Liburan Bersama Anak-Anak, Dari Mereka Saya Belajar 3 Hal Penting Ini

Parenting

[Photo credit: Avvo Stories]

6.4K
Suatu kali saya bertanya, "Gimana, Bang? Are you happy?"

Libur telah tiba.

"Kali ini kita pergi ke Bali, ya!" Sontak saja kedua anak kami berteriak kegirangan. Tak sabar mereka menunggu-nunggu saat hari libur itu tiba. Tidur di hotel, pantai yang bersih, dan yang pasti berbagai makanan lezat yang menanti, menjadi imajinasi awal yang begitu membahagiakan.

Puji Tuhan, libur lebaran tahun ini kami mendapatkan berkat untuk menginap di sebuah hotel bergengsi serta tiket untuk menyaksikan acara Devdan Show, sebuah pertunjukkan tari yang dikemas dengan sangat apik.

Segala keperluan liburan kami persiapkan dalam waktu singkat. Hingga akhirnya tibalah kami di Pulau Dewata yang indah.

[Koleksi Pribadi Penulis]

Kami memilih untuk menempuh perjalanan pulang pergi dengan mengendarai kendaraan sendiri. Selain lebih hemat, juga memudahkan kami untuk berkeliling pulau.

Menempuh perjalanan dengan kendaraan sendiri memang memberikan kesan tersendiri. Salah satunya adalah kesempatan berkomunikasi yang tak hanya panjang namun juga berkualitas di antara kami.



Rasanya seperti mengulang kembali peristiwa yang pernah saya alami sendiri.

Ketika itu saya masih seorang bocah kecil berusia kurang lebih sembilan atau sepuluh tahun. Orangtua kami memang cukup sering membawa kami serta dalam perjalanan jauh dengan mengendarai kendaraan sendiri. Beberapa perjalanan yang masih saya ingat antara lain: Bandung - Jakarta [saat itu sekitar 4-5 jam], Bandung - Bali [saat itu kurang lebih sehari perjalanan], hingga Bandung - Medan [saat itu mungkin memakan waktu 4-5 hari perjalanan].

Dalam setiap perjalanan, saya dan Abang saya selalu menyaksikan Papah dan Ibu bercakap-cakap dengan seru. Tak jarang kami pun turut terlibat di dalamnya. Bahkan jika Ibu tertidur, Papah tidak jarang sengaja melakukan keisengan dan akhirnya membuat Ibu terbangun. Kami semua kemudian tertawa senang karenanya.

Sayangnya, tak banyak yang saya ingat tentang isi percakapan kami.

Yang jelas, saya tahu pasti,
komunikasi yang terjalin baik di antara kami menjadi bukti bahwa kami saling menyayangi.

Itulah satu kesan kuat yang tergores dalam benak saya hingga hari ini.



Selama berlibur di Bali banyak refleksi kehidupan yang kami dapatkan.

Khususnya perihal hidup berkeluarga. Bagaimana tidak, tiap-tiap kami ingin sekali menikmati liburan dengan tujuan masing-masing dan cara masing-masing.

Ketika anak-anak ingin terus bermain di pantai, orangtua cenderung memilih untuk pergi ke tempat-tempat kuliner yang terkenal di Bali - yang kebanyakan pedas dan tidak bisa dimakan anak-anak. Belum lagi kegemaran orangtua untuk mengambil foto. Seringkali tidak mood-nya anak-anak untuk difoto membuat jengkel, bukan?

"Ayo, Deon ... Sebentar saja. Senyum ya, Dek. Ayo, Dek ... Lihat sini! Senyum, dong. Habis ini udah, kok!" [Iya, 'Habis ini', yang sebenarnya tak pernah habis-habis ...]

Saat anak-anak ingin ke toko mainan, kita dengan mudahnya berkata, "Bang, di Surabaya itu juga ada kok. Ngapain sih?" Namun di sisi lain, anak-anak harus sabar menunggu menanti kita selesai berbelanja hal-hal yang menurut mereka tidak penting. Belum lagi ketika tiba-tiba anak-anak ingin menikmati ice cream, dan dengan mudahnya kita bilang, "Nanti, ya. Ada kok ice cream yang enak. Nanti, ya!"

Selera dan cara tiap-tiap pribadi mengisi liburan sangat bervariasi. Masing-masing ingin menikmati apa yang diinginkan. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Justru di sinilah kami belajar berkomunikasi.

Komunikasi yang mengajarkan kami untuk tidak hanya berbicara tapi juga mendengar. Tidak hanya mendengar untuk menjawab, tapi mendengar untuk merasakan dan memahami.

Sebagai orangtua kami menyadari, relasi yang baik hanya dapat terbangun dengan komunikasi yang baik. Yang bukan hanya sekadar retorika, namun mewujud lewat tindakan nyata.

Baca Juga: Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya



1. More Time

Sudah hampir 6 bulan terakhir ini kami tidak memberikan iPad kepada anak-anak. Dan komitmen itu terus berlangsung, walaupun anak-anak sedang berada di masa liburan.

Di saat liburan seperti ini? Tentu saja Anda pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi, bukan? Ya, betul. Tepat seperti yang Anda pikirkan.

Kita tidak bisa hanya ‘remove’ tanpa ‘replace’. Tidak bisa sekadar melarang, tapi juga harus ada solusi.

Salah satu solusinya adalah menyediakan waktu untuk lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anak. Dan bagi saya, itu sungguh menyenangkan! Saya jadi lebih kreatif membuka percakapan dengan pertanyaan.

[Photo Credit: prestamospersonales.pe]

Suatu kali saya bertanya, "Gimana, Bang? Are you happy?"

Deon menjawab, "Ya, Pah. Happy!"

Kemudian saya bertanya lagi, "Apa yang buat kamu happy, Bang?"

Dari pertanyaan pembuka itu, 45 menit berjalan nyaris tak terasa. Deon terus saja bertanya, "Terus gimana, Pah?" saat saya menjelaskan sesuatu padanya. Tidak hanya bercakap panjang dan lebar, kebersamaan kami juga jadi sangat dalam karena banyak hal bisa kami gali bersama.

Baca Juga: Bisakah Anak-Anak Lepas dari Gadget? Bisa! Setahun Anak-Anak Kami Hidup Tanpa Gadget. Ini Kisahnya



2. More Love

"Pah, kapan kita ke pantai lagi?"

"Lho, kan tadi baru dari pantai?" jawab kami.

"Iya, tapi kita suka di pantai ..."

Sejujurnya, ada banyak pilihan lain yang dapat kami pilih, tapi kami belajar bahwa ini liburan bersama. Kami berusaha memahami keinginan mereka. Dan meski saat itu waktu menunjukkan jam 12 siang, kami pergi ke pantai.

[Photo credit: Reader's Digest]

Anak-anak seakan merasakan hal yang berbeda dengan apa yang orangtua rasakan. Panas yang terik tak menghambat mereka bermain. Saya juga belajar merelakan sejumlah uang untuk Deon belajar berselancar.

Tidak hanya itu. Suatu kali Deon melakukan tindakan ketidaktaatan. Saya marah cukup besar padanya. Dia pun harus menerima hukuman sebagai konsekuensi perbuatannya. Setelah itu, Deon menghampiri saya dan berkata, "Pah, kapan kita bicara? Deon mau bicara."

Sebuah prinsip yang berlaku di keluarga kami, untuk setiap hukuman selalu ada doa pengampunan. Saat itu saya menyadari, sepertinya Deon mulai memahami apa yang selama ini kami lakukan. Itulah pula yang terjadi saat Deon melakukan kesalahan.

Kadang liburan bisa menjadi saat yang menjengkelkan ketika setiap orang berkeras melakukan apa yang masing-masing sukai. Saat itu terjadi, ingatlah, all you need is love, more love!

Baca Juga: Anak Takut Mengaku Salah? Mungkin Sikap Orangtua Inilah Sebabnya



3. More Experience

Berlibur di saat semua orang berlibur memang menyisakan banyak pengalaman menarik. Termasuk mengalami pengalaman pertama yang memberikan banyak pelajaran.

Suatu ketika, Deon menghilang di tengah kerumunan. Kami kebingungan mencarinya. Hingga akhirnya sayup-sayup terdengar suara dari pusat informasi tentang seorang anak yang bernama Deon. Sebuah pengalaman pertama yang berharga buat Deon.

Kami juga meminta Deon untuk menjaga adik kecilnya. Berkali-kali mereka berantem, tapi berkali-kali juga mereka saling berbaikan dan meminta maaf tanpa diminta. Mereka juga saling memperhatikan satu sama lain, beberapa kali kami memergoki Deon sedang memasangkan sabuk di stroller adiknya, dan adiknya beberapa kali berbagi makanan yang dia suka pada abangnya.

[Photo credit: brainblogger.com]

Galilah pengalaman baru bersama anggota keluarga, bukan sekadar menikmati tempat dan suasana yang baru. Gali potensi anak, liburan adalah saat yang tepat bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab, mengatur diri sendiri.



Parents, Jangan Lupa Hal Terpenting Ini!

Relasi terbangun dalam komunikasi. Relasi terjaga karena komunikasi.

Kasih sayang diwujudkan bukan hanya dengan berbicara tapi juga kesediaan untuk mendengar. Bukan hanya bicara dan mendengar, tapi lewat waktu kebersamaan yang tak hanya panjang tapi juga berkualitas.

Komunikasi menjadi sesuatu yang menyenangkan karena kita tahu bahwa ia yang kepadanya kita berbicara dan mendengar adalah pribadi yang istimewa bagi kita. Bukankah itu yang dilakukan oleh Pencipta kita? Dia selalu ingin berkomunikasi dengan kita, karena kita istimewa dan berharga di mata-Nya.

Jadi, parents, berilah lebih banyak waktu untuk keluarga ketimbang kesenangan sendiri, terima dan berilah lebih banyak kasih, serta galilah lebih banyak pengalaman bersama keluarga dalam liburan kali ini.

[Photo credit: sheknows.com]

Jangan sampai waktu liburan berlalu begitu saja, penuh diisi dengan kesenangan semata tanpa pelajaran yang bermakna.



Baca Juga:

3 Langkah Efektif yang Harus Dilakukan oleh Orangtua yang Rindu Menjadi Sahabat bagi Anak Remajanya

Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah

Dari Saya, Tentang Menjadi Seorang Ayah: Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Lewat Hal-Hal Sederhana Setiap Hari




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Liburan Bersama Anak-Anak, Dari Mereka Saya Belajar 3 Hal Penting Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar