Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja

Reflections & Inspirations

[Image: clubcomplete.com]

11.2K
Kita tidak bisa mengulang masa lalu, kita juga tak bisa menebak masa depan. Kita hanya bisa mencintai seseorang pada hari ini, dan berharap bisa mengulanginya pada esok hari, sampai perpisahan itu terjadi.

Yang Bertahan Melintasi Usia

“Tali ini masangnya gimana ya, Mas ?” tanya seorang ibu kepadaku. Saya tersenyum dan langsung membantunya memakai seat belt yang tadi disebutnya sebagai 'tali'. Di sebelah saya duduk sepasang suami-istri berusia lanjut. Saya perkirakan usia mereka 70-an tahun. “Terima kasih ya, Mas. Maklum orang desa. Baru kali ini kami naik pesawat terbang. Mau nengok cucu, tiketnya dibelikan anak saya,” tutur bangga pria tua itu.

Ketika pesawat akan lepas landas, sang istri nampak menyatukan tangan sambil mulutnya komat-kamit berdoa.

“Kowe wedhi tho?” tanya sang suami sambil memegang tangan istrinya.

Sang istri mengibaskan tangan suaminya, ”Ojo nganggu. Kowe yo mesti wedhi!”

Sang suami tangkas menjawab, ”Aku ora wedhi, kowe sing wedhi!”

Istrinya pun menimpali, ”Ora. Kowe sing wedhi!”

Agak lucu juga mengamati dua orang yang sudah berusia lanjut ini saling menuduh bahwa pasangan mereka yang takut.

“Yo wis, podho-podho wedhi,” begitu pungkas sang suami sambil menggenggam tangan istrinya.

“Isin aku. Ono mase,” begitu bisik sang isteri pada suami.

Saya pun tersenyum. Menyaksikan anak remaja berpegangan tangan di gedung bioskop adalah pemandangan biasa. Melihat suami-istri saling memeluk juga adalah hal yang umum. Akan tetapi, mendengar dan melihat kemesraan pasangan suami-istri yang sudah berusia lebih dari 70 tahun adalah hal yang luar biasa.

[Image: Huffington Post]

Ada saatnya, cinta memang bertahan melintasi usia, atas izin yang Mahakuasa.

Baca Juga: 30 Tahun Pernikahan Orangtua, 5 Pelajaran Berharga ini Tak Saya Temukan dari Tempat Lain



Yang Bertahan Sementara

Saya memperhatikan anak kecil itu terus berjalan mengikuti papanya. Ketika papanya sibuk mempersiapkan peralatan tata suara, si anak tak kalah sibuknya memegang dan memainkan beberapa barang yang ada. Papanya pun beberapa kali mengajaknya berbicara dan memeluknya. Mereka berdua begitu dekat dan akrab. Sebuah keakaraban anak laki-laki dan papanya yang terasa tak biasa. Usia anak itu kira-kira 5 tahun.

“Mamamu di mana? Kamu punya adik atau tidak?” begitu tanyaku setelah mengenal namanya. Anak itu terdiam. Keceriaannya seketika lenyap. Ketika papanya lewat, ia segera mendekati dan memeluk papanya. Saya kembali mengulang pertanyaan yang tadi saya ajukan, ”Mamamu di mana? Punya adik atau tidak?” Mendengar pertanyaan itu, sang anak mendongak, mengarahkan pandangan pada papanya.

Sang papa menjawab lirih,

”Adiknya sudah ke surga, dibawa oleh mamanya.”

[Image: markgrovestv.com]

Suara lelaki itu bergetar, matanya nyaris berkaca-kaca.

Saya pun terdiam sedih, tak mampu bicara.

Ada saatnya, cinta hanya bertahan sementara waktu saja. Bukan karena tak ingin mencinta, tetapi karena kepergian selama-lamanya yang tak pernah terduga.



Yang Tak Pernah Tahu: Kita

Kita tak pernah tahu berapa lama cinta akan berlangsung. Cinta kepada orangtua, anak, pasangan, pacar, atau kepada siapa pun juga. Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan pergi dari kehidupan ini. Maka, saat yang terbaik untuk mengungkapkan cinta adalah saat ini. Hari ini, sekarang ini. Bukan sekadar karena ini Valentine's Day, tetapi karena hari inilah yang masih diberikan-Nya kepada kita.

Kita tidak bisa mengulang masa lalu, kita juga tak bisa menebak masa depan.

[Image: Rewire Me]
Kita hanya bisa mencintai seseorang pada hari ini, dan berharap bisa mengulanginya lagi esok hari, sampai perpisahan itu terjadi.



Baca Juga:

Adakalanya Mencintai Berarti Merelakan yang Tercinta Hidup Bersama Orang Lain

Ketika Cinta Tak Sempurna, Bagaimana Menjalaninya Tanpa Lara?

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar