Lebih Berharga daripada Kekayaan, Kejar dan Miliki Satu Hal Ini!

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Brina Blum]

3.2K
Jika kita tahu penyesalan selalu datang di belakang, mengapa kita tidak melakukan pencegahan sekarang?

Melbourne. Pagi hari.

Saya baru saja mendarat di bandara dan menjumpai gadis yang menjemput saya. Saya hendak memberikan pelatihan menulis di sebuah kampus di sana.

Saat masuk ke mobilnya, saya disodori green tea. “Lho, kok you tahu kesukaan saya?” tanya saya.

“Kak Xavier mungkin lupa. Koko saya pernah jadi murid Kakak,” ujarnya dengan senyum centilnya. “Kak Xavier termasuk favorit Koko saya,” tambahnya.

Rupanya saya diingat karena kebaikan saya kepada kokonya saat saya menjadi gurunya. “Wah, nama baik adalah ‘harta’ yang harus saya jaga baik-baik,” gumam hati saya.


Ketika Aung San Suu Kyi membisu terkait terusirnya etnis Rohingya dari Myanmar, banyak orang mempertanyakan hadiah Nobel Perdamaian yang pernah dia dapatkan pada tahun 1991, termasuk Malala Yousafzai - sesama peraih Nobel Perdamaian 2014.

Saat petinggi First Travel ketahuan menilap uang jamaah, Forbes Indonesia mencabut gelar Wanita Inspiratif dari Anniesa Hasibuan.



Semua bermuara pada satu hal: Nama baik.

Jika nama baik kita tercemar, gelar apa pun yang pernah kita terima, dicabut atau tidak, sudah mendapat penghakiman publik. Itulah sebabnya mengapa Salomo atau Sulaiman pernah berkata,

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”

Baca Juga: Kasus Kopi Sianida dan Pentingnya Rekam Jejak sebagai Penentu Masa Depan


Bicara tentang nama baik, saya teringat kisah Tom Smith yang saya baca di artikel berjudul ‘Integrity’ di sebuah situs web. Begini kisahnya:

Menjelang ajalnya, Tom smith memanggil anak-anaknya dan menasihatinya untuk mengikuti jejaknya untuk hidup dengan integritas. “Semua ini agar kamu bisa punya kedamaian dalam setiap hal yang kamu kerjakan.”

Sara, anak perempuannya, memotong. “Daddy, betapa malangnya kamu. Saat ini kamu sekarat dan kamu tidak meninggalkan satu sen pun tabungan di bank. Ayah-ayah lain yang kamu bilang korup, pencuri dana masyarakat meninggalkan rumah dan kekayaannya untuk anak-anak mereka saat meninggal. Sedangkan rumah ini saja hanya apartemen sewa. Maaf, saya tidak akan mengikuti jejakmu. Pergilah, biarkan saya menentukan garis kehidupan saya sendiri.”

Beberapa saat kemudian, Tom menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tiga tahun berlalu, Sara mengikuti sebuah interview kerja di sebuah perusahaan internasional. Ia diwawancarai oleh pimpinan perusahaan di sana. Setelah meneliti berkasnya, ia bertanya padanya tentang nama keluarganya, Smith. “Siapakah nama ayahmu?”

“Tom Smith. Namun Papa saya sudah tiada,” jawab Sara.

Oh my God, kamu anaknya Tom Smith! Hmm!” Sang pewawancara menoleh kepada HR manager yang menyertai di sampingnya. “Ayahnya Smith adalah orang yang memberikan rekomendasi untuk saya sehingga saya bisa berada di posisi ini saat ini. Ia melakukan semua tanpa imbalan apa pun. Saya bahkan tidak tahu alamatnya. Ia tidak kenal saya, tapi ia melakukannya pada saya.”

Dia menoleh pada Sara dan berkata, “Mulai besok kamu masuk kerja.”

Sara Smith diangkat menjadi corporate affairs manager dengan fasilitas dua mobil dan sopir, rumah dekat kantor, dan gaji 100.000 Poundsterling per bulan di luar tunjangan-tunjangan lainnya.

Setelah dua tahun bekerja di perusahaan, managing director sebuah perusahaan di Amerika mengumumkan keinginannya untuk mengundurkan diri dan memerlukan seorang pengganti dengan integritas teruji. Perusahaan konsultan menominasikan Sara Smith.

Di dalam interview, seorang wartawan menanyakan apa rahasia dari kesuksesannya. Dengan tangis meleleh di pipi, Sara menjawab, “Ayah saya yang sudah membuat jalan bagi saya untuk bisa sukses seperti ini. Baru setelah ia meninggal saya mengetahui bahwa secara finansial dia miskin tapi ia sangat kaya di dalam integritas, disiplin, dan kejujuran.”

Wartawan pun bingung. “Lalu mengapa kamu menangis?”

Sara menjawab, “Menjelang kematiannya, saya menghina dan menyakiti hati ayah saya karena ia menjadi orang yang jujur dan penuh integritas. Saya harap ia memaafkan saya. Jujur saya tidak bekerja apa-apa untuk kesuksesan saya ini. Semua adalah hasil karyanya. Saya cuma melangkah masuk saja.”

“Apakah kamu akan mengikuti langkahnya seperti permohonannya menjelang ajalnya?” tanya sang wartawan.

“Ya, saya sekarang memujanya. Saya punya foto dirinya yang sangat besar di ruang tamu saya serta di depan pintu masuk saya,” jawab Sara.

Sara Smith dicelikkan matanya, warisan terbaik yang bisa dia terima adalah nama baik.

Baca Juga: 4 Bentuk Warisan yang Sungguh-Sungguh Berharga Namun Tak Pernah Diperebutkan



Jangan menyesal di belakang hari!

Kembali ke hadiah Nobel, siapa sebenarnya yang layak menerimanya? Mari kita menengok kembali sejarah munculnya Nobel.

Hari itu, di tahun 1888, Alfred Nobel membaca kolom obituari di sebuah koran pagi. Seorang bernama Alfred Ludvig meninggal dunia. Di dalam tulisannya, koran itu menyebutkan bahwa Alfred adalah 'pedagang kematian' karena menciptakan dinamit. Hati Nobel tertusuk. Dia tidak ingin di batu nisannya nanti tertulis: ‘Pedagang Kematian’. Kejutan di pagi hari yang disebabkan oleh kesalahan wartawan itu menginspirasinya untuk mendedikasikan uangnya untuk memberikan hadiah bagi orang-orang yang berjasa di bidang perdamaian. Kita mengenalnya sekarang sebagai Hadiah Nobel.

Alfred Nobel tidak ingin menyesal di belakang hari seperti Kevin Carter.

Kevin Carter adalah seorang wartawan foto. Pada 11 Maret 1993, ia meliput bencana kelaparan yang melanda Sudan. Di tengah pembagian dan perebutan makanan, dia menyaksikan seorang anak kurus kering yang hampir mati. Tidak jauh dari anak itu ada burung pemakan bangkai sedang menanti saat ajal anak itu tiba. Carter mengabadikan peristiwa memilukan itu. Dia bahkan menunggu sampai burung nazar itu mengembangkan sayapnya untuk menerkam sang anak yang tidak berdaya itu untuk memperoleh efek foto yang dramatis. Usahanya sukses. Fotonya memenangkan Hadiah Pulitzer pada tahun 1994.

Tiga bulan kemudian, Kevin Carter bunuh diri. Hati nuraninya terus-menerus mengusiknya. Ketimbang mendapatkan Hadiah Pulitzer, bukankah jauh lebih elok jika dia menolong anak itu?

Baca Juga: Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda


Jika kita tahu penyesalan selalu datang di belakang, mengapa kita tidak melakukan pencegahan sekarang?

Untuk dunia yang lebih gilang gemilang.



Baca Juga:

Setelah Menulis Biografi Orang-Orang Sukses, Saya Menemukan Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini

Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Penting Ini Sebabnya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lebih Berharga daripada Kekayaan, Kejar dan Miliki Satu Hal Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Nice Post Good ArticleHarga Emas Hari Ini 618 RB