Memilih Mempertahankan Kandungan meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan

Parenting

[Image: Aleteia.org]

9.4K
Tidak merencakan kehamilan, namun mendapatkan anugerah. Empat orang dokter menyarankan menggugurkan kandungan, namun memilih mempertahankan kehamilan. Inilah kisah teman saya, Aprilia Ludi, dari kota Biak.

"Apa saya hamil, ya?"

Tanya saya pada diri sendiri pagi itu. Beberapa hari belakangan, saya merasa ada yang berbeda dengan diri saya. Tak biasa, tapi tak jelas apa sebabnya. Memang 'tamu bulanan' saya belum kunjung datang hingga hari ini. Mencoba mencari jawaban, saya putuskan untuk membeli alat test. Betul saja, tanda strip dua muncul di sana. Saya hamil!

Bahagia tak terkira, itu rasanya. Walaupun kehamilan ketiga ini terjadi tanpa perencanaan, namun saya dan suami merasa amat bahagia. Setelah kehadiran Lova dan Levi, dua anak kebanggaan kami, Tuhan masih berkenan memberikan satu lagi anugerah-Nya untuk keluarga kami. Semakin semarak saja warna warni kehidupan rumah tangga kami.

[Lia - Ludi - Lova - Levi - Dokumentasi Pribadi Aprilia Ludi]

Malam itu juga, saya dan suami mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan awal. Saya siap mengikuti semua anjuran dokter, menjaga janin di dalam kandungan saya agar dapat bertumbuh dan lahir dengan sehat.



"Lebih Baik Gugurkan Saja!"

Kehamilan ini berjalan dengan baik, setidaknya itulah yang ada di pikiran saya. Hingga hari itu, ketika dokter melakukan pemeriksaan terhadap kandungan saya yang telah memasuki bulan keempat.

Dokter melakukan USG, seperti biasa. Namun, tak seperti biasa, ia terdiam agak lama sebelum menyampaikan hasil pemeriksaan kepada kami. Setelah mempersilakan kami duduk dan menenangkan diri, ia menyampaikan kabar ini:

Janin di dalam kandungan saya tidak berkembang dengan baik. Kaki, yang seharusnya ada dua - di kanan dan kiri, baru bertumbuh satu. Satu lagi nampaknya mengalami keterlambatan. Dinding perut tak sempurna. Tidak ada anus. Jantung dan hati tidak berkembang dengan baik. Tulang belakang tak ada. "Cacat multikompleks," pungkas dokter.

Setelah menghela nafas sejenak, berita itu dilanjutkannya dengan sebuah rekomendasi, "Sebaiknya kandungan Ibu digugurkan saja. Dilanjutkan juga percuma. Ibu hanya akan capek hamil, lalu melahirkan bayi yang cacat, bahkan mungkin, tak mampu bertahan hidup."

...

Betapa hancurnya hati kami.

...

Segala perasaan berkecamuk di dalam dada. Sedih, bingung, kecewa. Marah!! Kami tidak merencanakan kehamilan ini. Tuhan berikan bonus, tapi kok seperti ini? Entah berapa banyak tanya 'kenapa' yang telah saya ajukan kepada Tuhan. Tak terhitung banyaknya air mata yang saya tumpahkan malam itu. Hingga akhirnya saya pasrah.

Setelah badai emosi mereda, saya dan suami memutuskan untuk mencari second opinion. Kami mencari dokter kandungan lain dan akan mengunjunginya besok. Saya tak bisa tidur malam itu. Diam-diam saya berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Bahwa saya akan segera bangun ketika pagi datang, lalu kami pergi menemui dokter, dan dokter mengatakan semua baik-baik saja. Hari itulah mungkin 24 jam terlama dalam hidup saya.

Sayangnya, dokter kedua pun mengatakan hal serupa. "Jika bayi ini lahir, ia akan membutuhkan operasi untuk mengoreksi cacatnya. Dan itu akan memakan waktu, dan tentu, biaya yang tidak sedikit."

"Lebih baik gugurkan saja!"

Begitu kata tak hanya dua, tetapi empat orang dokter.

Ya, kami mengunjungi hingga empat orang dokter, mencoba mencari pendapat berbeda. Namun semua berkata sama, "Gugurkan saja!"


Meskipun berduka, saya dan suami sadar, kami tetap harus mengambil keputusan. Jadi, setelah menggumulkan persoalan ini dalam doa dan mencari pendapat dari sahabat-sahabat yang kami percaya, inilah komitmen yang kami ambil:

1. Mengucap Syukur atas Segala Hal

Bukankah semua yang Tuhan beri sudah diaturnya untuk kebaikan kita? Baik manis maupun pahit, semua dirancangkan untuk mendatangkan kebaikan bagi yang percaya kepadaNya. Karena itu, kami memberanikan diri mengambil langkah iman: mengucap syukur. Atas kehamilan ini. Atas apa pun yang akan Tuhan buat dengan kehamilan ini.

Baca Juga: Odil, Gadis Kecil dengan Kelainan Struktur Wajah Langka yang Membuat Saya Belajar Memaknai Kembali 7 Hal yang Sungguh-Sungguh Penting dalam Hidup


2. Meneruskan Kehamilan

Kami bersehati bersepakat, tidak akan menggugurkan kandungan ini. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang berhak untuk mengambil jika Ia berkehendak. Bukan hak kami untuk mengakhiri hidup bayi dalam kandungan ini, apa pun kondisinya. Saya akan merawat kandungan ini sebagaimana saya telah merawat kehamilan saya terdahulu, saat mengandung kakak-kakaknya. Saya akan menjaganya dengan baik, tanpa mengurangi sedikit pun apa yang menjadi bagiannya.

Baca Juga: Hamil di Luar Nikah: Apakah Aborsi Sebuah Solusi?


3. Berkat dari Kehamilan ini

Saya harus bisa bangkit dari kesedihan agar bayi dalam kandungan juga merasa bahagia. Saya mendekatkan diri dengan Tuhan, memperbanyak waktu doa dan membaca kitab suci. Dengan melakukan itu, saya semakin memahami kehendak dan rencanaNya bagi hidup saya.

"Jika Tuhan mau, pasti sangat mudah sekali bagiMu untuk menjadikan bayi saya sempurna. Apakah yang Tuhan mau saya pelajari melalui peristiwa ini?" tanya saya pada Tuhan.

Semakin membesar kehamilan saya, semakin banyak saya menerima penguatan dari teman-teman. Lewat apa yang saya alami, iman saya bertumbuh semakin kuat. Itulah berkat yang saya terima dari kehamilan ini.

Baca Juga: Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal inilah yang Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan



Victory Laskar

Perut semakin membesar, waktu kelahiran semakin mendekat. Setelah berembuk dengan suami dan orangtua, diputuskan bahwa saya akan melahirkan di Palangkaraya, tempat orangtua saya tinggal. Tiket pesawat dan kepindahan sekolah sementara untuk anak sulung saya sudah dipersiapkan. Kami berempat berangkat ke sana.

Waktu melahirkan tiba juga. Melalui bedah sesar, saya melahirkan anak lelaki saya yang ganteng. Victory Laskar, demikian kami menamainya. 20 menit saja dia merasakan hidup di dunia. Bantuan alat pernafasan tak mampu memperpanjang waktu untuknya.

Tidak sedikit pun saya merasa kecewa. Sebaliknya, saya merasa bangga dan bahagia. Sebuah kehormatan bisa mengandungnya selama 9 bulan, berbagi helaan nafas dan aliran darah dengannya. Sebuah sukacita bisa mengajaknya berkomunikasi, entah dia paham atau tidak. Sebuah anugerah bisa mengajaknya berdoa bersama dalam setiap kesempatan.

Tak pernah saya menyesali keputusan ini: meneruskan kehamilan, tak menggugurkan kandungan.
[Victory Laskar - Dokumentasi Pribadi Aprilia Ludi]

Lewat 9 bulan 20 menit hidupnya, Victory Laskar telah menyatakan mujizatNya. Setidaknya bagi saya, ibunya. Kini, saya lebih bisa memahami pergumulan orang, saya semakin terbiasa menguatkan mereka yang butuh penguatan.

Melalui apa yang saya alami, mendapatkan dan melepaskan Victory Laskar, saya dipakai olehNya.



Baca Juga:

Tak Diharapkan Lahir oleh Ibu, Tak Dicintai Bahkan oleh Diri Sendiri. Saya Pulih, Bangkit, dan Menata Masa Depan karena 5 Hal ini

Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Menghadapi Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memilih Mempertahankan Kandungan meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Elisa Aprilia | @elisaaprilia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar