Life Begins at Forty, Namun Kesuksesan Harus Dirancang Sejak Dini. Ini Caranya

Reflections & Inspirations

pexels

1.7K
“Orang kaya yang sejati bukanlah diukur dari seberapa banyak yang bisa dia dapatkan, tetapi seberapa banyak yang bisa dia bagikan!”

Anda mungkin sering mendengar ungkapan “Life begins at forty!” Dari mana asal ungkapan ini? Perhitungannya mungkin begini. Usia 5-25 tahun kita gunakan untuk studi. Usia 26-30 tahun kita pakai untuk memulai karier dan pekerjaan serta memulai pernikahan. Usia 31-40 kita pakai untuk mengembangkan karier dan rumah tangga.

Nah, pada usia 40 itulah diperkirakan kehidupan ekonomi dan pernikahan kita sudah stabil. Baru pada saat itulah kita bisa menikmati hidup. Tentu saja, angka itu spekulatif karena tidak setiap orang bisa mencapai posisi stabil pada usia 40 tahun.

Baca juga: Susan Boyle: Kisah Kegagalan yang Justru Menghantar pada Kesuksesan

Walaupun begitu, usia 40 memang menarik. Mengapa? Angka harapan hidup di Indonesia 70-an tahun. Jadi, 40 tahun merupakan waktu paruh. Kita sudah menghabiskan separuh waktu kita yang pertama dan memasuki waktu paruh yang kedua.

shutterstocks

Berbicara masalah waktu paruh, belum lama ini saya mendapatkan kiriman buku dari seorang sahabat baik saya. Judulnya "Half Time". Buku karya Bob Buford ini sudah saya ketahui sebelumnya karena sangat terkenal, tetapi saya memang belum sempat membelinya, apalagi membacanya.

Buku yang masuk kategori International Best Seller ini menceritakan tentang Ketua Dewan dan CEO Buford Television, Inc.. Seberapa sukses dia? Coba dengar komentarnya sendiri:

“Saya tidak selalu memberikan perhatian terhadap hidup saya. Jujur saja, saya baru mulai memberikan perhatian terhadap hidup saya ketika saya mencapai usia 40 dan saya menemukan diri saya berada dalam kesuksesan yang menimbulkan kepanikan. Saya adalah ketua dewan dan CEO dari sebuah perusahaan tv kabel yang sukses luar biasa. Saya terikat dalam sebuah pernikahan yang indah. Kami punya seorang putra—tak ada cara lain untuk mengatakannya—dia merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kami.”

Nah, di tengah euforia keberhasilan bisnis dan keluarga seperti itu, apa Buford puas dengan hidupnya? Ternyata tidak! “Dan tentu saja, masih ada sesuatu yang mengganggu saya. Bagaimana mungkin saya dapat begitu sukses, sangat beruntung, tetapi masih juga belum terpuaskan dan merasa frustrasi?” Demkianlah kata Bob Buford, (Half Time, hal. 27).

oswegocounrty

Lalu, apa yang Bob Buford lakukan? Setelah melalui ziarah batin yang panjang dan pergumulan iman yang intens dengan Tuhan, bos ini akhirnya menemukan bahwa tujuan hidupnya tidaklah berhenti sampai pada kesuksesan belaka. Berdasarkan pengalaman pribadinya dengan Tuhan, Bob mengambil langkah penting, yaitu melangkah lebih jauh dari sekadar sukes menjadi signifinkan; dari keberhasilan menjadi hidup yang punya makna. Apa itu hidup yang bermakna?

Pertama, hidup bermakna itu bukan sekadar sukses, tetapi bisa berbagi kesuksesan dengan orang lain. Kedua, hidup bermakna itu bukan sekadar puas diri, tetapi membuat orang lain yang berinteraksi dengan kita merasakan kepuasan yang sama. Ketiga, hidup bermakna itu jika kita tahu secara persis tempat kita di muka bumi dan tujuan Tuhan tempatkan kita di sini.

Yang menarik, ketika orang lain merasakan bahwa waktu paruh yang kedua berarti penuaan dan pengangguran, Bob Buford justru menantang kita untuk semakin produktif bagi sesama. Baru ketika hal itu dilakukan, Bob merasakan kepuasan yang sejati.

Saat membaca buku Bob ini, saya jadi teringat sebuah kalimat bijak yang berkata, “Orang kaya yang sejati bukanlah diukur dari seberapa banyak yang bisa dia dapatkan, tetapi seberapa banyak yang bisa dia bagikan!”


Ingin mendapatkan inspirasi lebih banyak lagi? Sila klik artikel-artikel di bawah ini:

Sahabat adalah Berkat Kehidupan. Inilah 'BLESS' : 5 Kunci Sukses Menjalin Hubungan Persahabatan

How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup

Buat Kamu yang Ingin Merantau ke Jakarta, ini 7 Tips dari Mereka yang Telah Sukses Menaklukkan Ibu Kota



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Life Begins at Forty, Namun Kesuksesan Harus Dirancang Sejak Dini. Ini Caranya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar