Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan itu pada Anak Sejak Dini!

Parenting

[Image: shutterstock.com]

3K
Sebagaimana halnya otot perlu dilatih untuk bertambah kuat, demikian juga karakter perlu dilatih untuk menjadi matang.

Berani Mencoba

"Pa, Sammy minta balon itu dong," kata Sammy, anak perempuan kami yang berusia 5 tahun, sambil menunjuk ke sebuah balon pedang yang sedang dipegang oleh seorang anak di dekat kami. Saat itu kami sedang makan di sebuah rumah makan yang membagikan balon kepada anak-anak yang datang. Untuk menarik pengunjung, beberapa pegawai mengenakan topi balon dengan warna yang menarik. Karena itulah Sammy meminta saya untuk membantunya meminta balon pedang kepada pegawai rumah makan tersebut.

Saya membalas permintaannya demikian, “Kalau begitu, Sammy saja sendiri yang meminta kepada Mbaknya,” sambil menunjuk kepada pegawai yang berada di dekat kami. Awalnya, Ia menolak dan merasa malu untuk berbicara. Ia berkata bahwa Ia tidak tahu bagaimana harus memintanya. Saya menyemangati dia sambil berkata, “Ayo, kita coba latihan dulu kalau begitu. Sammy ikuti Papa ya!” Iapun mengikuti perkataan saya “Mbak, boleh minta satu balonnya?” Setelah mengulang beberapa kali, Ia kami dorong untuk meminta sendiri. Ketika pegawai rumah makan datang mendekat, Sammy, dengan suara yang hampir tak terdengar berkata, “Mbak, balon.” Kami kemudian membantu menjelaskan maksud perkataannya kepada pegawai rumah makan. Hasilnya, satu buah balon pedang menjadi miliknya karena Ia sudah mau mencoba.

[Image: koleksi pribadi]


Berani Mencoba, Meskipun Tidak Selalu Berhasil

Beberapa waktu setelah kejadian itu, saya mengajak Sammy ke Surabaya. Ketika sedang berada di ruang tunggu terminal bandara, Sammy menjatuhkan makanannya ke lantai. Ia pun lalu kebingungan, bagaimana harus membersihkan remah-remah roti yang mengotori lantai. Di tengah kebingungannya, Ia kemudian melihat ada seorang petugas kebersihan sedang berada tidak jauh dari situ. Saya menyemangati dia untuk pergi dan meminta bantuan agar lantai yang kotor itu bisa dibersihkan. Ia merasa malu dan meminta agar saya saja yang berbicara. Saya katakan kepadanya, "Sammy kan yang menjatuhkan, jadi Sammy yang harus bicara." Kami pun kemudian berlatih untuk mengatakan “Mas, bisa tolong bersihkan makanan yang jatuh di situ?” sambil menunjuk tempat kotor di mana remah roti jatuh. Setelah berlatih beberapa kali, Sammy berjalan, melangkah maju mendekati bapak petugas kebersihan. Saya memperhatikan dia dari tempat duduk saya, tak jauh dari situ. Setiap beberapa langkah maju, Ia menoleh ke belakang. Saya memberikan semangat dan senyum kepadanya agar Ia yakin untuk terus melangkah maju. Ketika jarak yang tersisa tinggal 2 langkah dari bapak petugas kebersihan yang Ia tuju, Ia malah berbalik dan berlari kembali ke saya. Saya menanyakan apa yang terjadi. Ia berkata bahwa Ia malu, bahwa Ia tidak berani, dan kembali meminta agar saya saja yang berbicara.

Petugas kebersihan tadi pun akhirnya berpindah ke tempat lain. Namun, tak lama kemudian, muncul lagi seorang petugas kebersihan yang lain. Kami kembali mengulang melatih apa yang tadi sudah kami latih. Sammy pun memulai lagi, melangkah ke arah petugas itu, menoleh ke belakang sebentar, melangkah lagi, dan ketika sudah hampir sampai, Ia berbalik dan lari ke tempat saya duduk lagi.

Akhirnya, saya meminta tolong kepada seorang petugas kebersihan yang kebetulan sedang berdiri dekat sekali dengan kami untuk membersihkan remah-remah roti yang dijatuhkan Sammy di lantai. Setelah itu, saya berkata kepada Sammy, “Sammy, Papa yang meminta tolong. Sekarang Sammy yang mengucapkan terima kasih ya.” Ia pun mengiyakan permintaan saya tersebut. Setelah petugas kebersihan selesai membersihkan remah-remah roti, Sammy, dengan suara kecilnya berkata, “Terima kasih." Saya tersenyum menunjukkan rasa bangga karena Ia mau berusaha, walau masih belum sepenuhnya berhasil.


Berani Mencoba Kembali

Seminggu setelah itu, kami sekeluarga makan di sebuah rumah makan yang memiliki tombol di atas meja yang berfungsi sebagai nada panggil. Bila kita membutuhkan sesuatu, kita tinggal menekan remote tersebut dan pelayan rumah makan akan segera datang untuk membantu kita. Sammy merasa sangat penasaran dengan tombol itu, dan sejak awal Ia sudah ingin memencet tombol tersebut. Saya katakan kepadanya, Ia boleh memencet tombol asal Ia sendiri yang akan berbicara kepada pelayan yang nanti akan datang. Mendengar kata-kata saya, Ia merasa ragu untuk melakukannya. Kami pun kemudian memesan dan menikmati makanan.

Setelah selesai makan, Sammy kembali melihat tombol yang sedari awal telah begitu menggodanya itu, dan berkata, “Pa, Sammy bisa pencet tombol itu?” Saya tanyakan, “Untuk apa?” Karena tak tahu untuk apa, Ia kebingungan dan mencoba mencari-cari alasan untuk melakukan hal itu. Kebetulan, saat itu kami ingin memesan satu minuman untuk dibungkus dan dibawa pulang. Karena itu, saya menawarkan kepada Sammy untuk menekan tombol dan menyampaikan keperluan kami kepada pelayan yang nanti akan datang. Setelah berlatih tentang apa yang harus dikatakan, Ia pun, meski dengan takut-takut, akhirnya menekan tombol (yang memang sejak tadi sudah ingin ditekannya itu).

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan menanyakan bantuan apa yang kami perlukan darinya. Sammy malu-malu dan berusaha bersembunyi, tetapi saya mendorongnya untuk berbicara. Dengan ramah, pelayan itu melihat Sammy dan bertanya, “Apa yang bisa dibantu?” Akhirnya Sammy memberanikan diri untuk berkata, “Mau minta bungkus satu porsi jus alpukatnya.” Pelayan itu berkata kepada Sammy “Oh, sudah habis, Dik.” Pembicaraan pertama itu ternyata memberikan keberanian kepada Sammy. Pengalaman telah mengajarnya bahwa meminta dan berbicara itu bukanlah suatu hal yang menakutkan. Dan akhirnya, Ia pun mau mencoba lagi. Ia lah yang kemudian menekan tombol dan berbicara kepada pelayan ketika kami meminta agar makanan yang masih tersisa dibungkus dan meminta nota untuk dibayar. Dengan semakin bertambahnya frekuensi berinteraksi dengan orang lain, rasa percaya dirinya pun semakin bertumbuh.


[Image: wisegeek.com]


Rekan-rekan orangtua,

kita semua berharap bahwa ketika anak-anak kita tumbuh dewasa, mereka bisa menjadi pribadi yang berani, pribadi yang membela kebenaran, dan pribadi yang kuat. Akan tetapi, hal-hal tersebut tidak dapat dibentuk dalam sehari semalam. Dibutuhkan latihan dan pengulangan selama bertahun-tahun agar sebuah karakter bisa berakar kuat dan menjadi bagian dari diri seorang anak.

Sebagaimana halnya otot perlu dilatih untuk bertambah kuat, demikian juga karakter perlu dilatih untuk menjadi matang.

Beberapa pengalaman di atas merupakan contoh dari bibit keberanian yang saya tanamkan pada seorang anak berusia 5 tahun. Salah satu kerinduan kami untuk Sammy adalah agar Ia bisa menjadi orang yang yang berani untuk mengeluarkan pendapatnya dengan cara yang sopan. Dan karena itu, sejak Ia kecil, saya dan istri berusaha untuk dengan sengaja membiasakan dirinya untuk berani berbicara dengan sopan. Kami berusaha mengambil setiap kesempatan yang ada, di berbagai situasi, untuk membentuk karakter itu dalam dirinya. Kegagalan dan keberhasilan silih berganti mewarnai proses latihan-latihan kami. Tetapi kami percaya bahwa latihan-latihan kecil seperti ini adalah bibit awal yang kami tanamkan dalam jiwanya yang masih muda itu. Bibit yang kami harapkan bisa bertumbuh menjadi fondasi yang kuat dari sebuah pohon karakter yang akan disemainya ketika Ia besar kelak.

Saya menyadari bahwa dalam peran sebagai orangtua, seringkali kesibukan dari rutinitas anak bangun-makan-main-mandi-sekolah-makan-les-main-makan-tidur dan berbagai drama kenakalan yang terjadi di antaranya menghabiskan begitu banyak waktu kita. Sama seperti rekan-rekan, banyak hari-hari saya dipenuhi dengan kelelahan dan keletihan yang membuat saya berharap agar hari itu bisa segera selesai saja secepatnya. Dan, ketika diingatkan akan tanggung jawab untuk mendidik anak, pertanyaan, yang mungkin juga sama - ditanyakan oleh rekan-rekan sekalian, muncul dalam pikiran saya: Bagaimana mencari waktu untuk menanamkan karakter dan mengajarkan pembentukan sikap kepada anak bila waktu untuk tenang saja nyaris tidak ada? Bagaimana bisa menyediakan waktu untuk mengajarkan anak tentang karakter bila PRnya menumpuk, seakan tidak habis-habisnya? Bagaimana mau ini dan itu bila makan saja susah?

Sama seperti kebanyakan kita, saya pun sedang berenang di tengah arus waktu yang begitu cepat berlalu. Namun demikian, kita perlu menyadari bahwa walau terkadang satu hari bisa terasa begitu lama, tahun-tahun akan dengan cepat berganti, dan dalam sekejap mata, anak-anak kita tiba-tiba telah tumbuh dan menjadi dewasa. Oleh karena itu, kita perlu terus saling mengingatkan untuk mengambil waktu, menanamkan apa yang paling penting untuk anak-anak kita, di saat mereka masih muda.

Setelah menjadi orangtua, sebuah nasihat yang pernah saya baca dari seorang raja menjadi lebih relevan untuk saya. Nasihat ini menguatkan saya untuk dengan sengaja menanamkan bibit-bibit karakter sejak anak-anak saya masih kecil. Kepada para orangtua, Raja Salomo membagikan nasihat ini,

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,

maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."


Beberapa cerita dan pengalaman di atas mengingatkan saya,

Terkadang, pembelajaran untuk anak itu terjadi bukan lewat satu waktu khusus yang kita siapkan untuk mengajar mereka, melainkan lewat hidup yang dijalani dari hari ke hari.

Setiap hari ketika kita makan dengan mereka. Juga ketika kita menghadiri pesta ulang tahun atau acara silahturami dengan keluarga bersama mereka. Atau waktu-waktu ketika kita mengajak mereka bermain ke luar. Semua waktu-waktu itu bisa kita jadikan waktu pembelajaran untuk menanamkan karakter dan prinsip hidup yang benar kepada mereka. Kita tidak harus menyediakan satu waktu khusus untuk mengajar mereka, setiap saat dan setiap tempat bisa kita manfaatkan sebagai proses pembelajaran untuk anak kita.



Buat saya, yang ingin agar Sammy bisa tumbuh menjadi anak yang berani mengutarakan pendapat, berani bertanya dan berinteraksi, maka ini adalah langkah awal yang kami ambil. Bagaimana dengan Anda? Karakter seperti apa yang Anda inginkan dari anak Anda dan usaha apa yang sedang Anda lakukan hari ini untuk membuat hal itu terwujud?



Artikel lain dari RibutRukun, tentang mengasuh dan mendidik anak:

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Memberikan Anak-Anak Kesempatan untuk Merasa Bosan itu Baik untuk Mereka. Ini Sebabnya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan itu pada Anak Sejak Dini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar