Malingering Makin Marak dan Merebak di Zaman Now. Tahu Artinya?

Reflections & Inspirations

[image: sindonews]

1.6K
Kita sering mendengar ungkapan bahwa pemenang selalu melihat peluang di setiap tantangan, sebaliknya pencudang selalu menemukan alasan.

“Maaf Pak Xavier, hari ini saya tidak bisa masuk kuliah karena tidak enak badan,” ujar seorang mahasiswa saya, sebut saja, Alasani, lewat pesan elektronik ke hape saya.

Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan saya ke kampus malam itu. Saya mulai bersin-bersin. Istri saya mencegah saya untuk mengajar malam itu. “Sudah istirahat di rumah saja, Pa. Kayaknya kamu mau flu itu,” ujar istri saya waktu saya masih di rumah.

Karena terbiasa disiplin, saya mengabaikan saran istri saya. Saya merasa ada beban jika tidak mengajar. Namun, kok ada mahasiswi yang begitu mudah cari alasan saat hari hujan. Sambil tersenyum sendiri, saya balas pesannya, “Ya gpp. Istirahat saja. Saya hanya mau kasih informasi, hari ini ada test tengah semester dan tidak ada tes ulang untuk itu.”

Saya meneruskan perjalanan ke kampus. Begitu tiba di kampus saya tersenyum saat melihat Alasani sudah berada di gerbang kampus. Dia melambaikan tangannya ke arah saya. “Lho, sudah sembuh?” sapa saya. Dengan tersenyum kecut dia berkata, “Begitu membaca pesan Bapak bahwa hari ini ada ujian, saya langsung sehat, Pak!”

Meskipun kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, tetapi rasanya baru kemarin terjadi. Kok bisa-bisanya, sakit langsung sembuh begitu mendengar ada ujian. Jangan-jangan dia akan izin sakit lagi di tengah perkuliahan jika ujian saya batalkan?


Apa itu Malingering?

Apa yang mahasiswa saya lakukan itu disebut malingering. Apa itu malingering? Dari Mbah Google, saya mendapatkan definisi di urutan teratas seperti ini: “Jika melihat ke dalam buku pedoman diagnosis gangguan jiwa DSM-IV TR, konteks malingering adalah adanya kondisi berpura-pura sakit sebagai bagian yang disengaja dengan menampakkan gejala fisik atau psikologis yang palsu atau terlalu berlebihan.”

Saya lebih senang membumikan istilah itu dengan definisi bahasa Jawa yang lebih mantab: maling yang pura-pura gering (pencuri yang pura-pura sakit).

Baca Juga: Dokter Selingkuhi Pasien, Kepsek 'Main' Sama Guru, Rohaniawati Affair dengan Aktivisnya. Ada Apa dengan Zaman Now?


Excuse-Making Syndrome

Ada saudara kembar dari malingering yaitu excuse-making syndrome, yaitu sindrom orang-orang yang senang membuat alasan jika dia gagal untuk memenuhi panggilan atau penuntasan tugas. Saya mendapatkan contoh orang yang pandai cari alasan dari Sang Guru Agung: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.”

Akibatnya? Mereka yang mempunyai 1001 alasan untuk tidak datang itu tidak bisa menikmati jamuan makan yang sudah disediakan.


Playing the Blame Game

[image: papasemar]

Olahraga apa pula ini? Blame game adalah kecenderungan orang yang gagal untuk menerima kegagalannya. Alih-alih mengakui kesalahannya, orang semacam ini cenderung untuk mencari kesalahan orang atau barang agar dia bebas dari rasa malu yang sebenarnya dia ciptakan sendiri. Contohnya bisa kita telusuri sejak zaman Adam dan Hawa.

Saat ketahuan kalau berbuat salah, Adam menjadi takut. Perhatikan percakapan antara Adam dan Tuhan berikut:

"Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

"Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

"Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Bagaimana dengan Hawa? Sama saja. Dia meniru blame game yang Adam lakukan.

"Apakah yang telah kauperbuat ini?"

"Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Untung cerita berhenti sampai di sini. Seandainya ular meneruskan pemainan mencari kambing hitam itu, maka ular akan menjawab, “Mengapa Engkau menciptakan aku sehingga aku menggodai manusia?”


Mengapa Kita Suka Mencari Kambing Hitam?

Menurut Susan Krauss Whitbourne, Ph.D, dalam Psychology Today, paling tidak ada alasan mengapa ada orang yang suka mencari kambing hitam.


1. Untuk pertahanan diri yang dikenal dengan istilah defense mechanism

Kita bisa menyebutnya apa saja seperti projection, denial, atau displacement. Yang jelas orang melakukanya untuk menjaga harga dirinya dengan menghindarkan diri dari rasa bersalah karena melakukan kesalahan.


2. Untuk mengalihkan sasaran tembak dengan mengaktifkan senjata kita sendiri

Saat kita disalahkan—karena memang salah—kita mencari kesalahan orang lain agar lolos dari tuduhan. Dengan demikian, kita selalu dalam posisi siang perang.


3. Kita tidak pandai menganalisa perilaku orang lain atau perilaku diri sendiri

Akibatnya logikan kita jadi tidak jalan. Karena cara berpikir yang terdistorsi inilah maka tindakan kita pun jadi tidak masuk akal.


4. Lebih mudah menyalahkan orang lain ketimbang memikul tanggung jawab

Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain saat hal buruk terjadi ketimbang mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya.


5. Bohong

“Setiap orang pembohong,” ujar Robert Feldman tanpa tedeng aling-aling. “Semua orang telah berbuat dosa,” sabda Sang Pencipta. Yang menjadi pembeda, ada orang yang kemudian menyadari dosa dan kesalahannya serta berusaha memperbaikinya dengan menjadi whistle blower misalnya. Namun, memang jauh lebih mudah untuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita buat dengan harapan orang yang kita salahkan tidak tahu, tidak mau tahu, atau bahkan tidak bisa tahu karena sudah meninggal dunia.

Baca Juga: 9 Permohonan Kids Zaman Now. Papa dan Mama, Dengarkanlah!


Bebek Nenek dan Dijadikan Bebek

Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi malingering, excuse-making syndrome, dan playing blame game? Dari segi penguasa, hukum harus ditegakkan selurus-lurusnya. Jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Dari segi penderita, perlu shock therapy dari orang-orang terdekat. Keluarga dari orang-orang yang melakukan praktik culas seperti itu harus bisa memberikan hukuman lingkungan berupa teguran. Bukan malah menyediakan refugee island atau escape haven yang nyaman. Love sometimes must be tough. Setuju?

Bagi penderita sendiri? Kisah berikut bisa memberi inspirasi.

[image: okdogi]

Kakak beradik menghabiskan liburan sekolah di rumah nenek di desa. Hari pertama mereka bermain-main di kebun sang adik salah menembakkan ketapelnya sehingga membunuh salah satu anak bebek nenek. Karena takut ketahuan, dia segera menggali lubang dan mengubur mayat bebek itu. Kakaknya yang mengetahui hal itu memanfaatkannya untuk mem-bully adiknya terus menerus.

Setiap kali mendapatkan tugas membereskan tempat tidur, sang kakak selalu melemparkannya ke adiknya. Saat adiknya protes, kakaknya tinggal berbisik, “Bebek nenek” maka sang adik terpaksa menerima pekerjaan itu.

Demikian juga saat mendapatkan makanan, sang kakak selalu memilih menu terenak dan porsi terbesar serta menyisakan serpihannya untuk adiknya. Keberatan adiknya selalu dibalas dengan ucacapan mematikan, “Bebel nekek.”

Saat liburan hampir usai, sang adik tidak tahan lagi mengalami perundungan yang terus-menerus. Enough is enough! Begitu tekadnya. Dengan gemetar dia mengakui di hadapan neneknya apa yang sudah dia perbuat. Di luar dugaannya, sang nenek berkata, “Saya sudah mengetahui hal itu sejak hari pertama dan sudah mengammpunimu. Saya hanya menunggumu untuk mengakui perbuatanmu dengan jujur!”

Apakah setiap pelaku malingering mendapat pengampunan? Jelas tidak. Bisa jadi hukuman menantinya. Meskipun demikian, dia tidak lagi dijadikan 'bebek-bebekan' oleh banyak orang yang terus-menerus mem-bully-nya lewat kartun, meme dan sindiran pedas lainnya. Di atas semua itu, hukuman yang paling berat adalah hati nuraninya yang terus-menerus menuduhnya: “Hayo, kamu sudah membunuh bebek nenek!” He, he, he!

Kita sering mendengar ungkapan bahwa pemenang selalu melihat peluang di setiap tantangan, sebaliknya pencudang selalu menemukan alasan.


Baca juga tulisan inspiratif ini:

Inilah 10 Nasihat Buruk yang Membuat Masa Depanmu Terpuruk

Inilah Cara Meraih Kesuksesan tanpa Mengorbankan Kebahagiaan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Malingering Makin Marak dan Merebak di Zaman Now. Tahu Artinya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

good post reksadana