Anak Terluka Akibat Kesalahannya, Saya Mengajarkannya 4 Hal Ini

Parenting

Dokumentasi Pribadi Penulis

916
Kita perlu menerima dan menikmati rasa sakit, bukan untuk berkubang di dalamnya tetapi untuk mengalami kehidupan secara real dan menjadi manusia yang utuh dalam menjalani hidup.

Pagi hari saya biasanya memberi waktu bagi Pearl, anak saya, untuk bermain sendiri. Saya mengawasinya sambil memeriksa beberapa pesan singkat yang masuk. Dari sudut mata, saya melihat Pearl berjalan ke arah sudut tempat tidur dan merogoh ke belakang headboard. Saya memperingatkannya untuk tidak bermain di sana. Ia beranjak dari sudut itu dan kembali pada boneka-boneka yang ia susun berjajar di atas ranjang. Merasa aman, saya melanjutkan aktivitas di gawai.

Tiba-tiba,

"Mama...atit...," Pearl menunjukkan tangan kanannya sambil menahan tangis.

"Kenapa bisa sakit?" saya bertanya sambil memeriksa kelima jari di tangannya dan menemukan jari kelingkingnya teiris halus dan bagian kulitnya mengelupas sepanjang kira-kira setengah sentimeter.

"Tadi cepit (terjepit)" katanya sambil menunjuk ke arah sudut larangan.

Saya memeriksa lebih seksama dan menemukan bahwa tak ada luka dalam, tidak ada tetesan darah dari bagian yang terkelupas. Namun rupanya masih ada rasa perih yang ia rasakan. Saya mengetahuinya ketika ia menarik tangannya dengan segera ketika saya mencoba menyentuh bagian itu.

"Mama, ojo (jangan), ojo...atit...," katanya seraya menyembunyikan tangan di belakang tubuh kecilnya.

Saya menatap wajah yang berusaha menyembunyikan rasa sakit tapi tak mampu menutupi rasa takut. Ia cukup konsisten, menahan tangis karena tahu inilah konsekuensi karena ketidaktaatannya. Saya segera meminta bantuan pak suami yang baru selesai mandi untuk mengambil gunting kuku dan penutup luka.

Pak suami memegangi Pearl ketika saya menggunting potongan kulit menganga di jari kecil itu. Saya mengoleskan minyak dan menutupnya dengan plester bergambar binatang.

Pearl masih menahan rasa sakit, mengamati jari kelingking yang tertutup plester.

"Kalau luka, ya memang sakit. Tadi Mama sudah larang Pearl main di sana. Karena Pearl tidak taat, makanya kejepit dan luka."

Pearl hanya diam, wajahnya menunjukkan penyesalan, tapi tak ada air mata yang menetes.

Baca juga: Dalam Ketidaksempurnaan, Inilah Cara Saya Mendidik Anak dengan Perkataan


Pagi ini ia belajar bahwa setiap pilihan mempunyai konsekuensi

photo credit: SBS

Pilihannya untuk tetap bermain di sana berakhir dengan luka di jari kelingkingnya. Seandainya ia memilih hal yang berbeda, maka berbeda pula konsekuensi yang akan ditanggungnya. Setiap pilihan, baik ataupun tidak, akan membawa kita ke sebuah tempat dan situasi akibat dari apa yang kita tentukan. Tentu saja, tak selamanya pilihan kita akan berakhir baik. Ada kalanya pilihan itu akan membawa kita ke padang rumput berbunga yang indah, dikelilingi oleh kicauan burung dan menimbulkan perasaan yang amat nyaman. Namun ada kalanya kita akan berhadapan dengan rasa sakit, ketakutan, kegelisahan, bahkan tekanan yang mau tak mau hadir di ujung jalan yang kita pilih.

Apa pun konsekuensinya, saya ingin Pearl belajar untuk menghadapinya dengan kepala yang tegak, berani bertanggung jawab dan menjalani jalan yang sudah ia pilih. Hari ini ia belajar menghadapi rasa sakitnya. Sekalipun ia menyesali pilihan bermain di sudut itu, tetap saja rasa sakit tidak akan pergi, luka di jari kelingkingnya masih ada dan menunggu waktu untuk sembuh. Kelak, mungkin ia akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar: nilai yang kurang memuaskan karena bermain tanpa ingat belajar, jatuh dan mengalami luka berdarah karena bersepeda di jalan berbatu, patah hati karena menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, dan banyak peristiwa di masa depannya nanti.

Hukum sebab-akibat akan tetap berlaku di dalam kehidupan. Setiap hal yang kita lakukan pasti menjadi penyebab dari sebuah akibat. Bisa jadi akibatnya tidak kita rasakan sendiri tetapi dirasakan oleh orang lain. Atau kebalikannya, sesuatu yang kita tanggung bisa saja bukanlah akibat dari perbuatan kita sendiri, melainkan pilihan orang lain.

Baca juga: Jangan Bebani Anak dengan Pelbagai Tuntutan, Renungkan 5 Hal Penting tentang Anak Ini

Konsekuensi atau akibat yang positif dan mendatangkan keuntungan pastilah disambut dengan tangan terbuka oleh semua orang. Saya pikir tidak ada orang yang menolak bila diberikan sesuatu yang baik dan menguntungkan. Masalah akan timbul bila konsekuensi perbuatan kita, baik perbuatan benar atau salah, adalah sesuatu yang buruk dan mendatangkan rasa sakit.


Apa pun akibat yang kita terima, baik atau buruk, kita perlu belajar menghadapi realita

photo credit: NPR

Pearl harus belajar menikmati rasa sakitnya. Rasa sakit, ketakutan, ketidaknyamanan ada di sekitarnya, sekalipun seringkali ia tidak bersentuhan langsung dengan mereka. Saat ia harus berhadapan dengan hal yang negatif, alih-alih menyangkal dan lari dari kenyataan yang ada, Pearl harus belajar berdamai dengan rasa sakit dan menerima bahwa ia harus menghadapinya. Ketika ia belajar berdamai dengan konsekuensi pilihannya, sekalipun sakitnya mungkin hampir tak tertahankan, maka ia pun belajar menjadi karakter yang kuat dan realistis, tidak cengeng, dan selalu lari dari kenyataan.

Saya jadi teringat dua orang bapak yang beberapa tahun silam terkena serangan stroke pada waktu yang hampir bersamaan. Seiring dengan perjuangan mereka untuk pulih, saya melihat dua kondisi yang sangat bertolak belakang. Bapak yang satu sudah bisa berjalan dengan baik, walaupun masih menggunakan alat bantu, mampu berbicara jelas, namun ia terus mengurung diri di rumah. Ia menolak untuk kembali dalam komunitas. Menurut pengakuan beberapa orang terdekatnya, ia masih marah dan tidak terima harus berada dalam kondisi demikian. Bapak yang lain juga mengalami perkembangan yang positif, namun ia masih harus dipapah untuk berjalan, kemampuan bicaranya masih kurang jelas. Dalam kondisi demikian, ia memberanikan diri untuk pergi keluar rumah, bersosialisasi dengan teman-teman. Terbata-bata, ia berkata, "Aku ingin sembuh. Sudah hampir dua tahun sakit, tapi aku tidak mau putus asa." Pengakuan yang realistis mengenai sakitnya menjadi titik balik yang luar biasa, ia menerima ketidakberdayaan yang dialami dan menjadikannya sebuah lecutan untuk pulih seperti sedia kala.

Banyak orang yang menjadi tertekan karena tidak mampu menerima kenyataan, tidak mau merangkul rasa sakit yang ada, dan karenanya tidak mungkin bisa menilai keadaan dengan objektif. Kita perlu menerima dan menikmati rasa sakit, bukan untuk berkubang di dalamnya tetapi untuk mengalami kehidupan secara real dan menjadi manusia yang utuh dalam menjalani hidup.

Dengan belajar menikmati kehidupan dengan segala sisinya, kita mampu menghargai kesembuhan dan pemulihan

photo credit: Doulas of Michiana

Ya, saya tentu mengobati luka Pearl dengan harapan ia segera terbebas dari rasa sakit. Tapi bukankah rasa sakit tidak serta merta hilang karena diobati? Bukankah kebanyakan permasalahan hidup manusia tidak selesai secepat seperti menjentikkan jari? Bukankah rasa benci tidak langsung hilang ketika pengampunan mengetuk pintu hati?

Di dunia yang menawarkan banyak solusi instan, saya ingin Pearl belajar bahwa ia perlu menjalani sebuah proses kehidupan untuk mencapai tujuan. Saat ini ia harus menanti dengan sabar hingga beberapa hari sampai lukanya benar-benar sembuh. Lukanya tidak akan langsung pulih seiring dengan lepasnya plester lucu yang saya pasangkan. Siang tadi, ia meminta Omanya untuk melepas plester dan melihat lukanya belum sembuh betul. Tapi saya tidak ingin dia hilang harapan. Sesuatu yang baik akan terjadi kalau dia dengan tekun berjalan dalam jalan pemulihan.

Suatu hari kelak, dia mungkin tidak langsung melihat hasil luar biasa dari upayanya untuk belajar setiap hari. Ia masih harus menjalani satu tingkat kelas demi satu tingkat kelas untuk kemudian menjadi seseorang yang berhasil dan sukses. Saya ingin dia menikmati menjalani kehidupan studinya. Mungkin juga dalam perjalanan hidupnya, Pearl akan merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang ia percayai dan cintai. Rasa sakit dalam hati tentu tidak akan pergi semudah menghapus data di dalam memori gawai. Saya rindu melihat Pearl menjadi pribadi yang tangguh tetapi tidak kaku, jujur tetapi tidak rapuh. Saya ingin melihat dia belajar untuk melepaskan pengampunan tanpa harus menyangkal realitas, tetapi melihat peristiwa yang menyakitkan dari sisi yang berbeda dan terus berjalan tegak.


Melewati peristiwa berharga ini, lebih dari berbagai pelajaran yang bisa ia petik, saya ingin dia belajar bahwa kami -saya dan papanya- akan berusaha untuk mendampinginya

photo credit: Hammond Dental Centre

Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk hadir baginya, terutama dalam masa-masa yang sulit. Kami akan menemani saat pertama kali dokter gigi mencabut giginya yang rusak karena terlalu banyak makanan manis. Kami menanti dia pulang dari sekolah, membawa hasil ulangan pertamanya (yang semoga baik). Kami akan menasihatinya ketika ia mulai lengah mempersiapkan ujian masuk ke universitas idamannya. Kami akan mendengarkan keluh kesahnya saat pertama kali bertengkar dengan pacarnya. Kami akan memberinya semangat saat ia gagal dalam proyek pertamanya di kantor. Kami akan selalu mendukungnya, tanpa syarat, tanpa pamrih. Menyediakan telinga mendengarkan, membuka tangan memeluk, mendisiplin saat ia tersesat, dan berjalan bersamanya sepanjang kehidupan dipercayakan kepada kami.

Ketika kami sudah tidak mampu lagi menolongnya, saat itulah dia sudah siap berjalan sendiri sebagai pribadi yang utuh, pribadi yang penuh energi menjalani masa depan, yang terbuka berdamai dengan rasa sakit, dan yang penuh pengharapan dalam jalan pemulihan dan pertumbuhan. Hidup tentu tidak mudah dan tidak semakin mudah. Tetapi dengan merangkul kelemahan dan rasa sakit, doa kami, Pearl dapat bertumbuh menjadi pribadi dengan kekuatan batin yang luar biasa.

Baca juga: Ajarlah Anak Bersyukur agar Tak Mudah Putus Asa. Ini Caranya!

"For when I am weak, then I am strong." -St. Paul

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Terluka Akibat Kesalahannya, Saya Mengajarkannya 4 Hal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar