Membicarakan tentang Terorisme kepada Anak Tanpa Membuat Mereka Takut atau Trauma, Ini 3 Kiatnya

Parenting

[Image: hiveminer.com]

11.8K
Sebagai orangtua, apakah yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak tentang peristiwa teror yang bukan saja terjadi nun jauh di sana, tetapi sudah di ‘depan’ rumah kita sendiri?

Teror bom di konser penyanyi pop terkenal Ariana Grande di Manchester, Inggris belum juga reda dari ingatan. Sekali lagi kita dihentakkan oleh bom yang menyalak di Kampung Melayu, Jakarta. Dua peristiwa yang berdempetan itu membuat pemberitaan media massa dipenuhi dengan darah, darah dan darah.

Bukan kerusakan bangunan dan kendaraan yang mengerikan, tetapi potongan serpihan tubuh manusialah yang membuat suasana jadi mencekam. Bagi kita - orang dewasa, meskipun merasa ngeri juga, tetapi mempunyai ketahanan mental-spiritual dan fisik yang lebih terlatih ketimbang anak-anak.

Kita tidak bisa menutup mata anak-anak kita dari semua tayangan naked seperti itu.

[Image: Huffington Post]

Memang media mainstream yang bijak mengaburkan, menutupi, atau bahkan tidak memuat sama sekali tayangan yang vulgar semacam itu. Bang Wepe dengan baik sekali pernah menulis hal ini dan sudah di-republish di RibutRukun.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Perlu Ikut Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan melalui Media Sosial? Ini 3 Alasannya

Sebagai orangtua, apakah yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak tentang peristiwa teror yang bukan saja terjadi nun jauh di sana, tetapi sudah di ‘depan’ rumah kita sendiri?

Bisa jadi, ada orangtua yang pada saat peristiwa berada di Tempat Kejadian Perkara [TKP], sehingga si kecil mau tidak mau, senang tidak senang, menyaksikan paparan yang bisa saja membuat jiwa mudanya trauma.

Inilah yang bisa kita lakukan:



1. Jika kita berada di TKP, segera ajak pergi sang buah hati ke tempat yang aman

[Image: bostonherald.com]

Ingat, bom susulan - seperti yang terjadi di Kampung Melayu - bisa saja terjadi. Untuk menghindarinya, ajak anak kita untuk cepat meninggalkan tempat itu.

Ingat, jangan panik! Kepanikan akan menimbulkan masalah baru.

Saya ingat persis. Waktu itu saya masih mahasiswa S1 di sebuah kampus di Surabaya. Bersama seorang teman, saya menonton film di sebuah gedung bioskop. Film baru diputar sebentar, tiba-tiba ada kepulan asap. Seorang penonton berteriak, “Kebakaran!”

Apa yang terjadi? Teriakan itu memantik penonton lain untuk semburat ke arah pintu masuk. Inilah yang sangat berbahaya! Cara penyelamatan diri yang seperti itulah yang membuat timbulnya korban yang tidak perlu. Misalnya, saling injak.

Di tengah situasi yang genting dan mencekam itu, tiba-tiba seorang bapak berdiri di atas kursinya. Dengan suara tegas dan berwibawa bapak itu berteriak,

“Harap tenang. Jangan panik. Jalan cepat menuju pintu keluar. Jangan lari. Semua akan selamat!”

Teriakan itu betul-betul menyelamatkan kami semua. Tidak seorang penonton pun terluka. Meski lega karena selamat dari bencana kebakaran, masih ada penonton yang nyeletuk, “Uang tiket dikembalikan nggak, ya?” Ucapannya itu spontan mencairkan suasana, yang tadinya tegang diganti tawa ngakak penonton lainnya, termasuk saya.



2. Ikutkan anak saat ada pelatihan evakuasi

Belum lama ini secara berturut-turut di kantor saya diadakan pelatihan evakuasi bencana, baik kebakaran maupun bom. Petugas yang memberitakan pelatihan berkata bahwa mereka belakangan ini semakin banyak diminta untuk melakukan pelatihan kepada berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Mereka dengan sangat baik dan profesional menjelaskan langkah demi langkah bagaimana mengevakuasi diri sendiri ke tempat yang aman jika terjadi bencana.

[Image: thesun.co.uk]
“Jangan panik. Ikuti instruksi pemimpin. Berjalan cepat dengan tenang ke arah titik kumpul,” demikian tiga langkah jelas yang dia instruksikan.

Alangkah indahnya jika di setiap sekolah diadakan pelatihan semacam ini. Sejak kecil anak perlu diajar untuk menyelamatkan diri sendiri dengan cara yang baik sehingga tidak membahayakan, bagi diri mereka sendiri maupun rekan-rekannya. Anak-anak yang relatif lebih besar bisa diikutsertakan di dalam praktik langsung. Misalnya, bagaimana cara memegang alat pemadam kebaran yang baik dan mengarahkannya ke sumber api dengan jarak aman. Bagaimana mengenali benda asing yang mencurigakan, yang tidak biasanya ada di tempat itu, dan meminta mereka segera melapor ke guru dan tidak mengambil tindakan sendiri [seperti menggoncang-goncangkan, apalagi membukanya!].

Jangan abaikan laporan setiap anak!

Segera tindak lanjuti dengan melaporkannya kembali kepada kepala sekolah atau langsung ke petugas. Nomor-nomor penting seperti kantor polisi dan rumah sakit harus gampang dilihat.

Baca Juga: Pelecehan Seksual pada Anak: Orangtua, Bekali Anak-Anak dengan 5 Hal Penting Ini agar Mereka dapat Melindungi Diri Sendiri



3. Katakan ‘jahat’ dengan kata ‘jahat’ dan ‘baik’ dengan kata ‘baik’

Bagi anak kecil, susah sekali untuk mencerna ucapan seperti ini: “Ada perbuatan jahat yang sebenarnya dilakukan dengan motivasi yang baik. Ada pula perbuatan baik yang dilakukan dengan maksud jahat.” Anak usia dini susah mencerna bahasa yang abstrak begini.

Daerah abu-abu masih terlalu sukar untuk mereka mengerti. Biarlah wilayah abu-abu ini berkembang sesuai dengan tingkat usia mereka nanti. Jangan dipaksakan sekarang.

Memang tidak mudah menjawab pertanyaan anak yang kadang di luar dugaan kita. Tetap sabar. Jangan buru-buru mengalihkan pertanyaan mereka, sehingga mereka akan mencari tahu sendiri. Kalau yang mereka tanya orang atau media yang kredibilitasnya terjamin, oke. Bagaimana jika mereka dapat dari sumber ‘sampah’? Bukankah itu akan meracuni pikiran mereka yang relatif lebih murni ketimbang kita?

Di dalam berbagai kesempatan, misalnya saja, saat membaca berita atau menonton film, pakai semua itu untuk mengajarkan kepada anak bahwa di dunia ini memang ada si jahat dan si baik.
[Image: dialognews.ca]
Namun, yakinkan mereka bahwa Tuhanlah yang berkuasa.

Beri mereka rasa aman. Ucapan yang lembut dan pelukan yang hangat bisa menyelamatkan jiwa anak-anak muda kita dari teror, baik langsung maupun verbal. Tagar #kamitidaktakut perlu kita ajarkan dan tularkan kepada anak-anak kita.

"Walau seribu rebah di sisiku, Kau tetaplah Allah, Penolongku,"

penggalan syair lagu karya Ir. Welyar Kauntu ini bisa menjadi kekuatan bagi setiap kita.

Baca Juga: Mengutuk Kegelapan Bukanlah Jawaban. Lawan Ketidakadilan, Bangkit dan Jadilah Perubahan!


Kiranya Indonesia menjadi negara yang kian aman dan nyaman untuk ditinggali.

Merdeka!



Baca Juga:

"Papa Pulang Nggak?" Tanya Penuh Rindu Putra Bungsu Ahok Menyadarkan Kita Satu Hal Penting Ini

"Teroris Itu Apa Sih, Ma?" Inilah 3 Jawaban Jitu untuk Menjawab Pertanyaan Anak tentang Terorisme

Orangtua, Waspadalah! Predator Seksual Ada di Sekitar Kita. Kisah-Kisah Nyata Pelecehan Seks pada Anak Ini Buktinya

Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Inilah 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Membicarakan tentang Terorisme kepada Anak Tanpa Membuat Mereka Takut atau Trauma, Ini 3 Kiatnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar