kita berharap agar rasa percaya diri yang besar akan tertanam dalam diri mereka. Hingga akhirnya mereka menjadi orang yang mampu meraih sukses mereka sendiri di masa depan nanti.

Menurut Dr. Tim Elmore, niat baik kita itu tidak akan menghasilkan buah yang baik.

Pujian dan usaha untuk memuluskan jalan yang akan dilalui oleh anak kita pada hari ini akan berdampak lubang risiko yang lebih besar pada jalan yang akan dilalui anak kita sepuluh atau dua puluh tahun di depan.

Dan itu bukanlah sesuatu yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita, bukan?



Penguasaan, Bukan Pujian

Edward Hallowell, seorang ahli psikologi anak dan juga seorang penulis, pernah memberikan pengamatannya tentang hal percaya diri ini. Ia berkata,

Penguasaan kemampuan, bukan pujian, yang merupakan resep pembangun rasa percaya diri yang benar. Rasa percaya diri seorang anak akan bertumbuh seiring dengan kemampuan yang ia miliki, bukan dari banyaknya pujian dan bantuan yang ia terima.

[Image: Aufeminin.com]
"Mastery, not praise, is the real self-esteem builder."
- Dr. Edward Hallowell

Dan saya rasa pernyataannya itu bukanlah suatu pernyataan yang mengejutkan kita. Secara naluri, kita telah mengetahui hal ini. Bahkan sebagai orangtua, hampir semua kita pernah berjalan dengan prinsip ini. Contohnya bisa dilihat dengan jelas ketika kita membesarkan anak-anak yang masih berusia balita. Semua tindakan yang mereka lakukan, mulai dari merangkak, berjalan, berkata-kata, bahkan makan sendiri, adalah kemampuan baru untuk mereka. Dan kita semua menyemangati mereka untuk bangun kembali, untuk mencoba kembali hingga mereka bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik. Sambil membiarkan mereka mencoba, kita terus menyemangati mereka untuk mengembangkan skill yang diperlukan untuk menjadi mahir dalam suatu keterampilan.

Kekhawatiran karena mereka akan terjatuh ketika belajar jalan, mengeluarkan kalimat yang salah ketika belajar bicara, atau mengotori baju dan menumpahkan sayur dan bubur ketika belajar makan tidak pernah berkembang menjadi kekhawatiran yang berlebihan. Kita membiarkan mereka merasakan sakit dan terkadang menangis agar bisa makan atau berjalan sendiri karena kita tahu bahwa kemampuan itu akan sangat berguna untuk hidup mereka.

Seiring dengan pertumbuhan anak, kekhawatiran kita juga bertumbuh. Bila dibiarkan begitu saja, maka kekhawatiran ini akan mengaburkan visi kita dan menimbulkan fatamorgana terhadap dampak dari didikan yang kita beri. Kita mengira bahwa pujian dan bantuan yang kita berikan itu mampu melahirkan rasa percaya diri yang kuat dalam diri anak. Kita berpikir bila si anak bisa kita lindungi tanpa perlu menghadapi terik matahari dan hujan keras di masa kecil, maka ia akan bertumbuh dengan akar yang kuat untuk menghadapi badai hidup di kemudian hari.

Dan kita ikut terlibat dalam hal-hal kecil.

Kita membela anak kita ketika ia bertengkar dengan temannya.

Kita marah kepada temannya karena memukul anak kita.

Kita protes kepada guru karena memberikan angka merah kepada anak kita.

Kita menyalahkan sekolah karena anak kita terjatuh ketika sedang bermain di sana.

Kita mengomel atas ulangan dan tugas yang begitu banyak.

Dan kita membiarkan mereka membuka jendela mobil dan membuang sampah di jalan.



Motivasi yang Baik Tidak Menjamin Hasil yang Baik

Rekan seperjuanganku, saya terkejut ketika menyadari bahwa motivasi yang baik dari saya sebagai orangtua tidaklah menjamin hasil akhir yang baik. Bahkan dalam hal pujian dan bantuan ini, tujuan baik kita akan membuat anak kita bertumbuh dengan rasa percaya diri yang semu.

Mereka akan mengira bahwa dunia ini selalu bergerak untuk kebaikan dan kelancaran hidup mereka. Mereka tidak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan karena akan ada orangtua yang selalu membela dan membantu mereka. Lewat pujian dan bantuan yang terus menerus diterima, mereka akan berpikir bahwa mereka berhak atas semua itu. Dan di atas dasar yang semu itulah rasa percaya diri mereka dipupuk dan bertumbuh.

Akan tetapi, seperti mobil dengan kecepatan tinggi yang kemudian menabrak sebuah pagar yang kokoh, akan tiba masanya mereka bertabrakan dengan kenyataan pahit ketika memasuki dunia kerja yang memberikan hukuman dan imbalan berdasarkan prestasi dan kemampuan masing-masing individu.

Penguasaan kemampuan, memiliki keahlian, dan bukan pujian kosong, yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri yang nyata dalam diri seseorang.

Tidak ada dari kita yang akan membantah kebenaran ini, bukan?


Parenting adalah perjuangan panjang. Bila diumpakan dengan olahraga lari, maka parenting adalah lari marathon terpanjang di dunia. Wajar bila terkadang di tengah jalan kita merasa lelah dan ingin mencari jalan pintas. Tidak aneh pula bila kita terkadang hanya terfokus pada apa yang kelihatan baik pada hari ini saja.

Harapan saya, tulisan ini bisa menjadi seperti sebotol air segar yang menemani pertandingan lari kita. Biarlah kita bisa diingatkan kembali tentang apa yang benar-benar penting. Sehingga ketika kita pulang ke rumah dan bertemu dengan anak kita lagi, kita akan berjuang untuk mendorong mereka mengasah kemampuan mereka, walau kegagalan dan kesulitan datang silih berganti.

Dan sambil mereka berjuang, kita bisa terus menyemangati mereka, sama seperti yang pernah kita lakukan ketika mereka pertama kali berdiri dan belajar berjalan. Masih ingat kan perasaan bangga dan sukacita ketika melihat anak kita melangkah, jatuh, dan bangkit kembali untuk meneruskan langkah, mendekati kita yang menanti di ujung ruangan?

[Image: RibutRukun.com]

Itulah yang mereka perlukan dari kita sebagai orangtua ketika mereka berjuang untuk menjadi orang dalam hidup ini.


“Ayo, Sayang ... kamu pasti bisa ...

Ayo, bangun lagi ... satu langkah lagi ... satu langkah lagi ...

Wah, hebat sekali, Sayang ... Sini Papa peluk.

Coba lagi?”



Baca Juga:

Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!

Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar