Lebih dari Sekadar Perayaan, 5 Nilai Kehidupan Warisan Leluhur Inilah yang Menjadikan Imlek Istimewa

Reflections & Inspirations

[Image: cdn.history.com]

3.1K
Sekalipun zaman telah berubah, tetap saja, Imlek itu istimewa karena nilai yang sudah tertanam di sanubari.

Sebagai seorang Tionghoa, kenangan tentang perayaan tahun baru Imlek yang saya rayakan sejak kecil hingga dewasa bersama keluarga selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Banyak hal indah di dalam kenangan itu. Seiring dengan bertambahnya umur, hal-hal indah tersebut tergali semakin dalam hingga saya menemukan value yang amat berharga dari tradisi perayaan tahun baru Imlek.

Sekalipun zaman telah berubah, perayaan tahun baru Imlek kini tidak lagi seramai dan semeriah pada masa belasan bahkan puluhan tahun lalu, ditambah dengan perpindahan tempat tinggal ke kota lain yang masyarakatnya tidak terlalu menonjolkan perayaan tahun baru Imlek, tetap saja,

Imlek itu istimewa oleh karena nilai yang sudah tertanam di sanubari.

Berikut 5 value berharga yang menurut saya patut dipertahankan dari tradisi perayaan tahun baru Imlek:



1. Teamwork dalam Keluarga

Saya pertama kali mengenal kata 'teamwork' di bangku SMP. Namun, ternyata praktik dan value dari teamwork pertama kali justru ditanamkan oleh orangtua saya sejak saya kecil, salah satunya melalui tradisi perayaan tahun baru Imlek. Orangtua saya menerapkan tradisi gotong-royong dan bersih-bersih rumah setiap menjelang tahun baru Imlek.

Konon kabarnya, leluhur yang tinggal di Tiongkok setiap menjelang tahun baru Imlek mengadakan acara bersih-bersih rumah secara besar-besaran. Bukan hanya leluhur kami, tapi juga seluruh orang yang tinggal di negeri itu melakukan kebiasan bersih-bersih rumah secara besar-besaran bersama seluruh keluarganya. Hal ini dikarenakan tahun baru Imlek merupakan hari pertama musim semi di negeri Tiongkok.

[Image: news.xinhuanet.com]

Selama berbulan-bulan sebelum musim semi tiba adalah musim dingin. Tak banyak aktivitas yang dapat dilakukan di musim dingin, termasuk aktivitas membersihkan rumah, amat terbatas untuk bisa dilakukan. Oleh karena itu, ketika musim dingin berakhir dan matahari mulai kembali bersinar cerah, mereka dengan segera menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan dari rumah perabot-perabot yang perlu dijemur, seperti kasur, bantal, dan sofa. Masa penjemuran membuat rumah menjadi relatif lebih 'kosong', anggota keluarga menjadi pun lebih leluasa untuk membersihkan rumah serta memperbaiki bagian yang mulai rusak. Sampah-sampah yang mungkin tak sempat dibuang selama musim dingin segera dibuang. Sebagian keluarga bahkan mengecat ulang tembok dan pagar rumah mereka.

Tradisi gotong royong membersihkan rumah menjelang tahun baru Imlek ini diteruskan oleh keluarga saya, sekalipun di Indonesia tidak ada musim semi, apalagi musim dingin. Dalam acara gotong royong bersih-bersih ini, kedua orangtua dan semua anak-anak mendapatkan tugas yang berbeda-beda sesuai usia dan kemampuan masing-masing. Di situlah pelajaran teamwork yang indah didapatkan melalui tradisi tahun baru Imlek.

Baca Juga: Merayakan Tahun Baru Imlek dengan Belajar dari Ayam



2. Waktu Berkualitas Bersama Keluarga dan Kerabat

Malam tahun baru Imlek biasanya diisi dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga dalam satu ruang yang dianggap paling luas untuk memuat seluruh anggota keluarga. Momen ini diisi dengan acara makan malam bersama sembari ngobrol, bercanda, dan sharing rute rumah siapa saja yang akan dikunjungi besoknya.

Aktivitas ini menjadi makin istimewa karena umumnya sehari-hari seluruh anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing. Orang tua sibuk dengan pekerjaan, anak-anak sibuk dengan sekolah dan berbagai aktivitas lainnya. Bahkan hingga di malam hari pun, biasanya tiap-tiap anggota keluarga masih harus mengerjakan PR-nya masing-masing.

Tanpa disadari, sekalipun seisi rumah berada di bawah satu atap namun seperti hidup dalam dunia masing-masing.

Berkumpulnya seluruh anggota keluarga di malam tahun baru Imlek merupakan kesempatan istimewa untuk membangun kembali kebersamaan, kepedulian, dan kasih di antara satu dengan yang lain.

[Image: anantaravacationclub.com]
Ada usaha dan pengorbanan terhadap jadwal dan aktivitas tiap anggota keluarga yang dilakukan untuk menyempatkan diri berada dalam kebersamaan keluarga seperti ini.

Di hari pertama tahun baru Imlek itu sendiri, seluruh anggota keluarga akan mulai berkunjung ke rumah-rumah sanak keluarga selain keluarga inti. Hal ini juga merekatkan kembali hubungan yang mungkin mulai renggang selama setahun dikarenakan kesibukan masing-masing. Paman, tante, dan keponakan yang mungkin hanya dilihat status dan fotonya lewat media sosial bisa bertemu langsung dan saling mengetahui kondisi masing-masing dengan lebih riil. Ya, bagaimanapun juga, status dan foto di media sosial hanya menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang, dan itu pun bagian yang hanya ingin ditampilkannya saja. Oleh sebab itu, mengetahui kondisi keluarga tak cukup hanya melalui media sosial. Waktu berkualitas yang diluangkan melalui tradisi berkunjung ke rumah sanak keluarga saat tahun baru Imlek bermanfaat untuk pengenalan dan perhatian yang lebih dalam terhadap satu sama lain.

Baca Juga: Malas Menghadapi Teror Pertanyaan 'Mana Pacarmu?' Kala Kumpul Keluarga di Tahun Baru Imlek? Para Jomblo, Ini Tipsnya



3. Hormat pada Orangtua

Setelah bangun pagi di hari pertama tahun baru Imlek, hal pertama yang harus dilakukan oleh anak-anak adalah memberi salam hormat dan selamat tahun baru Imlek kepada orang tua. “Gong Xi – Gong Xi,” itu adalah kalimat tersingkat yang bisa diucapkan anak-anak. Pada prinsipnya, siapa yang muda patut terlebih dahulu memberi salam kepada yang lebih tua.

Salam hormat dan selamat ini dibalas dengan pemberian angpao dari orang tua, dan tentunya direspons kembali dengan senyum serta ucapan terima kasih dari anak yang menerima angpao.

Menghormati orang tua adalah nilai yang paling utama dan ditonjolkan dalam budaya Tionghoa.

Hal ini tak cukup jika hanya diajarkan secara verbal, bahkan terancam punah oleh bombardir modernisasi. Melalui tradisi di dalam perayaan tahun baru Imlek, anak-anak diajarkan praktik nyata menghormati orang tua yang kemudian tertanam mendalam di hati.

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting Ini




4. Kemurahan hati

[Image: ABC News]

“Angpao?” Ya, benar! Salah satu tradisi imlek yang menggambarkan kemurahan hati adalah bagi-bagi angpao pada yang lebih muda, khususnya yang belum menikah. Namun, sebenarnya tak hanya angpao saja, di hari raya Imlek itu juga diadakan open house. Keluarga-keluarga biasanya menyediakan setidaknya makanan kecil berupa kue-kue kering dan bolu untuk disajikan bagi setiap orang yang datang ke rumah. Bagi keluarga-keluarga yang lebih mampu, mereka bahkan menyediakan makanan berat seperti nasi atau mie goreng bagi setiap tamunya.

Bagi saya, nilai kemurahan hatilah yang ditanamkan dari tradisi angpao dan open house ini.

Baca Juga: Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Orangtua Berikan kepada Anak di Perayaan Tahun Baru Imlek



5. Berbagi Keceriaan

Keceriaan adalah gambaran dari perayaan tahun baru Imlek. Hal ini ditunjukkan dengan dekorasi rumah serba merah, lampion, baju baru warna merah, dan musik yang meriah khas Imlek dengan bunyi simbalnya yang menonjol.

[Image: inlife.bg]

Menurut mitos Imlek, warna merah dan bunyi-bunyian yang ramai adalah upaya untuk mengusir monster yang suka menyerang sebuah desa di Tiongkok. Tapi, bagi orang Tionghoa masa kini tentu saja hal ini bukan dilakukan untuk mengusir monster, melainkan semata-mata untuk berbagi sukacita dan keceriaan tahun baru Imlek.

Sukacita dan keceriaan bukan untuk disimpan sendiri tapi untuk dibagikan.

Begitulah nilai yang saya tangkap dari baju dan dekorasi merah serta musik meriah khas Imlek.

Baca Juga: 16 Kata Bijak dari Negeri Tiongkok untuk Tahun Baru Imlek yang Penuh Cinta dan Harapan


Lima value ini adalah warisan berharga dari tradisi perayaan tahun baru Imlek. Semoga setiap yang merayakannya juga dapat memaknai dan membagikannya dengan orang lain di sekitarnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lebih dari Sekadar Perayaan, 5 Nilai Kehidupan Warisan Leluhur Inilah yang Menjadikan Imlek Istimewa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar