Kisah Meta: Ketika Pernikahan Kedua Tak Seindah Angan

Reflections & Inspirations

[image: dailymedicalinfo]

1.9K
It took two to get married, but it will take three to stay in marriage. Keep God in your marriage.- unknown.

“Bu Yenny, ya?” sapa seorang wanita penjaga toko di Bali.

Saya menoleh, mencoba mengingat-ingat siapa yang menyapa. Namun saya nge-blank.

“Saya Meta, Bu. Yang dulu pernah Bu Yenny muridkan,” terangnya.

Ingatan saya melayang pada peristiwa puluhan tahun lalu, ketika masih tinggal di Jawa Tengah. Di gereja kami ada pemuridan one on one. Meta adalah salah satu yang saya muridkan.

Meta hidup bersama dengan pacar pertamanya saat saya mengenalnya. Mereka sedang menanti proses perceraian sang pacar dengan istrinya. Sementara Meta sendiri sudah bercerai dari suaminya. Kedua anaknya ikut Meta dan dirawat oleh mamanya Meta.

“Suami saya suka berjudi, bu,” jelas Meta waktu itu. “Saya tidak tahan dia suka pulang subuh. Tapi untunglah, setelah bercerai, ia tetap rutin membiayai anak-anak.”

Ketika dianjurkan untuk kembali pada suaminya, ternyata sang suami sudah menikah lagi dan memiliki seorang bayi.


Hidup adalah serangkaian pilihan yang harus dibuat

Meta percaya bahwa cinta pertama tidak pernah mati. Suatu saat dia bertemu kembali dengan mantan pacar, gayung pun bersambut. Rumah tangga sang mantan pun sudah di ujung tanduk. Maka mereka memutuskan untuk jadian dulu, hidup bersama, sambil menunggu proses perceraian diketok palu hakim.

Baca Juga: Cinta Lama Bersemi Kembali Saat Reuni. Benarkah Cinta Pertama Paling Murni dan Tak Pernah Mati?

Rupanya rencana tidak berjalan semulus yang diharapkan. Tanpa setahu Meta, sang pacar masih berhubungan dengan istrinya. Pria ini galau antara kembali kepada istrinya atau menikahi Meta. Keluarga istrinya mengharapkan kedua insan ini bersatu kembali. Pendekatan antar keluarga gencar dilakukan.

Keadaan tersebut membuat Meta panik. Dalam keadaan suntuk, bingung, dan serba terjepit, Meta datang ke gereja. Dia mencari ketenangan dan mengharapkan terjadinya mukjizat. Meski sudah lama sekali dia tidak pernah menginjakkan kaki ke rumah Tuhan, tetapi dia ingat kisah-kisah saat masih di Sekolah Minggu. Tuhan mampu membuat mujizat. Di situlah kami berkenalan pada awalnya.

Di gereja, kami ditawarkan mengikuti paket pelajaran dasar. Meta bersedia mengikutinya. Saat itulah saya diberi tugas untuk mengajarnya. Tentu kami berusaha untuk membimbingnya sesuai kebenaran firman Tuhan.

Hari demi hari berlalu tanpa kejelasan. Suatu hari, sang pacar membujuk Meta pulang dulu ke rumah orangtuanya.

“Supaya situasi dingin dulu dan proses perceraian bisa segera diselesaikan,” ujarnya. Janji untuk segera merealisasikan pernikahan pun ditegaskan kembali.

Meta menurut. Dia kembali ke rumah orangtuanya. Pada awalnya, komunikasi masih lancar. Namun, makin lama makin sulit dihubungi. Beberapa minggu hilang komunikasi, terdengar kabar sang pacar rujuk kembali dengan istrinya.

[image: True Love Words]

Meta pun patah hati.

Berkali-kali pelajaran dibatalkan. Ke gereja pun tidak. Bulan demi bulan berlalu tanpa kabar. Suatu hari Meta ingin bertemu. Dia mengabarkan akan menikahi seorang duda dengan empat anak.

“Berapa lama kamu mengenalnya?”

“Tiga bulan, Bu. Raymond, namanya. Kami dikenalkan oleh teman sekerja dan cocok,” jelasnya.

“Kami sudah sama-sama dewasa, saling memahami betapa pahitnya rumah tangga yang gagal, jadi tunggu apalagi?”


Saya mencoba memberinya pengertian. Dia belum betul-betul mengenal Ray, sangat beresiko menikahinya. Akan tetapi, Meta bergeming.

Akhirnya Ibu Pendeta kami secara khusus menemui Meta.

“Setidaknya menikahlah setahun lagi. Meta baru saja putus dengan mantan pacar pertama, mengenal Ray juga baru tiga bulan. Meta belum siap menikah dan perlu mengenal Ray lebih mendalam. Belajarlah dari pengalaman masa lalu,” kata Ibu Pendeta.

Namun, segala upaya dan penjelasan tidak digubris. Dua bulan kemudian, mereka pun menikah. Kemudian Meta dilarang ke gereja dan kami kehilangan kontak hingga kini.


Sebuah pelajaran keras dalam pilihan yang dibuat

Setelah mengingat Meta, saya pun mengajaknya makan di resto terdekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya kami kembali duduk berhadapan muka.

“Bagaimana Meta bisa sampai di Bali?”

“Saya menyesal, Bu, tidak mau mendengarkan nasihat Bu Yenny dan Bu Pendeta,” tuturnya memulai kisah hidupnya.

Janji awal Ray, Meta diperbolehkan membawa kedua anaknya ke rumah mereka. Tak disangka, dia ingkar janji. Meta harus merawat empat anak Ray, sementara anak kandungnya tak terawat. Usaha Ray pun tidak lancar. Saat suntuk dengan masalah keuangan, Ray suka memukuli Meta.

[image: Me Ewa Gerus]

Baca Juga: Alami KDRT, Teman Saya Meninggal di Tangan Suaminya. Inilah 5 Pelajaran Berharga agar Kisah Tragis ini Tak Terulang

Belum lagi anak-anak kandung Meta merasa kecewa dan berontak. Anak bungsunya lari dari rumah, hidup di jalanan, dan menjadi pecandu narkoba. Hidupnya makin hancur. Suatu ketika, dalam pertengkaran, Meta dipukul hingga berdarah-darah dan pingsan. Sampai akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Karena kejadian itu, ujung mata kirinya cacat hingga kini.

“Saya sekarang membantu usaha Rian, anak sulung saya di Bali. Sekarang saya menyadari, tidak ada kebahagiaan ketika kita hidup melanggar kebenaran firman Tuhan. Di antara tiga pria yang pernah ada dalam hidup saya, sesungguhnya papanya Rian yang terbaik. Meski kadang-kadang dia berjudi dan begadang dengan teman-temannya, tapi tetap bertanggung jawab membiayai anak-anak. Modal Rian berdagang juga dari papanya. Sayangnya, waktu itu saya masih sangat muda, hanya mengandalkan emosi.

Tuhan menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup hingga maut memisahkan, karena memang itulah yang terbaik. Seharusnya ketika pernikahan bermasalah, dibenahi bersama. Bukannya bercerai dan mencari pasangan baru. Sekarang saya paham, tapi nasi sudah jadi bubur.

Pernikahan kedua dan seterusnya itu berbeda, Bu … apalagi menikah dengan duda. Masing-masing punya kepentingan sendiri. Dia lebih memprioritaskan anaknya. Sedangkan anak-anak saya, kan, bukan anaknya. Mana mau dia peduli? Saya kapok, tidak mau menikah lagi. Keinginan saya hanya menebus dosa pada Rian dan Randy, adiknya. Apalagi saat ini Randy masih dalam pemulihan ketergantungan obat. Terlalu banyak luka-luka mereka karena keegoisan saya. Hidup saya sekarang hanya untuk melayani anak, menantu, cucu, dan Tuhan,” tutur Meta menutup perjumpaan kami.


Baca Juga: Ketika Perceraian Tak Terelakkan, Masa Depan Anak Tak Harus Dipertaruhkan. Memilih Rukun Tanpa Rujuk, Begini Teman Saya Melakukannya


Kebaikan Tuhan selalu tersedia bagi setiap kita

Penyesalan selalu datang terlambat. Akan tetapi, Tuhan baik. Rian mendapatkan istri berhati mulia dan mereka mengasihi Meta. Usaha Rian pun berkembang, sehingga dapat membiayai pengobatan Randy.

Setelah pertemuan tak terduga itu, saya bergegas meneruskan perjalanan. Sinar bulan di kegelapan malam seolah menjanjikan harapan. Pemandangan itu membisikkan suatu pesan ke dalam hati saya. Sepekat apa pun hidup seseorang, asalkan dia mau bertobat, Tuhan selalu memberikan second chance. Kesempatan kedua.

Semoga hidupmu bahagia, Meta.


Baca juga artikel-artikel inspiratif berikut ini:

Hanya Satu Ini Saja, Paling Efektif Mencegah Perselingkuhan dan Perceraian

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kisah Meta: Ketika Pernikahan Kedua Tak Seindah Angan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar