Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Inilah 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya

Parenting

[Image: thetubdoc.com]

2.2K
Tahukan Anda bahwa di dunia ini ada invisible teacher, guru yang tak kasat mata, bagi anak-anak kita?

Tahukah Anda bahwa di dunia ini ada invisible teacher, guru yang tak kasat mata, bagi anak-anak kita?

Haha ... Tenang, artikel ini bukan sebuah kisah horor. Guru yang tak kasat mata yang saya maksud adalah lagu-lagu yang didengar anak-anak kita, yang turut menjadi "pendidik" yang menanamkan konsep moralitas dan karakter yang kemudian mempengaruhi perilaku anak-anak kita.

Dunia pendidikan saat ini telah semakin maju. Kalau di masa lalu banyak pendidik dan orangtua yang sangat berfokus pada kognitif dan skill, maka pada masa kini perhatian tak kalah besar juga ditujukan pada pembentukan karakter dan moralitas anak. Para pendidik dan orangtua telah menyadari bahwa kesuksesan bukan diraih oleh mereka yang cerdas secara intelektual semata, tetapi juga yang memiliki karakter yang baik dan kuat.

Namun, ternyata bukan hanya orangtua dan guru saja yang berminat, berniat, dan punya andil besar untuk mendidik karakter dan moralitas anak-anak kita, lagu-lagu yang didengar oleh anak-anak kita pun punya andil dalam pembentukan karakter mereka. Bahkan, berpengaruh hingga pada moralitas mereka.

Bagaimana mungkin mendengar lagu saja bisa membentuk moralitas dan karakter tertentu dalam diri seorang anak?Jawabnya, sangat mungkin!

Lagu-lagu yang dipopulerkan dunia ini cukup banyak mengajarkan konsep dan pola hidup yang tidak menunjukkan karakter mulia dan moralitas yang lurus kepada anak-anak kita. Sebagai contoh, seorang anak remaja kelas 1 SMA sedang pacaran dengan seseorang, tapi pada saat yang sama ia juga menjalin kedekatan dengan lawan jenis lain. Walau saya tahu cintanya itu hanya cinta monyet, saya bertanya padanya, ”Kamu kan sudah punya pacar, kenapa kamu dekat dan suka juga dengan yang satu ini?” jawabnya, “Selingkuh itu indah. Teman tapi mesra.” Saya tahu, di tahun itu, tidak berapa lama sebelum obrolan tersebut terjadi, lagu 'Teman tapi Mesra' melejit di pasaran. Anak ini belajar tentang ketidaksetiaan dari lagu yang didengarnya.

Seni, termasuk musik dan lagu, memiliki 2 arah dalam fungsinya. Yang pertama adalah fungsi keluar, yaitu sebagai ungkapan jiwa, nilai-nilai, dan kepercayaan dari sang seniman. Para musisi pasti amat paham akan hal ini. Ketika mereka merasa sedih, mereka bisa mengambil alat musik lalu memainkan lagu-lagu sedih. Musik yang mereka mainkan adalah ungkapan jiwa mereka. Selain itu, musik dan lagu juga memiliki fungsi ke dalam, yaitu mampu menanamkan emosi, nilai, dan kepercayaan [dari lirik lagu, misalnya] kepada para pendengarnya.

Oleh karena seni bersifat merdeka, siapa saja boleh mengungkapkan apapun juga yang hendak diungkapkan. Maka, tak dapat dicegah jika segala jenis perasaan, value atau nilai dan kepercayaan si pencipta seni dengan bebas mewarnai karya seni yang dihasilkannya. Jika sang seniman sedang memiliki emosi negatif, nilai moral yang bobrok, ataupun hal-hal buruk lainnya, maka hal-hal tersebut dapat tertuang di karya seninya. Begitu juga sebaliknya, jika sang seniman memiliki emosi positif, nilai moral dan kebenaran yang dijunjung tinggi, maka hal-hal tersebutlah yang akan terungkap melalui karya seninya. Semua itu diserap oleh para konsumen, penikmat seni, dan tanpa sadar akan melekat di dalam jiwa dan pikiran mereka.

Dalam dunia yang kacau dan penuh dosa ini, berbagai macam orang dengan segala prinsip dan perilaku, tak sedikit bahkan yang amoral, turut berusaha menggunakan kesempatan untuk lewat lagu menanamkan prinsip dan perilaku mereka tersebut pada anak-anak kecil dan anak-anak muda. Banyak lagu-lagu dijadikan media untuk mengajarkan karakter amoral. Dengan diiringi musik yang menawan, isi yang sangat menjebak dan menyesatkan disebarkan, mulai dari perselingkuhan, kebencian dan dendam, ketamakan, arogansi, keegoisan, bahkan unsur unsur pornografi pun telah turut dimasukkan dalam lagu-lagu.

Kita, para orang tua yang peduli pada perkembangan karakter anak patut lebih waspada dengan konsumsi lagu yang didengarkan anak-anak kita. Inilah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk meghindari dampak negatif dan mengambil manfaat positif lagu-lagu yang didengarkan oleh anak-anak kita:


1. Selektif dalam Memilih dan Menyediakan Lagu untuk Anak Sejak Dini

[Image: discovermagazine.com]

Ada orang-orang tua yang senang memutarkan lagu-lagu -yang sebenarnya ditujukan untuk konsumsi orang dewasa- bagi anak-anak mereka. Mereka menolak saran untuk bersikap selektif terhadap lagu yang didengar anak-anak mereka dengan alasan, “Ah, itu kan cuma lagu, cuma hiburan. Ga apa-apa kok, gak bakal efek apa-apa. Lagipula, mereka kan masih kecil, masih belum mengerti.”

Anak-anak mungkin tidak langsung memahami arti dari lirik lagu yang mereka dengar, tapi mereka mengingatnya.

Anggapan bahwa anak-anak tidak mengerti apa yang mereka dengar ini akan membuat para orangtua merasa "kecolongan" ketika tiba saatnya anak-anak itu sudah mengerti apa makna lirik lagu yang mereka ingat, dan kemudian menerapkan konsep buruk yang mereka dengar, ingat, dan mengerti dari lagu yang tidak baik itu.

Saya ingat ketika saya masih SD ada beberapa tetangga yang usianya lebih kecil dari saya saling cubit-cubitan dan senggol-senggolan sambil menyanyikan lagu dengan lirik tersebut. Ini membuktikan, lirik lagu dapat mendorong anak-anak. bahkan remaja, untuk melakukan tindakan sesuai lirik tersebut.

Oleh karena itu, adalah bijaksana bagi kita untuk tidak meremehkan kemampuan anak dalam memahami apa yang mereka dengar.

Tindakan selektif sangat penting, karena berbagai macam lagu bisa masuk ke ruang dengar anak dengan berbagai cara. Misalnya, dengan membeli sebuah handphone baru saja secara otomatis Anda langsung mendapatkan berbagai macam lagu-lagu gratisan dengan 'isi' yang berbagai macam pula. Beberapa tahun lalu, saat saya membeli sebuah handphone baru, di dalamnya sudah tersedia lagu-lagu yang liriknya antara lain menyebutkan bahwa wanita adalah racun dunia, ada juga lirik tentang perebutan wanita, dan sebagainya. Waktu mendengar lagu ini, saya memikirkan, betapa berbahayanya jika ini didengar dan dinikmati anak-anak. Musiknya memang sangat enak dan mudah dinikmati, akan tetapi isinya - dengan menggunakan kata-kata yang amat mudah diingat itu - benar-benar menyesatkan.

Selektif dalam memutarkan dan menyajikan lagu yang didengar anak-anak sejak dini adalah tindakan preventif paling awal yang dapat kita lakukan untuk mencegah dan mengurangi masuknya konsep negatif yang akan membentuk moralitas dan karakter anak-anak kita.



2. Putarkan Berulang-ulang Lagu-Lagu yang Menanamkan Nilai Moral dan Karakter yang Baik di Tiap Kesempatan

Suatu ketika, seorang pedagang kaki lima membuka stand tepat di ujung lorong belakang rumah saya yang menuju trotoar jalan raya. Yang dijualnya adalah kaset-kaset lagu dangdut. Sejak saat itu, selama setahun lebih kami mendengar lagu-lagu dangdut diputar berulang-ulang sepanjang pagi hingga sore. Akhirnya, tanpa sadar, saya yang sebenarnya tidak menyukai lagu dangdut jadi hafal lirik lagu-lagu tersebut. Untungnya, semua penghuni rumah saya sudah dewasa dan dapat memahami mana yang benar dan salah.

Lagu yang diputar berulang-ulang akan terekam dalam ingatan dengan cepat.

Orangtua dapat memakai teknik ini untuk menanamkan nilai moral dan karakter yang benar pada anak: putarkan lagu-lagu yang berlirik baik, berulang-ulang, di berbagai kesempatan. Menyediakan dan memutar lagu-lagu dengan lirik baik di mobil adalah salah satu cara yang sangat efektif, apalagi jika Anda hidup di kota besar di mana sehari-hari anak harus menempuh perjalanan dalam waktu cukup lama dengan menggunakan mobil.



3. Perhatikan Lagu Apa yang Anak Anda Dengarkan

[Image: pianopower.org]

Ketika anak beranjak makin besar, mereka sudah mampu memilih dan mencari sendiri lagu untuk didengar melalui gadget mereka. Anda perlu tahu apa yang mereka dengar. Bukan sebagai orangtua yang 'kepo', tapi sebagai orangtua yang turut peduli dan menunjukkan ketertarikan pada apa yang mereka sukai. Ini akan membuat anak dengan sukarela menginformasikan dan memberi kesempatan Anda untuk mendengar apa yang mereka dengar. Dengan demikian, Anda tidak akan 'kecolongan'.

Baca Juga: Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Lewat Hal-Hal Sederhana Setiap Hari



4. Diskusikan Konten Lagu, Jangan Langsung Melarang Anak untuk Mendengarkannya

Ketika mendapati bahwa apa yang anak Anda dengarkan ternyata bukan lagu yang layak untuk didengar karena berisikan nilai-nilai yang menyimpang, jangan langsung menghentikan dan melarangnya untuk mendengar lagu tersebut. Sebaliknya, ajak anak berdiskusi tentang isi lagu tersebut. Berikan pengertian tentang maknanya dan apa akibatnya jika terus menerus mendengar dan menyerap lirik lagu tersebut. Jika anak bersikeras dengan alasan suka alunan musiknya, bukakan wawasan bahwa masih banyak lagu yang kontennya baik dengan musik yang tak kalah indah dan enak didengar. Itu berarti Ia punya banyak pilihan lain yang lebih baik.

Rajin-rajinlah mendiskusikan lirik lagu dengan anak-anak, baik yang kontennya menanamkan nilai positif maupun negatif. Lakukan dalam situasi yang santai namun mendidik. Kebiasaan ini akan melatih anak untuk berpikir kritis dan turut menjadi selektif terhadap apa yang mereka dengarkan.

Baca Juga: 3 Langkah Efektif yang Harus Dilakukan oleh Orangtua yang Rindu Menjadi Sahabat Bagi Anak Remajanya



5. Jangan Berdebat Soal Style Musik yang Sedang Diminati oleh Anak Anda

[Image: pinterest.com]
Berdebat soal style musik yang sedang disukai anak Anda, yang tidak sesuai dengan selera Anda, hanya akan membuat anak merasa 'ilfil' alias mati rasa kepada Anda.

Jika anak sampai ke tahap itu, semua usaha Anda untuk menerapkan empat poin di atas bisa menjadi percuma. Bukan jenis musik yang membentuk karakter dan moralitas anak, melainkan liriknya. Karena itu, tak perlu mematikan simpati anak Anda kepada Anda dengan debat dan kritik tentang style musik yang Ia dengar dan sukai.


Semoga kita dapat menjadi orangtua yang bijak dan mau berjuang dan menggunakan segala kesempatan untuk mendidik anak-anak dalam nilai-nilai moralitas dan kebenaranan; termasuk dengan memutarkan lagu-lagu anak yang positif, yang merupakan sarana yang amat efektif untuk menumbuhkan konsep dan moralitas anak-anak kita.

Selamat berjuang!



Baca Juga:

Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah Akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-Hati!

Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji ini!

Orangtua, Lakukan 4 Hal ini untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Inilah 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar