3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan

Marriage

[Image: huffingtonpost.com]

21.9K
Dunia memang sudah berubah. Perselingkuhan menjadi hal yang wajar sedangkan kesetiaan menjadi hal yang langka. Padahal orang juga mengetahui bahwa perselingkuhan hampir pasti berakhir dengan kehancuran relasi dan luka. Mengapa orang masih gemar berselingkuh?

Geram hati saya mendengar satu per satu kisah yang diceritakan oleh orang-orang terdekat saya ini!

Pertama, bibik tua yang tinggal serumah dengan saya, asisten rumah tangga kami. Sudah lama ia mengabdi di keluarga kami. Tugasnya di dapur, bekerja untuk menghidangkan makanan terlezat di rumah. Suaminya, tak lain adalah sopir pribadi kami, yang selama ini setia mengantar jemput anak-anak saya.

Mantan suami, tepatnya sekarang. Ya, mereka bercerai.

Pernikahan yang sudah entah keberapa kalinya untuk mereka itu ternyata hanya bertahan seumur jagung. Padahal mereka berdua menikah di usia yang bisa dikatakan sudah lanjut. Sebabnya? Tak lain, soal perselingkuhan.

Apakah perselingkuhan hanya terjadi dan dialami oleh mereka yang berada di tingkat bawah? Oh, tidak! Baru-baru ini, saudara sepupu dan teman terbaik saya pun, yang notabene lebih mapan secara ekonomi dan lebih berpendidikan daripada si bibik, mengutarakan kemelut rumah tangga mereka yang hancur berantakan akibat perselingkuhan. Semua kandas. Amat jauh dari apa yang mereka bayangkan ketika pertama kali menjejakkan kaki di dunia pernikahan. Lenyap sudah apa yang selama ini mereka dambakan, membangun keluarga yang harmonis dan sakinah.

Memang perselingkuhan adalah masalah yang sangat pelik. Tak sedikit orang menganggap bahwa selingkuh itu indah, bahwa justru di situlah letak nikmatnya dunia. Maka tak heran bila banyak orang menjadikan perselingkuhan sebagai gaya hidup, suatu hal yang biasa saja. Banyak pula di antara kita yang berusaha menutup mata, bahkan ketika kita mengetahuinya.

Baca Juga: Perselingkuhan di Depan Mata: Diam, Tegur, atau Masa Bodoh?

Dunia memang sudah banyak berubah. Perselingkuhan menjadi hal yang wajar sedangkan kesetiaan menjadi hal yang langka. Padahal, jika mau berpikir waras, mestinya perselingkuhan, entahkah dalam hubungan pernikahan maupun berpacaran, sangatlah menyakitkan hati bagi si korban dan merupakan sebuah kebodohan bagi si pelakunya. Namun mengapa masih banyak saja orang yang akhirnya terjebak untuk berselingkuh atau malah suka memilih menjadi selingkuhan orang?

Sebuah tanda tanya besar, haruskah perselingkuhan itu terjadi?

Menurut saya, perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi, bila kita mau mempertahankan 3 hubungan ini dalam kehidupan kita sehari-hari:


1. Hubungan Intim dengan Tuhan

Maksudnya bagaimana? Apakah harus menjadi pemuka agama dulu agar bisa punya hubungan intim dengan Tuhan? Tidak demikian. Pemuka agama yang dipandang masyarakat sebagai seorang yang saleh pun tak luput dari dosa perzinahan.

Mengapa mereka bisa jatuh ke dalam jerat perselingkuhan? Apakah karena alasan rasa iba terhadap sesama yang dilanda kesepian atau merasa diri seperti pahlawan iman yang bisa mendekatkan sesamanya kepada Sang Pencipta? Saya tak hendak menghakimi mereka. Sekalipun punya segudang alibi untuk melepaskan diri dari tuduhan perzinahan, satu hal yang pasti: keluargalah yang selalu menjadi taruhan.

Semua pemuka agama apa pun sesungguhnya sama saja seperti kita. Manusia biasa, yang setiap waktu masih saja hidup dengan hawa nafsu kedagingan dan keduniawian. Maka jangan heran apabila di antara mereka ada yang didapati jatuh dalam dosa perselingkuhan. Tak semua pemuka agama punya hubungan yang intim dengan Tuhannya.

Jika memiliki hubungan intim dengan Tuhan, kita akan mengerti hidup seperti apakah yang diinginkan oleh Tuhan bagi kita dan pasangan kita. Juga perbuatan mana sajakah yang tak seharusnya kita lakukan, karena akan menyakitkan hati Tuhan dan pasangan kita.

Pernikahan, meskipun dilakukan oleh kita – manusia, datangnya adalah dari Tuhan. Itulah sebabnya, ketika kita mengikrarkan janji nikah, sehidup semati dalam keadaan apa juga, tidak hanya sebatas ritual atau sekadar pengumuman kepada orang-orang di sekitar. Kita sedang berjanji kepada Allah, yang telah mengaruniakan pernikahan itu. Maka sejatinya perselingkuhan dengan alasan apa pun seharusnya tidak akan pernah terjadi pada diri kita, karena kita tahu bahwa selingkuh - yang dikatakan nikmat oleh khalayak itu - adalah dosa.



2. Hubungan Intim dengan Pasangan

[Imgae: heartofthemattercounseling.com]

Berbicara tentang keintiman dengan pasangan, tak melulu berhubungan dengan soal seksualitas. Komunikasilah yang justru memegang peranan terpenting dalam membina suatu hubungan, baik dengan pasangan suami/istri maupun calon pasangan kita. Komunikasi yang baik akan membangun jalinan kasih yang lebih harmonis dan ideal.

Baca Juga: Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami

Komunikasi tak hanya sekadar berbicara dari mulut ke mulut saja, namun lebih dalam lagi, dari hati ke hati. Apa yang dibicarakan dengan pasangan bukan lagi hal-hal yang tampak di luar saja, yang sengaja dibuat untuk menutup-nutupi segala “keborokan” yang ada di dalam diri. Bersikap terbuka, jujur apa adanya yang justru yang bisa menyatukan hubungan, membuatnya semakin langgeng.

Bagi yang sedang berpacaran, komunikasi yang efektif tentunya membawa manfaat tersendiri. Ketika kita berani mengungkapkan keadaan kita yang sejujurnya, setidaknya kita akan mengetahui sejauh mana penerimaan calon pasangan terhadap diri kita.

Saya, suatu kali pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Kami berdua sempat merencanakan untuk mengambil langkah yang lebih serius. Namun, ketika saya berusaha untuk mengungkapkan segala ‘keaiban’ yang melekat pada diri dan keluarga saya, ia justru kabur. Pergi begitu saja meninggalkan saya. Hati saya sempat terpukul, namun kondisi itulah yang kemudian menyadarkan saya, ia bukanlah pria terbaik untuk menjadi calon pasangan saya waktu itu. Bahkan, lewat kejadian itu saya jadi paham bahwa pasangan yang layak untuk menata masa depan bersama kita adalah yang ia mau menerima segala kekurangan dan menghargai keberadaan kita sebagaimana kita ada.

Baca Juga: Ketika Cinta itu Pergi, Percayalah yang Lebih Baik Akan Datang

Demikianlah seharusnya komunikasi yang jujur itu perlu kita bangun sejak dini dengan pasangan. Keterbukaan akan membuahkan hubungan yang intim, bersih dari rasa curiga. Tentunya akan semakin menyenangkan bukan, bila hubungan yang telah kita bina dengan pasangan makin hari makin bertumbuh indah layaknya pohon yang tumbuh subur dari akar yang kuat? Sama halnya ketika kita ingin membangun sebuah keluarga yang harmonis, dibutuhkan pula fondasi keintiman yang kuat dengan pasangan. Dengan itu, niscaya akan terwujud sebuah pernikahan, yang di dalamnya kita dan pasangan saling menopang dengan cinta kasih yang tak terbagi.



3. Hubungan Intim dengan Diri Sendiri

Hubungan intim dengan diri sendiri? Kedengaran aneh, bukan? Namun sesungguhnya, itulah kenyataan yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

Mungkin kita tidak menyadari betapa seringnya kita berbicara dengan diri kita sendiri. Self-talk, berbicara dengan diri sendiri adalah akar dari segala permasalahan psikologis. Dari situlah kebiasaan, karakter, dan keyakinan seseorang terbentuk. Selama self-talk seseorang tetap positif, maka ia tidak akan mudah terpengaruh hal-hal negatif dari luar. Begitu pula sebaliknya, seseorang dapat memberi dampak negatif terhadap diri sendiri. Dan, dampak negatif tersebut akan semakin diperkuat dengan self-talk yang negatif.

Ketika diperhadapkan kepada perselingkuhan sebagai sebuah pilihan, seseorang yang memiliki self-talk positif tentunya akan berpikir, mengapa harus mengambil jalan keluar berselingkuh jika cinta yang sejati bisa ditemukan? Apakah perselingkuhan adalah cara yang benar untuk menyelesaikan permasalahan dalam hubungan yang sedang dihadapi? Bukankah lebih baik jika ia mampu untuk bangkit mencari jalan keluar yang terbaik bersama dengan pasangan?

Karena self-talk amat memengaruhi kehidupan kita, baik kini maupun hari yang akan datang, maka jangan pernah berhenti memastikan bahwa self-talk kita adalah self-talk yang positif. Agar apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Sebaliknya, kita mampu untuk berbuat banyak hal baik, bahkan memiliki relasi yang makin indah dengan sesama, khususnya dengan pasangan kita.

Mari kita merajut cinta kasih yang sejati dengan pikiran yang jernih dan tulus, agar kesetiaan yang kita tabur tidak menjadi sia-sia belaka.



Baca Juga:

Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat ini!

Wanita, Jangan Lakukan 3 Kesalahan Fatal dalam Berkomunikasi ini Jika Tidak Ingin Hubunganmu dengan Pasangan Rusak!

Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar