Membaca Memperluas Cakrawala Anak. Inilah 5 Langkah Efektif untuk Membangun Kebiasaan Membaca sejak Dini

Parenting

[Image: qbaobei.com]

5K
Banyak orang tua menghendaki anak-anaknya suka membaca. Namun sayangnya tak melakukan apa-apa, mungkin karena menganggap hobby membaca sudah datang dari "sononya". Padahal, ada langkah-langkah efektif untuk menumbuhkembangkan kecintaan anak-anak pada buku. Inilah caranya.

Melbourne. Siang hari.

Saya bersama anak bungsu sedang berada di toko buku. Kami berpencar. Tidak lama kemudian, anak bungsu saya datang membawa sebuah buku tebal dan menyerahkannya kepada saya. Saat membaca judulnya saya tertawa sendiri. Itu buku tentang wanita yang lebih cocok dibaca oleh wanita. Karena selama ini dia melihat begitu banyak buku tebal yang saya miliki, dia menganggap bahwa saya selalu senang dan mau membeli buku tebal. Kini, setelah anak saya sudah besar, ingatan peristiwa itu tetap menimbulkan rasa hangat yang nyaman di dada saya.

Di dalam kecintaan terhadap buku, rumah tangga kami terbelah dua. Istri dan anak sulung saya kurang suka membaca, sedangkan saya dan anak bungsu saya boleh dibilang kutu buku. Dulu saya sempat khawatir, siapa yang akan merawat buku-buku saya. Saat si bungsu lahir, kekhawatiran itu lenyap begitu saja. Mengapa? Sejak kecil anak bungsu saya sudah maniak buku.

Suatu kali kami sedang berada di mal di Surabaya. Biasanya anak akan segera lari ke pusat permainan anak-anak. Sebaliknya, anak saya justru berlari ke toko buku. Begitu sampai, dia mengambil keranjang belanjaan dan mulai memilah dan memilih buku bagi dirinya sendiri. Dalam sekali kunjung, dia bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah. Belanja bukunya - karena full color - bisa dua kali lipat dari belanja buku saya. Meskipun cukup memberatkan keuangan kami, tetapi saya tidak keberatan.

Dari kasus keluarga saya saja, saya tahu bahwa banyak keluarga kesusahan untuk mengajar anak-anaknya menyukai buku. Jika tidak suka, apa mereka mau membaca? Bagaimana membuat anak-anak mencintai buku? Berikut pengalaman saya dan cerita dari teman-teman.


1. Ibu adalah guru pertama di rumah

[Image: kelseyfreemanphotography,com]

"Mother's lap; The safest place on earth." I agree. Sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, saya sangat merasakan kenyamanan tidur di pangkuan Mama. Bagi saya - dan milyaran orang lainnya - pangkuan mama merupakan tempat teraman.

Alangkah indahnya jika setiap ibu menyadari bahwa di pangkuannya anak bisa menjadi apa saja.

Siapa sangka di pangkuan mama lahir tokoh-tokoh dunia. Jika setiap ibu menyadari peran pentingnya bagi pendidikan anak, maka dia akan memaksimalkan fungsi sebagai guru pertama bagi anak-anaknya.

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat, dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri

Anak-anak suka dongeng. Ibu yang mau mendongengkan cerita bagi anak membiasakan anak menyukai buku sejak dini. Di dalam kasus saya sebagai ayah, karena saya pencinta berat buku, maka sayalah yang menularkan kebiasaan membaca itu kepada anak saya sejak kecil.

Baca Juga: Melatih Anak Berpikir, Bertanya, dan Memahami Esensi Belajar yang Sesungguhnya Lewat Cerita Dongeng

Ketika kami pindah ke Surabaya, hal pertama yang kami lakukan adalah menyekolahkan si bungsu. Hari pertama masuk sekolah, anak saya ngambek dan tidak mau turun dari mobil. Saya sangat beruntung kepala sekolah TK sangat bijak. Dia menghampiri anak saya di mobil dan berkata, “Mau lihat-lihat buku? Ibu punya banyak lho!” Begitu mendengar kata ‘buku’, anak saya langsung melompat dari mobil dan tidak kembali lagi. Keesokan harinya, dia antusias masuk sekolah.

Baca Juga: 5 Langkah Sederhana ini telah Menjadikan Saya Gemar Membaca. Praktikkan dan Jadilah Kutu Buku!



2. Sering-seringlah mengajak anak ke perpustakaan, pameran, dan toko buku

Tanpa kita sadari, kitalah yang membentuk anak ogah dengan buku. Coba jawab dengan jujur, seberapa sering kita mengajak anak kita ke toko buku? Lebih sering ke mal, bukan? Jika orangtua sendiri tidak suka buku, bagaimana bisa membujuk anak untuk cinta buku?

Keteladanan dibutuhkan di sini. Ketika anak-anak masih kecil, apa yang mereka saksikan tentang kita? Anak adalah pengamat sekaligus penyerap yang baik.

Orang yang pernah berkunjung ke rumah saya kadang berkomentar, “Ini rumah atau perpustakaan?” Dinding-dinding di rumah saya dipenuhi dengan rak buku. Demikian juga meja kerja saya, baik di kantor maupun di rumah. Buku menjadi barang paling dominan di tempat saya berada.

Baca Juga: Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan Anak yang Keliru Ini



3. Pancing anak untuk menceritakan apa yang baru dia baca

Sepulang dari kantor, saya terkejut melihat anak saya yang masih duduk di bangku SD membaca buku saya. Saya tahu kalau dia suka buku, tetapi buku yang sedang dia baca adalah buku filsafat. “Ngerti, Yos?” tanya saya singkat. Jawaban atas pertanyaan saya membuat saya senang. “Mula-mula susah, Pa. Namun lama-lama asyik juga,” ujarnya sambil nyengir. Saya lihat dia sudah membaca hampir separuh.

Dengan menanyakan apa yang dia baca dan mengajaknya berdiskusi membuat anak kita tahu bahwa apa yang dia lakukan diapresiasi orangtuanya.
[Image: innovativereading.com]

Pemberian penghargaan terhadap achievement jauh lebih penting ketimbang memuji appearance. Saat memimpin seminar meningkatkan minat baca, saya sering katakan, “Memberi makan leher ke atas jauh lebih tahan lama ketimbang leher ke bawah.” Saat saya bertanya kepada peserta, “Makanan bagi leher ke bawah akan berakhir di mana?” Sambil tertawa mereka menjawab, “J*MB*N!” Bukan berarti saya tidak suka makan. Perut kosong membuat saya pusing saat membaca. Hehehe.

Baca Juga: Lima Genre Buku yang Tak Terlalu Populer tetapi Asyik Dinikmati



4. Minta anak mempresentasikan apa yang dia baca

Mengajak anak diskusi tentang buku yang baru dibacanya membuat kita tahu bahwa dia bisa menyerap apa yang dia baca. Namun, meminta dia mempresentasikan apa yang baru dia baca melatih dia mampu berkomunikasi di depan umum.

Tindakan ini melatih dia untuk biasa berpikir kritis dan bisa memilih serta memilah: mana yang esensi dan mana yang sekadar pengisi.

Baca Juga: Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Mari Tanam dan Tumbuhkan itu pada Anak sejak Dini!



5. Jadikan buku sebagai kado terbaik

Ketika pulang ke tanah air, satu koper saya hilang. Saat melihat wajah sedih saya, anak saya bertanya, “Memang isinya apa, Pa?” Dengan lesu saya jawab, “Buku.” Peristiwa ini mengajarkan kepada anak saya bahwa saya sangat menghargai buku. Jika koper berisi pakaian saya yang hilang, saya masih bisa beli gantinya di tanah air. Lumayan, malah bisa meremajakan baju-baju saya yang sudah lama. Namun, jika buku yang hilang - apalagi satu koper penuh! - dan hampir semua belum atau bahkan tidak ada di Indonesia?!

Jika kita menghargai buku sedemikian rupa, jadikan kado saat anak ulang tahun. Buat dia menyenangi buku sejak usia dini!
[Image: ributrukun.com]

“Books wash away from the soul the dust of everyday life.” - NN



Baca Juga:

Anak Gemar Membaca, Kelak Cerdas Berpikir. Inilah 5 Cara Efektif untuk Membuat Anak Senang Membaca

Memberikan Anak-Anak Kesempatan untuk Merasa Bosan itu Baik untuk Mereka. Ini Sebabnya

Melatih Anak Berpikir, Bertanya, dan Memahami Esensi Belajar yang Sesungguhnya Lewat Cerita Dongeng



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Membaca Memperluas Cakrawala Anak. Inilah 5 Langkah Efektif untuk Membangun Kebiasaan Membaca sejak Dini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar