Mata Najwa Berhenti Tayang: Dicekal, Terpental, Atau Justru Makin Terkenal?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: twitter @NajwaShihab]

3.9K
Di mana pun, emas tetap bersinar.


Berita mengagetkan saya baca pagi hari:

Mata Najwa berhenti tayang.


Bukan hoaks, karena diumumkan sendiri oleh Najwa Shihab lewat akun Instagramnya.

[Photo credit: Tempo.co]

"Eksklusif Bersama Novel Baswedan" menjadi episode live terakhir Mata Najwa. Sudah 7 tahun Mata Najwa mengudara. Sejak episode perdana "Dunia dalam Kotak Ajaib" yang tayang pada 25 November 2009 hingga wawancara eksklusif Novel Baswedan pada 26 Juli 2017, total sudah 511 episode Mata Najwa.

Selama tiga pekan ke depan, Mata Najwa akan menghadirkan kolase berbagai episode lama yang kami anggap penting dan berharga. Pada pengujung Agustus, Mata Najwa akan tiba pada episode final: "Catatan Tanpa Titik".

Namun Agustus bukan hanya menjadi yang terakhir bagi Mata Najwa saja. Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanan saya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan.

Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. Rasa bangga menjadi reporter pertama Metro TV, sebagai pemilik kode reporter 01 dalam istilah teman-teman di Kedoya, sampai kapan pun tak akan luntur. Rangkaian perjalanan saya sebagai reporter sebuah TV berita pertama di tanah air terekam dalam, membuat kehidupan jauh lebih kaya serta menjadi bekal berharga untuk terus berkarya sebagai jurnalis.

Terima kasih tiada tara pada keluarga besar Metro TV. Juga kepada semua pihak yang telah bermitra dan mendukung, terutama pemirsa yang selama ini menemani saya dan Mata Najwa.

Salam,

Najwa Shihab


Terus terang saya kecewa, karena ‘Mata Najwa’ sudah menjadi ‘mata saya’ untuk melihat setiap persoalan di tanah air dari kacamata seorang yang blak-blakan, kritis, dan tidak takut dikritisi, bahkan dihabisi. Sorot matanya setajam lidahnya. Pandangan matanya seakan menguliti siapa pun yang berani duduk di kursi panas untuk diwawancarai oleh presenter ayu ini. Di balik berhentinya tayangan yang - menurut saya pribadi - lebih baik dari ILC ini, saya merenungkan tiga hal ini:



1. Di zaman digital ini, pisau sensor kehilangan ketajamannya

Di erat internet ini, apa saja yang disensor dengan mudah bisa kita dapatkan dari sumber lain dengan sekali pencet tombol. Bukan hanya itu, pihak penyensor pun sering kali lengah mempertajam pisau mereka sehingga melakukan pemotongan atau pem-blur-an yang tidak pada tempatnya.

Salah satu keprihatinan pemirsa terhadap Komisi Penyiaran Indonesia [KPI] adalah lebih cepat menyensor tayangan kartun - macam Doraemon dan SpongeBob SquarePants - ketimbang tayangan yang jauh lebih vulgar dengan mengumbar sekwilda [sekitar wilayah dada] dan di bawah pusar. Yang menggelikan, bahkan Shizuka Minamoto yang sedang berada di tepi kolam renang pun disensor. Memangnya orang berenang harus pakai jeans atau long dress?

Sebenarnya, apa sih sensor itu? Penyensoran, menurut Wikipedia, adalah penindasan terhadap ucapan, komunikasi publik, atau informasi lain yang bisa dianggap menimbulkan keberatan, berbahaya, peka, tidak benar atau tidak nyaman secara politis yang diterapkan atau dilakukan oleh pemerintah, pemilik media, orotitas, kelompok atau institusi lain.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Perlu Ikut Menyebarkan Foto-Foto Vulgar Korban Kekerasan Melalui Media Sosial? Ini 3 Alasannya



2. Di erat internet ini, warganet yang jadi panglima

Cekal mencekal sudah - meminjam istilah Wepe untuk media cetak - ‘so yesterday!

Jika pilihan untuk melihat tayangan apa pun ada di ujung jari kita, apa sensor masih efektif?

Penyensoran justru membuat jari netizen dengan lincah beralih ke tayangan lain atau malah mencari tautan lain yang tidak disensor. Bagi anak-anak, sensor yang berlebihan, juga tidak baik. Bukankah sesuatu yang dilarang biasanya justru dilanggar? Siapa yang bisa memastikan anak-anak kita tidak mencari dari sumber lain, gambar, lagu, atau film yang disensor? Saya pun kadang sangat terganggu mendengar kata tertentu - biasanya empat huruf dalam bahasa Inggris yang Anda sendiri tahu, deh - diganti dengan bunyi lain, sementara di ranah publik kata itu begitu gampangnya kita dengar. Bukankah jauh lebih bijak jika kita memberikan pengarahan dan tuntunan kepada anak-anak kita mana yang sebaiknya didengar dan mana yang sebaiknya dihindari?

Kembali ke ‘Mata Najwa’, apakah acara talkshow yang demikian dinanti-natikan ini mengalami pencekalan? Terlalu dini untuk berspekulasi. Pihak Metro TV sudah memberi klarifikasi. "Sekarang dia ingin mencoba perjalanan baru. Jadi bukan dihentikan, tapi pilihannya," kata Suryopratomo kepada salah satu media online.



3. Emas di mana pun tetap bersinar

Jika pernyataan President Director Metro TV di atas benar, saya berharap Najwa Shihab tetap berkiprah di acara talkshow yang membuat namanya berkibar. Seperti Oprah Winfrey - yang setelah sekian lama merajai, eh meratui, dunia talkshow dunia - memilih untuk mempunyai program tayangan sendiri yang mandiri. Saya percaya, di mana pun Najwa Shihab berkarier - ada yang mensinyalir pindah ke media TV lain - kariernya tidak akan berakhir. Namanya sudah terlanjur terukir di sanubari banyak orang. Seandainya dia memilih untuk membuat tayangan sendiri, saya haqqul yaqin, pemirsanya tidak akan surut.

Artinya, di mana pun emas tetap bersinar. Entah itu dipajang di toko perhiasan kelas atas atau terjatuh di tanah berlumpur. Dengan siaran air dan sedikit polesan, logam mulai itu kembali bercahaya.


[Photo credit: liputan6]

Najwa Shihab, teruslah memancarkan kebenaran, berapa pun harganya!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mata Najwa Berhenti Tayang: Dicekal, Terpental, Atau Justru Makin Terkenal?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar