13 Tahun Menjalani Pacaran Jarak Jauh, Inilah 4 Tips dari Saya untuk Long Lasting Long Distance Relationship

Singleness & Dating

[Image: thoughtcatalog.com]

11K
Hubungan itu katanya perlu dijaga dengan kedekatan, makin dekat makin sip, makin jauh makin berisiko putus. Pacaran yang sering ketemu aja masih bisa putus, apalagi kalo jauhan? Gimana caranya pacaran jauhan tapi awet? Inilah beberapa tips dari pengalamanku sebagai pejuang LDR.

13 tahun sudah aku menjalani hubungan dengan pacarku, Si Cinta - sebut saja namanya demikian. Namun, kami berdua tak pernah lama berdomisili di kota/provinsi/negara yang sama.

Iya, betul. Kamu nggak salah baca.

13 tahun. Pacaran. LDR.

Long Distance Relationship.

Semula kami berhubungan lintas kota, antara Bandung – Jatinangor. Kemudian, jarak di antara kami melebar menjadi lintas provinsi, Jakarta – Yogyakarta. Kini, jarak itu bahkan telah membentang sejauh 11.269,23 kilometer melintasi dua negara, Indonesia – Swedia. Semoga setelah ini nggak lintas planet. [Amiinnnn!]

Banyak orang bertanya, bagaimana rasanya menjalani hubungan pacaran LDR selama itu - apakah bosan, pernah putus, atau sering bertengkar? Pertama, soal bertengkar. Hmm, sepertinya tidak mungkin ya menjalani hubungan tanpa bertengkar? Kedua, putus? Hampir putus, sudah pernah. Namun yang ketiga, tentang menjadi 'bosan', nampaknya kata yang satu itu belum [dan semoga tidak] sempat tercatat di kamus hubungan kami.

Jika mengingat saat ketika kami mengawali hubungan, rasanya tidak terpikirkan bahwa hubungan kami akan mampu bertahan selama ini dan berjalan semenyenangkan ini. Di masa awal hubungan kami, aku adalah orang yang sangat mengutamakan quality time, namun dalam artian yang keliru. Aku menuntut kemana-mana harus berdua, setiap hari harus - wajib - kudu telepon dan bisa berjam-jam lamanya. Intinya, yang aku inginkan adalah menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya bersama pacar. Kalau bisa, di tempat yang gak ada orang lainnya, hanya aku dan pacar saja. [Di kuburan aja kali ya. Sepi dan ga ada orang, kan?]

Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa dialah cinta sejatiku. Terlebih lagi, tak pernah aku menyangka, bahwa aku mampu menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan segala kerumitannya. Dan kini, setelah 13 tahun berjalan, we're still together, still going strong!

Gimana sih caranya pacaran jauhan tapi awet? Jangan-jangan ... pakai formalin, ya? Hahaha, ngga gitu juga sih. Inilah 4 tips dariku untuk kamu yang sedang berjuang membangun cinta sejati melintasi batas ruang dan waktu:



1. Out from Your Comfort Zone

[Image: tumblr]

Menghabiskan waktu berdua saja dengan pasangan itu sangat menyenangkan buatku. Namun, Si Cinta menerapkan hal yang berbeda. Dia sering mengajak aku ke rumahnya dan makan di sana, ngobrol bersama orangtua dan anggota keluarganya yang lain. Awalnya aku merasa sangat tidak nyaman, seperti sedang diinterogasi dan jadi tidak bisa mesra-mesraan. Begitu juga kalau pergi ke kedai kopi atau nonton bioskop, seringkali ada orang lain yang diajaknya ikut bersama kami, entah itu teman atau keponakan. Wah, rasanya zona nyamanku terganggu. Pacaran macam apa ini?

“Ih, kalau pacaran kayak gitu ya bukan pacaran, tapi temenan!” Ada orang yang berkomentar demikian. Namun, sebuah penguatan datang dari salah satu teman kami, “Kalian unik ya pacarannya, yang kulihat dari pacarmu, Ia itu bisa jadi sahabat, kakak, dan bapak.”

Apakah kami punya waktu untuk berdua saja? Tentu saja! Salah satu cara kami menghabiskan waktu berdua dengan romantis yang paling aku sukai adalah ketika kami duduk berdua minum kopi di kedai kopi dengan sofa dan bantal, menikmati alunan musik jazz sambil saling bercerita tentang segala sesuatu tanpa merasa bosan, atau membawa papan catur kecil dan saling berusaha memenangkan permainan.

Itulah salah satu hasil dari proses yang kami jalani untuk membangun hubungan, penuh dengan latihan melepaskan zona nyaman dan keegoisan masing-masing. Aku belajar, bahwa perubahan kebiasaan dalam berpacaran bisa jadi merupakan sebuah hal yang baik.



2. Quality Time

[Image: aliexpress.com]

Seiring waktu, cara pandangku tentang quality time juga berubah, tak hanya menyangkut hubunganku dengan Si Cinta, tapi juga menyangkut hubunganku dengan teman-teman. Dulu, aku mungkin bisa dikatakan tergolong sebagai orang yang asosial, aku berpikir bahwa kumpul-kumpul dengan teman itu hanya membuang waktu percuma. Namun, perlahan aku mulai mencoba membuka diri dan mulai mau ikut berkumpul bersama teman-teman. Ternyata, dari situ aku bisa merasa dekat dengan teman-teman dan demikian pula mereka, merasa dekat denganku. Teman-teman jadi suka curhat pada kami berdua, mulai dari masalah-masalah seputar PDKT atau naksir lawan jenis, tentang luka hati mereka terhadap orang tua, hingga tekanan-tekanan hidup yang mereka alami. Menyenangkan, bukannya merepotkan atau mengganggu.

Makin lama aku makin menyadari, bahwa pengertian quality time itu tidak berarti bahwa kami harus selalu berdua, namun saat kami merasa nyaman melakukan sesuatu dalam kondisi yang sama. Misalnya, saat merayakan ulang tahun mamanya. Di hari itu, pagi-pagi kami bersama-sama pergi ke pasar membeli bahan masakan. Kami adalah aku, Si Cinta, dan Mamanya. Sorenya, aku membantu Mamanya memasak dan mempersiapkan makanan, sedangkan Si Cinta ngobrol menemani para tamu yang datang. Kami merasa bahagia bersama, dapat memberikan waktu kami pada orang yang sama-sama kami kasihi, Sang Ibunda.

Cinta sejati bukan hanya antara kamu dan dia, cinta sejati membuka ruang sebesar-besarnya bagi orang lain untuk turut menikmati indahnya cinta kalian berdua.

Baca Juga: Bukannya Senang, 8 Perhatian Wanita ini Malah Membuat Pria Ilfeel



3. Komunikasi

[Image: pinterest]

Bagaimana dengan komunikasi? Begini, aku yang dulu adalah tipe pasangan yang 'menyanjung' cara berkomunikasi yang intens dan detail. Yang dimaksud dengan detail, begini: Ketika mengobrol, aku bisa menanyakan hal-hal semacam, “Lagi apa?”, “Sama siapa?”, “Sudah makan belum?”, “Makan apa?”, “Enak nggak?”, “Nambah berapa kali?”, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan interogatif lainnya. Intens, maksudnya: Bertelepon setiap hari, dengan durasi berjam-jam, hampir setiap saat. Awalnya demikian, intens dan detail. Namun, setelah lulus kuliah dan aku mulai menjalankan profesiku sebagai perawat, kebiasaan itu pun mau tak mau harus berubah. Aku tidak bisa setiap saat mengangkat telepon saat bertugas. Komunikasi intens dan detail harus tergantikan dengan hanya berkirim pesan lewat SMS, WhatsApp. Berkomunikasi hanya sekali dalam seminggu, bertukar cerita tentang apa yang kami alami selama seminggu pun, kini sudah terasa sebagai suatu kemewahan.

Apalagi setelah berbeda negara! Perbedaan zona waktu serta koneksi internet yang kadang tak bisa diajak bekerja sama menjadi tantangan tersendiri. Kami hanya bisa sesekali bertelepon via skype.

Apakah hal itu mengganggu? Kadang saat galau tiba-tiba menyerang dan tidak bisa langsung bertelepon memang cukup berat rasanya. Namun, aku bersyukur punya Pribadi yang bisa setiap saat aku curhatin, yaitu Tuhan yang jaraknya hanya sejauh doa.

Komunikasi itu mempererat hubungan, aku setuju! Namun, bersabar dalam kesempatan yang ada, menahan diri saat hati gundah gulana dapat memperkuat karakter masing-masing. Kondisi-kondisi tersebut melatih kita untuk bersabar dan berpikir lebih hati-hati dalam berkata-kata. Kesabaran dan kebijakan untuk menggunakan kesempatan yang ada juga dapat mempererat ikatan batin dalam hubungan. Kita jadi belajar mendengar keluhan dari mengamati ekspresi pasangan. Makin lama kita jadi bisa mengetahui apa perasaan hati pasangan kita, tanpa harus dia berkata apapun. Jadi seperti belajar ilmu kebatinan, ya? Hehehe..

Baca Juga: Wanita, Jangan Lakukan 3 Kesalahan Fatal dalam Berkomunikasi ini Jika Tidak Ingin Hubunganmu dengan Pasangan Rusak!



4. Memahami Makna Hubungan

[Image: quotesgram.com]

Dalam pacaran, kebosanan adalah sebuah risiko yang harus selalu siap dihadapi. Karena kenyataannya, dalam perjalanan hubungan, kita bisa kehabisan cerita, atau malah jadi bertengkar karena fokus pada karakter dan kebiasaan yang berbeda. Selain itu, ada juga risiko kehilangan teman dan keluarga. Hal tersebut dapat terjadi jika pasangan menjalani hubungan dengan selalu menghabiskan waktu berdua dan pada akhirnya membuat orang lain kurang nyaman.

Oleh karena itu, menurutku sebuah hubungan seharusnya tidak dibatasi hanya tentang dua orang manusia. Harus ada nilai tambah yang dapat makin mempererat dan tetap mengobarkan api kasih sayang di antara kami.

Bercermin pada hubungan kami, aku dan Si Cinta berusaha bersama-sama memperhatikan orang-orang lain yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kami; mendukung mereka, mendoakan mereka, hadir saat mereka memerlukan, itulah yang mewarnai dan memperkuat hubungan kami. Kami juga menyadari, bukanlah intensitas bertemu dan waktu yang dihabiskan berdua yang membuat hubungan ini dapat berjalan dengan tetap baik.

Hal yang terutama, yang paling penting, yang membuat sebuah hubungan kami dapat bertahan melintasi jarak dan waktu adalah karena kami berdua mencintai satu Pribadi yang sama, yaitu Tuhan, yang padaNya kami mempersembahkan hubungan ini.

Baca Juga: Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya


Jarak dan waktu dapat menjadi tantangan atau kesempatan dalam menjalani hubungan, tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Buat kami, jarak dan waktu merupakan kesempatan untuk kami belajar saling mengasihi dan membangun hubungan dalam ikatan cinta yang tulus.

Kasih itu percaya segala sesuatu, di dalam kasih tidak ada ketakutan.



Baca Juga:

LDR: Lelah Disiksa Rindu? Lo Doang [yang] Relationship?

LDR Survival Guide: 7 Tips untuk Hubungan Jarak Jauh yang Langgeng dan Minim Drama

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "13 Tahun Menjalani Pacaran Jarak Jauh, Inilah 4 Tips dari Saya untuk Long Lasting Long Distance Relationship". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Siska Natalia | @natalies

Work as a nurse and clinical educator. Live by His grace alone.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar