Maknyus! Inilah 5 Warisan Bondan Winarno bagi Indonesia

Reflections & Inspirations

[image: kumparan]

1.2K
“Menangkan hati pasangan dengan masakan!” Xavier Quentin Pranata

Pakar kuliner Bondan Winarno wafat pagi Ini. Indonesia kehilangan seorang pakar kuliner. Bondan Winarno pukul 09.15 telah berpulang ke pangkuan Tuhan dengan damai. Begitu berita yang saya baca dalam perjalanan saya dari Surabaya ke Malang untuk sebuah tugas bicara. Saya, sebagai bagian dari Indonesia, merasa kehilangan juga. Acara wisata kuliner di sebuah stasiun televisi swasta menjadi menu wajib yang saya nikmati. Cara Pak Bondan membawakannya sungguh memikat.

“Mana menu paling enak yang Pak Bondan pilih?” tanya sahabat saya seorang pengusaha minyak yang sama ngefansnya dengan saya.

Ketika saya menggelengkan kepala, pengusaha yang suka wisata kuliner sampai luar negeri ini melanjutkan, “Makanan yang dihabiskannya pada saat shooting itulah yang paling enak.”

Kenikmatan apa yang masih terasa di lidah dan di hati dengan berpulangnya pakar kuliner ini? Inilah 5 warisan Pak Bondan bagi Indonesia.


1. Membuat warung kaki lima pun dicari dan dicicipi oleh para tamu hotel bintang lima.

[image: tribun news]

“Kalau ke Jogja dan menginap di hotel, saya tidak makan breakfast yang tersedia,” ujar seorang pengusaha muda yang wira-wiri Surabaya-Seattle. “Saya mengambil sendok dari hotel, saya masukkan ke dalam saku dan hunting makanan kaki lima,” tambahnya.

“Dari mana you tahu makanan kaki lima yang enak?” tanya saya.

“Dari mana lagi kalau bukan dari Pak Bondan Winarno,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tangan—eh mulut—Pak Bondan, makanan kelas bawah pun jadi naik daun. Itulah sebabnya warung yang pernah dikunjungi Bondan bukan saja viral di media sosial, melainkan juga laris di pasaran.


2. Makanan yang biasa saja menjadi luar biasa saat dipromosikan Pak Bondan.

“Kok sekarang Ibu jadi suka jajan?” tanya saya kepada seorang ibu yang biasanya sangat menjaga menu makannya. Ibu yang satu ini kalau diajak makan selalu menentukan syarat, “Harus ada wastafelnya!” Artinya, dia tidak mau makan atau diajak makan di pinggir jalan yang tidak menyediakan wastafel. Dengan kata lain, dia hanya mau makan di restoran elit.

“Melihat cara Pak Bondan makan membuat saya jadi ingin pesan menu yang sama,” ujar ibu yang tetap langsing di usia yang tidak lagi muda ini.

Salah satu cara mempromosikan makanan yang enak adalah dengan menunjukkan betapa nikmatnya makanan itu. Caranya? Ya makan di depan kamera! Coba lihat cara Pak Bondan meng-endorse makanan yang diperkenalkannya. Ungkapan, “Maknyus!” yang dia lontarkan begitu ‘kena’ di lidah sekaligus di hati.

Baca Juga: Inilah 3 Hal yang Sering Terlupakan dari Wisata Kuliner


3. Tukang masak jadi naik kelas menjadi celebrity chef berkat Pak Bondan

[image: kompasiana]

Ketika saya kecil, tukang masak bukanlah profesi yang bergengsi. Bahkan saat saya mau ikut membantu mama di dapur pun segera diusir keluar. “Ini pekerjaan perempuan,” begitu alasan yang sering saya dengar bukan hanya dari mama tetapi dari orang lain.

Kini? Chef menjadi salah satu cita-cita yang bukan saja populer tetapi bergengsi tinggi. Orang dengan bangga mamajang fotonya di media sosial dengan pakaian juru masak. Apalagi jika restoran kita atau haute cuisine mendapat Michellin Star. Gengsi langsung nyundul ke langit. Celebrity Chef menjadi bintang dan mendulang banyak uang.


4. Acara masak memasak jadi ikut naik daun dengan moncernya bintang Pak Bondan

Di dunia marketing kita mengenal istilah ‘me toocompany. Begitu acara wisata kuliner Bondan ngetop, stasiun televisi lain ikut-ikutan membuat program sejenis dengan nama yang mirip atau dimirip-miripin. Saya dan keluarga pun ikut dalam euforia ini. The Bondan Factor ini membuat saya bukan saja menggemari program kuliner di televisi lokal tetapi juga mancanegera. Asian Food Channel menjadi salah satu menu wajib tonton saya.

Baca Juga: Mencicipi 10 Makanan Ini Sama Saja dengan Bunuh Diri. Kamu Berani?


5. Sekolah masak dan akademi kuliner ikut menjamur

“San, kalau libur, saya mau belajar masak di M ya?” ujar saya kepada istri saya. Saat tinggal di Australia, saya memang belajar masak dari teman-teman, salah satunya chef di restoran Australia. Salah satu andalan saya adalah Chilli Crab. Dulu saya suka crabbing, istilah lokal untuk mencari kepiting di laut, ke Mandurah, Western Australia. Saya bersama keluarga dan teman-teman bisa mendapatkan puluhan kepiting besar-besar dalam hitungan jam.

Biasanya, setelah pulang ke rumah, sayalah yang bertugas memasak. Saat kembali ke Indonesia, saya mencoba berbagai macam menu kepiting. Salah satu favorit saya adalah kepiting telur asin. Saya mencoba googling untuk mencari resepnya. Ketika saya praktikkan, tidak sesuai harapan. Saat sharing ke seorang chef yang lama berkarier di Aussie, saya diberitahu rahasianya.

Kini sekolah masak jadi sangat populer. Bahkan salah satu academy culiner milik sahabat saya. “Ayo kalau mau belajar saya temani,” ujarnya di suatu pesta pernikahan.

Ya. Bondan Winarno memang sudah meninggalkan kita, namun peninggalannya benar-benar sulit dilupakan karena sudah terlanjur melekat di lidah. Maknyus!

Selamat jalan, Pak Bondan!


Baca Juga:

Maknyus! 3 Pelajaran Hidup Berharga dari Kiprah Bondan Winarno

Makan Mayit, Makan Mayat dan Kuliner Gila: Apa yang Salah dengan Kita?




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Maknyus! Inilah 5 Warisan Bondan Winarno bagi Indonesia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar