Jangan Mengajar Tupai untuk Terbang! Inilah Jurus Jitu Memilih Sekolah dan Jurusan

Parenting

[Photo credit: Animalli]

3.6K
Anak yang belajar di luar minat dan bakatnya pasti tidak bisa berkembang sesuai kapasitasnya.


“Pak Xavier, anak saya mengisi ‘IPS’ di formulir psikotes. Oleh sekolah, anak saya langsung dimasukkan IPS, padahal, saya lebih sreg jika dia masuk IPA. Menurut saya, dia mampu masuk jurusan itu. Saat saya arahkan ke IPA, karena menurut saya pilihannya lebih luas saat kuliah nanti, anak saya berkeras masuk IPS. Saya harus bagaimana?”

Begitu isi pesan WA yang saya terima dari seorang ibu yang anaknya akan masuk SMA.


Pada saat saya menulis artikel ini, beberapa sekolah mengadakan Open House untuk penerimaan siswa baru tahun ajaran mendatang. Di sekolah anak saya—sekolah internasional—bahkan sudah ada pameran studi lanjut ke luar negeri. Perwakilan kampus dari luar negeri membuka booth untuk menawarkan keunggulan kampus masing-masing.

Seorang ayah ber‘konsultasi’ dengan saya, apakah sebaiknya anaknya dikirim ke Jerman untuk ambil jurusan food tech atau tetap kuliah di Indonesia. Ibu yang lain minta didoakan karena anaknya mau kuliah di Amerika dan bingung harus ke East Coast atau West Coast. Ortu yang lain bingung menentukan apakah anaknya lebih baik sekolah di Melbourne, Perth, atau Sydney.

Baca Juga: Ingin Melanjutkan Sekolah di Luar Negeri? Anak dan Orangtua, Persiapkan 3 Hal Ini Saja


Sebelumnya, sebuah lembaga di Jakarta mengundang saya jadi pembicara seminar dengan tema “Ke Mana Setelah SMA?” Rupanya pemilihan jurusan menjadi masalah tersendiri.

Kembali ke seorang ibu yang bingung memilihkan anaknya mau ke IPA atau IPS tadi, saya menyarankan agar ibu itu mengajak anaknya bicara dari hati ke hati serta menelusuri minat dan bakatnya. Jika passion anaknya memang ke IPS, jangan ‘arahkan’ [bahasa halus untuk ‘pemaksaan’ he he he] masuk IPA.

Anak yang belajar di luar minat dan bakatnya pasti tidak bisa berkembang sesuai kepasitasnya.

Ketika memimpin retreat mahasiswa di Jervis Bay, Sydney, seorang mahasiswi kedokteran curhat ke saya. Dia bilang tidak betah kuliah di jurusan itu.

“Lho, kok milih jurusan itu?” tanya saya spontan.

“Mama saya yang ngotot agar saya masuk fakultas kedokteran!” jawabnya.

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!


Chatting saya dengan ibu yang membahas pendidikan anaknya itu belum usai, muncul notifikasi di hape saya dari sahabat lama saya, Profesor Thomas. Isinya pas banget dengan apa yang sedang saya obrolkan. Dosen sosiologi di kampus top di Surabaya ini mengirimkan tulisan tentang ‘Animals Schooling’.



Sekolah Binatang dan Kurikulumnya

Di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang. Statusnya 'disamakan' dengan sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah. Terdapat 5 mata pelajaran di sekolah tersebut: Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari, dan Menyelam.

Banyak siswa yang bersekolah di "Animals Schooling", ada elang, tupai, bebek, rusa, dan katak. Terlihat sejak awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu. Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain. Demikian juga katak, sangat mahir pada pelajaran menyelam.

Namun, karena "Animals Schooling" mewajibkan semua siswa lulus kelima mata pelajaran, maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari. Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi karena belajar terbang. Bebek sering kali ditertawakan. Meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang, ia mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik. Tidak ada siswa yang bisa menguasai lima mata pelajaran tersebut dengan sempurna.

Kini, lama kelamaan, tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, akibat terlalu sering belajar memanjat.

Belajar dari sekolah binatang ini, bukan hanya orangtua yang bingung memilih jurusan untuk anak-anak mereka. Para murid pun dibuat stress ketika harus bisa menguasai semua pelajaran dengan persyaratan kelulusan yang ketat.

Saya pun dulu ikut puyeng saat harus menghafal nama anak-anak binatang dalam bahasa Jawa. Yang sampai sekarang masih saya ingat adalah bahwa bledug itu anak gajah. Entah benar entah tidak, he he he. Karena tidak tahu apa relavansi pelajaran itu bagi karier saya nantinya, ya, saya telan saja.

Baca Juga: Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini



Lakban dan Paku sebagai Kode Booking

Dari konsultasi gratisan ibu itu kepada saya tentang penjurusan anaknya, saya mengamati bahwa orangtua dari dulu sampai sekarang tetap saja ingin ‘memaksakan kehendak’ terhadap anak-anak mereka. Saat kabar perundungan mahasiswa autis di Gunadarma menjadi viral di media sosial, saya membaca berita ‘ringan’ lainnya tentang sekelompok ibu-ibu di Cirebon yang melakban, bahkan memaku, tas anak-anaknya di bangku yang mereka pilih. Aksi ibu-ibu mem-booking tempat duduk di sekolah ini ikut viral juga.

Yang membuat kita mengelus dada lebih sering dan lebih kenceng lagi adalah ulah sekelompok ayah di India yang rela naik ke lantai atas sekolah untuk memberikan contekan bagi anak-anak mereka yang sedang ujian. “Saya terus terang jengkel dengan Mama saya yang berusaha mencari dan membeli bocoran soal,” ujar seorang ayah muda kepada saya.

Baca Juga: Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati



Pelajaran dari Shool of Tomorrow

Waktu merenungkan polah para orangtua, saya jadi merindukan untuk ngobrol kembali dengan almarhum Profesor M.M. Sangian. Beliaulah yang dulu mengajak saya untuk meninjau School of Tomorrow di Australia. Saat berada di sekolah itu, saya dibuat kagum dengan sistem pendidikan di sana.

Saat mereka mengumumkan siswa berprestasi, ternyata bukan hanya satu orang, tapi banyak. Kok bisa? Bisa saja, karena juaranya diambil sesuai bidang. Misalnya, juara di bidang matematika. Juara seni dan budaya. Juara bahasa, dan seterusnya. Dengan demikian, anak bisa bangga dengan kemampuan dan keterampilannya sendiri yang begitu unik dan berbeda dengan teman lainnya. Selaras sekali dengan multiple intelligences-nya Dr. Howard Gardner, bahkan melengkapi emotional intelligence-nya Daniel Goleman.

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa. Bantu [Bukan Paksa!] Mereka Mengenali Kekuatan dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri



[Photo credit: Cute Overloads]
So, sebagai orangtua,
sudah bukan zamannya lagi memaksakan jurusan untuk anak-anak kita.

Sinergi antara ortu dan guru plus ditunjang miliu yang kondusif bisa menghasilkan lulusan yang bermutu. Apalagi ditunjang dengan pelajaran seumur hidup bernama 'budi pekerti'.

Dengan demikian, tidak ada lagi kurikulum yang mengajarkan tupai untuk terbang. Wong sepandai-pandainya tupai melompat saja, bisa jatuh juga karena nyolong e-KTP, eh kelapa muda. Wkwkwk. Ayo nyeruput es degan! Segeeer!



“An investment in knowledge pays the best interest.”

- Benjamin Franklin






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Mengajar Tupai untuk Terbang! Inilah Jurus Jitu Memilih Sekolah dan Jurusan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar