Lima Belas Tahun Berselingkuh, Tak Ketahuan

Marriage

[Photo credit: Imagens com emocoes]

18.8K
Saya hanya merasa lelah, tak tahu mesti bagaimana.

Saya cenderung berpikir bahwa perselingkuhan itu urusan laki-laki.

Pelakunya adalah para suami yang entah karena apa memilih untuk berelasi dengan perempuan atau bahkan laki-laki lain. Begitu banyak laki-laki yang melakukannya hingga menimbulkan kesan seolah-olah merekalah yang memang piawai dalam hal ini.

Sementara perempuan adalah pihak yang dirayu dan diajak untuk berselingkuh.

Satu aktif, yang lain reaktif. Kurang lebih begitulah gambaran di benak saya tentang perselingkuhan. Gambaran yang mungkin mengandung unsur bias gender yang kuat.

------


“Saya berselingkuh, Pak Wepe,” seorang perempuan membuka percakapan pagi itu.

“Oh, ya. Berapa lama? Dengan siapa?” tanya saya standar untuk mengumpulkan data.

“Dengan mantan saya waktu SMA dulu. Sudah 15 tahun,” jawabnya.

”Lima belas tahun? Selama itu suami tak pernah curiga atau tahu apa yang terjadi?” Saya menegakkan posisi duduk.

”Suami saya tidak tahu, Pak Wepe. Mungkin ia terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri,” jawabnya sambil mengambil tissue di meja.


Lima belas tahun hidup dalam perselingkuhan, bayangkanlah!

Tersimpan begitu rapi hingga tak ada yang mengetahui.


”Dulu, setiap habis mengantar anak ke sekolah, kami bertemu. Berbincang seperti sepasang kekasih dan melakukan apa saja yang kami sukai. Saya merasa laki-laki inilah yang membuat saya istimewa sebagai perempuan. Saya merasa dikagumi dan dicintai. Beda dengan suami saya. Kini, setelah anak-anak remaja, kami bisa bertemu di mana saja dan kapan saja. Terbang ke sana dan ke mari dalam sehari bukan hal yang sulit,” rangkaian kalimat ini mengalir lancar dari bibir yang indah di usia yang tak lagi terbilang muda.

”Kalau ibu menikmati perselingkuhan itu dan berhasil menutupinya selama 15 tahun, mengapa ibu datang menemui saya?”


Bukan basa-basi saya menanyakan hal ini. Biasanya orang datang dan membuka hidup mereka kepada saya setelah ada akibat dari sebuah tindakan yang keliru.

Dari pengalaman, saya menemukan, laki-laki tak bisa menyimpan rahasia perselingkuhan sementara perempuan tampaknya jauh lebih rapi menyembunyikan ketidaksetiaan. Entah apa penyebabnya.

Bisa saja bagi laki-laki perselingkuhan itu tanda bahwa ia masih 'laku' dan ia bangga dengan hal ini. Sementara bagi perempuan, rasanya risiko sosialnya jauh lebih besar daripada laki-laki, bukan?


”Apakah ibu akan bercerai dengan suami lalu menikah dengan pria itu?” saya mencoba menebak.

Perempuan itu menggelengkan kepala.

”Saya tidak ingin bercerai, kasihan anak-anak yang sudah mulai remaja. Saya hanya merasa lelah, tak tahu mesti bagaimana dengan hubungan yang tak seharusnya ini. Kalau saya lanjutkan, tidak ada masa depannya. Kalau saya hentikan, saya masih sangat mencintainya. Ia yang memberikan kekuatan bagi saya untuk menjalani rutinitas yang membosankan sebagai ibu rumah tangga.”


Saya terdiam. Tak mampu segera menjawab. Ada keheningan yang menggelisahkan pada pagi menjelang siang itu.

Sejauh yang saya ketahui, sangat sedikit orang yang bercerai dengan pasangannya dan menikahi selingkuhannya. Sekali lagi, sangat sedikit.

Mengapa mayoritas yang berselingkuh tak menikahi selingkuhan mereka?


”Apa iya ia akan setia jika kami menikah? Sekarang aja, ia selingkuh dengan saya?” perempuan itu juga bertanya. Mungkin kepada dirinya sendiri.

Mungkin sebagai jawaban atas pertanyaan yang diam-diam saya tanyakan dalam pikiran.

------


Sebuah perselingkuhan bisa saja menyenangkan dan menyegarkan.

Namun, tak pernah ada sebuah masa depan dalam perselingkuhan. Relasi yang terbangun berdasarkan ketidakjujuran tak akan cukup tangguh untuk mengarungi masa depan.




Baca Juga:

Hati-Hati, Ibu Rumah Tangga Baik-Baik pun Bisa Berselingkuh karena 5 Hal Ini

Selingkuh Itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Sering Kali Tak Terungkap

Mengapa Wanita Berani Berselingkuh? Inilah 3 Penyebab Utamanya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lima Belas Tahun Berselingkuh, Tak Ketahuan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar