Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini

Parenting

[Image: tumblr.com]

4.9K
Orangtua: sangkar pengekangan atau pagar perlindungan, yang manakah mereka bagimu?

“Maaf ya, papaku memang kolot,” ucapku dengan suara sedikit bergetar. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadaku. Aku dapat merasakan air mata terbit di sudut mataku. Untung saja lawan bicaraku berkilometer jaraknya. Kalau tidak, maluku bisa dobel rasanya.

“Lho? Kenapa?” Suara yang keluar dari ponselku terdengar bingung. “Gapapa, aku ngerti kok. Ini kan memang sudah malam.”

“Tapi, ini belum jam delapan. Kita juga paling ngobrol sebentar di dekat rumah,” tekanku sambil mendengus. “Lagipula, aku kan bukan anak kecil lagi!”

Ya, saat percakapan ini terjadi bertahun yang lalu, aku bukan lagi anak kecil. Aku bahkan sudah memasuki usia bekerja. Namun, entah kenapa, aku tetap saja diperlakukan seperti anak kecil oleh orangtuaku. Terutama oleh Papa. Ia bukan hanya overprotective, tapi juga over-kuatiran dan over-enggak-percayaan. Sedikit-sedikit enggak boleh. Sedikit-sedikit enggak bisa.

Bisa bayangkan, betapa malunya aku ketika menolak ajakan teman-teman untuk hang out sepulang kuliah, dan setelah bekerja – after hour? Alasannya: Enggak diizinin Papa. Tidak jarang, teman-temanku pun berdecak sambil mengangkat alis. Mungkin mereka pikir aku sedang mengada-ada.

How old are you? Itulah komentar yang biasanya terlontar.

Seiring bertambahnya usia, semua itu kian membuatku gerah. Pertengkaran pun mulai mewarnai hubunganku dengan orangtua. Kenapa sih Papa dan Mama tidak bisa memberiku kebebasan seperti orangtua pada normalnya? Kenapa mereka selalu mengekangku? Membatasi ruang gerakku? Kenapa mereka enggak bisa paham aku?

Malu. Marah. Kecewa. Malam itu, aku menumpahkan semua kegalauanku kepada seorang teman lewat ponsel. Aku tidak dapat menahannya. Aku membela diri. Setengah berharap ia akan membelaku. Juga sedikit mengantisipasi, bahwa seperti kebanyakan orang, ia akan menertawakanku.

Namun, tanggapannya melebihi seluruh ekspektasiku.

“Haaa! Ngirinyaaa!” Serunya panjang. “Ya, ampuuun. Seharusnya, ya, kamu itu bersyukur. Dari kecil aku pengin ada yang marahin aku. Tapi aku mau pulang malam kek, pagi kek, enggak ada yang nyariin!”

Kemudian, kisahnya pun bergulir. Malam itu, dari satu percakapan via ponsel, hubunganku dan orangtuaku berubah 180 derajat. Memang tidak selangsung membalik telur goreng. Namun semua itu dimulai dari satu perubahan, yang merembet ke berbagai perubahan lainnya.



1. Bersyukurlah dalam segala hal, termasuk keberadaan orangtua kita

"Kapan aku pernah tidak mensyukuri keberadaan orangtuaku?"

Mungkin hal itu yang terlintas di pikiranmu saat ini. Saat itu pun, aku tidak menyadarinya, bahwa dengan sering mengeluhkan perlakuan orangtuaku terhadap diriku, saat itulah aku sedang tidak bersyukur. Rasa syukur bukanlah sekadar ucapan di bibir atau yang terlintas dalam doa. Bukan rangkaian kata-kata indah yang terdengar lalu terlupakan. Yang ketika berkonflik kembali dengan orangtua, lagi-lagi kita berharap mereka dapat bersikap berbeda. Bersyukur lebih menyerupai suatu kesadaran yang meresap sampai ke kedalaman hati. Kesadaran yang menambah makna dalam sebuah kata. Kesadaran inilah yang akhirnya terbukakan ketika temanku bercerita malam itu.

Aku mengenalnya sebagai seseorang yang hangat dan ceria. Ia sangat mendukung dan memerhatikan segala kesulitanku. Ia juga selalu penuh canda tawa. Betapa terkejutnya aku, ketika mengetahui bahwa bukan saja ia kehilangan ibu saat masih kecil, ayah dan saudara-saudaranya pun mengabaikan keberadaannya. Ya, kisah dalam drama-drama itu bisa menjadi sangat nyata.

Ketika ia menceritakan mengapa ia selalu berharap memiliki seseorang yang memarahinya hanya karena hal sepele, seperti pulang terlambat, hatiku terasa hancur. Apa yang kulihat sebagai kekangan, dilihatnya sebagai bentuk kasih. Kasih yang, seharusnya kita sadari, tidak semua orang dapat mengecapnya. Apa yang lumrah bagiku, ternyata lebih berharga dari emas baginya. Sesuatu yang tidak dapat diperolehnya bahkan dengan menukarkan segalanya sekalipun.



2. Cobalah mengamati dari kacamata orangtua

[Image: yelp.de]

Pembicaraan kami via ponsel sudah lama berakhir, tetapi aku tetap terjaga. Kurenungkan ceritanya. Kuingat-ingat juga hubunganku dengan kedua orangtuaku selama ini. Tuntutan mereka. Perlawananku. Kemudian, luka-luka yang timbul di antaranya. Sembari mengingat, kali ini kucoba untuk menanggalkan egoku. Mengesampingkan semua harapan-harapan pribadiku terhadap mereka. Mencoba mengerti mengapa mereka begitu strict.

Bersamaan dengan itu, aku pun teringat pada saat-saat yang baik. Benar, hubunganku dengan orangtuaku bukan melulu soal mengekang dan dikekang. Namun juga tentang mengasihi dan dikasihi. Ada saatnya ketika hubungan kami, terutama saat aku masih kecil, sangatlah manis. Lalu apa yang membuat hubungan kami berubah?

Ada suatu kejadian saat aku masih kelas 5 SD. Seorang teman cowok menelepon ke rumah. Murni untuk kegiatan sekolah. Namun badai topan bagai menerjang seisi rumah kami. Saat itulah pertama kalinya aku merasa begitu sedih dan takut terhadap papaku. Setelah mengingatnya, aku menyadari, bahwa di kebanyakan waktu, ketika aku paling merasakan kekangan orangtuaku adalah ketika orang lain terlibat di dalamnya. Baik itu pergaulanku ataupun kegiatan sekolah. Saat aku terlepas dari mata mereka, itulah saat-saat dimana mereka paling memperlakukanku seperti anak kecil.

Yang berubah ternyata adalah aku. Tepatnya, ruang lingkupku. Jika melihatnya seperti itu, rasanya aku paham mengapa mereka bersikap seperti cara mereka bersikap.

Mereka hanya khawatir. Sesederhana itu.

Entah kenapa, aku jadi dapat membayangkan apa yang mereka lakukan di rumah saat aku menikmati waktu hang out dengan teman-temanku. Sementara aku lupa waktu, mereka terus memerhatikan jam dinding. Belasan miscall di ponselku adalah bukti bahwa mereka menyayangiku. Bukan bukti keberkuasaan mereka sebagai orangtua.

Baca Juga: "Saya Ingin Anak Saya Bangga Pada Ayahnya," Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata



3. Dewasa adalah tentang perbaikan sikap, bukan pertambahan angka di kalender

Tidak peduli berapa pun usia kita, di mata orangtua kita tetaplah anak-anak. Namun bukan berarti mereka akan selamanya memperlakukan kita seperti anak-anak. Dengan terus mengingatkan mereka akan usia kita, tidak akan menjadikan kita dewasa di mata mereka.

Justru dengan terus memberikan perlawanan, menunjukkan betapa tidak dewasanya kita.

Kedewasaan sejatinya diukur dari cara berpikir kita. Cara kita berpikir akan tercerminkan dalam cara kita bersikap. Dan itulah yang dilihat oleh orangtua kita.

Hal pertama yang kulakukan setelah menyadari semua hal di atas adalah berhenti melawan. Jika mereka melarangku pergi atau melakukan sesuatu, aku akan menanyakan alasannya. Jika jawaban mereka tetap tidak, aku patuh saja. Bukan berarti aku lemah. Namun itu karena aku belajar untuk menghargai dan menghormati mereka. Sekalipun itu berarti dengan melepaskan keinginan-keinginan pribadiku.



4. Berkomunikasi secara terbuka dengan orangtua

[Image: salon.com]
Jika penyebab orangtua terlalu mengatur kita adalah karena mereka mengkhawatirkan kita, maka mulailah membuat mereka tidak khawatir lagi.

Sama seperti semua jenis hubungan lainnya, kunci hubungan kita dengan orangtua kita juga adalah komunikasi dua arah. Dalam hal ini, aku mulai menceritakan tentang teman atau orang-orang yang kutemui kepada orangtuaku. Seperti apa mereka. Apa yang kami lakukan saat berkumpul. Apa yang kami bicarakan. Memang tidak sampai mendetail dan terlalu personal. Bagaimanapun, aku tidak perlu membuka rahasia orang lain, meski kepada orangtuaku sendiri, kan? Asal cukup sampai membuat mereka merasa mengenal teman-temanku. Cukup untuk membuat mereka mengetahui bahwa aku tidak berbuat yang aneh-aneh dengan orang lain di luar sana.

Baca Juga: Ketika Orangtua Tak Setuju dengan Pilihan Jurusan Kuliahmu, Gunakan 5 Cara Efektif ini untuk Meyakinkan Mereka



5. Pilih komunitas dan pergaulan dengan baik

[Image: kissyourworld.com]

Ada sebuah pepatah mengatakan, “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Ini adalah peringatan yang tidak dapat diabaikan. Juga salah satu faktor penentu yang teramat penting. Sedikit banyak, teman-teman kita dapat memengaruhi bagaimana kita bersikap. Seperti yang dilakukan oleh temanku itu, teman yang baik akan mendorong kita untuk melihat orangtua kita dengan cara yang benar. Bukannya menjadi kompor dan memberi saran untuk membangkang.

Teman yang baik, yang bisa menerima kita apa adanya, juga akan menerima orangtua kita apa adanya.

Selain itu, jika orangtua kita mengetahui bahwa kita memiliki komunitas yang baik dan benar, mereka tentu akan semakin merasa tenang.

Well, it works for me. Dengan kepatuhan, keterbukaan dan komunitas yang baik, mereka mulai bersikap fleksibel. Rupanya ketiga hal ini membangun kepercayaan atas diriku di mata mereka. Lama-kelamaan, mereka semakin jarang mencariku jika aku keluar rumah. Mereka tidak lagi menghubungi setiap lima atau sepuluh menit. Kalaupun aku tidak mengangkat telepon, mereka hanya akan mengirimkan pesan singkat. Yang tentu saja, segera kubalas ketika aku mengecek ponselku. Kini, mereka bahkan tidak banyak bertanya ketika aku hendak keluar rumah. Aku hanya perlu mengatakan untuk keperluan apa aku pergi, menemui siapa, dan ke mana. Tidak lebih dari satu atau dua menit. Tanpa tarik urat.

Baca Juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - tentang Cinta dan Mencintai - yang Saya Dapatkan dari Peristiwa itu



6. Suatu saat kita juga akan menjadi orangtua

[Image: biznessplan.net]

Harus kita sadari, kebiasaan kita bersikap kepada orangtua kita akan terbawa sampai waktu yang panjang. Sampai kita sendiri menjadi orangtua. Kelak, bagaimana kita memperlakukan orangtua kita akan dilihat oleh anak-anak kita sendiri. Apakah kita menghormati orangtua kita atau tidak. Apakah kita menghargai mereka atau tidak. Secara tidak langsung, semua itu akan mengajari anak-anak kita bagaimana seharusnya bersikap kepada kita. Bagaimanapun juga, apa yang kita tabur, itu jugalah yang akan kita tuai nantinya.



7. Percayakan hubungan kita dengan orangtua ke dalam tangan Tuhan

Meski yang satu ini kusebutkan terakhir kali, aku percaya justru hal inilah yang memulihkan hubunganku dengan kedua orangtuaku. Aku percaya bahwa Tuhanlah yang mempertemukanku dengan temanku itu. Dia yang mengatur agar pekerjaan temanku selesai terlambat malam itu, sehingga pertemuan kami tertunda. Memberi kesempatan agar percakapan itu muncul ke permukaan. Bahwa dengan tangan-Nya yang tak terlihat, Dia telah mendorongku untuk mulai menaati kedua orangtuaku. Kemudian, dengan cara-Nya sendiri, Dia juga telah membuka mata kedua orangtuaku. Bahwa aku aman dalam perlindungan Tuhan. Sehingga mereka pun dapat sedikit bersikap santai.

Kini, aku bisa mengatakan bahwa hubunganku dengan kedua orangtuaku berjalan dengan baik. Hubungan kami memang tidak sempurna, tetapi kasih yang terajut di antara kami diperbaharui dan disempurnakan di dalam Dia. Setiap harinya.


***


Teman, apa pun masalahmu dengan orangtuamu saat ini, tenangkanlah dirimu sejenak. Cari inti permasalahan yang kamu hadapi dengan mereka. Coba pahami mereka sebelum minta untuk dipahami. Seperti kita, orangtua juga butuh untuk dimengerti. Seperti kita, mereka juga adalah orang-orang yang tidak sempurna. Mungkin cara mereka untuk mencintai kita tidaklah sempurna, setidaknya tidak seperti yang kita inginkan. Namun, percayalah, mereka melakukan apa yang mereka lakukan karena mereka ingin yang terbaik bagimu. Bisa jadi, semua yang mereka perbuat adalah pagar perlindungan yang Tuhan taruh di dalam hidupmu.

Ya, diri kita sendirilah yang menentukan apakah orangtua kita akan menjadi sangkar pengekangan atau pagar perlindungan bagi kita. Tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan memahaminya.

[Image: blog.gardenmediagroup.com]


Baca Juga:

Single Parents: Segenap Hati Mencintai di Tengah Keterbatasan Diri

Kamu Berharga, Apa pun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apa pun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal inilah Buktinya

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Marlena V.Lee | @marlena

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar