Makan Mayit, Makan Mayat dan Kuliner Gila: Apa yang Salah dengan Kita?

Reflections & Inspirations

[Image: sidomi, ellanurvista.com, 967hitz.fm]

14.8K
Manusia semakin ‘gila’ untuk mencoba sesuatu yang ‘baru’ atau anti-mainstream. Pokoknya beda menjadi panglima saat ini.

Nama Natasha Gabriella Tontey dan ‘karya seninya’ di ‘galeri seninya’ Little Shop of Horrors bikin heboh di media sosial. Sekelompok tamu yang diundang untuk menikmati sajian kulinernya disuguhui makanan yang anti-mainstream:

Makan ‘bayi mungil berwarna merah’ atau berlumuran darah,

mencicipi ‘otak di tempurung bayi’,

[Image: bbc.co.uk]

dan sajian-sajian lain yang membuat bulu kuduk berdiri. Bahan yang dipakai pun terbilang ekstrem yaitu ASI atau Air Susu Ibu dicampur dan difermentasi dengan keringat bayi. Anda tidak salah baca.

Begitu para tamu meng-upload-nya ke media sosial dengan tagar makanmayit - #makanmayit -hebohlah jagat netizen. Mereka ramai-ramai membuat petisi agar penyelenggara ditangkap. Saya yang sempat melihat sekejap di Instagram merasa jijik dan ngeri dengan suasana, terlebih ‘menu’ yang tersaji di meja makan. Betul-betul bikin bergidik. Saya lebih bergidik lagi saat membaca berita bahwa di Filipina ada sekelompok orang yang punya kebiasaan benar-benar makan mayat.

Meskipun begitu, saya tidak tergelitik untuk menuliskan kontroversi seputar apakah ini karya seni atau bukan, sebagaimana yang ramai di media sosial.

[Image: bbc.co.uk]

Saya lebih tertarik untuk menuliskan bahwa

manusia semakin ‘gila’ untuk mencoba sesuatu yang ‘baru’ atau anti-mainstream. Pokoknya beda menjadi panglima saat ini.

#Makanmayit makan mayat dan kuliner gila. Apa yang salah dengan kita?



1. Kita Makhluk Bosanan

Saya pernah membaca bahwa konsumsi gadget di tanah air termasuk yang tinggi - jika tidak tertinggi - di dunia. Kita orang Indonesia paling suka gonta ganti gadget bukan karena rusak, tetapi karena modelnya dianggap kuno dan ketinggalan zaman, padahal usianya belum setahun. Kontras sekali dengan kehidupan masyarakat di negara maju. Setiap kali saya ke negara maju - Australia, Kanada atau Amerika - saya melihat orang-orang di sana tidak terlalu peduli dengan ‘kebaruan’ model handphone. Mereka lebih menekankan fungsi.

Suatu kali saya menemani seorang pengusaha kelas atas tanah air yang sedang periksa mata di klinik mata terkenal di Australia. Saat hape-nya berbunyi, saya meliriknya. Wah, ternyata begitu jadul. Bukan hanya mereknya, tetapi juga fiturnya. Layarnya pun belum berwarna. Selesai menelepon, seperti menjawab keheranan mata saya, dia berkata, “Saya gaptek. Yang penting bisa SMS dan nelpon.” Meskipun begitu, dia menghabiskan uang jutaan untuk membayar pulsanya.

Sebaliknya, banyak anak muda - yang masih sekolah atau kuliah - dan belum bekerja, berlomba-lomba membeli gawai paling gres. Jika tidak menenteng mobile phone terbaru, rasanya ‘gimana gitu’. Namun, saat kita pinjam untuk menelepon, mereka berkata santai, “Sorry, pulsanya tinggal ceban!Penampilan ok, modal nggak oce! Wkwkwk.

Baca Juga: 3 Tanda Bahwa Smartphone Telah Mengacaukan Hidupmu [dan Ia Tak Harus Meledak Dulu untuk Melakukannya]



2. Persaingan Usaha Semakin Menggila

“Pak Xavier tidak mencoba kalajengking goreng?” ujar seorang ibu saat tahu saya baru pulang dari Tiongkok.

“Ibu sendiri sudah mencoba?” jawab saya balik bertanya.

Ibu itu menggeleng sambil menunjukkan wajah ngeri campur jijik.

Menurut pengamatan saya, usaha yang paling cepat berkembang adalah kuliner. Rasanya baru kemarin saya mencoba makanan di Vancouver, tidak lama kemudian saya sudah mendengar cabangnya ada di Indonesia. Rasanya baru kemarin siang - hehehe - saya menyeruput teh nikmat di jalanan yang panas di New York, hari ini sudah ada di mal-mal di tanah air. Begitu juga ribs nikmat di Sydney sudah bisa kita makan di Jakarta.

Di tengah persaingan usaha kuliner yang begitu deras, dan tentu saja banyak usaha resto yang gulung tikar, pengusaha memutar otak agar dagangannya jalan. Salah satu caranya adalah membuat olahan yang tidak biasa. Yang lebih umum, memberi nama yang heboh. Perhatikan saja nama restonya: Rawon Setan, Mie Rampok, Bakso Mercon. Di Surabaya malah ada resto nasi goreng yang memakai nama makian khas Surabaya. Di Melbourne ada resto Dracula yang sampai sekarang belum pernah saya masuki meskipun berkali-kali lewat di depannya. Belum lagi nama-nama menu yang aneh-aneh yang untuk menyebutkannya pun membuat saya jadi malas makan hehehe.

[Image: Food Fun Travel]
Diharapkan dengan nama resto yang aneh dan menu yang nyeleneh pengunjung semakin berlimpah.



3. Manusia yang Makin Berani

Berkembang suburnya bisnis kuliner dengan nama dan menu yang aneh-aneh diimbangi dengan nafsu manusia untuk berani mencoba sesuatu yang baru. Ingat minuman yang dimasukkan ke dalam kemasan infus? Jus dengan warna merah darah! Penjualnya pun berpakaian seperti suster. Ketika diminta untuk mencoba, saya memilih yang isinya warna coklat agar tidak ngeri, hehehe.

[Image; Tokopedia]

Meskipun saya senang mencicipi kuliner dari berbagai negara, tetapi saya termasuk selektif. Saya punya teman di Filipina yang menantang saya untuk makan balut. Apa itu? Telur bebek yang di dalamnya sudah janinnya.

[Image: Mawanusa Blog]

Waktu liburan bersama keluarga ke Filipina, toh saya tidak berani mencobanya. “Makannya sambil memejamkan mata saja, Xavier,” ujarnya memprovokasi saya. Saya tetap ogah karena takut muntah. Wkwkwk.

Baca Juga: Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Jawab Satu Pertanyaan Ini Saja!



Bagaimana Kita Bersikap?

Saya bukan pakar kuliner, apalagi pakar kuliner, yang berhak menjadi juri apalagi hakim. Inilah pendapat pribadi saya.

Apa pun yang ditawarkan kepada saya, ada 3 pertanyaan yang spontan muncul:

1. Apakah enak?

2. Apakah sehat?

3. Apakah berguna?

Jika ketiga pertanyaan itu saya jawab, "Tidak!" kemungkinan besar saya tidak akan mencobanya. Play safe!



Baca Juga:

Sahabat Saya Meninggal, Konon Ia Kena Kutuk. Ramalan, Kutukan, Santet, Feng Shui, Bagaimana Menyikapinya?

Ketika Santet Dijadikan Biang Keladi Perselingkuhan, Inilah 3 Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Bukan Seperti Pesta Halloween yang Semalam Usai, Inilah 5 Realita Cinta dan Keabadiannya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Makan Mayit, Makan Mayat dan Kuliner Gila: Apa yang Salah dengan Kita?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar