Ketika Pernikahan Terasa Hambar, Perceraian Bukan Pilihan, Apakah Hubungan Tanpa Status dengan Orang Ketiga adalah Jalan Kebahagiaan?

Marriage

[Image: dailywoman.com]

5.9K
Pernikahan tak pernah mudah. Rasa yang pernah ada, bisa saja menjadi hambar. Apa yang harus dilakukan ketika perceraian bukan pilihan? Hubungan tanpa status dengan orang ketiga?

Magda menyuap sendok ice cream-nya perlahan sambil berkisah,

”Minggu lalu aku berkencan dengan Sam di Singapore. Sudah tiga bulan lebih kami tidak berjumpa.

Rasanya kangen sekali ...

Menghabiskan weekend bersamanya membuatku serasa hidup kembali.”

Magda dan Sam berpacaran ketika masih SMA. Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Magda yang kaya. Status sosial mereka terlalu jauh berbeda. Hubungan ini tetap berlanjut meski Magda melanjutkan kuliah di San Francisco, Amerika, sementara Sam kuliah di Jogja. Long Distance Relationship terus berlanjut pada tahun pertama dan kedua. Kemudian makin lama makin renggang. Hingga keduanya menikah dengan orang lain.

Pernikahan Magda tidak berjalan mulus. Setelah memiliki seorang anak berusia sepuluh tahun, ketahuanlah suaminya berselingkuh dan memiliki anak dari perempuan lain. Sebagai wanita karier yang sukses, memiliki bisnis yang mapan, Magda tidak sudi dimadu. Bercerailah mereka.

Sementara Sam berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Istrinya benar-benar wanita rumahan, full time housewife. Segala sesuatu berjalan lancar, hingga tiga tahun lalu, dia kembali bertemu Magda. Sekarang mereka tinggal di kota yang sama, Jakarta. Kota besar yang menjanjikan kesuksesan dan kemungkinan apa saja.

Benih-benih asmara kembali bersemi di hati mereka.

[Image: datingwright.com]

Apalagi Sam merasa Magda lebih nyambung untuk diajak bertukar pikiran. Waktu yang dihabiskan dengan Magda terasa begitu cepat. Ide-ide baru bermunculan, topik pembicaraan tidak pernah habis. Kenangan indah masa lalu, senantiasa membuat getar-getar dan gairah hidup kian menggebu.

Baca Juga: Mengapa Pria Berselingkuh? Inilah Pengakuan Mengejutkan 5 Pria Peselingkuh

Namun Sam tetap sadar diri. Dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan keluarganya untuk menikahi Magda. Baginya keluarga nomor satu. Pernikahan sekali seumur hidup adalah nilai-nilai yang diajarkan keluarganya. Apa pun yang terjadi, dia paham, ayah yang terbaik bagi anak-anaknya adalah dirinya, sementara ibu yang terbaik, tetap istrinya. Tidak ada kata 'cerai' atau beristri lebih dari satu dalam kamus hidupnya.

Laki-laki nakal sedikit itu wajar, tetapi keluarga harus utuh dan istri hanya satu. Demikian prinsipnya.

Harta harus untuk anak-anaknya. Memiliki istri lebih dari satu akan merepotkan urusan warisan.

Jadilah hubungannya dan Magda hanya hubungan sama-sama suka. Relaksasi untuk keduanya. Bagi Magda yang hidupnya berkelimpahan, dari Sam yang dibutuhkan hanyalah teman bicara, kepuasan seksual sementara, dan kenangan perasaan cinta masa lalu. Itu sudah cukup baginya. Dia tidak pernah menuntut status yang jelas bagi hubungan mereka.

Pertemuan disesuaikan dengan jadwal Sam bertugas ke luar negeri. Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, dan Bangkok menjadi saksi pertemuan kencan keduanya. Justru jarang sekali kencan di Jakarta. Terlalu berisiko, katanya. Yang penting, ketika berkencan, Sam menjadi miliknya sepenuh hati. Quality time lebih penting daripada frekuensi pertemuan. Karena hanya sesekali bertemu, jarang sekali terjadi pertengkaran. Waktu pulang, mereka kembali ke dunia masing-masing.

[Image: Cosmopolitan.de]

Magda kerap membelikan barang mahal sebagai hadiah, meski Sam tidak pernah mengharapkannya.

“Aku belikan Sam iPhone 7 plus …” Magda bercerita.

“Buat apa beli HP untuk Sam? Memangnya dia butuh?” aku mencecarnya.

“Yah … Aku lihat HP-nya sudah ketinggalan model. Gak butuh sih sebenarnya, tapi aku ingin kasih hadiah saja.”

“Bagaimana reaksinya? Senang? Say thank you?

“Reaksinya biasa saja … monoton. Bahkan gak even say thank you. Tapi aku memang tidak mengharapkan apa-apa. Senang saja bisa memberinya sesuatu. Itu bukti sayangku padanya.”



Hubungan Tanpa Status

Sungguh sebuah hubungan yang sulit saya mengerti. Tetapi ada teman yang mampu menjalani, dan menurutnya, itu sudah cukup membahagiakannya.

Dunia memang penuh warna.

Namun saya tetap yakin, kebahagiaan sejati tercipta ketika kita hidup selaras dengan kebenaran ini :

Satu suami, satu istri, tanpa perselingkuhan. Kudus. Sepenuh hati.

Pernikahan tetap one way ticket. Hanya maut yang boleh memisahkan keduanya. Mungkin ini nilai-nilai yang terlalu tradisional alias kuno, tetapi saya percaya pada pepatah, "Sepandai-pandainya tupai melompat, jatuh juga."

Baca Juga: Selingkuh Itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Seringkali Tak Terungkap

Ketika kebenaran terbuka, risiko serta kerusakan yang dihasilkan terlalu besar, dan luka-luka yang diakibatkannya belum tentu bisa disembuhkan. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi pasangan dan terutama anak-anak, akan terluka dan kehilangan panutan.

Kebahagiaan dan damai sejati hanya diperoleh ketika nurani tenang karena yakin tengah menghidupi kebenaran-Nya.

Bagaimana pendapat Anda?



Baca Juga:

Suami Tampan dan Mapan Bukan Jaminan Istri Tak Selingkuh. Tak Percaya? 3 Kisah Nyata Ini Buktinya

Punya Istri Cantik, Kok Suami Masih Saja Selingkuh? Ini 3 Penyebabnya

Mengapa Wanita Berani Berselingkuh? Inilah 3 Penyebab Utamanya

Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Pernikahan Terasa Hambar, Perceraian Bukan Pilihan, Apakah Hubungan Tanpa Status dengan Orang Ketiga adalah Jalan Kebahagiaan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar