Orangtua, Jangan Lelahkan Diri dengan Mengatur Semua Perilaku Anak! Pilah dan Pilih yang Terpenting untuk Penerapan Disiplin yang Efektif

Parenting

[Image: cynthia craine photography]

3.6K
Marilah kita belajar memilih perilaku mana yang perlu didisiplinkan dan perilaku mana yang bisa kita toleransi. Bila hal ini kita lakukan, maka bukan saja kita bisa mengurangi tekanan pada anak-anak kita, tetapi juga akan menggantikan rasa frustrasi dengan senyuman ketika kita menerapkan disiplin kepada mereka.

Umumnya kronologis kejadiannya seperti ini:

Kita akan pergi ke luar untuk menghadiri sebuah acara.

Anak kita memohon minta ikut.

Kita memberikan aturan dan batasan kepada anak.

Mereka berkata, “Iya.”

Kita mengajak mereka ikut bersama kita.

Mereka kemudian melanggar. [Dengan sengaja!]

Kita memarahi/mendisiplinkan mereka.

Terjadi penyesalan. [Mereka yang menyesal - ada kalanya]

Lalu di kesempatan berikutnya,

Siklus di atas akan kembali berulang.


Hari demi hari, waktu bersama anak seakan hanya dihabiskan untuk menegur dan mendisiplinkan mereka. Bukan hanya di luar rumah, namun juga di dalam rumah. Akibatnya, banyak orangtua yang menjadi frustrasi ketika berhadapan dengan kenakalan anak-anak mereka. Mereka menyadari bahwa hukuman dan amarah yang mereka keluarkan ternyata tidak efektif untuk mengubah anak mereka, tetapi mereka tidak tahu apalagi yang harus mereka lakukan. Jadi, mereka kembali mengulang tindakan menghukum dan memarahi anak atas setiap pelanggaran yang dilakukan.

Baca Juga: Menghukum Anak untuk Mendisiplinkan Mereka? Mayoritas Orangtua Melakukan Satu Kesalahan Fatal ini

Tidak sedikit pula yang mengangkat tangan menyerah dan membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka merasa tidak mampu menghadapi anak-anak mereka dan akhirnya mereka melunak. Mereka mengikuti keinginan anak dan berharap bahwa anak itu tidak akan membuat malu mereka di hadapan umum. Mereka ‘menyogok’ si anak dengan iPad dan permainan elektronik lainnya. Asal anak bisa diam dan tidak rewel, itu sudah baik. Mereka sudah terlalu capek untuk peduli dengan perilaku anak-anak mereka.


Rekanku, bila Anda mendapati dirimu sedang berada dalam musim kehidupan yang seperti ini, teguhkanlah hatimu! Saya ingin menguatkan Anda dengan berkata bahwa Anda tidak sendirian dalam hal ini. Pergumulan dan tantangan untuk menjadi orangtua yang baik bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan sebuah rumus rahasia. Tidak ada obat mujarab yang bisa mengubah anak-anak kita dalam sekejap.

Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada harapan untuk menjadi lebih baik. Bila kita mau tenang dan melihat sekeliling kita, maka kita bisa menemukan orangtua-orangtua yang berada situasi yang sama, tetapi mampu memberikan respons yang berbeda. Ketika kita melihat anak-anak mereka, maka kita berharap agar anak-anak kita pun bisa bertumbuh menjadi dewasa seperti anak-anak mereka. Dan, pembelajaran yang saya dapatkan dan ingin saya bagikan hari ini juga bermula dari situasi seperti itu.

Berapa waktu yang lalu, Ted dan Lisa ke luar membawa kedua anaknya yang masih balita untuk makan bersama dengan teman-teman mereka. Saat itu, anak perempuan mereka yang berusia 5 tahun melakukan sesuatu yang tidak pantas. Ted, kemudian mengajak anak itu ke belakang untuk didisiplinkan.

Sebagai satu-satunya pasangan yang sudah memiliki anak, perilaku Ted dan Lisa ini menarik perhatian teman-teman mereka. Jadi, sementara Ted dan si anak tidak berada bersama mereka, pasangan yang ada di sana dengan segera meminta Lisa untuk berbagi tips tentang bagaimana caranya keluarga mereka menerapkan disiplin terhadap anak-anak mereka. Mereka meminta nasihat, karena sebagai satu kelompok jalan yang akrab, mereka sering mengamati bagaimana sebagai ayah dan ibu yang masih muda, Ted dan Lisa mendisiplinkan anak-anak mereka yang masih kecil dengan cara yang berbeda dibandingkan gaya disiplin orangtua pada umumnya. Dan saat itu, mereka merasa inilah momentum yang tepat untuk meminta pendapat tentang bagaimana mendisiplinkan seorang anak yang baru saja melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan: Apa yang dilakukan Ted? Bagaimana kalian mendisiplinkan anak-anak yang nakal? Apa yang kalian lakukan di saat-saat seperti ini? Apa yang tidak kalian lakukan? Apakah kalian selalu langsung menegur mereka?

Lisa kemudian berkata, “Sebagai orangtua, kita terkadang bisa menghabiskan energi bila kita mau mengatur semua hal-hal kecil yang dilakukan oleh anak-anak kita. Jadi, apa yang kami lakukan? Kami memutuskan bahwa ada tiga pelanggaran yang tidak bisa dinegosiasikan sehubungan dengan perilaku mereka dan disiplin yang kami berikan, yaitu ketika mereka tidak taat, tidak jujur, atau tidak hormat. Itulah ketiga hal yang tidak akan kami toleransikan. Terkadang ada hal-hal kecil yang kami lewatkan, atau pura-pura tidak kami lihat, atau kami anggap tidak kami dengar. Akan tetapi bila mereka tidak taat, tidak jujur, atau tidak hormat, maka kami pasti turun tangan dan mendisiplinkan mereka.”

Dari percakapan itu, Lisa memberikan petunjuk penting buat kita sebagai orangtua dalam mendisiplinkan anak-anak kita. Ide yang ditawarkan Lisa ini sangat membantu teman-temannya. Dua puluh tahun kemudian, salah satu pasangan yang hadir waktu itu menceritakan kisah ini dan bagaimana ide itu membantu mereka membesarkan anak-anak mereka. Saya yang mendengarkan pun seakan mendapat dorongan semangat baru dalam membesarkan anak-anak saya. Karena memang tidak bisa dipungkiri, membesarkan anak adalah perjuangan yang sangat melelahkan. Bila kita harus mengurusi dan menegur semua kesalahan yang mereka lakukan, tidaklah heran bila kebanyakan kita tidak menemukan kenikmatan dan sukacita dalam menjalankan peran kita sebagai orangtua.

Baca Juga: Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak


Inilah ide sederhana yang ingin saya bagikan untuk kita semua dalam hal mendisiplinkan anak-anak kita: pilihlah 2 atau 3 atau berapa pun perilaku yang kita anggap paling penting untuk dimiliki oleh anak-anak kita. Diskusikanlah hal ini bersama pasangan, apa yang kita inginkan untuk anak-anak kita bila mereka besar kelak. Setelah kita sepakat tentang nilai-nilai atau prinsip-prinsip tersebut, maka terapkanlah disiplin kepada anak berdasarkan panduan yang sudah disepakati itu.

Ketika anak-anak kita melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil, maka marilah kita belajar untuk menunjukkan anugerah dan kasih sayang kepada mereka.

Marilah kita belajar memilih perilaku mana yang perlu didisiplinkan dan perilaku mana yang bisa kita toleransi. Bila hal ini kita lakukan, maka bukan saja kita bisa mengurangi tekanan pada anak-anak kita, tetapi juga akan menggantikan rasa frustrasi dengan senyuman ketika kita menerapkan disiplin kepada mereka. Karena kita tahu bahwa disiplin itu berguna, bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk pembentukan karakter anak-anak kita dalam menghadapi hari esok.


* Artikel ini merupakan bagian keempat dari rangkaian 6 tulisan tentang menerapkan disiplin pada anak. Artikel pertama - tentang memukul dan mendisiplinkan anak - dapat anda baca di tautan ini. Artikel kedua - tentang 4 peran orangtua dalam hidup seorang anak - di link ini. Artikel ketiga - tentang hukuman dan disiplin - di sini.


Baca Juga:

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele ini Ternyata Dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Orangtua, Jangan Lelahkan Diri dengan Mengatur Semua Perilaku Anak! Pilah dan Pilih yang Terpenting untuk Penerapan Disiplin yang Efektif". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar