Logan: Ganas, Brutal, Kelam, Namun Sarat Makna. Inilah 5 Pesan Tersembunyi dalam Film Logan

Reflections & Inspirations

[Image: MovieWeb]

8.7K
Di samping banyaknya adegan kekerasan yang ditampilkan, film ini layak untuk disaksikan karena pesan-pesan berharga yang tersimpan di dalamnya.

Satu dari rentetan film yang dinanti-nantikan oleh para penggemar genre action superhero akhirnya tayang juga. Meskipun saya bukan penggemar seri X-Men, namun entah mengapa saya cukup tertarik dengan Logan. Film besutan sutradara James Mangold yang bernuansa dramatis dan emosional ini berkisah tentang perjuangan Logan sebagai seorang ayah sekaligus seorang sahabat di waktu yang sama.

Logan, yang berdurasi 130 menit, banyak mempertontonkan adegan kekerasan penuh darah dan umpatan-umpatan kasar. Jelas film ini bukan film untuk penonton di bawah umur. Jika anak remaja Anda ingin menonton film ini, pastikan ada orang dewasa yang mendampingi.

Meskipun demikian, di balik banyaknya adegan kekerasan yang ditampilkan, film ini menyimpan 5 pesan tersembunyi tentang kehidupan.



1. Hidup adalah Perjuangan

Kisah ini terjadi di tahun 2029. Di masa itu, mutan sudah lama punah, atau tepatnya, dianggap punah. Yang jelas, bukan lagi era para mutan berkekuatan super berjaya. Dari kelompok Professor Xavier, tersisa 3 orang saja. Logan, Charles Xavier, dan Caliban 'mengamankan' diri di sebuah daerah terpencil yang tandus. Logan, yang sudah tidak muda dan sakit-sakitan itu kini bekerja sebagai sopir limosin sewaan.

Dalam film-film sebelumnya, kita terbiasa melihat X-Men sebagai sebuah grup elit, mutan sakti yang dikelilingi fasilitas mewah. Tidak demikian di film ini. Semua terbalik. Miskin dan terasing, mereka kini menumpang hidup di sebuah lahan kosong bekas peleburan logam. Tua dan sakit-sakitan; Logan bahkan sudah rabun, tak lagi bisa membaca dengan jelas label obat yang diperolehnya secara ilegal untuk Professor Xavier.

Jika sebelumnya kita melihat mereka berjuang untuk sebuah misi besar nan mulia, entahkah itu melawan musuh, membela kebenaran, atau menyelamatkan dunia. Di film ini, perjuangan mereka 'sesederhana' bertahan hidup dari hari ke hari, 'sekadar' mencari kedamaian hidup, atau mencari penebusan dari rasa bersalah.

[image: cinelounge.com]
Perjuangan hidup manusia biasa, seperti Anda dan saya.

Baca Juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini



2. Nasib Tak Bisa Dipilih, namun Masa Depan Dapat Diubah

Dikisahkan bahwa mutan terbentuk dari proses persilangan secara alamiah, manusia yang memiliki kekuatan khusus dalam gen mereka, 'istimewa' sejak lahir. Namun, ada oknum-oknum tertentu dengan niat jahat menguasai dunia, mencoba 'membuat' mutan. Mereka menginseminasi manusia dengan gen mutan murni untuk menghasilkan mutan-mutan kecil. Mesin tempur, itulah yang ada di pikiran jahat mereka.

Mereka mendidik anak-anak itu menjadi ganas, bertarung dan menuruti perintah. Namun mereka lupa, yang mereka hadapi - meski hasil mutasi - adalah manusia, yang punya hati nurani dan kehendak bebas. Bukan robot, yang selalu taat karena tak bisa memilih.

Kita memang tak dapat memilih di mana dan dengan cara apa kita dilahirkan. Namun soal menjadi manusia seperti apa, bagaimana menjalani hidup, pilihan ada di tangan kita. Sepenuhnya di tangan kita.
"Nature made me a freak. Man made me a weapon." - Logan

Mutan-mutan kecil yang awalnya didesain sebagai mesin pembunuh itu memutuskan mengubah takdir. Dan sama seperti mereka, kita pun selalu dapat memilih.

Memilih yang baik daripada yang mudah. Memilih yang benar meski artinya berjuang tanpa henti melawan natur diri. Dan lewat pilihan-pilihan itulah kita bisa mengubah masa depan.

Baca Juga: Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang



3. Kasih Seorang Ayah yang Begitu Besar

Awalnya Logan tidak menyangka bahkan menolak fakta bahwa gadis kecil yang mengganggu 'kenyamanan' hidupnya itu adalah anaknya. Namun seiring waktu berjalan, naluri sebagai ayah timbul dalam diri Logan.

Seorang ayah yang mengasihi anaknya pasti akan melakukan yang terbaik bagi anak yang dikasihinya. Nyawa sekalipun rela dipertaruhkan, bahkan dikorbankan, jika diperlukan.

[Image: screenrant]
Ketika menyadari kasih orangtua yang sedemikian besar kepada kita, akankah kita sebagai anak masih senang menyakiti hati mereka?

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting Ini



4. Berkorban untuk Visi yang Besar

Dalam sebuah adegan, Logan secara kebetulan mengetahui bahwa para mutan kecil sedang dibuntuti dan akan disergap oleh para penjahat yang ingin memusnahkan mereka. Sebenarnya, Logan tidak punya kewajiban untuk membantu para mutan kecil. Ia bisa saja memilih untuk pergi dan membiarkan mereka. Bukankah lebih mudah baginya menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan kedamaian sebagaimana yang selalu ia inginkan?

Namun, Logan memilih untuk membantu para mutan kecil itu melawan pasukan musuh yang membawa senjata lengkap. Logan dapat melihat sebuah visi yang lebih besar tentang mutan-mutan kecil tersebut daripada hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri. Bahkan di akhir cerita, Logan harus mati dalam pertempuran itu.

[Image: movietalkexpress.com]
Tak ada hal baik diperoleh cuma-cuma di dunia. Kita kadang perlu berkorban untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, sebuah visi.

Mungkin kita sudah merasa cukup berbuat dan berada di comfort zone saat ini. Kadang kita lupa, zona nyaman adalah jebakan yang melenakan, memaku dalam kemalasan, menghambat kemajuan



5. Keluarga adalah Rumah yang Paling Nyaman

Dalam pelarian dari kejaran musuh, Logan memutuskan untuk menerima tawaran bermalam dari keluarga Munson, yang baru mereka tolong siang harinya. Professor Xavier terlalu sakit, terlalu lelah, dan amat perlu beristirahat dengan baik. Itulah satu-satunya pertimbangan Logan.

Logan kemudian memapah Xavier - yang diakui sebagai ayahnya kepada Keluarga Munson itu - menaiki tangga, membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya.

Diterangi cahaya bulan, dalam kehangatan rumah dan keluarga, ditemani Laura yang tertidur di lantai, di hadapan 'sahabat'nya, Professor Xavier berucap,

"Ini adalah, tanpa keraguan sama sekali, malam paling sempurna dalam hidupku, entah setelah berapa lama."

[Image: filmiticos]
Tak ada yang dapat menggantikan kehangatan keluarga. Tidak kesuksesan, kekayaan, ketenaran.

Bukankah pada akhirnya kita semua hanya ingin pulang, ke pelukan hangat keluarga - mereka yang dekat di hati kita.



Baca Juga:

Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

9 Life Lessons dari 9 Karakter Zootopia yang Akan Membuatmu Memandang Hidup dengan Lebih Bijak

Menjadi Ayah yang Lebih Baik: 3 Pelajaran Penting dari Darth Vader, Seorang Ayah yang Gagal



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Logan: Ganas, Brutal, Kelam, Namun Sarat Makna. Inilah 5 Pesan Tersembunyi dalam Film Logan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar